
Merta semakin tak berselera makan apapun saat ia teringat pada Geof yang ia kira sedang sendirian di apartemen. Ia tak tau kalau Geof berencana untuk tinggal di kediaman orang tuanya selama Merta belum kembali ke apartemen. Saat memikirkan Geof yang berada di kota, pikiran Merta buyar ketika Maya menepuk pundaknya.
"Apa kau merindukannya?" Tanya Maya.
"Merindukan siapa?" Merta balik bertanya.
"Geof!" Sahut Maya.
"Ti...tidak! Aku tidak merindukan dia. Untuk apa aku merindukan dia, aku dan dia tidak memiliki perasaan apa-apa selain hubungan kerja." Jawab Merta sedikit gugup.
"Hei, aku ini memang orang kampung, tapi aku bisa melihatnya kalau kau dan bosmu itu memiliki hubungan yang lebih." Kata Maya.
"Dari mana Tante tau?" Tanya Merta semakin gugup.
"Geof itu lebih dari baik padamu! Kalau dia tidak suka padamu, mana mungkin dia mau melakukan semuanya seperti kemarin. Dia membawa ibumu ke rumah sakit kota dan membiayai semuanya." Kata Maya.
"Itu hanya perasaan Tante saja! Dia tidak mungkin suka padaku, Tante!" Kata Merta lagi.
"Hah, terserah kau saja!" Ujar Maya kesal.
"Mer, apa kau yakin kau tidak menyimpan rasa pada bosmu itu?" Tanya Maya lagi ingin tau perasaan keponakannya itu.
"I..iya, aku tidak memiliki perasaan apapun padanya. Aku dan dia hanya sebatas hubungan kerja saja." Sahut Merta dusta.
Maya menatap Merta yang menjawab pertanyaannya tanpa mau membalas tatapan matanya.
"Hah, dia tidak mau mengakuinya! Aku yakin kau dan Geof pasti saling menyukai, namun kalian berdua berusaha untuk mendustai perasaan kalian saja." Gumam Maya dalam hatinya.
Merta dan Maya masih duduk di meja makan dengan makanan sederhana yang mereka masak. Merta melirik Maya yang juga tak berselera makan saat itu.
"Tante, kenapa tidak makan?" Tanya Merta.
"Aku merindukan kakakku!" Sahut Maya merindukan ibunya Merta yang baru saja meninggal.
Merta kembali sedih mengingat mendiang ibunya itu.
"Aku juga!" Ucap Merta sedih.
"Kalau saja dia masih hidup, mungkin rumah ini tidak akan terlalu sepi." Kata Maya.
"Beberapa hari lagi kau pasti akan kembali ke kota untuk bekerja. Aku pasti akan merasa kesepian dirumah ini!" Kata Maya lagi.
"Tante, aku janji akan kembali dan tinggal bersamamu. Aku akan segera kembali beberapa bulan lagi. Aku harus menyelesaikan kontrak kerjaku dengan bos Geof!" Kata Merta sambil menggenggam tangan Maya.
"Apa maksudmu kontrak kerja di cafe milik Geof itu yang ada di kota?" Tanya Maya.
"I..iya, Tante! Aku memiliki kontrak kerja di cafenya dan 4 bulan lagi masa kontrak kerjaku habis, jadi aku harus menyelesaikannya, setelah itu aku akan kembali ke sini dan tinggal bersamamu." Sahut Merta masih tak ingin Maya tau yang sebenarnya.
"Iya, baiklah!" Kata Maya percaya saja pada perkataan keponakannya itu.
*****
__ADS_1
Hampir seminggu lamanya Geof menantikan kabar dari Merta yang berada di kampung. Geof berkali-kali menatap layar ponselnya untuk menghubungi Merta. Namun hal itu berkali-kali diurungkannya karena ia takut menggangu kondisi Merta yang masih berkabung karena ibunya baru saja meninggal. Geof meletakkan ponselnya lagi di atas meja kerjanya, sambil menghela nafas dengan berat. Dia sangat merindukan kehadiran Merta di sisinya.
"Apa dia masih sedih? Dia bahkan tidak mengabari aku!" Gumam Geof dalam hatinya.
