
Merta memberikan air hangat untuk Gading yang sama sekali tidak sakit tenggorokan. Mau tak mau Gading pun meminum air hangat itu di depan Merta. Geof hanya bisa menatap putranya yang berhasil lolos dari serangan amukan singa betina yang kesal padanya.
"Lebih baik kau tidur ya!" Kata Merta Gading.
"Iya!" Sahut Gading memejamkan kedua matanya.
Merta menidurkan putranya itu hingga terlelap. Merasa putranya sudah tertidur lelap, Geof keluar dari kamar dan menemui Lutfi yang sedang berjaga-jaga di luar.
"Lutfi, siapkan penerbangan untukku, Gading dan juga Merta! Aku ingin segera kali ke ibukota besok pagi." Perintah Geof pada Lutfi.
"Siap, bos!" Sahut Lutfi beranjak pergi.
"Geof, siapa yang bilang aku akan ikut denganmu ke ibukota?" Merta tiba-tiba menyela dengan wajah kesal.
Geof melirik Lutfi memberikan kode agar melakukan semua yang ia perintahkan. Geof menarik tangan Merta dan membawanya ke ruangan yang agak jauh dari kamar dimana Gading sedang tertidur pulas. Geof ingin meluruskan permasalahan yang mereka alami waktu dulu.
"Merta, kau dan Gading harus ikut denganku ke ibukota! Kita akan menikah disana." Kata Geof mengelus wajah Merta dengan lembut.
"Aku tidak mau menikah denganmu!" Kata Merta menolak. Merta masih kesal dengan kejadian dulu saat Geof membiarkan ia pergi begitu saja.
"Sayang, aku mencintaimu dan aku yakin kau juga mencintaiku kan? Ayo kita menikah dan menjadi keluarga yang utuh untuk Gading!" Kata Geof lagi.
"Kau bohong! Dulu kau juga bilang padaku kalau kau mencintaiku, tapi buktinya kau membiarkan aku pergi begitu saja. Bahkan aku tak punya kesempatan untuk mengatakan kalau aku sedang mengandung bayimu!" Sahut Merta melimpahkan semua kekesalannya pada Geof.
"Aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf." Ucap Geof menyesali perbuatannya waktu itu.
"Aku salah paham padamu dan juga Vian waktu itu!" Ucap Geof lagi yang membuat Merta terkejut.
"Apa? Vian? Apa maksudmu, Geof?" Tanya Merta.
"Aku melihatmu duduk berdua di taman saat aku baru kembali dari Itali. Aku melihat Vian menyentuh tanganmu! Dan aku melihat kau juga tersenyum bahagia saat berdua dengannya. Aku mengira kau dan Vian saling mencintai. Maka dari itu aku membiarkanmu pergi dariku agar kau bisa bahagia bersama Vian." Kata Geof menjelaskan kesalahpahaman itu.
Merta mengingat kembali saat ia duduk bersama Vian di taman itu.
"Astaga! Jadi karena itu kau kesal padaku dan membiarkan aku pergi?" Tanya Merta lagi.
Geof mengangguk dengan raut wajah yang sedih.
"Hah, dasar bodoh! Aku dan Vian hanya berteman saja." Kata Merta.
"Asal kau tau Geof, saat aku mengetahui bahwa aku sedang mengandung bayimu, aku takut jika saja kau tidak menginginkannya! Aku mengatakan pada Vian semua keluh kesahku. Vian lah yang menguatkan aku dan membuatku berani untuk mengatakannya padamu. Tapi aku tak menyangka kalau waktu itu kau tidak memberikan aku kesempatan untuk mengatakannya." Sambung Merta lagi.
"Iya sayang, aku tau aku yang salah! Aku memang bodoh karena aku tenggelam dengan rasa cemburuku." Sahut Geof menyesal.
"Hah, kau selalu saja cemburuan!" Ujar Merta kesal.
"Merta, ikutlah denganku ke ibukota dan menikahlah denganku!" Pinta Geof memohon padanya.
