
Geof masih setia menemani istrinya yang baru saja melahirkan dirumah sakit. Sambil menggendong bayi perempuannya, Geof begitu betah di ruang perawatan Merta.
"Giselle! Anak ayah yang cantik!" Ucap Geof bermain-main dengan bayi kecil yang ada di dekapannya.
"Geof, aku ingin pulang!" Kata Merta yang tak betah di rumah sakit.
"Kemarin kau baru saja melahirkan! Bagaimana mungkin kau langsung pulang?" Sahut Geof.
"Aku kan melahirkan dengan cara normal, menurutku tidak ada masalah jika aku tidak perlu di rawat dirumah sakit." Gumam Merta.
"Bersabarlah sebentar! Kau harus memulihkan kesehatanmu. Lagipula aku kan tetap ada di sampingmu, sayang!" Kata Geof mencoba untuk membujuk Merta agar betah di rumah sakit pasca melahirkan.
Tak lama kemudian, seorang perawat datang untuk mengambil bayi mereka agar di masukkan kembali ke dalam ruangan bayi. Geof pun melepaskan dekapan hangatnya dari bayinya dan diberikan kepada sang perawat yang akan membawanya keruang bayi. Geof duduk di tepi ranjang pasien dan mendekat dengan Merta yang duduk bersandar disana.
"Ppfftt!" Geof menahan tawa saat menatap Merta.
"Ada apa? Kenapa kau menahan tawaku?" Tanya Merta bingung.
"Aku teringat saat kau ngamuk di kantor kemarin!" Sahut Geof memancing kekesalan Merta.
"Itu semua gara-gara kau! Dasar cowok murahan!" Umpat Merta kesal.
"Eh, kenapa aku yang salah? Aku tidak berbuat apa-apa!" Sahut Geof.
"Kau tidak berbuat apa-apa, tapi kau hanya diam saja saat Nadya menggodamu!" Ujar Merta.
"Aku diam saja karena aku tidak akan tergoda olehnya! Hanya ada kau di hatiku, sayang." Bisik Geof yang membuat semburat merah di wajah Merta.
"Dasar gombal!" Ujar Merta.
"Hehehe, aku serius, sayang!" Kata Geof.
"Terima kasih ya, kau telah memberikan cinta dan anak-anak untukku!" Ucap Geof sambil menggenggam tangan Merta dengan mesra.
"Aku sangat bahagia." Ucap Geof lagi.
"Aku juga bahagia!" Sahut Merta mengelus wajah Geof dengan lembut.
Geof dan Merta pun mendekatkan wajah mereka secara bersamaan. Ketika itu Geof hendak memberikan kecupan mesra pada bibir istrinya. Namun saat hal itu akan berlaku, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sontak saja membuat Geof dan Merta mengurungkan niat mereka.
"Masuklah!" Kata Geof pada seseorang yang mengetuk pintu dari luar.
"Bos!" Sapa Lutfi pada Geof.
"Ada apa?" Tanya Geof.
"Ada informasi mengenai keributan di kantor kemarin!" Sahut Lutfi.
"Baiklah! Kita bicara di luar saja!" Kata Geof melangkah keluar dari ruang rawat Merta.
Kurir pun mengikuti langkah Geof yang keluar dari ruang rawat itu. Mereka duduk di bangku yang ada di ruang tunggu pasien.
"Ada informasi apa?" Tanya Geof.
"Setelah bos mengantar nyonya Merta ke rumah sakit, nona Nadya membuat ulah di kantor. Dia menampar seorang karyawati yang berkerja di perusahaan bos." Kata Lutfi yang membuat Geof geram.
"Atas dasar apa dia menampar pegawaiku?" Ujar Geof kesal.
"Karyawati itu berbisik mengatakan kalau nona Nadya berusaha untuk menggoda bos!" Sahut Lutfi.
"Hubungi Nadya! Katakan padanya aku membuat janji temu di ruang kantorku!" Perintah Geof pada Lutfi.
"Siap, bos!" Sahut Lutfi.
Lutfi pun pergi untuk melakukan apa yang diperintahkan oleh Geof. Lutfi segera menemui Nadya yang sedang berada di ruang kantor perusahaan miliknya. Lutfi masuk ke ruangan Nadya dan berdiri di hadapannya.
"Nona! Bos Geof ingin bertemu denganmu di kantornya besok!" Kata Lutfi pada Nadya.
"Ada urusan apa? Kenapa dia tidak mengatakannya sendiri padaku?" Tanya Nadya.
