
Setelah menghadiri pesta perjamuan itu, Geof dan Merta kembali ke hotel dimana tempat mereka menginap selama berada di Amerika. Sepanjang perjalanan, Geof melirik Merta yang duduk sambil menahan senyumannya. Geof sangat kesal karena merasa di bodohi oleh Merta selama ini.
"Apa kau sudah puas karena telah membodohiku selama ini, hah?" Teriak Geof kesal pada Merta.
"Siapa yang membodohimu?" Sahut Merta.
"Kau yang membodohi aku! Kau berpura-pura menjadi gadis bodoh yang tidak bisa berbahasa inggris." Kata Geof.
"Kau bilang kau tidak menyukai pelajaran bahasa inggris saat sekolah, tapi kenapa kau bisa begitu lancar berbicara dalam bahasa inggris, Merta?" Teriak Geof sekesal-kesalnya.
"Aku memang tidak suka pelajaran itu, tapi suka tak suka, aku harus mempelajari bahasa internasional itu agar aku tidak kesulitan saat aku menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita)." Sahut Merta.
"Apa? TKW?" Tanya Geof kaget.
"Iya! Dulu saat aku masih sekolah, aku bercita-cita ingin menjadi TKW setelah aku lulus. Tapi setelah aku lulus, ibuku tak mengizinkan aku pergi keluar negeri untuk bekerja disana. Ibuku tak ingin aku terlalu jauh darinya." Kata Merta menjelaskan.
"Kenapa kau ingin menjadi TKW?" Tanya Geof.
"Karena tetangga di kampungku bisa mencukupi kebutuhan keluarganya setelah ia bekerja diluar negeri, maka dari itu aku juga ingin seperti dia yang bisa mencukupi kebutuhan keluargaku." Jawab Merta.
"Dasar bodoh! Untung saja kau tidak jadi TKW di luar negeri." Kata Geof.
"Kenapa?" Tanya Merta.
"Apa kau tidak tau, begitu banyak TKW yang di siksa di luar negeri oleh majikannya?" Ujar Geof.
"Benarkah?" Tanya Merta terkejut.
"Tidak semuanya majikan itu baik dan selalu perhatian pada pekerjanya! Banyak kejadian buruk yang menimpa para TKW yang bekerja diluar negeri. Ada yang disiksa oleh majikannya, mereka dipukul bahkan tidak di beri gaji sama sekali." Kata Geof.
"Seramnya!" Seru Merta ketakutan.
"Apa kau tau, bahkan ada TKW yang di bunuh oleh majikannya di laur negeri sana." Kata Geof menakut-nakuti Merta.
"Be...benarkah?" Tanya Merta semakin ketakutan.
"Tentu saja! Di dunia ini, hanya aku majikan yang baik kepada para pekerjanya. Hehehe." Kata Geof menyombongkan diri.
"Hah, dasar manusia aneh! Tidak ada yang memujimu, sehingga kau berinisiatif untuk memuji dirimu sendiri." Ujar Merta sewot.
"Hei, aku ini berkata benar! Kau tidak percaya pada ucapanku barusan?" Kata Geof.
"Tidak!" Sahut Merta ketus.
"Kalau kau tidak percaya tanyakan saja pada Lutfi saat kita sudah kembali ke Indonesia nanti." Kata Geof.
"Huh, tetap saja aku tidak percaya." Gumam Merta.
"Jadi waktu itu kenapa kau bilang kau tidak bisa bahasa inggris?" Tanya Geof.
"Aku sengaja melakukannya karena aku ingin membuatmu terkejut saja." Jawab Merta.
"Dasar kau!" Ujar Geof kesal.
Geof dan Merta tiba di hotel tempat mereka menginap selama berada di Amerika. Geof menghempaskan tubuhnya di atas ranjang karena lelah seharian beraktifitas. Sedangkan Merta duduk di depan cermin sambil melucuti semua perhiasan yang ada di tubuhnya. Merta berdiri untuk meraih resleting yang ada di belakang punggungnya. Ia berusaha meraih resleting tersebut untuk membuka gaunnya itu. Geof melirik Merta yang sedang sibuk meraih resleting gaunnya. Geof bangkit dan mendekati Merta.
