
Malam harinya, Luky, Lita dan Gading kembali menempelkan telinganya di daun pintu kamar Merta dan Geof. Mereka berniat untuk menguping malam penganti Merta dan Geof di dalam kamar tersebut.
"Eh, kenapa aku tidak mendengar suara apapu selain dengkuran?" Gumam Lita kebingungan.
"Iya, aku juga!" Sahut Luky yang terus saja menempelkan telinganya di daun pintu tersebut.
"Memangnya selain dengkuran, kita bisa mendengar suara apa dari dalam?" Tanya Gading si bocah yang masih berusia 4 tahun itu.
"Tentu saja, suara yang.....
Ppplleetttaakkk............
"Kau jangan asal bicara pada anak kecil!" Ujar Lita kesal pada Luky yang hampir saja mengatakan hal tabu pada Gading.
"Hehehe, aku lupa!" Sahut Luky cengengesan. Gading hanya menatap lugu pada kedua kakek neneknya tersebut.
Kemudian, mereka pun kembali menempelkan telinganya pada pintu kamar sanga pengantin.
"Huh, kenapa aku tidak mendengar suara yang lain, selain dengkuran saja?" Pekik Lita kesal karena tak mendengar suara apa yang ia harapkan.
"Apa jangan-jangan mereka tidur?" Tanya Luky.
"Hah, kau benar juga!" Sahut Lita.
Lita dan Luky pun pergi dari depan pintu kamar pengantin itu sambil menyeret cucunya yang hanya bisa pasrah ketika di seret oleh mereka. Sementara itu sepasang pria dan wanita yang baru saja menjadi suami istri itu tengah tertidur begitu pulasnya karena kelelahan seharian menjamu tamu yang hadir di pesta pernikahan mereka. Bahkan sangking lelahnya suara dengkuran mereka seakan sahut menyahut malam itu.
Keesokan paginya, Merta terbangun lebih awal. Ia menatap Geof yang masih tertidur sambil nungging di sampingnya.
"Hah, bahkan posisi tidurnya tidak berubah sama sekali! Sama seperti dulu." Gumam Merta dalam hatinya menatap Geof yang masih tertidur.
Merta melirik jam dinding yang berputar dan menunjukkan pukul 4 pagi. Rasa malas untuk turun dari ranjang pun di rasakan oleh wanita yang sudah berganti status menjadi istri seorang CEO perusahaan yang terkenal di ibukota itu. Ia kembali berbaring dan berhadapan dengan Geof yang baru saja merubah gaya tidurnya menjadi tertelungkup. Saat menatap suaminya, Merta terkejut karena Geof tiba-tiba saja membuka matanya lebar-lebar.
"Kau sudah bangun!" Kata Geof menatap Merta.
"Iya, baru saja!" Sahut Merta.
"Apa tidurmu nyenyak semalam?" Tanya Geof.
"Iya, lumayan!" Sahut Merta.
"Aku sangat lelah kemarin saat di pesta perniakahan kita!" Kata Geof.
"Iya, begitu banyak tamu undangan yang kita harus kita temui, maka dari itu kita begitu lelah!" Sahut Merta.
"Oh, ya Tuhan, apa yang di pikirkan oleh papaku sehingga dia mengadakan acara pesta perniakahan kita selama 7 hari?" Gumam Geof mengeluh.
"Iya, baru sehari saja kita sudah seletih ini." Sahut Merta.
"Bahkan malam pengantinku terbuang sia-sia! Huhuhuhuhu." Ucap Geof nangis bombai.
"Hei, kau selalu saja mementingkan hal itu!" Ujar Merta sewot.
"Apa kau tidak tau, betapa nelangsanya aku melewatkan malam pengantin kita semalam? Aku sudah berimajinasi saat di malam pengantin kita, aku akan menindasmu semalaman! Tapi tak kuduga, aku malah kelelahan dan tidur seperti kerbau." Sahut Geof sedikit berlebihan.
"Hah, dia mulai lagi!" Gumam Merta sewot ketika melirik Geof yang tampak nelangsa dengan linangan air mata buayanya.
