
Merta kembali ke apartemen bersama Vian sambil mengobrol. Setelah melambaikan tangan, Merta dan Vian pun masuk ke dalam apartemen masing-masing. Merta masuk masuk ke dalam dan melihat ada sepatu Geof di rak sepatu. Merta tersenyum senang karena ia tau Geof telah kembali dari Itali. Merta pun mencari keberadaan Geof di apartemen itu.
Merta mencari ke semua ruangan dan menemukan Geof sedang duduk di ruang kerjanya. Merta tersenyum dan hendak mendekati Geof.
"Geof, kapan kau kembali?" Tanya Merta melangkah mendekati Geof.
Langkah Merta berhenti tepat di depan meja kerja Geof, ketika Geof melemparkan sebuah amplop yang berisi uang dan juga selembar kertas di atas meja.
"Apa itu?" Tanya Merta bingung.
"Itu adalah berkas yang akan kau tanda tangani!" Sahut Geof dengan nada yang dingin.
"Untuk apa?" Tanya Merta lagi.
"Tiga hari lagi masa kontrakmu akan segera habis! Tapi aku menganggap kontrakmu sudah selesai sekarang. Jadi kau bisa tanda tangani itu untuk memperjelas bahwa kau tidak terlibat kontrak apapun lagi denganku!" Kata Geof yang membuat hati Merta hancur.
"Dalam amplop itu ada sedikit uang untukmu! Anggap saja aku memberikan bonus kepadamu setelah apa yang kau lakukan padaku." Sambung Geof lagi.
Merta berusaha untuk membesarkan hatinya dan tersenyum di hadapan Geof.
"Baiklah! Aku akan menandatanganinya." Kata Merta segera menandatangani selembar kertas yang ada di atas meja itu.
"Geof, aku tidak akan mengambil uang itu! Aku rasa uang yang selama ini kau berikan sudah cukup untukku melanjutkan hidup." Kata Merta seraya membalikkan tubuhnya untuk segera keluar dari ruangan kerja Geof.
Geof bahkan tak mau menatap Merta yang beranjak keluar dari ruangan itu. Setelah pintu tertutup kembali, Geof menghela nafas dengan berat dan tanpa sadar tampak di sudut matanya ada setitik air mata kesedihan disana. Geof tak bisa menahan rasa sakit ketika ia harus melakukan hal itu terhadap wanita yang ia cintai.
"Aku terpaksa melakukannya, Merta! Mungkin sebaiknya kau hidup bahagia bersama Vian. Mungkin kau memang lebih mencintai dirinya." Gumam Geof dalam hatinya.
Geof salah paham saat melihat Merta dan Vian berbincang di taman. Ia mengira bahwa Merta dan Vian saling mencintai. Geof berusaha untuk mengalah hanya demi kebahagian Merta. Geof menyangka Merta mau melakukan apa saja dan bersikap mesra kepadanya hanya karena terlibat kontrak dengannya.
Di dalam kamar, Merta hanya diam dan membereskan pakaian yang ia bawa saat pertama kali ke apartemen Geof. Barang serta pakaian yang ia beli dengan menggunakan uang Geof, tak satupun ia bawa. Merta juga meletakkan kartu kredit yang Geof berikan padanya di atas lemari kecil.
Merta pergi tanpa mau berpamitan pada Geof. Merta keluar begitu saja dari apartemen. Di kawasan apartemen Merta bertemu dengan Lutfi.
"Nona, kau mau kemana? Kenapa tidak menghubungi aku?" Tanya Lutfi.
"Kau bukan supirku lagi, jadi jangan panggil seperti itu." Sahut Merta.
"Tapi kau mau kemana, nona? Biar aku mengantarmu!" Kata Lutfi.
"Tidak perlu! Aku akan kembali ke kampungku." Sahut Merta.
"Oh, iya! Terima kasih ya Lutfi, kau selalu berbaik hati padaku." Ucap Merta sebelum ia pergi meninggalkan kota besar itu.
