
Geof dan Merta telah selesai mandi. Mereka keluar dari kamar mandi secara bersamaan. Geof keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sumringah, sementara Merta keluar dari kamar mandi dengan wajah yang cemberut. Geof melirik wajah Merta sambil cengengesan. Ia merasa senang karena telah puas mengganggu Merta selama di kamar mandi.
Merta menggunakan pelembab di wajahnya sembari duduk di hadapan cermin. Geof membuka lemari pakaian dan mengambil baju kemeja dan celana jeans miliknya. Merta melirik Geof yang sudah terlihat rapi di depan cermin. Geof mengambil dress milik Merta dan memberikannya.
"Untuk apa ini? Kenapa kau mengambil pakaianku?" Tanya Merta bingung.
"Pakai dress itu, dan ikut aku makan malam di luar." Kata Geof.
"Aku tidak mau!" Sahut Merta menolak.
"Jangan menolak ku lagi! Apa kau lupa dengan statusmu sebagai wanitaku?" Ujar Geof memaksa Merta.
Merta terdiam dan merunduk sedih atas perkataan Geof kepadanya. Merta mengambil dress itu dan mengenakannya. Ia juga memberikan riasan makeup tipis di wajahnya. Merta menggunakan sepatu hak rendah agar ia bisa berjalan dengan santai.
Geof dan Merta masuk ke dalam mobil dan pergi ke sebuah restoran yang cukup mewah. Disana Geof memesan beberapa menu makanan yang mewah untuk menjadi santapan makan malam mereka. Merta yang tidak pernah menginjakkan kakinya di restoran mewah itu, terlihat sedikit canggung. Begitu banyak orang-orang dari kalangan atas yang menatap dirinya.
Geof menyadari kalau Merta sangat canggung saat itu. Geof membalas tatapan pria-pria yang menatap Merta disana. Tatapan mata Geof membuat semua tatapan pria-pria itu berpaling dari Merta. Merta menghela nafas lega setelah ia merasa nyaman.
Tidak lama kemudian, makanan yang Geof pesan pun tiba. Banyak menu makanan yang mewah terhidang di meja. Merta menelan air liurnya dikala ia melihat makanan yang tidak pernah ia cicipi sebelumnya.
"Apa ini makanan untukku?" Tanya Merta antusias ingin segera menyantapnya.
"Tentu saja! Ini semua adalah hadiah dariku karena kau bersikap sangat baik saat kita berdua di kamar mandi tadi." Sahut Geof tersenyum licik.
"Huh, aku melakukan hal itu hanya karena ingin segera menyelesaikan semua permainanmu saja! Aku tidak tahan dengan sikap pemaksamu itu." Ujar Merta sewot.
"Hehehe, ternyata kau memiliki sifat lain di mulut lain di hati, ya!" Kata Geof.
"Kau bilang kau tidak tahan dengan sikapku padamu, tapi aku lihat kau sangat menikmatinya tadi! Apa aku benar, Mertarya? Hehehe." Sambung Geof membuat wajah Merta kembali memerah.
"Dasar menyebalkan! Lebih baik aku mengisi perutku daripada meladeni ocehanmu itu!" Ujar Merta meraih makanan yang ingin ia makan.
"Dasar, kepiting rebus!" Sahut Geof juga mengambil makanan yang ingin ia santap.
Disisi ruang restoran itu, tampak Eva sedang mengamati Merta dan juga Geof. Eva yang kala itu sedang menemani pria hidung belang yang akan memakai jasanya tersenyum dengan licik sambil meraih ponsel miliknya.
"Huh, ternyata kau simpanannya putra dari CEO Luky! Beruntung sekali kau bisa menaiki ranjang tidurnya! Awas saja kau Merta, jika kau berani mengacuhkan aku lagi, kau akan terima akibatnya dariku! Hehehe." Gumam Eva dalam hatinya yang memiliki sifat iri dan dengki.
Eva mengambil beberapa foto dan juga video disaat Merta dan Geof sedang makan malam bersama. Eva memiliki rencana untuk memeras Merta dan mengancamnya akan memberitahukan kelakuan Merta di kota kepada ibunya di kampung.
*****
Keesokan harinya, Merta merapikan tempat tidur setelah Geof beranjak ke kamar mandi. Merta juga menyiapkan pakaian yang akan di pakai Geof pergi bekerja. Merta meletakkan kemeja dan dasi di atas ranjang. Tak lama kemudian Geof keluar dengan handuk kecil yang melingkar di pinggangnya. Wajah Merta kembali memerah saat tidak sengaja melihat kondisi Geof yang baru saja selesai mandi.