"Apa kau sedang menggodaku, wanita?" Bisik Geof menarik resleting gaun Merta turun ke bawah.
"Geof, kau sudah berjanji untuk tidak melakukan hal itu lagi padaku!" Kata Merta memperingatkan Geof.
Geof tak perduli pada peringatan Merta padanya, ia terus saja menurunkan resleting gaun Merta ke bawah. Terlihatlah punggung Merta setelah resleting itu terbuka. Geof memainkan jari-jarinya di punggung Merta seraya menciumi pundaknya.
"Geof!" Teriak Merta.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" Tanya Geof kesal.
"Kau sudah berjanji tidak akan meniduriku lagi sampai kontrakku habis!" Kata Merta mengulang kembali perjanjian yang Geof pikir itu hanyalah lelucon saja.
"Jadi tantangan yang di pesta perjamuan itu beneran?" Tanya Geof.
"Iya." Sahut Merta.
Geof memutar otaknya untuk mengakali Merta.
"Merta, tapi perjanjian tadi itu tidak berlaku! Tidak ada saksi maupun bukti untuk membenarkan tantangan itu. Hehehe." Kata Geof terkekeh licik.
"Oh ya? Kau pikir aku bisa mudah kau tipu lagi?" Ujar Merta seraya mengambil ponselnya.
Merta menyalakan hasil rekaman suara Geof yang mengatakan setuju untuk mengikuti tantangan yang diberikan oleh Merta saat di pesta perjamuan tadi. Geof melebarkan kedua matanya karena terkejut bahwa Merta merekam ucapannya dan membuatnya mati kutu.
"Bagaimana Geof? Apa kau masih berpikir untuk bisa menipuku?" Tanya Merta tersenyum licik.
"Iya baiklah, kau menang!" Ujar Geof kesal karena tidak dapat menipu Merta lagi.
"Hahaha, akhirnya aku bisa menang darimu, Geof!" Kata Merta tertawa puas.
"Huh, dasar menyebalkan! Aku telah salah menilainya selama ini." Gumam Geof kesal dalam hatinya.
Geof berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan kesal. Geof merasa kesal karena tak dapat menjamah tubuh wanita yang selama ini telah melayani hasratnya di ranjang. Geof juga kesal pada dirinya sendiri karena terlalu meremehkan keluguan Merta yang berasal dari perkampungan yang ada di pinggiran kota.
Setelah mandi dan merasa segar, Geof dan Merta berbaring di atas ranjang untuk beristirahat. Merta tidur membelakangi Geof yang berbaring telentang di sampingnya. Tak lama kemudian saat akan tertidur pulas, tiba-tiba Merta merasakan ada tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Merta membuka matanya kembali dan berupaya untuk menggeser tangan Geof dari tubuhnya.
__ADS_1
"Aku ingin seperti ini! Aku janji tidak akan melakukannya padamu." Kata Geof kepada Merta.
Merta hanya diam dan kembali memejamkan kedua matanya. Merta berpikir untuk membiarkan Geof mendekap dirinya di saat tidur, yang penting Geof tidak melampaui batanya lagi kepada dirinya. Malam kian larut, Geof dan Merta tertidur pulas di atas ranjang yang sama di kamar hotel itu.
Keesokan paginya, Merta terbangun dan menyadari dirinya tertidur di atas dada Geof. Merta kaget bukan kepalang pagi itu. Dia bergerak cepat untuk menjauh dari tubuh Geof, sebelum Geof terbangun.
"Ya Tuhan! Kenapa malah aku yang melakukan hal itu pada dirinya? Aku malah menimpa tubuhnya saat tidur. Ini sangat memalukan!" Gumam Merta langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Merta sedang mandi di kamar mandi, Geof terbangun dan mengingat mimpi yang menghiasi tidur nyenyaknya semalam.