Lutfi memandang Merta pergi dengan langkah yang begitu berat. Lutfi mengira kalau Geof dan Merta sedang bertengkar. Sebagai orang pekerja ia juga tak bisa berbuat apa-apa untuk masalah yang sedang di hadapi oleh majikan dan kekasihnya itu.
Merta duduk di terminal bus untuk kembali ke kampung halamannya. Sedari tadi tidak ada setetes air mata pun yang mengalir dari matanya. Merta berusaha untuk menahan semua yang sedang ia alami.
Klakson bus terdengar begitu keras sehingga lamunan Merta buyar. Merta masuk ke dalam bus itu dan pergi meninggalkan kota besar tersebut.
Di apartemennya, Geof masuk ke dalam kamar berniat untuk menyimpan cincin yang ia beli di Itali. Ia membuka laci di lemari kecil yang ada di samping ranjang tidurnya. Geof melihat kartu kredit yang sempat ia berikan kepada Merta. Geof mengambil kartu kredit itu dan menyimpannya serta bersama kotak cincin di dalam laci lemari kecil tersebut.
Di kamar itu Geof juga melihat pintu lemari yang tidak tertutup rapat. Ia melangkah mendekati lemari tersebut dan melihat semua pakaian, perhiasan serta tas dan sepatu milik Merta tersusun rapi di sana. Geof lemas melihat barang-barang milik Merta yang satupun tidak Merta ambil. Geof membuka pintu lemari yang satunya lagi terlihat kosong melompong. Geof tau kalau ruang lemari tersebut tempat Merta menyimpan pakaian-pakaian lamanya.
"Dia benar-benar pergi!" Gumam Geof sedih.
Geof duduk di bangku kecil dan menatap semua pakaian dan barang-barang milik Merta yang tertinggal di dalam lemari itu. Perasaan hancur bercampur aduk dengan kesedihan terasa dalam hati dan benak Geof. Bagaimana mungkin ia tidak merasakan hal itu, karena hanya Merta lah wanita satu-satunya yang membuat perasaan cinta di hati Geof tumbuh kembali. Namun apalah daya kesalahpahaman yang terjadi membuat Geof dan Merta harus terpisah.
*****
__ADS_1
Merta sudah tiba di kampung halamannya. Merta berjalan menenteng tas yang berisi pakaian lamanya. Maya tersenyum lebar melihat sang keponakan akhirnya kembali ke kampung halamannya. Maya menyambut kedatangan Merta dengan penuh kegembiraan.
"Kau sudah kembali!" Sapa Maya pada Merta.
"Iya, Tante! Aku menepati janjiku untuk tinggal bersamamu." Sahut Merta.
"Ayo kita masuk! Hari sudah hampir gelap." Kata Maya mengajak Merta untuk masuk ke dalam rumah peninggalan kedua orang tua Merta.
Malam harinya Merta melihat Maya sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan malam. Merta duduk di bangku meja makan dengan mencium aroma masakan yang terasa bagaikan mengguncang perutnya. Semula Merta menahan rasa mual yang ia rasakan. Namun hal itu tak berlangsung lama. Merta berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya disana. Maya melihat keadaan Merta yang terus muntah-muntah di kamar mandi.
"Kau kenapa? Apa kau sakit?" Tanya Maya.
"Tidak tante! Aku tidak apa-apa. Mungkin aku masuk angin saja." Kata Merta dusta.
Maya mengambil air hangat dan memberikannya kepada Merta yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ini minumlah air hangat ini supaya kau merasa lebih baik." Kata Maya pada Merta.
Merta pun meminum seteguk air hangat itu.
"Tante, aku istirahat dulu ya! Aku sangat lelah. " Kata Merta.
"Bagaimana dengan makan malamnya? Apa kau tidak ingin makan?" Tanya Maya.
"Tidak! Aku tidak berselera." Sahut Merta.
