WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
TERCIPTANYA GENG PLETAK


__ADS_3

Malam hari setelah pernikahan, Geof dan Merta tinggal di rumah Luky. Mereka pun tidur di kamar utama yang di sediakan oleh Lita. Kamar tersebut juga di hiasi dengan hiasan bak kamar pengantin. Geof tengah sibuk memakai piyama tidurnya setelah selesai mandi. Sedangkan Merta duduk di depan cermin menggunakan pelembab wajah yang biasa ia gunakan.


Geof melirik wanita yang kini telah sah menjadi istrinya. Dengan senyum yang mengambang Geof memanggil Merta dengan panggilan sayangnya.


"Kepiting rebus! Kemarilah! Hehehe." Panggil Geof dengan jari telunjuknya ke arah Merta.


"Hhheemmmpp!" Merta memalingkan wajahnya dari Geof.


Geof auto kesal. Ia mendekati Merta dan langsung menggendongnya.


"Apa yang kau lakukan, Geof? Cepat turunkan aku!" Teriak Merta meronta.


Geof berdiri di samping ranjang dan segera melemparkan tubuh Merta di atas ranjang yang empuk itu. Pekik Merta terdengar hingga keluar kamar. Di depan pintu kamar Merta dan Geof, telah berdiri sepasang kakek nenek dan cucu kesayangannya. Mereka melebarkan telinganya untuk menguping apa yang terjadi di dalam kamar pengantin baru itu.


"Hei, mereka bicara apa di dalam?" Bisik Luky yang tak mendengar apa-apa dari dalam kamar.


"Diamlah, Luky! Nanti suaramu bisa terdengar oleh Geof dan Merta." Balas Lita ikut berbisik.


"Kakek, nenek, diamlah!" Kata Gading sewot pada Luky dan Lita.


Mereka pun kembali menguping pembicaraan Merta dan Geof di dalam kamar.


Setelah menghempaskan tubuh Merta ke atas ranjang, Geof menyeringai lebar dan menatap Merta.


"Hehehe, kepiting rebus! Malam ini kau akan menjadi santapanku!" Kata Geof naik ke atas ranjang dan mendekati Merta.


"Geof, urungkan saja niatmu itu!" Kata Merta.


"Eh, kenapa? Ini kan malam pengantin kita." Sahut Geof.


"Jangan bilang kau sedang......


Geof mengehentikan ucapannya dan melirik ke bawah perut Merta. Merta mengangguk cepat.


"Aaarrgghh! Kau curang Merta!" Teriak Geof kesal.


"Salah kau sendiri! Menentukan tanggal pernikahan di saat aku sedang datang bulan." Sahut Merta terkekeh licik.


"Sudah berapa hari?" Tanya Geof.


"Baru mulai tadi pagi!" Sahut Merta santai.


"Kapan selesainya?" Tanya Geof.


"Mungkin sekitar seminggu lagi!" Sahut Merta tersenyum licik.


"Aaarrgghhh! Dasar menyebalkan!" Teriak Geof lagi.


Geof telentang di samping Merta dengan wajah yang cemberut. Mau tak mau di harus menahan gairahnya terhadap wanita yang kini menjadi istrinya itu. Merta terkekeh melihat ekspresi wajah Geof yang cemberut karenanya. Merta berbaring menyamping dan merebahkan kepalanya di lengan kekar Geof.


"Sabar dong, sayang! Seminggu kan tidak lama." Kata Merta pada Geof untuk membuatnya lebih tenang.


Geof masih cemberut mendengar perkataan Merta barusan.


"Kau tenang saja, setelah selesai nanti aku akan membuatmu puas!" Bisik Merta pada telinga Geof.


Geof menoleh ke arah Merta dan tersenyum lebar.


"Kau janji?" Tanya Geof.


"Iya, aku janji!" Sahut Merta.


"Baiklah, sekarang kita tidur saja! Dua hari lagi kita akan mengadakan resepsi pernikahan kita selama tujuh hari." Kata Geof.


"Apa? Tujuh hari?" Teriak Merta terkejut.


"Iya!" Sahut Geof.


"Bukankah itu terlalu berlebihan?" Tanya Merta.


"Papa yang menginginkannya!" Kata Geof.


"Hah, aku tidak bisa membayangkan betapa lelahnya nanti." Kata Merta.


"Aku juga! Tapi yang pasti aku akan lelah karena menghajarmu di atas ranjang nanti. Hehehe." Sahut Geof cengengesan.


"Huh, kau selalu saja berpikiran mesum!" Ujar Merta.


"Kenapa? Aku mesum juga hanya dengan istriku!" Sahut Geof.


"Sebelum aku jadi istrimu kau juga selalu mesum padaku! Apa kau tidak ingat saat pertama kali kau melakukannya padaku? Kau yang memaksaku, Geof!" Kata Merta menaikan nada bicaranya.

__ADS_1


"Ppffttt, kalau tidak memaksamu kau mana mungkin jatuh cinta padaku!" Sahut Geof dengan entengnya. Merta begitu kesal kepada Geof yang dulu pernah mengambil keperawanannya secara paksa.