"Semalam aku mimpi seperti di perkosa oleh wanita!" Gumam Geof dalam hatinya.
"Apakah aku mimpi basah?" Gumamnya Geof seraya melihat celananya yang tampak kering.
"Oh, syukurlah! Bukan mimpi basah." Gumam Geof lagi.
Tak lama kemudian, Geof melirik Merta yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia sangat bergairah saat melihat rambut Merta yang masih basah dan menetes di wajah serta lehernya. Namun Geof kembali teringat kalau ia kalah dalam tantangan yang Merta berikan padanya semalam.
"Hah, sialan! Aku sangat bergairah melihatnya seperti itu, namun aku tidak bisa melakukan apa-apa padanya." Gumam Geof kesal dalam hatinya.
Merta melihat Geof yang tampak frustasi sambil duduk di atas ranjang.
"Kenapa kau?" Tanya Merta.
"Masih bertanya, hah? Melihatmu seperti itu membuat gairahku memuncak!" Teriak Geof kesal.
"Hehehe, miris sekali nasibmu!" Ledek Merta yang menambah kekesalan Geof.
"Dasar kau, wanita menyebalkan!" Gerutu Geof seraya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Merta yang duduk di depan cermin tertawa puas karena ia mampu mengalahkan Geof serta berbalik mengerjainya.
"Kini giliranmu untuk aku kerjai, Geof! Hehehe." Kata Merta memiliki segudang rencana untuk mengerjai Geof.
*****
Hari itu langit Amerika terlihat cerah. Saat itu negara Amerika sedang mengalami musim panas. Penduduk di sana banyak mengahabiskan masa liburan musim panas mereka di pantai dan ada juga yang pergi berlibur ke tempat-tempat wisata lainnya.
Geof yang sudah berjanji untuk mengajak Merta berjalan-jalan di sana, pergi ke salah satu tempat wisata yang terkenal di seluruh dunia. Yaitu patung dewi raksasa yang menggunakan mahkota berduri dan sebuah obor ditangannya. Patung yang di kenal sebagai patung Liberty itu menjadi icon di kota New York.
"Kita mau kemana hari ini?" Tanya Merta yang sudah tidak sabar ingin berjalan-jalan di kota New York itu.
"Ke patung Liberty!" Jawab Geof.
"Wah, aku mau." Seru Merta antusias.
"Kelihatannya kau begitu bersemangat." Kata Geof.
"Hehehe, kalau kau begitu semangat maka aku juga akan bersemangat!" Kata Geof.
"Let's go!" Seru Geof dan Merta serentak dengan semangat yang berapi-api.
Pagi yang cerah itu, Geof menyewa sebuah mobil mewah dan beserta supirnya untuk pergi ke sebuah pulau yang bernama Liberty Island untuk berwisata di monumen nasional yang tepat di bawah patung Liberty itu. Puas menikmati pemandangan di sekitar area monumen tersebut, Geof mengajak Merta untuk pergi makan siang di sebuah restoran yang tak jauh dari tempat tersebut.
Setelah mengisi perut mereka yang kosong itu, mereka pun pergi ke tempat yang penuh dengan papan iklan yang berlampu berwarna-warni. Time Square itu tempat merupakan tempat pejalan kaki yang tersibuk di dunia. Selain itu Time Square adalah tempat dimana banyak meja dan kursi yang biasa digunakan untuk pengunjung nongkrong dan menikmati makanan atau minuman yang di pesan dari restaurant yang terdekat.
"Wah, indah sekali! Penuh warna." Seru Merta sangat senang.
"Berdiri disana! Aku akan memotretmu." Kata Geof menyuruh Merta berdiri di tempat yang lumayan bagus untuk berfoto.
"Oke." Sahut Merta bergaya bak model papan atas.
Geof mengambil beberapa potret Merta yang bergaya sebagus mungkin. Wajah Geof memerah saat menatap hasil jepretannya itu. Tak bisa di pungkiri kalau ia menyukai wanita yang sudah hampir 1 tahun 8 bulan terlibat kontrak dengannya.
