
Sudah hampir seminggu Geof tidak kembali ke apartemennya. Ia menyibukkan dirinya di kantor dan kembali kerumah orang tuanya larut malam. Banyak waktu yang di habiskan oleh Geof untuk fokus dengan pekerjaannya. Geof lebih memilih menghabiskan malamnya untuk lembur di kantor. Kenzo dan Boy juga sudah lama tidak melihat Geof datang ke bar untuk bersenang-senang. Wanita-wanita yang biasanya berkencan dengan Geof sangat murung saat Geof tidak pernah datang lagi ke bar untuk bersenang-senang dengan mereka.
Disudut ruangan bar, Kenzo dan Boy melihat para wanita yang biasanya berkencan dengan Geof.
"Lihatlah, wanita-wanita itu seperti bunga yang sudah lama tidak di sirami air." Ucap Boy pada Kenzo.
"Hehehe, mereka sangat merindukan belaian Geof." Sahut Kenzo.
"Tapi ngomong-ngomong, Geof memang sudah lama tidak terlihat di sini. Kemana dia?" Tanya Kenzo pada Boy.
"Dia sedang menikmati mainan barunya di apartemen." Jawab Boy.
"Apa maksudmu?" Tanya Kenzo bingung.
"Geof memiliki wanita yang sangat cantik di apartemennya. Katanya sih seorang pelayan saja, namun aku lihat sepertinya dia bukan pelayan biasa. Kali ini aku yakin Geof memiliki niat terselubung pada pelayan itu." Kata Boy.
Geof mengendurkan ikatan dasi yang ada di lehernya. Ia masih duduk di meja kerjanya sambil menatap layar laptop. Jam menunjukkan pukul 11 malam dan saat itu Geof masih berada di kantor. Seorang office boy yang ikut lembur dengannya masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu.
"Pak, apa bapak ingin secangkir kopi lagi?" Tanya office boy itu.
"Tidak usah! Aku akan segera pulang." Sahut Geof.
Geof melirik office boy yang baru saja keluar dari ruanganya. Sepintas ia teringat pada office girl yang kini sudah menjadi pelayan di apartemennya. Garis senyuman Geof terukir saat itu. Geof membereskan berkas-berkas kerjanya dan bergegas pergi dari kantor itu.
Geof melajukan mobilnya dengan kencang, situasi malam yang sunyi di jalanan membuat Geof dengan segera tiba di apartemen miliknya. Geof kembali tersenyum saat melihat lampu yang masih menyala dari jendela apartemennya.
"Hehehe, sepertinya dia sedang tidur! Aku akan mengganggunya." Gumam Geof melangkah cepat untuk masuk ke dalam apartemennya.
Dengan menaiki lift Geof pun tiba di depan pintu apartemennya. Ia segera menekan beberapa digit angka untuk membukanya. Geof segera masuk dan melihat kalau Merta sedang tertidur di ruang tengah. Geof melihat televisi yang masih menyala di sana. Geof menggaruk-garuk dahinya saat melihat Merta tertidur di sofa.
"Hah, wanita ini memang membuatku jadi pusing." Gumam Geof.
Geof mematikan televisi dan mengangkat tubuh Merta untuk di pindahkan ke dalam kamarnya. Geof meletakkan tubuh Merta di atas ranjang tidur yang ada di kamarnya Merta. Saat itu Merta malah menarik tubuh Geof untuk semakin dekat padanya.
"Jangan pergi, pangeran." Racau Merta yang ternyata sedang bermimpi.
Geof melebarkan senyumnya sambil menatap Merta yang tertidur di ranjang.
"Hehehe, kau yang menginginkannya sendiri." Ucap Geof malah menimpa tubuh Merta di atas ranjang.
Geof menyerang Merta dengan penuh gairah yang selama ini ia tahan. Hampir dua bulan lamanya ia tidak menyentuh wanita. Geof mencium dan mencubui Merta disana dan tidak di sangka hal itu malah di balas oleh Merta yang membuat Geof semakin tidak kuasa menahan gairahnya.
"Jangan..jangan.." Ucap Merta masih memejamkan matanya.
Tiba-tiba mata Merta terbuka dan melihat Geof yang berada di atas tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Merta pada Geof.
"Melakukan apa yang kau minta." Bisik Geof padanya.
"Lepaskan aku!" Teriak Merta berupaya mendorong tubuh Geof sekuat tenaga.