"Baiklah! Kau pergi lah tidur dan istirahat." Kata Maya lagi.
Merta pun pergi masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di ranjang tidurnya yang sederhana itu dengan perasaan yang sangat kacau.
"Apa yang harus aku lakukan pada bayi ini? Aku tidak mungkin bisa menyimpan hal sebesar ini dari tante Maya! Suatu saat pasti akan ketahuan." Gumam Merta dalam hatinya.
"Geof tidak tau kalau aku sedang mengandung bayinya! Aku tak sempat mengatakan apapun padanya setelah aku menandatangani kertas itu!" Gumam Merta lagi.
Merta tak dapat menahan kan apa yang ia rasakan saat itu. Merta menangis sendirian di dalam kamarnya di saat ia mengingat kenangan-kenangan manis bersama Geof selama dua tahun lamanya. Dalam hal ini Merta sama sekali tidak menyalahkan Geof. Merta merasa apa yang di lakukan oleh Geof adalah benar karena sejak awal Merta hanyalah wanita yang di kontrak oleh Geof selama dua tahun dan setelah kontrak habis maka perpisahan ini akan terjadi.
"Aku yang salah kenapa harus jatuh cinta padanya! Jelas-jelas aku hanyalah seorang wanita yang di kontrak olehnya!" Ucap Merta dalam Isak tangisnya.
Malam itu hujan turun dengan lebatnya. Langit seakan ikut bersedih dengan apa yang dirasakan oleh Geof dan juga Merta. Di apartemen Geof hanya terdiam dan mengingat semua yang ia alami bersama Merta dan begitu pula Merta yang hanya bisa menangis merasakan perih yang ada di hatinya.
Keesokan paginya, Merta terbangun karena merasakan mual pada perutnya. Merta berlari keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi. Maya yang saat itu sedang berada di dapur untuk menyiapkan sarapan menatap curiga kepada Merta yang terus-menerus mual dan muntah.
Setelah Merta keluar dari kama mandi, Maya mendekatinya dengan wajah yang sangat serius.
"Anak siapa yang sedang kau kandung?" Tanya Maya seraya menatap Merta dengan tajam.
Merta terkejut dan juga tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya di hadapan Maya.
"Jawab aku, Merta!" Bentak Maya.
"Geof!" Sahut Merta lirih sambil menangis.
"Apa dia tau?" Tanya Maya lagi.
Merta menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak memberi tahukannya?" Tanya Maya.
__ADS_1
"Dia tidak mencintai aku, tante! Sudah pasti dia tidak akan mau anak ini." Sahut Merta.
Maya terduduk lemas saat mengetahui kalau Merta sedang hamil tanpa ada ikatan pernikahan dengan siapapun.
"Tante, maafkan aku!" Ucap Merta berlutut di hadapan Maya sambil menangis.
"Apa yang kau lakukan, Merta? Kenapa kau menjadi seperti ini?" Kata Maya sangat kecewa dan juga sedih.
"Aku yang salah, tante! Aku minta maaf." Ucap Merta lagi.
Merta menceritakan semuanya kepada Maya. Ia menceritakan dari awal sejak pertama kali bertemu dengan Geof dan Merta juga memberikan alasan kenapa ia memutuskan untuk menjadi wanitanya Geof. Maya menangis mendengar semua perkataan Merta yang melakukan hal itu hanya untuk menanggung semua beban keluarga. Maya tak tega melihat keponakannya itu menangis sesenggukan sambil berlutut di hadapannya. Maya memeluk Merta dengan kasih sayang yang ia miliki untuk keponakannya itu.
"Sudahlah Merta, jangan menangis lagi!" Kata Maya memeluk Merta dengan erat.
"Maafkan aku, Tante!" Ucap Merta berulang kali meminta maaf padanya.
"Kita harus pergi dari kampung ini, Merta!" Kata Maya.