Geof tampak termenung di ruang kerjanya. Boy sahabatnya datang dan melihat Geof yang masih termenung sambil menatap ke arah jendela kaca. Boy masuk dan menggebrak meja untuk mengagetkan Geof.
Bbbrraaakkkk.......
Geof kaget dan menoleh kepada Boy yang terkekeh di hadapannya.
"Huh, sial! Mengagetkan aku saja, aku." Ujar Geof kesal pada Boy.
"Hehehe, kau sedang memikirkan apa? Apa kau sedang memikirkan wanita itu?" Tanya Boy sambil cengengesan.
"Wanita mana yang kau maksud?" Geof balik bertanya.
"Pelayan cantikmu itu!" Sahut Boy.
"Tidak! Untuk apa aku melakukan dia? Aneh." Kata Geof dusta.
"Ada apa kau kesini?" Tanya Geof pada Boy.
"Apa kau lupa? Kita akan bertemu dengan Azlan di kantornya untuk membicarakan urusan bisnis kita." Kata Boy.
"Oh, iya! Ayo kita pergi." Kata Geof bergegas untuk pergi bersama Boy.
Tak lama berselang, Boy dan Geof tiba di area parkir perusahaan Azlan. Saat Azlan sedang berada di ruang kerjanya, Boy dan Geof menghampirinya untuk membahas masalah bisnis yang sedang mereka jalankan bersama.
Setelah selesai membahas masalah bisnisnya, Azlan dan Boy meledek Geof habis-habisan karena masih betah melajang.
"Aku belum menemukan wanita yang cocok untuk menjadi pendamping hidupku!" Jawab Geof.
"Hei, si pelayan itu kan cocok untukmu." Sahut Boy.
"Dia punya nama! Namanya Merta." Kata Geof sewot pada Boy.
"Tapi dia pelayanmu, kan?" Tanya Azlan lagi.
"Iya, dia menjadi pelayanku hanya untuk 2 tahun saja! Sebentar lagi masa kontraknya habis." Jawab Geof.
"Lalu?" Taanya Boy.
"Lalu dia tidak bekerja denganku lagi." Jawab Geof singkat.
"Hanya sebatas itu saja kah hubunganmu dengannya?" Tanya Azlan.
"Hei, apa maksudmu?" Tanya Geof pada Azlan.
"Akui saja perasaanmu! Jangan sampai kau menyesal setelah dia pergi jauh." Kata Azlan.
Geof hanya diam saja dan enggan untuk membalas perkataan sahabat-sahabatnya itu.
Azlan dan Boy tau watak Geof yang sedikit keras kepala untuk mengakui perasaannya pada Merta. Mereka sangat tau kalau sahabatnya itu merasa sedih saat kontrak kerja Merta akan selesai dalam beberapa bulan ini.
__ADS_1
Malam harinya Geof masih betah berada di dalam ruang kantornya. Masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan malam itu juga. Geof menatap layar laptopnya dan tak lama ia melirik pada office boy yang membawakan kopi untuknya. Geof menatap office boy itu dan teringat pada Merta yang dulunya pernah berkerja sebagai office girl di perusahaan milik ayahnya itu. Lagi-lagi Geof menghela nafas saat wajah Merta bermain-main dalam pikirannya.
"Malam ini aku kembali ke apartemen saja! Karena besok hari libur, maka aku akan membersihkan apartemenku yang sudah seminggu lebih tidak dibersihkan." Gumam Geof dalam hatinya.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya, Geof memerintahkan Lutfi untuk mengantarnya kembali ke apartemen. Tiba di sana, Geof masuk ke dalam lift dan naik ke atas lantai dimana tempat apartemen miliknya. Geof melangkah ke depan pintu apartemennya dan menekan beberapa digit angka sebagai password. Geof membuka pintu apartemen dengan keadaan lampu yang tidak menyala. Suasana ruang apartemen itu terasa sunyi dan juga gelap. Geof menyalakan lampunya dan terkejut melihat semua ruangan tampak bersih.
"Kenapa terlihat sangat bersih? Apa Merta sudah kembali?" Gumam Geof dalam hatinya.
