
Tiba di apartemen yang terbilang sangat mewah itu, Merta membelalakkan kedua matanya. Ia hampir tidak percaya kalau dia yang merupakan gadis kampung yang hidup dengan kekurangan dapat menginjakkan kakinya di apartemen mewah. Bahkan selama hidupnya ia tidak pernah melihat bangunan apartemen secara langsung.
"Inikah yang disebut apartemen? Ya Tuhan, mewah sekali!" Gumam Merta takjub.
Geof melirik Merta yang tercengang melihat apartemen miliknya.
"Jangan pernah membandingkan apartemen milikku dengan kosan kumuh yang tadi!" Ujar Geof dengan sikapnya yang sombong kepada Merta.
Merta hanya menatapnya sinis sekaligus kesal.
"Dasar jelmaan buaya! Sombong sekali dia mentang-mentang terlahir dari keluarga yang kaya." Gumam Merta dalam hatinya.
Tiba-tiba Geof mendekatkan wajahnya pada Merta yang membuat Merta sedikit terkejut.
"Jangan mengumpatku di dalam hati!" Kata Geof yang membuat Merta semakin terkejut.
"Bagaimana bisa dia tau kalau aku mengumpatnya dalam hati?" Pikir Merta bingung.
Geof berjalan menuju sebuah kamar yang ada di lantai dasar apartemen miliknya. Ia membuka pintu kamar itu dan menunjukkannya pada Merta yang masih memegangi tas yang berisi pakaian-pakaian miliknya.
"Ini kamarmu! Kau bisa gunakan kamar ini selama menjadi pelayanku." Kata Geof.
"Wah, bagus sekali kamarnya!" Gumam Merta melihat kamar yang akan menjadi tempatnya beristirahat.
"Kamarku ada di lantai atas." Kata Geof lagi.
"Jika kau memerlukan sesuatu jangan panggil aku atau jangan bertanya padaku." Sambung Geof lagi.
"Lalu aku harus bagaimana jika tidak bertanya padamu?" Ujar Merta mulai kesal.
"Cari tau saja sendiri di apartemen ini jika kau memerlukan sesuatu. Kau punya otak dan kaki, jadi gunakanlah otak dan kakimu itu." Sahut Geof.
"Hah, baru saja beberapa menit aku disini, aku sudah mulai stress menghadapinya, apalagi jika dua tahun nanti, aku pasti gila di buatnya." Gumam Merta dalam hatinya.
Merta menghela nafas untuk meredakan rasa kesalnya pada Geof.
"Baiklah, aku akan masuk ke dalam kamarku sekarang." Kata Merta.
Saat Merta akan melangkah masuk, Geof menarik lengannya.
"Hei, disini kau bukan tamu, tapi pelayan!" Ujar Geof.
"Lalu kau mau apa?" Tanya Merta kembali menghela nafas.
"Buatkan aku kopi!" Perintah pertama Geof sebagai majikan bagi Merta.
"Baiklah." Sahut Merta seraya akan melangkah ke dapur, namun lagi-lagi Geof menahannya.
"Baiklah apa?" Ujar Geof tidak senang.
"Iya, baiklah! Aku akan membuatkan kopi untukmu." Sahut Merta.
"Panggil aku tuan!" Perintah Geof.
"Baiklah tuan Geof yang terhormat." Ucap Merta dengan terpaksa.
"Bagus!" Kata Geof senang.
Merta cepat-cepat melangkaj ke ruang dapur yang memang berdekatan dengan kamarnya. Merta membuatkan kopi panas untuk Geof sambil berdecak kesal.
"Aku sangat kesal! Ingin sekali rasanya aku mencekik leher buaya darat itu hingga ia mati." Gumam Merta kesal pada Geof.
"Hah, sudahlah! Untuk apa aku kesal pada pria gila itu, bagaimanapun juga di telah menyelamatkan aku dari tempat perjudian yang terselubung itu." Gumamnya lagi.
