WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
INGIN KERJA SAMBILAN


__ADS_3

Merta menangis mengingat ibunya yang tidak akan bertemu dengannya selama dua tahun karena terikat kontrak dengan Geof. Ia juga bingung harus melakukan apa selama ia menjadi pelayan untuk Geof dan tidak di gaji sampai dua tahun lamanya sementara ia harus membiayai keperluan ibu dan juga tantenya di kampung.


"Bagaimana ini? Aku terjebak di apartemen ini selama dua tahun." Ucap Merta bingung.


Merta menoleh kearah pintu dan terlintas dipikirannya untuk melarikan diri.


"Apa aku lari saja dari sini? Dia memperkosaku semalam dan aku akan melaporkan Geof pada polisi agar dia di tangkap dan di penjara." Kata Merta ngedumel sendirian di apartemen.


Merta melangkah menuju pintu dan langkahnya terhenti saat ia memikirkan suatu hal yang membuat dia mengurungkan niatnya untuk kabur dari Geof.


"Kalau aku melapor pada polisi, pasti polisi minta saksi, sedangkan tidak ada saksi mata di sini hanya ada dinding tebal di apartemen ini! Terus kalau aku melarikan diri maka si pria gila itu akan dengan mudah menemukan aku, secara duitnya kan banyak, dia bisa menyuruh orang untuk mencariku dan setelah aku tertangkap dia akan menguliti aku." Pikiran Merta melayang jauh kemana-mana.


"Hah, jadi aku harus apa ya lord?" Teriak Merta frustasi sendirian di apartemen itu.


Merta kembali masuk ke dalam ruangan dan mengambil beberapa peralatan untuk membersihkan rumah. Saat mmbersihkan seisi ruangan di apartemen itu terus berpikir untuk mencari jalan agar bisa membiayai keperluan ibu dan tantenya di kampung.


"Bagaimana kalau aku minta izin saja padanya untuk mengambil kerja sambilan diluar." Gumam Merta mendapatkan ide yang brilian menurutnya.


"Tapi apa si gila itu mau mengizinkan aku bekerja di luar?" Pikirnya lagi sambil membersihkan ruangan kamar Geof.


Merta berpikir keras untuk mencari cara agar Geof memberikan izin kepadanya berkerja sambilan diluar. Senyuman Merta melebar saat ia mendapatkan ide yang menurutnya sangat bagus.


 


Siang harinya, Geof pulang untuk makan siang di apartemen. Geof mengendurkan dasi yang ada di lehernya dan melangkah menuju ke ruang makan. Disana ia melihat Merta tersenyum dengan lebar kepadanya dan juga melirik betapa banyak hidangan makanan enak yang tersaji di meja makan.


"Ada apa dengan dia? Kenapa dia tersenyum lebar padaku hari ini? Biasanya dia selalu pasang wajah sangar seperti anak kucing yang kesal karena tidak di berikan daging." Gumam Geof bingung melihat Merta berubah sikap terhadapnya.


Merta menarik Geof untuk segera duduk dan menyantap makan siangnya. Geof tersenyum licik dengan niat yang terlintas di otaknya untuk menganggu Merta. Geof duduk dan menarik Merta untuk duduk di atas pangkuannya sembari menepuk bokong Merta yang sintal.


"Brengsek kau, Geof!" Umpat Merta dalam hatinya.


Merta menahan kesalnya dan berusaha untuk tetap memberikan senyuman lebar pada Geof.


"Eh bussseett! Dia tidak ngamuk saat aku menepuk bokongnya." Ucap Geof sangat terkejut melihat senyuman lebar di bibir Merta untuknya.


Geof kembali menaikan garis senyuman pada bibirnya.


"Hehehe, sepertinya dia sedang memainkan sebuah trik untuk mengelabui aku. Aku akan mengikuti permainanmu, Merta." Gumam Geof dalam hatinya.


Merta duduk di pangkuan Geof dan mengambil beberapa makanan untuk Geof. Merta berniat untuk menyuapi Geof saat itu.


"Ini makanlah! Hehehe." Kata Merta tersenyum sangat ramah pada pria yang mengambil kesuciannya semalam.


Geof membuka mulutnya lebar-lebar saat Merta menyuapi dirinya. Di dalam hatinya Merta terus saja mengumpat habis Geof yang terlihat santai mengunyah makan siangnya.


Merta terus menyuapi makanan yang ada di atas meja hingga ludes di makan oleh Geof.


"Apa kau sudah kenyang, sayang?" Tanya Merta pada Geof.


"Hehehe, belum." Jawab Geof.