"Orang di kampung ini tidak boleh tau kalau kau sedang hamil! Kau pasti akan menjadi bahan cemoohan orang-orang di kampung ini. Aku tak ingin melihatmu seperti itu." Kata Maya lagi.
"Tapi kita mau kemana, tante?" Tanya Merta.
Maya terdiam sejenak seakan sedang memikirkan sesuatu.
"Kemasi semua pakaianmu! Kita akan pindah ke sebuah pulau kecil dimana tidak ada satupun orang yang mengenalmu!" Kata Maya.
"Kita tinggal di tempat siapa disana?" Tanya Merta lagi.
"Aku dan mendiang ibumu memiliki sepupu yang tinggal disana. Dia hanya bekerja sebagai nelayan." Sahut Maya.
"Kita bisa tinggal dan kau juga bisa melahirkan bayimu disana! Kita akan mulai kehidupan yang baru disana." Kata Maya lagi.
Merta pun memantapkan hatinya untuk pergi meninggalkan kampung halamannya demi melahirkan bayi yang sedang berada di dalam perutnya. Ia juga berniat untuk melupakan semua yang pernah terjadi dan memutuskan untuk hidup membesarkan bayinya seorang diri. Dengan bermodalkan uang tabungan yang ia miliki, Merta pun pergi bersama Maya ke sebuah pulau kecil dimana tidak ada seorang pun mengenali mereka kecuali sepupu dari mendiang ibunya tersebut.
*****
Selama beberapa hari setelah kepergian Merta dari apartemen itu, Geof tidak bisa tidur. Wajahnya tampak lelah dan juga pucat. Geof bagaikan pria yang tak bisa mengurus dirinya sendiri. Luky mengetahui kondisi putranya itu dari Lutfi yang tak tahan melihat kondisi majikannya itu. Luky mencoba untuk mengajak Geof kembali tinggal bersamanya, namun Geof selalu menolak. Geof lebih memilih untuk tinggal sendirian di apartemen itu.
Geof menatap makan malamnya yang ia pesan dari luar. Geof duduk di meja makan dan menatap kursi yang menjadi tempat duduk Merta saat sedang makan bersama dirinya. Geof teringat akan wajah Merta yang terkadang kesal saat berbincang dengan dirinya ketika makan bersama.
"Apa yang sedang ia lakukan sekarang? Apa dia sudah makan?" Gumam Geof teringat pada Merta.
"Mungkin Merta sedang bahagia bersama Vian!" Gumam Geof lagi.
Geof berpikir kalau Merta kini hidup bahagia bersama Vian. Kebetulan tak lama Merta pergi dari apartemennya Geof, Vian juga pindah dari apartemen itu. Geof merasa apa yang ia pikirkan mengenai hubungan Merta dan Vian adalah benar. Geof seakan tidak berselera makan makanan yang ia pesan karena pikirannya terus terbayang oleh Merta. Tak lama kemudian Geof mendengar ponselnya berdering. Ia menerima panggilan dari ayahnya.
"Iya, pa!" Kata Geof.
"Aku hanya ingin mengingatkan kalau besok malam Abrar akan membuat acara jamuan di rumahnya. Dia mengundang kita untuk hadir." Kata Luky.
"Iya, aku akan datang!" Sahut Geof.
"Geof, apa kau baik-baik saja?" Tanya Luky cemas.
"Iya, aku baik-baik saja!" Sahut Geof.
"Ya sudah! Jangan lupa untuk datang ke acara perjamuan itu." Kata Luky lagi.
"Iya, pa!" Sahut Geof.
__ADS_1
Setelah menutup teleponnya, Geof membuang makanan yang sama sekali belum tersentuh olehnya. Geof melangkah naik ke lantai atas dan berbaring di atas ranjang tidurnya. Lagi-lagi ia mengingat Merta yang sering tidur membelakangi dirinya. Geof menoleh ke sisi tempat ranjang yang tampak kosong.