"Iya iya..aku ikut denganmu!" Sahut Merta sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan santai.
"Hah, untung saja aku masih belum move on dengan pria lain, kalau tidak aku tidak akan mau menikah dengan pria pencemburu sepertimu!" Gumam Merta membuat Geof kesal.
"Jangan pernah berpikir untuk move on dariku, Merta!" Teriak Geof cemburu.
"Huh, dia masih saja bertingkah seperti dulu!" Gumam Merta lagi.
Lalu tiba-tiba Geof membuka lebar-lebar kedua tangannya dan tersenyum pada Merta yang berdiri d hadapannya.
"Apa?" Tanya Merta menatap Geof dengan sewot.
"Cepat peluk aku!" Kata Geof merengek seperti anak kecil.
"Aku tidak mau!" Sahut Merta hendak berbalik dan pergi.
Saat Merta akan pergi Geof menangkap tubuh Merta dan memeluknya dengan erat. Merta dan Geof pun saling berpelukan dengan mesra.
"Berjanjilah padaku untuk tidak pergi lagi dariku, Merta!" Kata Geof.
"Tidak mau!" Sahut Merta.
"Ke..kenapa?" Tanya Geof.
"Kau yang mengusirku!" Sahut Merta kesal.
"Tidak! Itu tidak akan terjadi lagi." Kata Geof berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal yang membuat Merta jauh darinya.
"Berjanjilah untuk tidak menjadi pria yang cemburuan, Geof!" Kata Merta.
"Tidak mau!" Sahut Geof.
"Kenapa?" Tanya Merta.
"Dalam hubungan antara pria dan wanita, memang harus ada saling cemburu, kalau tidak bagaimana mungkin cinta itu akan kuat?" Sahut Geof.
"Huh, pintar sekali kau berbicara seperti itu!" Ujar Merta sewot.
"Iyalah! Aku juga pintar membuat anak. Hehehe." Kata Geof menatap mesum pada Merta.
"Jangan bilang kau mau melakukannya lagi padaku!" Teriak Merta kesal.
__ADS_1
"Kenapa? Kita kan saling mencintai." Kata Geof.
"Dasar bodoh! Kita belum menikah, nanti aku bisa hamil lagi jika kau terus-terusan melakukannya padaku." Kata Merta.
"Kalau begitu kan lebih bagus lagi! Gading akan punya adik." Sahut Geof dengan gamblangnya.
Ppplleeettaakk......
Merta memukul kepala Geof dengan kesal.
"Huh, seenak jidatmu saja kalau bicara!" Ujar Merta beranjak pergi setelah memukul kepala Geof.
Geof berjongkok di lantai sambil mengelus kepalanya yang benjol. Tak lama kemudian, Geof melihat Merta bersiap-siap untuk pergi.
"Kau mau kemana?" Tanya Geof.
"Mau pergi bekerja!" Sahut Merta.
"Tidak boleh!" Kata Geof melarang Merta untuk pergi bekerja.
"Kenapa?" Tanya Merta.
"Kau itu calon istri dari CEO perusahaan yang terkenal di ibukota, jadi kau tidak perlu bekerja lagi menjadi penyanyi di cafe itu." Kata Geof.
"Wah, kau sudah menjadi CEO?" Seru Merta sedikit terkejut.
"Tentu saja!" Sahut Geof membanggakan diri.
"Huh, dasar sombong!" Ujar Merta sewot.
"Tapi Geof, bagaimana dengan temanku Shafa? Dia pasti akan kebingungan karena aku tidak bernyanyi di cafenya malam ini." Kata Merta bingung.
"Biar Lutfi yang urus!" Sahut Geof.
*****
Setelah selesai meluruskan permasalahanya dengan Merta, Geof menghubungi Lutfi yang sedang mengurus segala keperluan untuk persiapan keberangkatan mereka kembali ke ibukota. Geof menghubungi Lutfi menggunakan ponsel milik Merta, karena ponsel Geof telah hancur lebur di buat Merta saat kesal pada Gading.