Merta membawa secangkir kopi yang pesan oleh Geof padanya. Namun saat itu Merta tidak melihat Geof di lantai bawah. Merta menuju ke tangga sembari memanggil Geof.
"Tuan, apa kau berada di atas?" Panggil Merta.
Tidak ada sahutan dari Geof di sana. Merta melangkah naik ke atas menuju ke sebuah pintu kamar. Merta mengetuk pintu kamar tersebut sambil memanggil Geof lagi. Namun tetap saja tidak ada jawaban darinya. Merta memutar gagang pintu dan membuka pintu itu sedikit. Merta mengintip ke dalam kamar dan terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi.
"Mungkin dia sedang mandi. Aku letakkan kopinya disini saja." Ucap Merta meletakkan secangkir kopi untuk Geof di atas sebuah meja kecil di samping ranjang.
Saat akan keluar dari kamar itu, sebuah foto menarik perhatiannya. Merta berhenti dan melihat-lihat bingkai foto yang terpajang di dinding kamar. Foto yang terpajang di sana adalah foto Geof saat masih kecil bersama dengan kedua orang tuanya.
"Imut sekali dia saat masih kanak-kanak. Tidak di sangka setelah dewasa di menjadi buaya darat." Gumam Merta memperhatikan foto itu satu persatu.
Merta kaget saat pundaknya di tepuk dari belakang oleh Geof yang baru saja selesai mandi.
"Sedang apa kau di kamarku, hah?" Tanya Geof menatap Merta.
"Aku...aku mengantar kopi untukmu." Jawab Merta ketakutan.
Geof melangkah maju untuk mendekatinya sedangkan Merta melangkah mundur untuk menjauh dari Geof. Geof menarik tubuh Merta hingga masuk ke dalam dekapannya.
"Apa kau ingin naik ke atas ranjangku malam ini?" Tanya Geof menatap Merta dengan pandangan mesumnya.
"Lepaskan aku!" Kata Merta berontak.
"Kau sendiri yang ingin masuk ke dalam kamarku, maka dari itu aku tidak akan melepaskanmu!" Sahut Geof semakin kencang mendekap Merta.
"Aku ke sini hanya untuk mengantar kopi yang kau pinta dariku tadi. Lepaskan aku!" Kata Merta terus berontak.
Saat Merta berontak di dalam dekapan Geof, tanpa sengaja handuk yang melingkar di pinggang Geof jatuh. Merta kaget setengah mati melihat benda tumpul yang menggantung di antara kedua kaki Geof, sedangkan Geof hanya tersenyum santai membiarkan handuknya jatuh ke lantai.
"Aaaarrggghhh! Mataku ternodai." Teriak Merta yang sudah terlepas dari dekapan Geof dan berlari keluar kamar secepat kilat.
"Hehehe, dia kabur!" Ucap Geof terkekeh melirik ke arah pintu kamarnya yang masih ternganga.
Merta berlari masuk ke dalam kamarnya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Nafasnya terengah-engah naik turun. Merta duduk di atas ranjang dan mengingat benda tumpul yang ia lihat barusan. Semburat merah mewarnai pipinya.
"Apa yang sedang aku pikirkan? Kau harus sadar Merta." Ucap Merta sambil menepuk pipinya berulang kali agar ia tersadar dari pikirannya.
__ADS_1
Setelah pikiran kacaunya menghilang, Merta membersihkan dirinya di kamar mandi lalu ia pergi tidur. Tidak lupa ia menyalakan alarm agar ia terbangun di pagi hari dan mengawali pekerjaan barunya sebagai pelayan di apartemen Geof.
* * *
Beberapa hari kemudian, di apartemennya, Geof hanya bermalas-malasan sambil menonton televisi. Kulit kacang dan kaleng minuman kosong berserakan dimana-mana. Merta sedang sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk Geof. Geof bosan dengan acara tv yang tak menarik baginya. Geof melangkahkan kakinya ke dapur untuk mengambil minuman di kulkas. Ia melirik Merta yang sedang memotong sayuran dengan keringat mengucur di dahi dan lehernya. Rambut merta acak-acakan, namun saat itu Geof melihat wajah Merta tampak begitu memikat dengan keringat di wajahnya. Geof melihat tubuh Merta dari belakang. Matanya naik turun memperhatikan tubuh Merta.