"Eh, tapi makanannya sudah habis kau makan semuanya. Hehehe, apa perutmu terbuat dari karet?" Kata Merta bingung.


"Aku tidak akan merasa kenyang sebelum aku memakan tubuhmu, Merta!" Bisik Geof di telinga Merta.


"Dasar pria gila mesum! Dia selalu saja berotak kotor padaku." Gerutu Merta dalam hatinya.


Merta kembali melebarkan senyumannya pada Geof dan begitu juga sebaliknya Geof juga tersenyum lebar padanya.


"Emmm, Tuan! Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" Tanya Merta sedikit gelisah.


"Tidak!" Sahut Geof singkat.

__ADS_1


Merta terkejut dan berubah menjadi sewot pada Geof yang masih memangku tubuhnya.


"Kau selalu saja seperti ini, padahal aku sudah berusaha bersikap manis padamu!" Teriak Merta kesal.


"Huh, kau pikir aku pria bodoh yang bisa kau tipu dengan trik murahanmu itu, hah?" Balas Geof tidak mau kalah berteriak pada Merta.


Merta memalingkan wajahnya dan hendak turun dari pangkuan Geof namun Geof menahannya.


"Kau tidak boleh turun sebelum aku yang menginginkannya!" Ujar Geof pada Merta.


"Huh, menyebalkan!" Ujar Merta sangat dongkol.


Geof menatap wajah wanita yang kesal kepadanya.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Geof pada Merta.


"Aku ingin bekerja sambilan di luar." Jawab Merta.


"Tidak akan aku izinkan!" Sahut Geof.


"Tapi aku perlu uang untuk biaya ibu dan tanteku di kampung! Aku harus bekerja sambilan di luar kalau tidak bagaimana aku bisa membiayai ibu dan tanteku disana? Sementara aku terikat kontrak denganmu menjadi pelayan disini tidak dibayar sama sekali." Kata Merta.


"Apa kau lupa kau sudah mengambil uang dariku 100 juta, hah?" Teriak Geof.


"Aku mengambilnya 50 juta bukan 100 juta!" Sahut Merta.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengembalikan dirimu ke tempat perjudian itu." Ancam Geof pada Merta.


"Ja..jangan! Aku tidak mau." Sahut Merta.


"Kalau begitu menurutlah padaku!" Kata Geof.


Geof menurunkan Merta dari pangkuannya dan ia bangkit hendak pergi kembali ke kantor. Merta mengejarnya tetap berusaha untuk mendapatkan izin dari Geof agar ia bisa bekerja sembilan di luar.


"Tuan, aku mohon, izinkanlah aku untuk bekerja sambilan agar aku tetap bisa membiayai ibu dan tanteku di kampung." Pinta Merta pada Geof.


"Bagaimana jika kau kerja sambilan denganku?" Kata Geof memberikan penawaran pada Merta.


"Kerja apa maksudmu?" Tanya Merta bingung.


"Menjadi wanitaku selama kau menjalani kontrak denganku! Aku akan memberikan gaji 20 juta perbulannya serta benda apapun yang kau inginkan. Tas, sepatu, perhiasan? Bagaimana apa kau mau?" Tanya Geof pada Merta.,


"Aku tidak mau!" Sahut Merta melangkah pergi masuk ke dalam kamarnya.


"Huh, dasar jual mahal!" Gerutu Geof sewot karena Merta menolak tawarannya itu.


Geof kembali ke kantornya setelah selesai makan siang di apartemen. Merta sangat kesal dengan apa yang Geof tawarkan padanya. Merta merasa kalau Geof terlalu memandang rendah harga dirinya.


 


* * *


Hampir 5 bulan lamanya Merta terjalin kontrak dengan Geof menjadi pelayan di apartemennya. Hari-harinya menjalani pelayan disana dia selalu saja di ganggu oleh kehadiran Geof yang terkadang menginap di apartemen. Bahkan jika Geof menginap disana, Merta tidak bisa tenang dan tidur nyenyak barang semalam saja. Geof selalu saja memanggil dan menyuruhnya apa saja yang penting bisa membuat Merta kesal padanya.


"Merta!" Teriak Geof memanggilnya.


"Iya, tuan." Sahut Merta dengan emosi level 2.


"Buatkan aku kopi!" Perintah Geof padanya.


"Iya baiklah." Sahut Merta dengan emosi level 5.


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


"Merta!" Teriak Geof lagi saat Merta baru saja hendak memejamkan matanya untuk tidur.


Merta melirik jam dan saat itu sudah pukul 1 dini hari.