Geof berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar. Di atas ranjang ia melihat sosok wanita yang ia rindukan sedang tertidur lelap dengan berbalut selimut. Geof melebarkan senyumannya saat melihat Merta sudah kembali ke apartemen miliknya.
"Dia kembali!" Gumamnya senang dalam hati.
Geof memutuskan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Setelah selesai mandi, Geof naik ke atas ranjang dan berbaring menyamping menghadap Merta yang tidur membelakanginya. Geof merasakan rindu yang luar biasa pada Merta. Ia mendekap Merta dari belakang. Uap nafas Geof yang hangat dirasakan oleh Merta dan membuatnya terbangun. Merta membalikkan tubuhnya untuk berhadapan pada Geof.
"Kau sudah kembali?" Ucap Merta pada Geof.
"Iya!" Sahut Geof.
"Apa kau sudah makan malam?" Tanya Merta.
"Sudah!" Jawab Geof.
"Apa kau lelah membersihkan semua ruangan?" Tanya Geof.
"Iya, terlalu banyak debu jadi aku membersihkannya." Sahut Merta dalam keadaan mata yang masih terpejam.
"Tidurlah!" Kata Geof.
Merta menenggelamkan wajahnya ke dada Geof yang bidang.
"Nyaman sekali!" Gumam Merta dalam hatinya saat itu.
Geof semakin mempererat dekapan hangatnya pada tubuh Merta.
"Mendekapnya seperti ini sungguh membuatku terasa nyaman." Gumam Geof dalam hatinya.
Malam itu Geof dan Merta tertidur karena perasaan nyaman yang mereka rasakan saat mereka saling mendekap hangat.
Keesokan paginya, Merta terbangun dan melihat Geof masih tertidur. Merta memperhatikan wajah Geof dengan seksama. Ia sangat menyukai wajah Geof yang polos ketika tidur. Merta juga mengelus wajah Geof dengan lembut. Lalu tiba-tiba tangannya di tangkap oleh Geof yang terbangun dan menatapnya. Merta kaget sekaligus malu dengan wajah yang sangat merah.
"Katakan padaku, wajahku sangat tampan kan, hehehe." Kata Geof sambil menatap Merta.
"Kau.., kau terlalu kepedean!" Ujar Merta sewot.
"Kepiting rebus! Wajahmu merah sekali." Kata Geof menggoda Merta.
Geof menatap bibir Merta yang sangat dekat dengannya. Tanpa aba-aba Geof langsung mendaratkan ciumannya dengan segera di bibir Merta. Merta melebarkan matanya karena Geof menciumnya secara tiba-tiba. Namun entah apa yang membuat Merta membalas ciuman Geof pagi itu. Lalu tiba-tiba saja Merta mendorong tubuh Geof dengan kuat.
"Geof, jangan lakukan itu lagi! Kau sudah berjanji padaku, kan?" Kata Merta menatap Geof.
Geof tak bisa berkata apapun saat itu. Ia hanya membalas tatapan mata Merta yang sendu. Tak lama saling bertatapan, Merta bangun dan beranjak pergi masuk ke dalam kamar mandi agar menghindari geof. Geof menghela nafas dan tampak sedikit kesal dalam dirinya. Geof kembali berbaring di atas ranjangnya.
Merta berdiri di hadapan cermin dan berupaya untuk menepis perasaanya terhadap Geof.
"Aku yakin, Geof pasti hanya bernafsu saja seperti biasanya! Dia tidak mungkin memiliki perasaan apapun padaku seperti apa yang tante Maya katakan saat itu. Aku juga harus menepis semua perasaanku terhadap Geof sebelum aku jatuh lebih dalam. Aku dan dia tidak mungkin bersatu! Aku hanya gadis kampung, sementara Geof pria kaya yang memiliki status penting di kota ini." Gumam Merta dalam hatinya.
__ADS_1
Merta menepis semua perasaannya karena ia tak mau merasakan patah hati jika Geof tidak memiliki perasaan apapun padanya. Tak ingin berlarut dengan pikirannya itu, Merta memutuskan untuk segera mandi dan menyiapkan sarapan di dapur.