Dari dalam kamar, Geof mendengar suara ribut-ribut di luar pintu. Geof turun dari ranjang dan melangkah ke arah pintu. Ia juga menempelkan telinganya di daun pintu itu. Terdengar olehnya suara Lita, Luky dan juga Gading yang ribut di luar.


"Sialan! Mereka sedang menguping ku dari luar!" Gumam Geof sambil menggerakkan giginya karena kesal.


Geof cepat-cepat membuka pintunya lebar-lebar. Luky, Lita dan Gading tertelungkup ke lantai secara bersamaan. Mereka melihat kaki Geof yang berdiri tegak di hadapan mereka. Mereka pun mendongak ke atas melihat wajah Geof yang sedang dongkol atas ulang mereka.


"Cabut!" Bisik Luky pada Lita dan juga Gading.


"Lariiiiiii......!" Seru Gading berlari kencang mendahului kakek dan neneknya.


Luky berlari mengikuti langkah cucunya yang telah lari terlebih dahulu. Sedangkan Lita masih berupaya untuk bangun dari lantai.


"Hehehe, Geof! Kenapa kalian belum tidur?" Kata Lita berpura-pura tidak terjadi apapun saat itu.


"Mama mau ngapain di depan pintu kamarku, hah?" Tanya Geof menajamkan tatapan matanya.


"Aku ingin menguping! Kenapa? Kau tidak senang? Aku ini ibumu, jadi tidak ada salahnya jika aku menguping malam pengantin kalian!" Sahut Lita ngomel-ngomel pada Geof.


"Huh, kenapa jadi mama yang galak sih? Kan mama yang salah!" Balas Geof.


"Ya sudahlah! Kau akan pergi. Tapi ingat berikan aku cucu yang selanjutnya, kalau bisa cucunya perempuan." Kata Lita membuat Geof kesal.


"Huh, mama banyak maunya!" Ujar Geof menutup pintunya dengan keras.


Lita kembali ke dalam kamarnya dan menatap tajam pada Luky dan juga Gading yang berpura-pura sudah tertidur lelap. Tubuh Lita bagaikan sudah terbakar api kemarahan. Ia berjalan cepat menghampiri keduanya dan mengajar mereka.


"Kurang aja kalian! Kenapa kalian meninggalkan aku tadi, hah?" Amuk Lita pada Luky dan juga Gading. Luky dan Gading terbelalak saat Lita mengajar mereka.


"Ampun!" Seru Luky dan Gading.


"Aku tidak akan mengampuni kalian berdua!" Teriak Lita semakin terbakar dengan api kemarahannya.


Malam itu Luky dan Gading habis di hajar oleh Lita yang dongkol karena mereka meninggalkan dirinya tadi di depan pintu kamar Geof. Setelah ia puas menghajar mereka, Lita berbaring dengan wajah yang sewot. Luky dan Gading hanya bisa mengelus beberapa benjolan yang ada di tubuh mereka karena habis di hajar Lita.


 


 


*****


Dua hari kemudian, pesta resepsi pernikahan Geof dan Merta pun di adakan secara mewah di salah satu hotel ternama di ibu kota. Geof dan Merta terlihat sangat serasi menggunakan gaun pengantin yang mereka beli waktu itu. Gading, Luky dan juga Lita juga tak mau kalah dengan penampilannya.


"Hei, kau siapa? Kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?" Tanya Ari pada Gading.


"Seharusnya aku yang tanya! Ini kan pesta pernikahan kedua orangtuaku!" Sahut Gading terus makan.


"Hah, jadi om Geof sudah punya anak?" Tanya Ari terkejut.


"Apa kau tidak lihat wajahku dan ayahku itu seperti orang kembar?" Sahut Gading.


Ari pun melihat Geof dari kejauhan dan kemudian melihat Gading yang sedang makan di hadapannya. Berkali-kali Ari melakukan hal tersebut, sampai ia menyadari kalau wajah Geof dan Gading memang sangat mirip.


"Wah, kau benar-benar mirip!" Seru Ari.


"Hehehe." Sahut Gading cengengesan sambil mengacungkan jempol tangannya.


Lalu tiba-tiba datanglah seorang gadis remaja yang terlihat cantik dan menawan mata Gading. Gading begitu terpesona melihat kecantikan gadis remaja yang tak lain adalah Chika, adik bungsunya Azlan. Chika yang di panggil tante oleh Ari, mendekati Ari dan memukul kepalanya.


Ppplleeettaakk.......


Chika berdengus kesal pada Ari.


"Dasar kau! Kenapa kau lari setelah kau memecahkan gelas-gelas tadi?" Teriak Chika pada Ari yang memiliki hobi memecahkan benda yang terbuat dari bahan yang mudah pecah.


"Aku cuma takut nanti ayah dan bunda memarahiku!" Sahut Ari.


"Gara-gara ulahmu itu, pria yang aku dekati kabur!" Kata Chika.


"Apa hubungannya?" Tanya Ari bingung.