"Ada apa, Merta? Apa kau terpesona dengan tubuhku?" Bisik Geof padanya.
"Cepat pakai pakaianmu, sana! Aku akan siapkan sarapan untukmu." Sahut Merta hendak melarikan diri.
Dengan cepat Geof menangkapnya dan kembali berbisik pada Merta.
"Apa kau ingin melarikan diri, hah?" Bisik Geof seraya menghembuskan nafas hangatnya pada telinga Merta.
__ADS_1
Wajah Merta merah padam merasakan hembusan udara hangat yang keluar dari mulut Geof di telinganya. Merta mendorong tubuh Geof untuk menjauh darinya. Lalu ia berlari keluar dari kamar dengan denyut jantung yang berdetak dengan kencang.
"Apa dia sudah gila? Jantungku hampir copot gara-gara dia." Gumam Merta masih dengan wajah merah padam.
"Kenapa aku menjadi seperti ini? Aarrgghh, aku bisa gila!" Teriak Merta sembari menepuk-nepuk pipinya.
Merta menyiapkan sarapan untuk Geof pagi itu. Setelah makanan tersaji di meja makan, Geof pun turun dengan setelan yang sudah rapi dan jas menggantung di lengannya. Geof duduk di meja makan dan Merta melayaninya bagaikan seorang istri yang sangat telaten mengurus suaminya. Lagi-lagi Geof berbuat jahil pada Merta. Ia menarik tubuh Merta untuk duduk di atas pangkuannya. Merta sudah terbiasa dengan sikap jahil Geof kepadanya. Merta duduk dengan santai dan menyuapi Geof dengan pasrah.
"Nanti siang aku tidak pulang." Kata Geof.
"Kenapa?" Tanya Merta tersenyum sumringah.
"Apa kau begitu senangnya jika aku tidak berada di dekatmu?" Teriak Geof kesal.
"Bagaimana mungkin aku senang, kau selalu saja berteriak padaku!" Gumam Merta.
"Kau..." Geof kehabisan kata-kata.
"Cepat suapi aku lagi!" Perintah Geof pada Merta.
Geof kembali membicarakan alasannya tidak pulang siang nanti.
"Nanti siang aku ada rapat penting dengan klienku dari China." Kata Geof.
"Apa?" Teriak Merta kaget.
"Kenapa kau terkejut seperti itu?" Tanya Geof.
"Bukankan di China sedang ada wabah yang mematikan?" Kata Merta kebanyakan nonton televisi.
"Iya! Jika kau ingin bertemu dengan klienmu maka kau harus menggunakan masker." Kata Merta.
Geof menaikkan garis senyumnya saat ia merasa Merta sangat khawatir dengan kesehatan tubuhnya.
"Apa kau sedang mengkhawatirkan aku, sayang?" Tanya Geof menggoda Merta.
Lagi dan lagi, wajah kepiting rebus kembali menghampiri Merta.
"Hehehe, bukan begitu maksudku! Maksudku begini jika kau terjangkit virus itu, maka aku juga pasti akan tertular darimu, kan. Kau kan selalu mempunyai kebiasaan untuk menciumku setelah kau pulang. Aku hanya tidak ingin saja terkena wabah itu." Kata Merta sontak membuat Geof kesal.
"Sial! Ternyata dia bukan mengkhawatirkan aku, melainkan dirinya sendiri." Gumam Geof dalam hatinya.
Geof bangkit secara tiba-tiba dan membuat tubuh Merta jatuh ke lantai. Merta meringis kesakitan karena jatuh ke lantai. Geof mengambil jasnya dan berlalu begitu saja dengan wajah yang tampak kesal. Merta menggerutu sendirian sambil mengusap bokongnya yang sakit akibat jatuh di lantai.
"Dasar menyebalkan! Selalu saja marah." Gerutu Merta menatap langkah Geof menuju ke pintu depan.
Lalu Merta kaget setengah mati saat Geof berteriak memanggil namanya. Merta berlari ke depan pintu untuk menemui Geof disana.
"Ada apa? Kau selalu saja berteriak!" Kata Merta pada Geof.
"Apa kau sudah lupa dengan tugasmu setiap harinya? Cepat cium aku!" Perintah Geof sambil menyodorkan pipi kanannya.
Merta berjinjit sedikit dan memberikan kecupan di pipi kanan Geof.
"Sekarang yang satunya lagi." Perintah Geof lagi.