Merta hanya diam dan enggan menanggapi sikap Geof yang terlalu berlebihan untuk mencintai dirinya. Lalu secara tiba-tiba saja, Geof duduk dan tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Merta, aku ada ide! Bagaimana kalau kita kabur saja dari sini, jadi kita tidak perlu menghadiri pesta pernikahan kita di hari kedua dan seterusnya?" Kata Geof berniat untuk pergi membawa Merta keluar negeri untuk sementara waktu.
"Maksudmu? Kita mau kemana?" Tanya Merta bingung.
"Kita pergi luar negeri, mungkin? Sekaligus menikmati masa bulan madu kita, hehehe." Sahut Geof cengengesan dengan segudang rencana untuk menindas Merta.
"Wah, liburan keluar negeri! Aku mau!" Seru si wanita lugu yang tidak mengerti bahwa dia akan di tindas habis-habisan oleh suaminya nanti.
"Tapi kita pergi kemana ya?" Gumam Geof berpikir keras.
"Geof, kita ke Itali saja! Aku ingin makan pizza di sana." Sahut Merta yang memancing amukan Geof.
"Hei, apa kau terlahir sebodoh ini, hah? Kalau kau mau makan pizza, tidak perlu keluar negeri! Disini juga banyak yang menjual pizza!" Teriak Geof kesal pada Merta.
"Aku kan hanya memberikan ide!" Gumam Merta sewot.
"Tapi jika dipikir-pikir lagi, idenya berbulan madu ke Itali juga tidak buruk! Itali kan negara romantis! Sekalian aku bisa berkunjung ke rumah si rendang. Walaupun aku baru saja akrab denganya, tapi menurutku si rendang itu tidak buruk untuk dijadikan sahabat." Gumam Geof dalam benaknya.
"Baiklah, kita ke Itali saja!" Kata Geof sudah mengambil keputusan.
"Apakah kita akan makan pizza disana?" Tanya Merta lagi begitu antusias.
Pplleettaakkk........
"Kita akan berbulan madu disana, bukan hanya untuk makan pizza saja! Cepat, bersiaplah! Aku akan menghubungi Lutfi untuk menyiapkan semuanya." Ujar Geof kesal pada Merta.
"Iya, baiklah!" Sahut Merta turun dari ranjang sambil mengusap kepalanya yang benjol karena ulah Geof.
Sekitar pukul 6 pagi, Merta dan Geof mengendap-endap keluar dari kamar mereka. Pasutri yang berniat untuk melarikan diri karena tak sanggup dengan lelahnya mengahdiri acara pesta perniakahan mereka yang akan di langsungkan selama 7 hari itu pun keluar dari kamar dengan membawa koper milik mereka. Keadaan rumah ketika itu masih terlihat sunyi. Beberapa pelayan hanya sibuk di dapur dan menyelesaikan pekerjaannya. Geof melirik pintu kamar kedua orang tuanya yang masih tertutup rapat. Saat selangkah lagi akan keluar dari pintu utama, tiba-tiba Gading mendehem yang membuat Geof dan Merta terkejut.
"Eeehheemm! Apakah kalian akan melarikan diri? Hehehe." Kata Gading tersenyum licik pada kedua orang tuanya itu.
"Kami sangat lelah menjamu tamu di acara pesta pernikahan kami!" Sambung Merta.
"Iya, karena kelelahan aku tidak bisa membuatkan adik untukmu semalam!" Sambung Geof lagi.
Ppplleeettaaakk....
"Jaga bicaramu itu, Geof!" Ujar Merta kesal dengan perkataan Geof.
"Aku kan hanya berkata dengan jujur pada putraku!" Sahut Geof.
Gading menghela nafas melihat kedua orang tuanya yang sedang adu argument di hadapannya.
"Hei, kalau kalian ribut seperti ini, nanti kakek dan nenek yang gaul itu akan bangun!" Kata Gading pada kedua orang tuanya.
"Oh, iya! Kau benar juga." Sahut Geof.
"Kalau begitu kami pergi dulu ya! Ingat, jangan sampai kakek dan nenek gaul itu tau kalau kami melarikan diri." Kata Geof lagi pada Gading.