"Kaki jenjang yang indah, tubuhnya juga bagus. Hehehe." Gumam Geof dalam hatinya.
Geof mendekati Merta dan memeluknya dari belakang yang membuat Merta kaget.
"Tuan, apa yang kau lakukan?' Ujar Merta kaget di peluk oleh Geof.
"Aku sudah mengeluarkan uang untukmu sebanyak 100 juta, jadi aku bisa melakukan apapun yang aku mau!" Bisik Geof di telingat Merta.
Merta sedikit berontak untuk terlepas dari pelukan Geof.
"Jangan berontak!" Ujar Geof.
Merta terus berontak. Lalu Geof membalikkan tubuh Merta menghadapnya. Dengan cepat Geof langsung mendaratkan bibirnya mencium Merta dengan paksa. Merta kembali berontak, namun Geof mengancamnya lagi.
"Aku bilang, jangan berontak atau aku akan memperkosamu malam ini!" Teriak Geof kesal pada Merta.
Geof menatapnya tajam dan Merta tak berani membalas tatapannya. Merta hanya diam dan menunduk wajahnya di hadapan Geof.
"Seandainya dulu kau mau menemaniku hanya semalam, mungkin kau tidak akan terjebak denganku selama dua tahun disini." Kata Geof mengangkat dagu Merta untuk membalas tatapannya.
"Lebih baik aku menjadi pelayanmu selama dua tahun, dari pada aku harus menemani pria murahan sepertimu di atas ranjang." Ujar Merta berani membalas perkataan Geof terhadapnya..
Geof kembali kesal saat Merta mengatakan dirinya pria murahan. Geof mencekik leher Merta dengan kesal.
"Sekali lagi kau berani menghinaku, aku akan membunuhmu!" Teriak Geof.
Lalu Geof menghempaskan tubuh Merta hingga terjatuh ke lantai. Merta terbatuk-batuk setelah di cekik oleh Geof.
"Lanjutkan pekerjaanmu, cepat!" Teriak Geof lagi pada Merta.
Dengan tubuh yang masih gemetar Merta melanjutkan pekerjaannya di dapur itu. Geof kembali ke ruang tengah untuk menonton televisi. Sedangkan Merta kembali mengambil pisau dan memotong sayuran lagi.
"Seandainya aku tidak memiliki ibu yang sedang sakit, mungkin aku sudah menusuk pria itu dengan pisau ini!" Gumam Merta kesal pada Geof.
"Sayangnya aku masih memiliki ibu, jika aku membunuh orang maka ibuku pasti akan sangat sedih dan itu tak baik untuk kondisi kesehatannya." Gumam Merta lagi.
Merta menitikkan air matanya karena merindukan ibunya yang masih di rawat di rumah sakit setelah operasi pengangkatan ginjalnya.
Makanan yang merta masak pun telah di sajikan di meja makan. Merta melangkahkan kakinya ke ruang tengah untuk memanggil Geof. Merta melihat ruangan itu berserakan dengan kulit kacang dan kaleng minuman.
"Astaga! Aku membersihkan apartemen ini hingga puluhan kali dalam sehari." Gumam Merta dalam hatinya.
Lalu Geof meliriknya.
"Makan malamnya sudah siap, tuan." Sahut merta.
Geof bangkit dari sofanya menuju ke ruang makan, sementara Merta mengambil sapu untuk membersihkan ruangan yang berantakan itu. Geof duduk dan menunggu Merta untuk melayaninya, namun Merta tak kunjung datang keruang makan.
"Merta!" Teriak Geof kesal.
Merta datang dengan sapu di tangannya.
"Sedang apa kau?" Tanya Geof.
"Aku membersihkan ruangan tengah." jawab Merta.
