WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
GARA-GARA MEDSOS


__ADS_3

Beberapa hari kemudian Merta dan Gading sedang bersiap-siap untuk pergi ke kota menaiki sebuah kapal yang akan membawa mereka kesana. Maya dan Pandi tak kuasa menahan air matanya karena akan terpisah oleh Gading si cucu kesayangan.


"Gading, jangan lupakan kakek ya!" Ucap Pandi dalam Isak tangisnya.


"Iya!" Sahut Gading singkat.


"Gading jika kau sudah dewasa jangan lupa untuk mengunjungi kakek dan nenek disini!" Kata Maya.


"Eh, kalau aku dewasa nanti apa kakek dan nenek masih hidup?" Tanya Gading berpikir keras.


Ppplleeettaakk..


Gading berjongkok sambil mengusap kepalanya karena di pukul oleh Merta.


"Jaga bicaramu itu, Gading!" Ujar Merta kesal.


"Aku kan hanya bertanya saja, bunda." Sahut Gading.


"Aduh, sakit sekali!" Sambung Gading lagi sambil terus mengusap kepalanya.


"Hah, apa jadinya jika kau hanya tinggal berdua saja bersama bundamu itu? Kepalamu pasti akan benjol setiap hari karena di pukul oleh bundamu." Kata Pandi kepada Gading.


"Baiklah tante, paman! Aku pergi dulu. Doakan kami ya!" Kata Merta mencium tangan Maya dan juga Pandi.


Sebelum menaiki kapal yang akan menjadi tranportasinya, Gading masih sempat-sempatnya mengatakan hal konyol kepada Maya dan juga Pandi.


"Kakek, jangan terlalu genit kepada nenek!" Kata Gading.


"Kenapa?" Tanya Pandi.


"Aku hanya tidak ingin ada bocah yang lahir menggantikan posisimu!" Sahut Gading yang tak ingin Maya dan Pandi memiliki anak, karena ia takut kasih sayang mereka akan hilang untuknya.


"Hahaha, kau memang sangat lucu, Gading!" Tawa Pandi lepas saat mendengar perkataan Gading.


"Aku serius!" Sahut Gading pasang wajah serius.


"Oh, serius ya? Hahaha." Kata Pandi lagi sambil tertawa.


Maya hanya menghela nafas saja saat mendengar pembicaraan antara Pandi dan juga Gading. Merta cepat-cepat menarik Gading untuk naik ke atas kapal. Gading dan Merta melambaikan tangan mereka kepada Maya dan Pandi yang masih berada di pelabuhan itu.


Beberapa jam kemudian, Merta dan Gading telah tiba di pelabuhan kota. Merta celingak-celinguk mencari keberadaan Shafa yang berjanji akan menjemputnya. Tak lama orang yang di tunggu-tunggu pun akhirnya muncul. Shafa menyambut kedatangan Merta dengan begitu senang.


"Wah, kau sangat manis!" Seru Shafa mengelus kepala Gading.


"Maaf ya tante! Aku ini pria tampan bukan manis seperti apa yang kau katakan barusan." Sahut Gading sedikit dingin.


"Astaga! Di..di..dia sungguh mengatakan itu tadi?" Kata Shafa kaget mendengar ucapan Gading yang tak sesuai dengan usianya.


"Maklumi saja! Anakku sedikit konyol. Hehehe." Sahut Merta tertawa canggung.


"Hahaha, baiklah! Ayo kita ke apartemen yang akan menjadi tempat tinggal kalian!" Seru Shafa bersemangat.


Mereka pun pergi ke sebuah apartemen yang terbilang cukup sederhana. Di sanalah Merta dan Gading akan tinggal selama mereka berada di kota. Shafa meminjamkan apartemen miliknya sebagai tempat tinggal Merta yang akan bekerja sebagai penyanyi di cafe miliknya itu.


Saat Merta sedang beres-beres, Shafa membawa bungkusan makan siang untuk mereka. Shafa sangat baik kepada Merta dan juga Gading. Shafa menyukai sifat Merta yang juga ramah kepadanya.


"Ayo kita makan siang dulu!" Ajak Shafa pada Merta dan juga Gading.