"Lutfi, selesaikan urusan Merta dengan pemilik cafe itu!" Perintah Geof pada Lutfi.
"Baik, bos!" Sahut Lutfi.
Setelah menutup sambungan teleponnya, Lutfi berdecak kesal sekaligus kebingungan untuk menghadapi Shafa.
Mau tak mau Lutfi pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Geof padanya. Lutfi pergi menemui Shafa yang sedang dongkol di cafenya. Lutfi mendekati Shafa yang menatapnya dengan kesal.
"Fa..fa!" Ucap Lutfi ketakutan.
"Darimana saja kau, hah? Kenapa kemarin kau meninggalkanku begitu saja?" Teriak Shafa kesal pada Lutfi.
"Kemarin aku ada misi penting yang tak bisa aku tinggalkan! Ini hidup dan mati bos ku!" Sahut Lutfi.
"Kau lebih memilih bos mu itu dari pada aku? Kau bilang kau suka padaku!" Teriak Shafa lagi.
"Iya! Aku bisa jelaskan semuanya, sayang." Kata Lutfi hampir pusing karena Shafa menarik-narik kerah bajunya berulang kali.
Lutfi menjelaskan semuanya pada Shafa yang juga mengetahui permasalahan antara Merta dan Geof. Shafa kaget karena Lutfi adalah orang kepercayaan dari ayahnya Gading. Karena Shafa berteman tulus kepada Merta, ia pun berucap syukur karena gading akhirnya bisa menemukan ayah kandungnya.
"Hei, apa kau yakin bisa mu itu bisa membuat Merta bahagia? Aku hanya tidak rela saja jika Merta merasa sedih lagi seperti apa yang ia katakan waktu itu." Kata Shafa pada Lutfi.
"Tentu saja bos Geof akan membuat nona Merta bahagia, karena bos Geof memang mencintainya." Sahut Lutfi.
"Kalau Merta ikut dengannya ke ibukota, lalu bagaimana dengan cafeku?" Teriak Shafa panik.
"Hehehe, mungkin sebaiknya kau gulung tikar dan menjadi istriku saja. Lalu tinggal bersamaku di ibukota!" Sahut Lutfi secara tak langsung melamar Shafa.
"Seenak jidatmu saja kalau bicara!" Ujar Shafa kesal.
"Aku serius! Aku suka padamu, jadi aku ingin kau menjadi istriku dan merawat anak-anak kita nanti." Kata Lutfi.
"Be..benarkah?" Tanya Shafa seakan tak percaya Lutfi melamarnya.
"Iya." Sahut Lutfi berharap.
"Kau mau apa tidak?" Tanya Lutfi lagi malu-malu sambil menyenggol lengan Shafa.
"Tentu saja aku mau! Kalau begitu kau temui orang tuaku untuk membicarakannya." Sahut Shafa juga malu-malu.
"Yes! Baiklah." Seru Lutfi senang.
Keesokan paginya mereka pun berangkat ke ibukota. Geof dan Merta melihat Lutfi tampak begitu bahagia dengan wajah yang memerah. Geof dan Merta saling tatap karena kebingungan.
"Hei, Lutfi! Kau kenapa?" Tanya Geof pada Lutfi.
"Aku mau kawin, bos!" Sahut Lutfi.
__ADS_1
"Apa?" Teriak Geof dan Merta kaget.
"Hheeemmmm!" Sahut Lutfi lagi dengan wajah yang semakin memerah.
"Hei, kau akan menikah dengan siapa?" Tanya Merta yang belum mengetahui hubungan Lutfi dan Shafa.
"Shafa!" Sahut Lutfi.
"Shafa? Apa itu Shafa temanku yang memiliki cafe?" Teriak Merta terkejut.
Lutfi mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi, semuanya karena....
Merta menatap wajah Geof yang tampak tenang duduk di sampingnya saat berada di dalam pesawat.