Keesokan paginya, Merta terbangun dengan mata yang tampak bengkak. Ia melihat Geof yang masih tertidur pulas sambil mendekapnya. Merta mengingat kembali apa yang di lakukan Geof kepadanya semalam. Air matanya kembali mengalir saat itu. Merta menggeser lengan Geof yang melingkar di tubuhnya. Ketika itu Merta hendak membersihkan diri di kamar mandi. Geof terbangun saat Merta menggeser lengannya.
"Mau kemana kau?" Tanya Geof menatap Merta dengan tatapan tajam.
"Aku mau mandi." Sahut Merta yang enggan membalas tatapannya.
"Jangan pergi!" Kata Geof melarang Merta turun dari ranjang.
Merta berbalik menatap Geof dengan kesal.
"Apa kau tidak puas setelah kau memaksaku semalam?" Teriak Merta menuangkan amarahnya pada Geof.
__ADS_1
Geof bangkit dan mencengkram lengan Merta dengan kasar.
"Kau adalah milikku! Apa kau lupa dengan perjanjian kontrak yang sudah kau tanda tangani waktu itu?" Teriak Geof.
"Itu hanyalah kontrak kerja menjadikan aku pelayan rumah tangga di sini, bukan menjadi pelayanmu di atas ranjang!" Balas Merta.
"Huh, apa kau pikir aku bodoh menyia-nyiakan uang seratus juta untuk seorang pelayan rumah tangga?" Ujar Geof turun dari ranjang dan keluar dari kamar Merta.
Merta bingung melihat Geof yang keluar kamar secara tiba-tiba. Tidak lama kemudian, Geof datang dengan membawa salinan berkas yang sudah di tanda tangani oleh Merta waktu itu. Geof melemparkan salinan itu ke wajah Merta.
"Kau baca isi dari perjanjian itu." Kata Geof pada Merta.
Merta pun membacanya dan terkejut melihat isi dalam kontrak kerja yang sudah ia tanda tangani.
"Kenapa bisa seperti ini?" Gumam Merta membaca salinan kontrak kerja itu.
"Apa kau sudah mengerti posisimu, Mertarya?" Ucap Geof tersenyum licik.
"Kau licik! Kau membohongi aku." Ujar Merta sangat kesal.
"Hahaha, kau sudah masuk ke dalam perangkapku!" Kata Geof tertawa dengan kemenangannya.
"Aku membencimu, Geof!" Teriak Merta sangat kesal.
Geof hanya tertawa saja dengan kemenangan yang di lakukannya dengan mencurangi Merta.
"Simpan salinannya agar kau tetap ingat dengan tugas-tugasmu itu." Kata Geof sembari melangkah keluar dari kamar Merta.
"Aaarrgghh!" Teriak Merta sangat kesal pada Geof.
Geof masuk ke dalam kamarnya dan segera pergi mandi. Di dalam kamar mandi Geof tersenyum mengingat kejadian semalam di saat ia sangat menikmati permainannya bersama Merta di ranjang.
"Hehehe, Merta, kau adalah milikku!" Ucap Geof dalam hatinya.
"Duduk!" Ucap Geof pada Merta.
Merta diam saja seakan tidak mendengar perkataan Geof padanya.
"Aku bilang duduk!" Teriak Geof pada Merta lagi.
"Huh, dia semakin menyebalkan!" Ujar Merta kesal.
Merta melangkah dan hendak duduk di meja makan, namun Geof menarik pinggangnya dan mendudukkan Merta di atas pangkuannya. Merta berontak dengan kesal pada Geof, namun Geof kembali membrikan ancaman yang membuat Merta seketika menurut padanya.
"Makanlah." Kata Geof memberikan sesuap makanan pada Merta.
"Aku tidak mau!" Sahut Merta.
"Aku bilang, makan!" Teriak Geof.
"Apa kau selalu saja berteriak seperti ini?" Balas Merta menatap Geof kesal.
Geof menahan amarahnya sambil memijat kepalanya yang terasa pusing menghadapi kerasnya Merta pada dirinya. Geof melotot pada Merta yang membuat Merta takut padanya.
"Makan." Kata Geof mendelikkan matanya pada Merta.
Merta membuka mulutnya dan Geof menyuapinya sambil tersenyum.
"Jika kau menjadi wanita yang penurut maka itu akan sangat bagus untukmu." Bisik Geof sambil menepuk bokong Merta.