"Aku mau makan, cepat layani aku!" Perintah Geof padanya.
Merta dongkol setengah mati saat Geof minta di layani saat makan. Namun tidak ada yang bisa di perbuat oleh Merta saat itu selain menuruti apa yang di inginkan Geof darinya sebagai pelayan. Merta meletakkan sapu dan mencuci tangannya hingga bersih. Lalu Merta mengambil nasi dan beberapa lauk untuk Geof.
"Duduk!" Kata Geof pada Merta.
Merta bingung saat Geof menyuruhnya duduk bersama denganya.
"Aku bilang duduk!" Bentak Geof.
Merta duduk di kursi samping kanan Geof. Lalu Geof menyodorkan sesendok nasi dan lauk pada Merta.
"Makan." Kata Geof.
Merta menatap Geof dengan bingung.
"Apa telingamu budek? Aku bilang makan! Buka mulutmu." Kata Geof menaikkan nada suaranya satu oktaf.
Merta pun membuka mulutnya, dan masuk lah satu suapan dari sendok yang ada di tangan Geof. Lalu Geof makan dengan sendok yang sama dengan Merta.
"Dia gila kah? Makan dengan sendok bekasku?" Gumam Merta dalam hatinya dengan ekspresi bingung.
"Aku tau kau belum makan sejak tadi siang. Apa kau ingin mati?" Tanya Geof dengan nada sinisnya.
"Bagaimana mungkin aku bisa makan siang, kau selalu menggangguku!" Sahut merta berbicara pelan namun terdengar oleh Geof.
"Makanya kalau tidak mau di ganggu jangan jadi wanita yang cantik! Aku ini pria normal, gampang tergoda dengan wanita cantik." Ujar Geof.
"Huh, tadi kejamnya minta ampun sekarang berubah jadi baik. Dasar pria aneh!" Ucap Merta dalam hatinya.
"Makan lagi." Kata Geof menyodorkan sendoknya lagi.
"Aku udah kenyang..." Sahut Merta ketus.
"Bagaimana mungkin kau bisa kenyang kau baru makan sesuap saja tadi." Kata Geof.
__ADS_1
Merta bangkit dari kursinya dan kembali mengambil sapu untuk membersihkan ruangan tengah.
"Awas saja jika kau sampai mati kelaparan aku akan membuang mayatmu ke lubang buaya!" Teriak Geof kesal.
"Kau jelmaan buayanya!" Umpat Merta kesal dengan suara yang tertahan agar Geof tidak bisa mendengar ucapannya dengan jelas.
"Hei, bilang apa kau barusan, hah?" Teriak Geof lagi.
Merta yang berada di ruang tengah hanya ngedumel sendirian dengan kesal menanggapi perkataan Geof padanya.
Setelah selesai membersihkan ruang tengah, merta membersihkan meja makan. Terlihat olehnya Geof sedang duduk di depan komputer bermain game. Semua pekerjaan telah selesai di kerjakan oleh Merta, kini ia sedang membawa sekantung besar plastik hitam yang berisikan sampah rumah tangga.
Merta keluar dari apartemen untuk membuang sampah itu. Diwaktu yang bersamaan Geof mencari Merta untuk menyuruhnya membuatkan kopi, namun ia tidak menemukan Merta di ruang manapun.
Saat mencari-cari, ia melihat ke arah jendela dan tampaklah Merta sedang berbicara dengan penghuni apartemen lainnya.
"Sedang apa wanita itu? Dia ngobrol dengan seorang pria." Gumam Geof memperhatikan dari jendela.
Geof melihat merta tersenyum saat mengobrol dengan pria itu. Geof kesal dan menutup jendelanya dengan keras.
Tak lama kemudian merta masuk ke dalam apartemen, dan geof langsung menarik lengannya dengan kasar.
"Kau bicara dengan siapa tadi, hah?" Teriak Geof kesal pada Merta.
"Dengan penghuni di depan apartemenmu..." Jawab Merta.
