
Keesokan paginya Geof bangun dan bersiap untuk pergi kerumah Azlan. Hari itu dia dan beberapa teman lainnya akan pergi fitness. Geof pun berjanji akan menjemput Azlan untuk pergi bersama-sama. Setelah selesai sarapan Geof langsung pergi dengan mengendarai mobilnya. Tiba di rumah Azlan, ia melihat seorang gadis bule yang langsung ia tebak dalam hatinya adalah Gaby.
"Pagi semuanya!" Sapa Geof pada keluarga Azlan.
Geof yang sudah di anggap seperti keluarga di sambut baik oleh keluarga Azlan. Geof sesekali melirik pada gadis bule itu yang terus saja menatap dirinya.
"Hehehe, sepertinya dia tertarik pada ketampananku." Ucap Geof dalam hatinya.
Geof tau kalau Gaby sedang menatapnya sejak tadi, namun Geof masih menahan diri untuk tidak menunjukkan sifat aslinya kepada gadis bule itu. Geof hanya bersikap acuh tak acuh saja saat Gaby menatapnya terus menerus.
Azlan juga melirik Gaby yang terus saja menatap Geof. Azlan mendekat dan mengagetkan dirinya.
"Geboy!" Teriak Azlan mengagetkan Gaby.
"Apaan sih?" Balas Gaby kesal pada Azlan.
"Melamun melulu." Kata Azlan.
"Kak, mau pergi ngegym ya?" Tanya Gaby pada Azlan.
"Iya." Sahut Azlan.
"Ikut dong." Pinta Gaby.
"Tidak!" Ucap Azlan ketus.
Azlan pun pergi mengajak Geof ke tempat gym yang biasa mereka datangi. Mereka pun melakukan olah raga yang dapat membuat tubuh mereka bugar. Di sela-sela aktifitasnya berolah raga, Geof membicarakan Gaby pada Azlan.
"Sepertinya sepupumu itu tertarik padaku." Kata Geof pada Azlan.
"Huh, aku sudah menyangka kau pasti akan menyadari dengan cepat kalau Gaby menatapmu tadi." Sahut Azlan.
"Hehehe, itu karena aku tampan." Kata Geof.
"Jangan dekati dia!" Kata Azlan memperingatkan Geof.
"Kenapa? Jika dai tertarik padaku kenapa aku harus menyianyiakannya?" Tanya Geof.
"Gaby itu gadis baik, jadi kau jangan melakukan hal yang dapat menyakiti perasaannya." Ucap Azlan.
"Hei, jangan terlalu pelit padaku." Kata Geof.
"Aku sudah peringatkan jangan dekati Gaby." Sahut Azlan.
"Huh, menyebalkan!" Ujar Geof.
"Bodo amat!" Balas Azlan.
Kenzo dan Boy hanya mendengarkan perbincangan Geof dan Azlan saja tanpa mau ikut membicarakan tentang Gaby. Sesekali Boy dan Kenzo menghela nafas karena melihat Geof yang tiada henti menebar pesona pada wanita-wanita cantik di tempat gym itu.
Beberapa bulan kemudian Azlan mengundang Geof dan yang lainnya untuk makan malam di rumahnya. Azlan yang akan segera menikah juga membawa kekasihnya untuk makan malam bersama mereka. Kebetulan saat itu Gaby dan adiknya yang bernama Reyn juga baru datang dari Itali. Disanalah Geof kembali bertemu dengan Gaby.
Saat sedang makan malam bersama, Geof melirik Gaby yang terus saja menatap dirinya. Geof tersenyum senang saat dia merasa yakin kalau Gaby menyukai dirinya. Geof memiliki rencana untuk mendekati Gaby dan bersenang-senang dengannya.
Setelah selesai makan malam, Azlan mengantar pulang kekasihnya sedangkan Boy dan Geof masih duduk berbincang dengan adik-adiknya Azlan di ruang tengah. Mata Geof mencari-cari keberadaan Gaby saat itu dan Boy pun tau apa yang ingin di lakukan oleh Geof saat itu. Akhirnya mata Geof melihat Gaby yang sedang menuju ke arah tangga, dengan cepat Geof mendekatinya. Namun saat akan mendekati Gaby, Reyn langsung menghadangnya.
"Jangan dekati kakakku, pria palyboy!" Ujar Reyn dengan wajah sangar pada Geof.
"Hei, ada apa? Aku hanya ingin berbincang dengan kakakmu. Itu saja." Kata Geof.