"Tentu saja ada hubungannya! Karena kau adalah keponakanku, jadi dia pikir keluarga kita aneh! Maka dari itu dia kabur dan tidak mau berhubungan lagi denganku!" Ujar Chika kesal.


"Kakak cantik! Jika pria itu tidak mau, aku saja yang menjadi pacarmu! Hehehe." Kata Gading tiba-tiba menyela pada pembicaraan antara Ari dan Chika.


Chika menatap Gading dengan seksama.


"Apakah kau anaknya, kak Geof dan istrinya?" Tanya Chika pada Gading.


"Iya!" Sahut Gading.

__ADS_1


"Wah, ternyata kau pintar dan manis ya!" Kata Chika mencubit pipi Gading dengan gemas.


"Ya tentu saja! Aku juga tampan kan. Hehehe." Sahut Gading.


"Huh, ternyata bocah ini somplak juga!" Gumam Chika dalam hatinya sambil menatap Gading.


"Kakak cantik, apa kau mau jadi pacarku?" Tanya Gading pada Chika.


"Wwhhaattt?" Teriak Chika dan juga Ari terkejut.


Ppplleeettaakk......


Chika mengajar Gading dengan kesal.


"Kenapa kau malah memukulku?" Tanya Gading mengelus kepalanya yang benjol.


"Aku memukulmu agar otakmu yang somplak itu berguna dengan baik!" Sahut Chika melotot pada Gading yang hampir berusia 5 tahun itu.


Chika pergi meninggalkan Ari dan juga Gading sambil menggerutu sendirian. Ari terkekeh melihat Gading yang kecewa karena cintanya di tolak oleh Chika.


"Siapa namamu?" Tanya Ari pada Gading.


"Gading!" Sahutnya.


"Gading? Gading gajah kah?" Kata Ari sambil menurunkan suara hewan yang berbelalai panjang itu.


"Namaku Gading! Tidak ada gajahnya!" Serial Gading kesal.


Ari terkekeh melihat ekspresi Gading yang sedang kesal padanya.


"Apakah kau selalu di kotak oleh tantemu itu?" Tanya Gading pada Ari.


"Bukan hanya tanteku aja yang menjitak kepalaku, tapi kedua orang tuaku juga! Mereka selalu menjitakku ketika mereka kesal padaku!" Sahut Ari.


"Hah, sepertinya kita senasib!" Kata Gading.


"Apa maksudmu?" Tanya Ari.


"Aku juga sama sepertimu, ketika mamaku kesal, aku selalu di jitak olehnya." Sahut Gading.


"Menurutku, bukan hanya kita berdua saja yang senasib tapi ada 3 orang lagi." Kata Ari.


"Siapa?" Tanya Gading.


"Jodi, Pinka, dan juga Novia!" Jawab Ari menyebutkan satu persatu nama anak yang bernasib sama seperti mereka yang selalu di jitak ketika nakal.


"Siapa mereka?" Tanya Gading.


"Ayo, aku akan mengenalkan mereka padamu!" Ajak Ari pada Gading.


Ari dan Gading pun pergi menemui ketiga anak yang namanya disebutkan tadi. Ari mengenalkan Gading kepada mereka. Akhirnya Gading memiliki teman-teman yang usianya lebih tua darinya beberapa tahun saja. Gading merasa senang bisa memiliki teman senasib dengannya.


Chika menghampiri kelima bocah yang baru saja menjadi teman. Chika senang melihat keakraban dari kelima bocah tersebut.


"Wah, kalian sudah berteman ya!" Seru Chika pada kelima bocah itu.


"Tentu saja! Kami ini senasib, tante!" Sahut Ari.


"Senasib? Maksudnya?" Tanya Chika bingung.


"Kami senasib, karena selalu di jitak ketika kami berbuat nakal!" Sahut Ari lagi.


Chika tepok jidat mendengar perkataan Ari menjelaskan arti dari senasib yang membuat mereka menjadi teman.


"Kalau kalian merasa senasib karena jitak, maka dari itu kalian buang geng saja." Kata Chika memberikan usul pada kelima bocah itu.


"Geng?" Kelima bocah itu berpikir keras.


"Hehehe, nama geng kalian adalah GENG PLETAK!" seru Chika lagi.


"Kenapa namanya geng pletak?" Tanya Gading.


"Karena kali di jitak, bunyinya ppplleeettaakk! Maka dari itu nama geng kalian adalah GENG PLETAK!" Sahut Chika.


"Wah, tante jenius!" Seru kelima bocah itu terhadap Chika.


"Hahahah, so pasti!" Sahut Chika membanggakan dirinya sendiri.


Di pesta pernikahan itu lah, untuk pertama kalinya geng pletak di ciptakan. Anggota geng tersebut terdiri dari kelima bocah yang merasa nasib mereka sama. Sama-sama selalu di jitak ketika mereka membuat kenakalan.


 

__ADS_1


******


Habis ini aku mau buta cerita yang berjudul "TURUNAN SOMPLAK" yang menceritakan persahabatan GENG PLETAK tersebut. Wkwkwkwkwkwwk .........


__ADS_2