"Tidak semudah itu, furgoso!" Kata Gading menarik sisi kemeja Geof yang hendak kabur bersama Merta.
"Ada apa?" Seru Merta dan juga Geof.
"Aku naksir pada tante Chika! Jadi aku berniat untuk memberikan hadiah untuknya. Berikan aku uang tunai yang banyak! Kalau perlu kartu debit juga boleh. Hehehe." Sahut Gading.
Ppplleeettaakk........
__ADS_1
"Bertingkahlah seperti bocah seusiamu, Gading!" Pekik Merta dan Geof secara bersamaan kesal pada Gading.
"Iya, baiklah!" Sahut Gading.
"Katakan pada ayah, kau mau hadiah apa kalau kami pulang nanti?" Tanya Geof pada putranya.
"Aku mau adik bayi perempuan!" Sahut Gading dengan wajah polosnya.
"Oke! Kalau itu permintaanmu, aku tambah bersemangat untuk menindas bundamu di Itali nanti. Hehehe." Sahut Geof terkekeh licik.
Geof terlihat begitu bersemangat menyeret Merta masuk ke dalam mobil dan segera melarikan diri. Gading menatap ayahnya itu sambil menghela nafas.
"Oh, apakah otakku yang somplak ini karena warisan darinya?" Gumam Gading sambil menggelengkan kepalanya.
*****
Jam sepuluh pagi tiba waktunya untuk memulai acara pesta pernikahan megah yang akan berlangsung selama 7 hari ke depan. Para tamu undangan pun mulai berdatangan. Lita dan Luky juga sudah tampak rapi dengan setelan pakaian terbaik mereka. Maya dan Pandi juga sudah bersiap-siap untuk menjamu tamu yang hadir di hari kedua. Maya melirik ke kursi pelaminan yang tampak kosong.
"Eh, kemana pengantinya? Kenapa belum juga hadir di ruang acara?" Gumam Maya celingak-celinguk mencari keberadaan Geof dan Merta.
Maya yang tampak bingung pun menghampiri Lita.
"Nyonya, aku tidak melihat pengantinya sedari tadi! Kemana mereka?" Tanya Maya pada Lita.
"Eeemm, coba kita cari ke ruang rias!" Kata Lita mengajak Maya untuk pergi mencari Geof dan Merta.
Tiba di ruang pengantin itu, Lita dan Maya melihat para perias pengantin hanya duduk santai di sana. Mereka pun celingak-celinguk mencari-cari keberadaan pengantinnya.
"Kemana mereka?" Tanya Lita pada perias pengantin.
"Kami tidak tau, nyonya! Sejak aku datang, tidak ada siapapun di ruangan ini." Sahut perias pengantin itu.
Lita dan Maya kalang kabut berlari menemui Luky yang sedang berbincang bersama Pandi dan tamu lainnya. Nafas mereka terengah-engah ketika menghampiri suami mereka.
"Ada apa? Kenapa kalang kabut seperti ini?" Tanya Pandi pada Lita dan juga Maya.
"Pengantinnya tidak ada!" Seru Maya dan Lita bersamaan.
"Apa?" Teriak Luky dan Pandi terkejut.
"Aku akan menghubungi pelayan dirumah!" Kata Luky segera mengambil ponsel dari saku celananya.
Lita melihat raut wajah Luky yang tampak terkejut saat menghubungi pelayan yang ada dirumah.
"Ada apa?" Tanya Lita panik.
"Mereka melarikan diri! Kata pelayan yang ada dirumah, pakaian mereka tidak ada di dalam lemari." Sahut Luky.
"Apa mungkin mereka pergi berbulan madu?" Kata Maya menebak-nebak.
"Hah, dasar Geof! Dia bahkan tidak sabar untuk bersenang-senang bersama istrinya." Sahut Lita menghela nafas panjang. Ia tau akan sifat anaknya yang memang tidak sabaran jika menginginkan sesuatu.
__ADS_1
Maaf ya, low update! Aku lagi revisi novel ISABEL dan KURIR CANTIK. Siapa tau aja ada rezeki biasa tanda tangan kontrak. Hehehehe....
Doain ya, guy's...