"Apa kau berpikir karena kami di besarkan di negara barat maka dari itu kami terbiasa dengan budaya sana?" Ujar Reyn lagi.
"Tentu saja! Disana kalian bebas melakukan apa saja yang kalian inginkan, bukan?" Sahut Geof dengan nada bicara yang santai.
"Jangan mimpi untuk mendapatkan kakakku! Selama aku hidup kau tidak akan bisa untuk mendekati kakakku. Pria sepertimu ini hanya bisa mempermainkan wanita saja." Kata Reyn lalu pergi begitu saja meninggalkan Geof.
"Sial! Dia baru saja menghinaku." Ucap Geof kesal dalam hatinya pada Reyn.
Tampak oleh Boy kalau Geof sangat kesal pada Reyn dengan mengepalkan tangannya. Boy melangkah mendekati sahabatnya itu.
"Tidak semua yang kau inginkan itu mudah kau dapatkan." Ucap Boy pada Geof.
"Kau lihat saja nanti, aku pasti akan mendapatkan Gaby dengan sangat mudah." Sahut Geof.
"Aku tau kau hanya kesal karena merasa direndahkan oleh Reyn. Tapi Reyn ada benarnya juga, dia tidak akan mau melihat Gaby terluka karena pria sepertimu. Kau selalu saja membuang wanita setelah kau merasa bosan padanya." Kata Boy yang memang sangat mengerti sifat buruk yang di miliki oleh Geof.
"Kita lihat saja nanti, bagaimanapun caranya Gaby akan segera berada di dalam genggamanku!" Sahut Geof.
"Pikirkan Azlan. Dia pasti akan kesal padamu." Kata Boy.
"Aku tidak perduli." Sahut Geof lagi.
Geof bergegas pergi dari rumah Azlan dengan perasaan yang sangat kesal akibat ucapan Reyn untuk dirinya. Geof pergi ke salah satu bar untuk menyegarkan pikirannya yang sempat kacau dan juga kesal. Geof lagi-lagi bersenang-senang dengan wanita-wanita di sekelilingnya dan membawa salah satu dari mereka ke apartemennya untuk menyalurkan hasratnya.
__ADS_1
* * *
Pernikahan salah satu sahabat Geof pun diadakan secara mewah. Malam itu Geof terlihat rapi dan juga sangat tampan. Geof pergi ke acara pesta itu bersama dengan kedua orang tuanya yang juga turut hadir sebagai tamu undangan. Di pesta pernikahan itu, Geof melihat gadis yang menjadi incarannya yaitu Gaby yang tampak anggun dengan gaun pestanya. Dengan segera Geof mendekati Gaby yang kala itu sedang duduk sendirian.
"Hai, Gaby!" Sapa Geof.
"Hai, kak." Sahut Gaby.
"Hari ini kau terlihat sangat cantik." Ucap Geof melancarkan rayuan mautnya.
"Hahaha, terima kasih." Ucap Gaby.
"Gaby, apa kau tidak menyadari kalau dirimu itu sangat cantik dan mempesona? Aku saja hampir tidak berdaya melihatmu malam ini. Kau sangat cantik dan anggun." Ucap Geof membuat pikiran Gaby terbang melayang tinggi.
"Hehehe, kak Geof bisa saja." Sahut Gaby.
"Aku serius dengan ucapanku tadi. Selama ini memang banyak wanita yang ada di sekelilingku, namun aku merasa bahwa kau lah yang paling menawan di hatiku." Kata Geof lagi.
"Benarkah?" Kata Gaby yang sudah hampir klepek-klepek mendengar rayuan maut dari Geof.
"Tentu saja. Kau yang paling cantik di mataku." Bisik Geof pada telinga Gaby yang membuat wajah Gaby memerah seketika.
Geof menatap Gaby yang sudah termakan oleh rayuan gombalnya. Geof tersenyum tipis saat mengetahui betapa mudahnya ia mendapatkan Gaby saat itu. Lalu saat ia sedang berbincang dengan Gaby, Geof memperhatikan kalau mata Gaby seperti sedang mencari sesuatu.
"Ada apa Gaby?" Tanya Geof bingung.
"Kak, aku permisi ke toilet sebentar ya." Kata Gaby.
"Apa kau ingin aku temani?" Tanya Geof.
"Hahaha, tidak perlu! Aku sendiri saja." Sahut Gaby.
Gaby pun melangkah pergi meninggalkan Geof yang masih menatapnya.