__ADS_1
Merta kaget dan berubah menjadi sosok monters yang siap untuk melahap mangsanya.
"Beraninya kau memukul bokongku!" Ucap Merta dengan amarah yang menakuti Geof.
Merta turun dari pangkuan Geof dan segera menjambak rambut Geof yang sudah tersisir rapi. Kepala Geof tertarik-tarik ke bawah saat Merta menjambaknya. Geof berteriak kesakitan sambil mengikuti kepalanya yang di tarik-tarik oleh Merta.
"Apa yang kau lakukan, Merta! Aduh...sakit!" Teriak Geof.
"Rasakan!" Ujar Merta puas menjambak rambut Geof.
"Dasar wanita gila!" Ucap Geof sambil menata rapi rambutnya.
"Kau menyebalkan!" Ujar Merta.
"Huh, benarkah?" Kata Geof mendekati Merta.
"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Merta melangkah mundur sejauh mungkin.
Geof menarik Merta mendekat denganya dan langsung mendaratkan ciumannya pada Merta.
"Kau adalah milikku! Kontrakmu masih ada 1 tahun 10 bulan lagi. Jadi kau harus bersikap baik padaku. Apa kau mengerti?" Kata Geof sambil mengelus pipi Merta yang memerah.
"Sekarang cepat pakaikan dasi di leherku." Perintah Geof pada Merta.
Merta menuruti perkataan Geof dan memakaikan dasi padanya. Saat itu Geof terus menatap wajah Merta yang sangat dekat denganya. Setelah selesai memakaikan dasi di lehernya, Geof kembali menarik tubuh Merta ke dalam dekapannya.
"Sekarang aku akan pergi ke kantor. Cepat cium aku di sini!" Perintah Geof lagi pada Merta.
"Huh, pria menjengkelkan!" Gumam Merta dalam hatinya.
Merta mencium kedua pipi Geof sesuai dengan apa yang di perintahkan padanya.
"Mulai sekarang, kau harus menciumku saat aku akan pergi ke kantor. Itu tugasmu yang baru. Hehehe." Kata Geof sembari cengengesan dan melangkah pergi.
Merta terduduk lemas setelah kepergian Geof dari apartemen itu. Ia berkali-kali berdecak kesal dengan sikap Geof yang semena-mena terhadapnya. Tak lama kemudian Merta mengambil ponsel untuk menghubungi ibunya yang berada di kampung.
"Ibu, bagaimana kabar ibu? Apa ibu sehat?" Tanya Merta.
"Iya. Alhamdulillah ibu sehat setelah menjalani operasi pengangkatan ginjal. Terima kasih ya, kau sudah membiayai semuanya." Sahut Ibu.
"Tapi nak, ibu mau tanya, dari mana kau mendapatkan uang sebanyak itu?" Tanya Ibu pada Merta.
"Aku..., aku meminjamnya dari bos tempatku berkerja dan akan menyicilnya dari gaji yang aku dapatkan setiap bulannya. Jadi ibu tidak perlu khawatir padaku, aku di sini akan baik-baik saja." Kata Merta membohongi Ibunya agar tidak terlalu khawatir padanya.
"Ibu, tolong berikan ponselnya pada tante Maya. Ada hal yang ingin aku katakan padanya." Kata Merta.
Ibu pun memberikan ponselnya pada Maya.
"Ya, Mer." Ucap tante Maya dari ponselnya.
"Tante, aku mau ucapin terima kasih sama tante karena sudah merawat ibu selama aku di kota." Ucap Merta.
"Iya, kau tenang saja, aku ini tantemu sudah pasti aku akan membantu kalian." Jawab tante Maya.
"Tante, dalam beberapa bulan ini mungkin aku tidak mengirimkan uang untuk kalian. Tapi aku janji akan mengirimkan biaya untuk ibu setelah aku mendapatkan kerja tambahan." Kata Merta.
"Iya, jangan terlalu di pikirkan, tante masih ada uang simpanan yang kau berikan waktu itu." Sahut tante Maya.
"Baiklah tante, aku akan kerja dulu." Kata Merta.
"Iya, kau juga jaga diri di sana ya." Kata tante Maya.
"Iya." Sahut Merta.
__ADS_1
Setelah menutup teleponnya, Merta bergegas membersihkan seluruh ruangan di apartemen itu dan menyiapkan makan siang. Sebelum pergi Geof sudah berpesan pada Merta bahwa dia akan kembali untuk makan siang di sana.