"Gading! Ayo kita makan siang, sayang!" Teriak Merta memanggil putranya yang sedang bermain di dalam kamar.


Gading pun keluar dari kamar dengan membawa mainan yang ia mainkan di dalam kamar.


"Ayo kemarilah! Apa kau suka makan pizza?" Tanya Shafa pada Gading.


"Tidak! Aku suka sup iga sapi!" Sahut Gading dengan polosnya.


"Makanlah! Jangan pilih-pilih makanan." Kata Merta pada Gading.


"Ayo cobalah pizza ini!" Seru Shafa memberikan sepotong pizza pada Gading.


Gading pun membuka mulutnya dan mencicipi makanan yang belum pernah ia makan sama sekali. Shafa merasa deg-degan saat melihat Gading mengunyah pizza itu.


"Bagaimana? Apakah kau suka?" Tanya Shafa dengan jantung yang berdebar kencang.


"Wow, enak tante!" Seru Gading menyukai pizza itu.


"Hah, syukurlah! Dia yang makan, aku yang deg-degan!" Kata Shafa seraya memegang dadanya.


Shafa memberikan sekotak pizza itu pada Gading yang tampak menyukainya. Sementara ia dan Merta makan nasi kotak yang ia beli dari sebuah rumah makan yang tak juah dari apartemen itu.


"Shafa, kapan aku akan mulai bekerja?" Tanya Merta.

__ADS_1


"Cafe buka dari jam makan siang sampai tengah malam, namun untuk hiburannya akan dimulai dari jam 8 malam hingga jam 11 malam. Jadi kau akan bernyanyi di cafe ku mulai dari jam 8 hingga jam 11 malam!" Sahut Shafa.


"Untuk beberapa hari ini kau bersantai lah dulu sampai aku menemukan pengasuh yang tepat untuk menjaga putramu selama kau bekerja nanti." Kata Shafa lagi.


"Tante, aku ini pria yang mandiri, jadi aku tidak perlu pengasuh!" Sahut Gading menyela pembicaraan Merta dan Shafa.


"Oh ya? Apa kau adalah seorang pria?" Tanya Shafa pada Gading.


"Tentu saja!" Sahut Gading percaya diri.


"Percaya diri sekali kau! Gading, dengarkan aku ya. Seorang pria tidak akan belepotan saat makan pizza! Hehehe." Kata Shafa membersihkan sisa pizza di mulut Gading dengan tissue. Wajah Gading memerah malu saat ia ketahuan makan pizza sampai belepotan. Shafa terkekeh gemas saat melihat wajah Gading yang memerah.


 


Tring.......


Notifikasi yang berasal dari ponsel Shafa.


"Wah, dia sedang merayuku!" Seru Shafa saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya.


"Apakah itu dari kekasihmu?" Tanya Merta sambil tersenyum.


"Aku dan dia bukan sepasang kekasih, aku bahkan belum pernah bertemu dengannya! Aku mengenalnya dari media sosial. Dia tinggal di ibukota." Jawab Shafa.


"Siapa namanya?" Tanya Merta.


"Lutfi! Tapi aku memiliki panggilan sayang untuknya yaitu Lulut!" Sahut Shafa.


Deg....


Merta teringat akan supir pribadi yang dulu sering mengantarkan kemanapun ia pergi.


"Tidak mungkin Lutfi yang itu! Nama Lutfi kan banyak di ibukota." Gumam Merta dalam hatinya.


"Baiklah, aku akan pergi menangani beberapa masalah yang ada di cafe ku!" Kata Shafa beranjak pergi keluar dari apartemen yang di tinggali Merta bersama putranya.


Merta menepis pikirannya mengenai Lutfi yang dulu pernah menjadi supir pribadinya lima tahun yang lalu. Merta kembali beres-beres menata pakaiannya dan juga pakaian Gading di dalam lemari.


 


*****


Di ibukota, Geof duduk di kursi sambil mendengarkan isi rapat kerja di perusahaan yang sekarang ia kendalikan. Sebagai CEO perusahaan, Geof terkenal tegas kepada bawahannya. Setelah selesai rapat, Geof berjalan menuju ke lift dan hendak keluar sebentar. Lutfi membukakan pintu mobil untuk Geof.