"Bos Geof memiliki kesibukan sebagai CEO perusahaan, jadi dia mengirimkan pesan untuk anda." Kata Lutfi.
__ADS_1
"Apa kau tau apa yang akan dilakukan oleh bos mu itu?" Tanya Nadya.
"Maaf nona, saya tidak tau!" Sahut Lutfi.
"Oh, sayang sekali! Padahal jika kau memberitahuku, aku akan memberikan imbalan uang yang banyak untukmu!" Kata Nadya menggunakan cara liciknya pada Lutfi.
"Heh, berani sekali kau ingin menyogokku!" Gumam Lutfi dalam hatinya.
"Bagaimana Lutfi! Apa kau mau memberitahukan aku apa yang akan direncanakan oleh bos mu?" Tanya Nadya lagi.
"Baiklah, nona! Jika kau ingin tau!" Sahut Lutfi sambil tersenyum licik pada Nadya.
"Anda tau sendiri kan kalau bos Geof memiliki kesibukan yang begitu padat sebagai CEO perusahaan. Tapi dengan waktu yang sesibuk itu, dia masih ingin bertemu denganmu di kantornya. Dari ucapannya yang aku dengarz sepertinya bos Geof memiliki ketertarikan terhadap anda!" Kata Lutfi pada Nadya.
"Apa kau yakin?" Tanya Nadya.
"Tentu saja! Aku sudah lama bekerja dengan bos Geof! Aku jauh lebih tau apa yang bos Geof sukai. Bahkan ketertarikan bos Geof terhadap nona lebih besar daripada istrinya!" Sahut Lutfi.
"Aku dengar, di kantor bos Geof memiliki sebuah ruangan khusus untuk tamu yang sengaja di undang olehnya! Anda pasti mengerti maksud saya!" Sambung Lutfi lagi.
"Heemm! Baiklah, sampaikan pada bos mu itu, aku akan datang tepat waktu besok!" Kata Nadya menarik garis senyumannya.
Setelah menyampaikan pesan dari Geof, Lutfi pun keluar dari gedung perusahan Nadya. Lutfi masuk ke dalam mobil sambil melebarkan senyumnya.
"Heh, dasar wanita bodoh! Dia pikir, dia bisa memperalat diriku, apa! Kau lihat saja, besok kau akan terkejut!" Gumam Lutfi kesal pada sikap Nadya padanya tadi.
*****
Keesokan harinya Geof menunggu Nadya di ruang kantornya. Ia duduk santai sambil sesekali melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" Kata Geof.
Masuklah Nadya dengan blazer yang sedikit terbuka dan juga ketat. Sangking ketatnya lekuk tubuh Nadya terpampang jelas di mata pria yang sudah beristri dan memiliki dua anak. Geof juga memperhatikan wajah Nadya yang menggunakan makeup tebal dan warna lipstik yang begitu sensual.
"Heh, dasar murahan!" Gumam Geof dalam hatinya sambil menatap Nadya.
"Aku tersanjung karena tuan Geof mengundangku untuk datang kesini setelah kejadian dua hari yang lalu!" Kata Nadya pada Geof.
"Ada apa tuan, Geof?" Tanya Nadya.
"Masuklah!" Kata Geof pada seseorang yang menunggu di balik tembok ruang kerjanya.
Masuklah karyawati yang dua hari lalu di tampar oleh Nadya. Karyawati itu melangkah masuk sambil menundukkan kepalanya. Nadya masih menatapnya dengan sinis.
"Apa dia yang menamparmu?" Tanya Geof pada pegawainya.
"Iya, pak CEO!" Sahut karyawati itu.
"Tuan Geof! Aku sudah melupakan kejadian dua hari lalu! Aku tidak menginginkan permintaan maaf dari pegawaimu yang telah menghinaku!" Kata Nadya penuh percaya diri.
"Tampar dia!" Kata Geof pada karyawati itu.
Ppplllaaakkkk......
Karyawati itu menampar wajah Nadya dengan sekuat tenaganya. Nadya terkejut saat menerima tamparan dari karyawati itu.
"Beraninya kau!" Teriak Nadya hendak menyerang karyawati itu.
"Jangan pernah menyentuh pegawaiku!" Teriak Geof marah pada Nadya.
"Apa?" Ucap Nadya semakin terkejut dengan sikap Geof padanya.
"Jangan sentuh pegawaiku!" Sahut Geof mengucapkannya lagi dengan tatapan sinis pada Nadya.