"Jangan bicara padanya lagi." Kata Geof melarang Merta untuk dekat dengan pria lain.
"Kenapa? Dia baik padaku. Dia selalu membantuku saat membuang sampah." Kata Merta bingung.
"Jadi kau sudah sering bertemu dengannya?" Teriak Geof semakin kesal.
"Iya! Dia itu tetangga depan." Sahut Merta.
"Aku bilang, jangan bicara padanya lagi! Apa kau dengar perkataanku, hah?" Teriak Geof.
"Kalau aku melihatmu bicara padanya lagi, aku akan menghabisimu." Ancam Geof pada Merta.
"Tapi apa alasannya? Kenapa aku tidak boleh bicara padanya?' Tanya Merta.
"Kau pelayanku, jadi kau harus menuruti perkataanku. Kalau aku bilang tidak boleh ya berarti tidak boleh!" Kata Geof sambil menutup pintu kamarnya dengan keras.
"Dasar pria aneh! Tanpa alasan yang jelas dia melarangku bergaul dengan orang lain." Gumam Merta dongkol pada Geof.
Geof masuk kedalam kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
"Kenapa aku marah? Dia cuma pelayan. Awalnya aku menjadikannya pelayanku untuk membalas semua penghinaannya. Tapi kenapa menjadi seperti ini?" Pikir Geof bingung dengan dirinya sendiri.
Setelah semuanya beres merta masuk kedalam kamarnya dan mandi. Saat itu ia lupa mengunci pintu kamarnya.
Geof keluar kamar dan menuju kamar merta untuk menyuruhnya membuatkan kopi.
"Merta." Panggil Geof.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar Merta. Geof memutar batang pintu dan membuka pintu kamar Merta. Saat itu Merta baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di tubuhnya.
"aarrgghh!" Teriak Merta kaget.
Karena Merta berteriak sangat kencang, Geof terkejut dan ikut berteriak.
"aarrgghh!" Teriak Geof kaget.
Geof berbalik badan membelakangi Merta.
"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa mengetuk dulu?' Teriak Merta.
"Aku sudah memanggilmu berulang kali tapi kau tidak menyahut, aku pikir kau kabur." sahut Geof.
"pergi sana!" Usir Merta.
"Cepatlah berpakaian! Buatkan aku kopi." Perintah Geof.
"Iya." Teriak Merta kesal.
Geof keluar dari kamar merta sambil menarikkan garis senyum di bibirnya. Ia pun kembali duduk di depan televisi di ruang tengah. Tidak lama kemudian Merta menghampiri Geof dengan membawa secangkir kopi ditanganya.
"ini kopimu." Kata Merta meletakan kopi di atas meja.
Saat Merta akan beranjak pergi, Geof menarik tanganya sehingga membuat Merta jatuh terduduk di sebelahnya.
"Apaan sih." Ujar Merta.
"Duduk dan temani aku nonton." Kata Geof.
"Aku mau tidur. Aku ngantuk." Sahut Merta hendak bangun dari sofa.
Lagi-lagi Geof menahanya untuk tidak pergi dari ruangan itu.
"Duduk disini atau aku akan....
"Memperkosamu." Sahut Merta memotong ucapan Geof.
"Baguslah kalau kau sudah tau resikonya jika mengabaikan perintahku." Kata Geof.
"Ancamanmu tidak ada yang lain selain itu." Kata Merta.
Mau tak mau merta yang sudah sangat mengantuk pun terpaksa harus duduk menemani geof menonton bola sambil minum kopi.
hening......
"Gol!" Seru Geof yang saat itu sedang menonton acara pertandingan sepak bola.
__ADS_1
Lalu geof melihat merasakan sesuatu di pundaknya. Iia menoleh dan melihat kepala Merta yang bersandar di pundaknya. Merta sudah pulas tertidur saat menemaninya menonton. Geof menatap wajah merta yang baru selesai mandi. Tampak polos tampa riasan make-up sedikit pun.
"Betapa cantiknya dia." Gumam Geof menatap wajah Merta.