"Geof, ayo kita berfoto bersama." Ajak Merta.
"Ba..baiklah." Sahut Geof gugup.
Entah apa yang membuat Geof gugup saat Merta menarik lengannya. Geof meminta tolong kepada seseorang pengguna jalan untuk mengambil foto dirinya bersama dengan Merta. Lagi-lagi wajah Geof memerah karena melihat foto dirinya bersama Merta.
Hari tampak menjelang malam, Geof dan Merta memutuskan untuk berlama-lama di Time Square itu. Karena semakin malam, tempat itu semakin indah di lihat.
Geof dan Merta duduk di meja dan memesan berbagai makanan juga minuman yang mereka pesan dari restaurant terdekat. Mereka menyantap makanan dan minuman itu sambil menikmati suasana malam yang di penuhi oleh lampu papan iklan yang berwarna-warni.
Selesai makan, Geof mengajak Merta untuk kembali ke hotel. Namun saat akan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Merta ingin buang air kecil. Merta pun pergi ke toilet untuk beberapa saat. Saat menunggu Merta yang sedang pergi ke toilet, tiba-tiba ada seorang wanita yang tak sengaja menabraknya ketika berjalan. Geof menoleh wanita itu dan melihat wajahnya.
"I'm sorry!" Ucap wanita itu yang tak lain adalah Alya mantan kekasih Geof yang menetap di Amerika.
Geof dan Alya saling tatap sejenak, hingga akhirnya Geof memalingkan wajahnya dengan kasar.
"Geof." Ucap Alya terkejut melihat Geof berdiri di hadapannya.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Alya.
"Bukan urusanmu!" Sahut Geof ketus.
"Apa kabar Geof, lama tidak berjumpa." Sapa Alya menanyakan kabar pada Geof.
Geof hanya diam tak mau menanggapi sapaan Alya padanya.
"Geof, kau masih dendam padaku? Berapa kali aku harus meminta maaf padamu agar kau puas?" Tanya Alya.
__ADS_1
Geof masih diam dan tampak sedikit tidak nyaman karena kehadiran Alya di hadapannya.
"Geof, ayo kita kembali ke hotel!" Kata Merta yang baru tiba dari toilet.
Alya dan Merta saling pandang satu sama lain. Alya bahkan memperhatikan Merta dari ujung kaki hingga atas kepala.
"Siapa dia?" Tanya Alya pada Geof sambil melirik Merta.
"Siapa dia bukanlah urusanmu!" Sahut Geof ketus pada Alya.
"Geof, apa kau masih bermain wanita selama ini? Apa dia wanita simpananmu?" Tanya Alya.
Ppplllaaakkkk...........
Geof kesal dan menampar wajah Alya.
"Wanita kotor yang suka berselingkuh sepertimu itu, tidak pantas mencibir kekasihku! Apa kau mengerti?" Bentak Geof marah besar pada Alya.
"Dia...dia kekasihmu?" Ucap Alya seakan tak percaya pada ucapan Geof.
Tak ingin menanggapi perkataan Alya lagi, Geof langsung menarik tangan Merta untuk pergi dari tempat itu. Dari kejauhan Merta sesekali melihat kebelakang pada Alya yang masih menatap kepergian mereka. Alya bahkan berjongkok sambil menangis sedih karena melihat Geof telah memiliki kekasih di hidupnya.
"Geof, aku masih mencintaimu hingga sekarang." Ucap Alya menangis sedih karena telah mengkhianati Geof dulu.
Merta melihat Alya menangis di tepi jalan. Ia seakan tak tega melihat Alya yang begitu sedih menangisi kepergian Geof saat itu.
"Geof, wanita itu menangis disana." Kata Merta mencoba untuk menghentikan Geof.
"Aku tidak perduli!" Sahut Geof.
Geof terus berjalan sembari menarik tangan Merta untuk berjalan bersamanya menuju ke area parkir mobil. Geof dan Merta masuk ke dalam mobil. Geof memerintahkan supir yang ia sewa untuk membawa mereka kembali ke hotel.