"Selangkah lagi, aku pasti akan menggenggammu, Gaby." Gumam Geof dalam hatinya.
Pesta pernikahan yang megah itu serasa sangat membosankan bagi Geof. Geof menyadari kalau di ruang pesta itu ia tidak melihat keberadaan Gaby lagi.
"Kemana si Gaby? Apa dia masih berada di toilet?" Gumam Geof mencari Gaby ke segala sudut ruang pesta.
Geof pun melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan Gaby. Tak lama ia mencari ternyata Gaby sedang duduk bersama Boy di taman luar ruang pesta. Ia melihat Boy sedang memegang pergelangan kaki Gaby yang tampak sedikit membiru.
"Apa yang terjadi pada kakimu, Gaby?" Tanya Geof.
Geof dan Boy saling tatap.
"Aku akan mengantarmu masuk ke dalam." Kata Geof pada Gaby.
Boy lebih memilih untuk menjauh dari Gaby dan juga Geof. Namun saat itu Gaby menarik tangan Boy agar tidak meninggalkannya bersama Geof.
"Kak, Apa kau mau mengantarkan aku pulang?" Pinta Gaby pada Boy.
"Tapi pestanya belum berakhir." Sahut Geof pada Gaby.
"Tapi aku ingin istirahat di apartemen." Kata Gaby pada Geof.
"Kak Boy, mau kan?" Tanya Gaby.
"Iya, baiklah." Sahut Boy.
Boy memapah tubuh Gaby yang berjalan sedikir pincang untuk masuk ke dalam mobilnya. Sementara Geof berdecak kesal seraya mengepalkan tangannya dengan penuh amarah pada Boy.
"Brengsek! Jadi kau berusaha untuk menikungku, Boy! Kita lihat saja nanti." Gumam Geof sangat kesal pada Boy yang ia anggap akan menghalanginya untuk mendapatkan Gaby.
Sejak saat itu Geof berubah sikap terhadap Boy yang sedari kecil sudah menjadi sahabat dekatnya. Geof menaruh rasa marah dan kecewanya kepada Boy yang ia anggap menjadi penghalang baginya untuk mendekati Gaby. Karena hal itu Geof jarang untuk berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Ia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang dengan wanita di bar atau di tempat perjudian.
Di dalam sebuah bar, Geof sedang santai dengan beberapa wanita cantik di sampingnya. Geof sedang menggenggam ponselnya. Berkali-kali ia mengirim pesan pada Gaby, namun tak satupun pesan darinya di balas.
Akhirnya geof mencoba untuk menghubungi Gaby.
"Halo." Ucap Gaby di ponselnya.
"Halo, Gaby, kenapa pesanku gak di balas?" Tanya Geof.
"Oh, maaf kak, tadi aku sedang berbincang sama papa dan mama." Sahut Gaby.
"Ada apa kak?" Tanya Gaby.
"Besok aku berniat untuk mengajakmu jalan-jalan, apa kau mau?" Tanya Geof.
"Maaf kak. Aku gak bisa, karena aku sudah janji mau kerumah Tante Clara." Kata Gaby menolak.
"Oh begitu." Sahut Geof.
__ADS_1
"Maaf ya kak!" Ucap Gaby.
"Hahaha, tidak masalah! Mungkin lain waktu." Kata Geof.
Setelah menutup teleponnya, Geof berdecak kesal.
"Huh, Berpura-pura jual mahal padaku! " Ujar Geof.
"Tuan, kenapa? Siapa yang jual mahal padamu?" Tanya seorang wanita yang menemani Geof.
"Orang tidak penting!" Sahut Geof.
"Jangan perdulikan orang yang tidak penting. Aku ada disini untukmu tuan." Kata wanita itu lagi merayu Geof.
"Malam ini kau sangat cantik. Temani aku!" Bisik Geof di telinga wanita itu.
"Dengan senang hati!" Sahut wanita itu balas berbisik.
Lagi dan lagi kebisaan buruk itu seakan tidak pernah bisa terlepas dari Geof. Malam itu ia kembali membawa wanita ke apartemennya untuk menemaninya menghabiskan malam. Setelah itu Geof masih terjaga di atas pembaringannya. Ia masih merasakan jari lentik wanita yang sedang menemaninya bermain-main di dadanya yang bidang.
"Tuan, apa kau senang bersamaku malam ini?" Tanya wanita itu pada Geof.
"Tentu saja!" Sahut Geof.
"Kalau begitu berikan aku hadiah." Pinta wanita itu.