"Apa maksudmu, tuan Geof? Apa kau tidak lihat kalau karyawati ini telah menamparku? Bahkan dua hari lalu dia bersikap kurang ajar padaku!" Kata Nadya geram.
"Kau lah yang bersikap kurang ajar di kantorku! Kau datang untuk menggodaku dan membuat keonaran disini! Bahkan kau masih sempat menampar pegawaiku!" Ujar Geof meluapkan kekesalannya pada Nadya.
"Kau.......
__ADS_1
Geof mendekati Nadya dan mencengkram lengannya dengan kuat.
"Jangan mencoba untuk mengusik kehidupanku! Atau kau akan menerima kehancuran dari apa yang kau miliki saat ini! Kau tau bukan, kalau aku akan dengan mudahnya untuk menghancurkan perusahaanmu?" Ancam Geof pada Nadya.
"Jadi ini maksudmu mengundangku datang kesini?" Tanya Nadya dengan wajah kecewanya.
"Kau pikir?" Ujar Geof.
"Geof, aku mencintaimu!" Ucap Nadya.
"Cintamu salah! Aku pria beristri dan aku juga seorang ayah! Apa kau pantas mencintai aku, hah?" Ujar Geof semakin sinis menatap Nadya yang menjatuhkan bulir-bulir air matanya.
"Menjauh dariku dan juga keluargaku! Aku sudah memutuskan hubungan bisnis kita!" Kata Geof pada Nadya lagi.
"Pergi dari hadapanku!" Teriak Geof melepaskan cengkeramannya dari lengan Nadya dan mengusirnya keluar.
Sambil mengusap air matanya, Nadya pun berlari keluar dari ruang kerja Geof. Karyawati itu berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Geof, karena telah membelanya dan membalas apa yang dilakukan oleh Nadya padanya.
Peristiwa itu membuat heboh satu perusahaan. Semua pegawai yang bekerja di perusahaan Geof sangat senang karena memiliki pemimpin yang begitu perduli akan nasib pada pegawainya. Di mata para semua pegawainya, Geof memiliki citra yang baik walaupun dia juga bersikap tegas kepada pegawai perusahaannya itu.
Tak sanggup menahan rindunya pada bayi mungil yang masih berada di rumah sakit, Geof segera pergi dari perusahaannya itu dan melimpahkan semua pekerjaan pada sekretarisnya. Geof kembali ke rumah sakit dan melihat bayi perempuannya yang berada dalam dekapan Merta. Tampak olehnya Merta sedang menyusui bayinya tersebut.
"Haus sekali, dia! Hehehe." Kata Geof menatap Giselle yang sedang menyusu pada Merta.
"Kau darimana?" Tanya Merta.
"Dari kantor! Ada urusan sebentar tadi." Sahut Geof sembari duduk di samping Gading yang sedang bermain game yang ada di ponselnya.
"Gading, apa kau tidak ke sekolah?" Tanya Geof pada putranya.
"Hari ini aku bolos!" Sahut Gading.
"Kenapa?" Tanya Geof.
"Apa ayah lupa kalau aku belum melihat adik perempuanku? Aku ini begitu sibuk, jadi aku harus bolos sekolah agar memiliki waktu bermain dengan adikku!" Sahut Gading masih fokus pada ponselnya.
"Sibuk apanya, hah? Kau ini selalu saja bermain game dan juga memberikan harapan palsu pada gadis-gadis seusiamu!" Ujar Geof dongkol pada putranya.
"Bukannya ayah juga begitu dulu?" Sahut Gading yang membuat Geof tak bisa berkata apa-apa lagi.
Ppplleeettaakk.....
"Dasar menyebalkan!" Ujar Geof kesal pada putranya.
"Aduh, kepalaku benjol!" Ucap Gading mengelus kepalanya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Rena?" Tanya Geof pada Gading.
"Hehehehe, hubunganku dan Rena sangat mesra!" Sahut Gading cengengesan.
"Astaga! Mesra katanya!" Gumam Geof tepok jidat mendengar jawaban Gading.
"Ayah, setelah aku lulus SMA nanti, aku berniat untuk kuliah di Itali nanti!" Kata Gading pada Geof.
"Lulus SMA apaan, woi! Lulus TK saja belum!" Teriak Geof habis kesabaran menghadapi putranya yang somplak itu.
"Hehehehe, iya! Ayah benar juga!" Sahut Gading kembali cengengesan sambil garuk-garuk kepalanya.
"Hah, dasar payah! Buah jatuh tak jauh dari pohonnya!" Gumam Merta yang sedari tadi mendengar percakapan antara suami dan putranya itu.
__ADS_1