"Iya, tuan." Sahut Merta dengan emosi level 10.


"Buatkan aku kopi." Perintah Geof lagi yang sedang bekerja di ruang kamarnya.


"Astaga! Dia sudah minum 9 cangkir kopi malam ini." Gumam Merta seraya melangkah ke dapur untuk membuatkan kopi.


Merta kembali ke kamar Geof dengan secangkir kopi di tangannya. Merta meletakkan kopi di samping meja Geof dan ia kembali pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Satu jam kemudian di saat Merta baru saja terlelap.


"Merta!" Teriak Geof lagi.


Merta kaget dan sontak terbangun mendengar teriakan Geof yang memanggil dirinya. Merta keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke kamar majikannya itu.


"Ada apa?" Tanya Merta pada emosi level 20.


"Buatkan aku kopi." Perintah Geof yang meminta kopi lagi padanya.


Merta berjalan mendekat kepada Geof yang sibuk dengan lembaran-lembaran kertas di meja kerjanya.


"Apa kau sudah gila, hah? Kau sudah minum kopi 10 gelas malam ini dan sekarang kau minta lagi!" Teriak Merta dengan emosi level 1000.


Geof kaget mendengar teriakan Merta kepadanya dan membuat semua lembaran yang ia susun berhamburan kemana-mana. Geof menatap Merta dengan tatapan yang tajam dan melangkah mendekatinya.


"Beraninya kau berteriak padaku!" Bentak Geof pada Merta.


"Aku tidak perduli siapa kau! Kau sangat menyebalkan." Teriak Merta lagi.


Geof mencengkram tubuh Merta dan Merta tidak tinggal diam, ia meronta-ronta agar terlepas dari cengkraman Geof. Geof mendekap tubuh Merta dan mendaratkan ciumannya kepada bibir Merta. Merta terdiam sambil melebarkan matanya karena terkejut saat Geof mencium bibirnya. Geof melepaskan ciumannya setelah Merta sudah berhenti berontak.


"Apa kau sudah tenang, sayang?" Tanya Geof pada Merta dengan tatapan senyumnya.


"Heemmpp! Kau menyebalkan!" Ujar Merta mendorong tubuh Geof untuk menjauh darinya dan berlari masuk ke dalam kamarnya.


Jantung Merta berdetak kencang saat ia mengingat saat Geof menciumnya barusan. Merta berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut dari ujung kaki hingga ujung kepala. Geof duduk di meja kerja dengan senyuman di bibirnya. Geof mengingat saat dia mencium Merta tadi.


"Hah, dasar wanita! Sekarang hanya ada dia di otakku." Gumam Geof.


Keesokan paginya saat Merta sedang memasak di dapur, ponselnya berdering. Merta melihat panggilan dari sang tante yang merawat ibunya di kampung. Cepat-cepat Merta menerima panggilan telepon itu.


"Ada apa tante?" Tanya Merta pada tante Maya yang menghubunginya.


"Mer, ibumu sakit lagi!" Kata tante Maya.


"Apa? Ibu sakit lagi? Sakit apa, tante?" Tanya Merta panik.


"Tadi pagi dadanya sesak, dia sulit bernafas dan sekarang tante sudah membawanya kerumah sakit. Setelah di periksa dokter katanya di paru-paru ibumu banyak cairan." Kata tante Maya.


"Jadi bagaimana keadaan ibu sekarang, tante?" Tanya Merta khawatir.


"Ibumu sedang di rawat disini dan sudah diberikan oksigen untuk meredakan sesak pada nafasnya. Tapi ada obat yang sangat penting untuk paru-paru ibumu dan harganya sangat mahal, sedangkan uang yang aku simpan sudah menipis setelah beberapa bulan ini kau tidak mengirimkan uang padaku." Kata tante Maya.


"Iya, tante. Aku mengerti maksudmu! Berapa biaya obat ibu?" Tanya Merta.


"Dengan biaya rumah sakit semuanya sekitar 18 juta." Jawab tante Maya.


"Apa? Sebanyak itu?" Teriak Merta terkejut.


"Iya. Aku juga sangat bingung memikirkan biaya pengobatan ibumu." Sahut tante Maya ikutan pusing.

__ADS_1


"Baiklah, tante. Aku akan berusaha untuk mencari pinjaman uang dengan temanku nanti dan mengirimkannya segera." Kata Merta lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Diam-diam Geof menguping dan mendengarkan semua percakapan Merta dengan tantenya di telepon. Geof terkekeh jahat dengan segudang rencana yang akan ia lakukan terhadap Merta.


__ADS_2