"Apa yang kau inginkan?" Tanya Geof.
"Aku ingin memiliki tas baru." Jawab wanita itu.
"Baiklah, besok kita akan pergi membelinya." Sahut Geof.
"Terima kasih, sayang." Ucap wanita itu mulai membangkitkan gairah Geof kembali.
Keesokan harinya Geof menepati janji yang ia berikan pada wanita yang berkencan dengannya semalam. Geof membawa wanita itu jalan-jalan di salah satu mall terbesar di kotanya. Lengan Geof di gandeng oleh wanita itu sepanjang jalan mereka melangkah di dalam mall tersebut. Geof dan wanita kencannya itu berjalan sambil melihat-lihat suasa Mall yang memang sangat ramai seperti biasanya. Saat sedang menikmati keramaian di mall tersebut, tiba-tiba Geof melihat Boy yang sedang bergandengan tangan bersama Gaby. Geof kembali merasakan kekesalannya terhadap Boy dan juga Gaby.
"Ternyata dia menolak ajakanku semalam karena ingin pergi jalan dengan Boy!" Ujar Geof dalam hatinya.
"Dasar si Boy! Beraninya dia main belakang denganku. Padahal dia tau kalau aku sedang berusaha untuk mendekati Gaby tapi malah dia yang bergandengan tangan dengan Gaby." Ujar Geof lagi dalam hatinya.
Lalu tangan Geof di tarik oleh wanita kencannya.
"Tuan, aku mau tas yang itu." Pinta wanita itu padanya.
"Kau pergilah beli sendiri sana! Aku mau pulang." Ucap Geof kesal.
"Kenapa?" Tanya wanita itu.
"Tiba-tiba aku merasa sangat kesal." Sahut Geof pergi meninggalkan wanita itu sendiri di mall.
Beberapa hari kemudian saat Geof sedang duduk santai di tepi kolam seusai berenang ia mendengar orang tuanya yang sedang heboh dengan pesta pertunangan Gaby dan Goy.
"Wah, Boy sangat beruntung ya." Kata Lita pada Luky.
"Iya, Gaby adalah gadis terpelajar dan baik. Begitu juga dengan Boy, dia juga pria yang baik." Kata Luky.
"Tidak seperti anak kita yang selalu bermalas-malasan dan berfoya-foya." Ujar Luky.
"Iya, Aku menyesal karena telah salah mendidiknya." Ucap Lita sedih.
Geof mendengar perbincangan orang tuanya saat itu. Dia sangat kesal karena orang tuanya selalu perhitungan padanya, itu menurutnya, padahal memang tabiat Geof lah yang tidak baik. Geof mengambil dan membaca surat undangan pertunangan Gaby dan Boy Ia sangat kesal sehingga tanpa sadar dia meremas undangan itu hingga remuk dan kusut.
"Kau bukan sahabatku lagi, Boy!" Gumam Geof kesal.
Malam hari Lita dan Luky terlihat sudah sangat rapi dengan pakaian pesta mereka. Lita menghampiri Geof ke kamarnya untuk mengajak Geof pergi ke pesta pertunangan Boy dan Gaby. Lita bingung melihat Geof yang masih bersantai duduk di atas sofa yang ada di kamarnya. Bahkan saat itu Geof masih menggunakan pakaian santai dirumah.
"Kenapa kau belum berganti pakaian?" Tanya Lita pada Geof.
"Untuk apa?" Geof balik bertanya.
"Malam ini adalah pesta pertunangan sahabatmu, Boy." Jawab Lita.
"Mama dan papa saja yang pergi, aku masih ada urusan di luar nanti." Sahut Geof menolak untuk pergi.
"Tapi kenapa kau tidak datang ke acara pertunangan sahabatmu sendiri?" Tanya Lita.
"Boy itu bukan sahabatku lagi, ma!" Teriak Geof kesal.
"Ada apa, sayang? Apa kau bertengkar dengan Boy?" Tanya Lita.
"Sudahlah ma, aku tidak ingin pergi!" Ujar Geof.
"Baiklah. Mama dan papa saja yang pergi." Kata Lita.
__ADS_1
Lita keluar dari kamar Geof dengan perasaan yang khawatir pada putranya itu. Lita berpikir kalau Geof sedang menghadapi masalah pada sahabatnya. Namun saat itu Lita memilih untuk tidak memaksa Geof agar bicara padanya tentang masalah dirinya dengan sahabat-sahabatnya itu.