"Hah, aku sangat bodoh karena tidak menyadarinya bahwa Lutfi yang menjadi kekasih Shafa di medsos adalah Lutfi yang ini. Karena itu Geof bisa menemukan aku dan juga Gading! Dunia serasa sempit." Gumam Merta.
"Baru sadar kalau bunda itu bodoh?" Sahut Gading sambil memainkan game yang ada di Ipad-nya.
Ppplleeettaakk.....
Kepala Gading benjol seketika karena di pukul Merta.
"Oke! Lebih baik aku diam dan bermain game saja!" Kata Gading sambil mengacungkan jempolnya.
"Haiiihh, bocah somplak!" Geof tepok jidat lagi melihat tingkah sang anak.
Merta bergelayut di lengan Geof ketika ia teringat pada Maya dan juga Pandi yang berada di pulau kecil.
"Geof, bagaimana dengan tante dan paman Pandi? Mereka belum mengetahuinya." Kata Merta pada Geof.
"Aku sudah mengurus mereka! Kau tenang saja." Sahut Geof santai.
"Maksudmu tante Maya dan paman Pandi sudah tau tentang kita?" Tanya Merta lagi.
"Iya!" Sahut Geof.
"Terus apa kata mereka?" Tanya Merta.
"Mereka memberikan pesan pada kita, kalau kita disuruh membuat anak yang banyak kedepannya!" Sahut Geof asal bicara.
"Dasar kau! Selalu saja asal bicara." Ujar Merta sewot.
"Sudahlah! Semuanya sudah beres." Kata Geof menenangkan Merta.
Geof kembali melirik Lutfi yang masih duduk dengan wajah yang memerah dan senyum-senyum sendiri.
"Lutfi, kapan kau akan menikah?" Tanya Geof.
"Minggu depan, bos!" Sahut Lutfi.
"Kenapa secepat itu? Apa kau ingin mendahului aku?" Teriak Geof tak senang.
Lutfi kaget melihat ekspresi Geof yang tak senang padanya.
"Hei, kenapa kau marah? Itu urusan pribadi Lutfi." Kata Merta pada Geof.
"Tidak boleh mendahului aku! Aku bosnya dan harus aku yang terlebih dahulu menikah." Teriak Geof.
Merta dan Lutfi hanya bisa menatap Geof dengan pasrah.
"Sabar ya, Lutfi! Karena kau memiliki bos yang gila seperti Geof." Kata Merta pada Lutfi.
"Iya, nona! Terima kasih." Sahut Lutfi.
Tak sampai dua jam mengudara, mereka pun tiba di ibukota. Gading tercengang melihat gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi.
"Wah, ibukota memang keren!" Seru Gading menyukai hiruk pikuk kota itu.
Gading yang duduk di pangkuan Geof saat di dalam mobil merasa penasaran ia akan di bawa kemana saat itu.
"Ayah, kita mau kemana?" Tanya Gading pada Geof.
"Kita akan ke rumah kakek dan nenek!" Sahut Geof tersenyum lebar.
"Apakah mereka akan menyukai aku?" Tanya Gading dengan wajah sedih.
"Tentu saja, nak!" Sahut Geof lagi.
"Tapi aku takut!" Kata Gading.
"Tidak usah takut! Ayah akan bersamamu." Kata Geof pada putranya itu.
Geof menatap wajah Gading yang tampak sedikit risau akan bertemu dengan kakek dan neneknya.
"Hehehe, nanti kau akan tau bagaimana somplaknya kakek dan nenekku itu!" Gumam Geof dalam hatinya.
Perasaan risau bukan hanya dirasakan oleh Gading saat akan bertemu dengan Luky dan Lita, perasaan itu juga dirasakan oleh Merta. Detak jantung Merta berdenyut lebih kencang ketika ia akan bertemu lagi dengan mereka setelah lima tahun lamanya tidak berjumpa.
__ADS_1