"Baik bos!" Sahut Lutfi.


Di tengah jalan, Geof bertanya pada Lutfi yang bekerja tidak hanya sebagai supir, namun juga sebagai orang kepercayaan Geof.


"Apa kau menemukan tanda-tanda keberadaan Merta dan anakku?" Tanya Geof.


"Sayangnya belum bos!" Sahut Lutfi.


"Hah, dimana mereka? Sudah lima tahun aku mencarinya." Gumam Geof frustasi.


Tak lama kemudian, Geof sudah tiba di rumah orang tuanya. Geof pulang sebentar karena Lita menyuruhnya untuk menemuinya. Lita duduk di ruang tengah bersama Luky yang sedang menikmati masa-masa pensiunnya. Geof menghampiri kedua orang tuanya itu dan duduk bersama mereka.


"Ada apa mama memanggilku pulang?" Tanya Geof pada Lita.


"Geof, aku memiliki beberapa foto gadis yang cantik dan juga dari keluarga baik-baik. Aku berencana untuk membuatkan kencan buta untukmu!" Sahut Lita menunjukkan beberapa foto itu pada Geof.


Geof mengambil foto-foto itu dan langsung merobeknya.


"Ma, aku cuma mau Merta!" Kata Geof sambil menunjuk kearah bisa bingkai foto yang masih terpajang di setiap dinding rumah.


"Aku juga menginginkan seperti itu! Tapi sudah lima tahun belum juga mendapatkan bkabar keberadaan Merta dan juga cucuku!" Teriak Lita kesal.


"Apa kau memperkejakan orang-orang dungu untuk mencari calon menantu serta cucuku, hah? Hingga sekarang mereka belum bisa menemukannya!" Teriak Lita lagi.


"Huhuhuhu, aku juga merindukan Merta!" Ucap Lita menangis setelah berteriak kesal.


"Apa mungkin Merta pergi ke luar negeri?" Tanya Luky.


"Tidak mungkin! Aku sudah memeriksa semua penerbangan, tidak ada yang bernama Mertarya!" Sahut Geof.


"Lantas kemana dia? Apa dia di telan bumi?" Kata Lita masih dengan tangisannya.


"Sudahlah! Mama jangan mencoba untuk menjodohkan aku dengan wanita lain. Sampai matipun aku tidak akan menikah, kalau tidak dengan Merta!" Kata Geof seraya melangkah pergi meninggalkan rumah untuk kembali ke kantornya.


Geof masuk ke dalam mobil sambil memijat-mijat kepalanya. Ia merasa pusing dengan permintaan Lita yang terus menginginkan cucu darinya. Dari spion mobil, Geof melihat Lutfi sedikit gelisah.


"Ada apa? Kenapa kau gelisah?" Tanya Geof.

__ADS_1


"Eeemm, bos! Aku mau minta izin cuti beberapa hari." Kata Lutfi.


"Memangnya kau mau kemana?" Tanya Geof.


"Ke Sulawesi! Aku ingin bertemu dengan kekasihku disana." Sahut Lutfi.


"Apa kau akan menikah?" Tanya Geof lagi.


"Bukan seperti itu, bos! Aku belum memikirkan pernikahan, karena aku juga belum mengenalnya secara langsung. Aku mengenalnya lewat medsos." Jawab Lutfi.


"Jauh banget cari perempuan! Memangnya di ibukota tidak ada wanita yang kau suka?" Tanya Geof.


"Hehehe, aku hanya tertarik padanya bos!" Sahut Lutfi.


"Apa yang membuatmu tertarik padanya?" Tanya Geof lagi.


"Aku tertarik padanya karena dia memanggilku Lulut! Hehehe." Sahut Lutfi.


"Hah, panggilan jelek begitu kau malah senang!" Ujar Geof sebenarnya cemburu pada Lutfi yang sudah menemukan calon pendamping.


"Jadi, gimana nih bos? Di izinkan kah?" Tanya Lutfi lagi.


"Iya iya! Pergilah sana!" Sahut Geof.