Tiba di hotel tersebut, Merta menatap Geof dengan segudang pertanyaan yang ada di kepalanya. Merta mendekati Geof yang terlihat sedang kesal setelah bertemu dengan Alya.
"Geof, siapa wanita itu?" Tanya Merta.
"Wanita yang mana?" Geof balik bertanya sambil membuka kancing kemejanya dengan kesal.
"Wanita yang kau tampar tadi!" Kata Merta.
"Bukan siapa-siapa!" Jawab Geof.
Merta melihat Geof membuka kancing kemejanya dengan sangat kasar, bahkan kancing kemejanya terpelas begitu saja karena di tarik oleh Geof. Merta meraih kancing baju kemeja Geof, dan membukanya perlahan.
"Geof, jika kau sedang kesal lebih baik kau berbaring saja." Kata Merta seraya membuka kancing kemeja Geof.
"Dia adalah Alya! Dia mantan kekasihku." Kata Geof tiba-tiba menjelaskan siapa sosok wanita yang di tampar Geof di pinggir jalan.
Deg...Deg....
Jantung Merta berdetak keras sesaat. Hatinya terasa perih bagaikan tertusuk jarum.
"Oh, begitu." Kata Merta mencoba untuk menahan rasa perih di hatinya.
Geof duduk di tepi ranjang dengan kemeja yang sudah terlepas dari tubuhnya.
"Kenapa kau berpisah dengannya?" Tanya Merta penasaran.
"Dia mengkhianati aku! Aku begitu mencintainya saat kami masih bersama. Segala macam cara aku lakukan agar aku bisa membuatnya bahagia, namun entah apa salahku sehingga dia begitu tega mengkhianati aku." Kata Geof mencurahkan isi hatinya yang menyimpan kisah pahit di masa lalu.
"Setelah pengkhianatan itu, aku tak pernah menghargai yang wanita kecuali mamaku! Aku tidak pernah percaya lagi pada wanita dan memiliki hubungan yang serius." Kata Geof lagi.
"Jadi karena itu Geof suka bermain wanita selama ini?" Gumam Merta dalam hatinya.
Merta melihat raut wajah Geof yang tampak sedih saat itu. Ia tak ingin Geof terus-terusan sedih hanya karena wanita yang tidak mengerti akan perasaan cinta yang dimiliki Geof waktu itu.
"Geof, pergilah mandi agar kau segar! Setelah itu istirahatlah." Kata Merta.
Geof menghela nafas dengan berat dan pergi masuk ke dalam kamar mandi. Merta menatap Geof yang terlihat sedih setelah bertemu dengan Alya.
"Apa dia masih menyimpan perasaan terhadap wanita yang bernama Alya itu?" Gumam Merta dalam hatinya.
"Saat melihatnya seperti ini, kenapa aku seakan sakit hati?" Gumam Merta lagi dalam hatinya.
Malam semakin larut, Merta terbangun dari tidurnya dan melihat Geof masih terjaga sambil berbaring disampingnya. Merta duduk sambil mengucek kedua matanya.
"Kenapa kau belum tidur?" Tanya Merta pada Geof.
"Aku tidak bisa tidur!" Sahut Geof.
"Apa kau memikirkan Alya?' Tanya Merta.
"Tidak!" Jawab Geof.
"Lalu kenapa kau belum tidur juga?" Tanya Merta lagi.
"Aku terbiasa memelukmu saat tidur, jadi saat tidak memelukmu aku tidak bisa tidur." Kata Geof sambil memalingkan wajahnya yang merah.
"Hah, ya sudahlah! Kau boleh memelukku saat tidur. Tapi ingat jangan melakukan apapun padaku." Kata Merta memperingatkan Geof.
"Iya baiklah!" Sahut Geof senang dan segera berbaring memeluk Merta.
__ADS_1
Merta kembali tidur di dalam pelukan Geof. Geof pun memejamkan matanya dan merasakan hangat tubuh Merta yang berada di dalam pelukannya.