__ADS_1
Merta kembali berjinjit dan mengecup pipi kiri Geof. Lalu dengan tiba-tiba Geof meraih leher Merta dan melum*t bibirnya sampai puas. Setelah itu Geof pergi dari apartemen menuju ke kantornya. Merta kembali menggerutu dengan kesal atas sikap Geof yang selalu saja memaksakan kehendaknya.
* * *
Siang harinya, Merta merasa kebosanan di apartemen sendirian. Ia mengambil tas kecil yang berisi dompet dan ponselnya di kamar. Lalu ia pergi keluar untuk berjalan-jalan di mall. Merta memesan taksi online untuk membawanya ke tempat tujuan. Saat di perjalanan, Merta merasa ada sebuah mobil yang mengikuti dirinya.
"Pak, apa kau merasa ada yang mengikuti kita?" Tanya Merta pada supir online itu.
"Aku rasa tidak! Mungkin itu hanya perasaanmu saja, nona." Sahut sang supir online.
Merta membuang jauh-jauh prasangka buruknya terhadap mobil yang mengikutinya di belakang. Selang beberapa menit, Merta tiba di mall dengan selamat. Merta masuk ke dalam mall berniat untuk membeli beberapa dress yang ia inginkan dengan menggunakan kartu kredit yang diberikan oleh Geof kepadanya.
Hampir dua jam lamanya Merta mengitari lantai mall yang ramai pengunjung itu. Tak lama kemudian saat ia akan memilih beberapa perhiasan, pundaknya di tepuk oleh seseorang dari belakang. Merta sontak menoleh dan melihat orang yang menepuk pundaknya. Merta menajamkan tatapannya pada Eva yang tersenyum lebar kepadanya.
"Mau apa kau menghampiri aku lagi? Apa kau tidak mengerti perkataan ku waktu itu? Kalau kau bukan temanku lagi!" Kata Merta pada Eva.
"Aku sengaja mengikutimu karena aku ingin menunjukkan sesuatu yang menarik untukmu." Sahut Eva tersenyum licik.
"Apa maksudmu? Apa kau yang mengikuti aku tadi?" Tanya Merta.
"Iya! Aku ingin menunjukkan ini padamu!" Kata Eva memberikan lembaran-lembaran foto dirinya saat sedang makan malam bersama Geof di restoran mewah semalam.
Deg..
Jantung Merta berdetak kencang saat melihat foto-foto dirinya bersama Geof. Ia tidak menyangka kalau Eva mengetahui hubungan dirinya bersama Geof.
"Apa mau mu?" Tanya Merta kesal.
"Aku tau kau wanita yang berhasil naik ke ranjang tidur seorang putra dari CEO Luky, dan kau pasti hidup bergelimang harta saat ini. Jadi aku ingin kau sedikit berbagi padaku." Kata Eva memeras Merta.
"Aku tidak mau!" Sahut Merta.
"Jika kau tidak mau, maka jangan salahkan aku jika foto-foto mu ini akan aku kirimkan kepada ibumu yang sedang sakit di kampung. Kau tidak mau kan jika ibumu mati karena mengetahui tingkah liarmu di kota?" Ujar Eva.
"Apa kau sedang memerasku?" Tanya Merta kesal.
"Jika kau bertanya, maka aku jawab, iya! Hehehe." Sahut Eva.
"Hei, ayolah! Tuan Luky itu sangat kaya, dan putranya itu akan menjadi pewaris tunggal semua harta kekayaannya. Kau pasti akan ketiban bintang. Jadi berbagilah denganku, Merta." Sambung Eva lagi.
"Dasar licik! Aku menyesal berteman baik dan mengenalkan ibuku padamu dulu!" Ujar Merta.
"Hahaha, aku bukan licik, tapi pintar!" Sahut Eva.
Merta merogoh segepok uang yang baru saja di ambilnya di mesin ATM dan melemparkan uang itu kepada Eva.
"Ambil uang itu! Semoga kau puas dengan uang yang aku berikan padamu." Ujar Merta sangat marah pada Eva.
Merta kemudian pergi menjauh dari Eva yang baru saja memerasnya. Merta seakan tidak ingin bertemu Eva lagi setelah ia mengambil beberapa lembar foto dari Eva.
Eva menatap kepergian Merta setelah ia mengutip lembaran uang yang berserakan di lantai mall.
"Ini tidak membuatku puas, Merta! Aku akan menyedot uang dalam kartu ATM mu hingga ludes." Gumam Eva.
__ADS_1