Lutfi bernafas lega saat Geof mengizinkan dirinya untuk mengambil cuti beberapa hari agar ia bisa menemui wanita yang ia kenal dari jejaring sosial.


"Lutfi! Malam ini aku ingin kembali ke apartemen saja. Aku ingin mengenang Merta disana." Kata Geof.


"Baik bos!" Sahut Lutfi mendengar perkataan Geof yang terdengar menyedihkan.


 


*****


Dua hari kemudian, Shafa mengunjungi Merta dengan membawa seorang pengasuh untuk menjaga Gading selama Merta pergi bekerja. Nama pengasuh itu adalah Citra. Gadis lugu yang baru saja lulus SMA dan bekerja untuk menjadi pengasuh anak.


Gading menatap Citra dengan pipi yang memerah. Gading menyukai wajah Citra yang terlihat manis baginya.


"Hai, Gading!" Sapa Citra ramah kepada Gading.


"Hai, kakak cantik!" Sahut Gading dengan rona merah di pipinya.


"What the hell?" Teriak Shafa terkejut melihat ekspresi Gading menyapa pengasuhnya.


"Hah, putraku ini memang terbaik! Dia sangat pintar melihat wanita cantik." Gumam Merta dalam hatinya.


Merta mendekati putranya yang tiada henti menatap pengasuhnya.


"Gading, bunda akan pergi bekerja malam ini! Jadi kau akan ditemani oleh kakak Citra." Kata Merta pada Gading.


"Iya, bunda pergi saja sana! Aku akan berduaan dengan kakak Citra. Hehehe." Sahut Gading.


Ppplleeettaakk....


Citra dan Shafa kaget melihat Merta menghantam putranya itu.


"Jangan berpikir yang bukan-bukan, Gading!" Ujar Merta kesal.


"Iya, baiklah!" Sahut Gading sambil menggosok-gosok kepalanya yang benjol.


 


Shafa membawa Merta pergi ke cafenya yang malam itu tidak ramai pengunjung. Shafa membawa Merta ke sebuah ruangan untuk bersiap-siap dengan memakai gaun yang bagus dan juga berdandan dengan cantik. Tak lama berselang, Merta pun naik ke atas panggung yang tak begitu tinggi dan mulai memilih lagu yang akan ia nyanyikan. Malam itu adalah malam pertama Merta menjadi penyanyi di cafe milik Shafa.


Tamu yang datang begitu senang mendengar suara merdu Merta sambil menikmati makanan yang di jual di cafe itu. Shafa sangat senang saat melihat para pengunjung menikmati suara Merta yang memang terdengar merdu.


Sudah beberapa hari, Merta bekerja sebagai penyanyi di cafe itu. Rasa canggung dan malu tak ia rasakan lagi. Banyak pengunjung yang ingin mengenal diri Merta sebagai penyanyi yang bersuara merdu. Suasana cafe menjadi ramai kembali karena kabar yang tersebar dari mulut ke mulut. Shafa sangat senang karena ia merasa berkat Merta suasana cafenya kembali ramai.


Shafa menatap Merta yang sedang bernyanyi di atas panggung. Tiba-tiba ia mendengar suara ponselnya yang bergetar di dalam saku celananya. Shafa langsung menerima panggilan telepon itu di luar cafe.


"Halo, Lulut!" Ucap Shafa senang.


"Aku hanya ingin memberitahumu kalau aku sudah tiba di kota Sulawesi!" Kata Lutfi dari ponselnya.


"Benarkah?" Teriak Shafa girang.


"Apa kau ingin bertemu denganku sekarang?" Tanya Shafa lagi.


"Tentu saja! Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu." Sahut Lutfi yang sedang di mabuk cinta.


"Baiklah! Kau datang saja ke cafe milikku ya! Aku akan mengirimkan alamatnya padamu." Kata Shafa.

__ADS_1


"Oke, sayang!" Sahut Lutfi.


Shafa menutup panggilan telepon itu dengan perasaan yang begit gembira. Pipinya memerah saat ia menyadari kalau ia akan bertemu dengan pria yang ia kenal di medsos.


__ADS_2