
Merta yang tak betah di rumah sakit terus merengek pada Geof untuk minta pulang ke rumah. Ia tak sabar ingin membawa bayinya itu dan mengurusnya secara langsung. Geof yang tak bisa mendengar rengekan Merta setiap harinya, hanya bisa menuruti keinginan wanita yang telah memberikan dua orang anak untuknya.
Akhirnya, Merta pun memboyong bayi mungilnya itu kembali ke rumah. Lita dan Luky menyambut kedatangan bayi mungil tersebut. Luky yang begitu senang tak mau berbagi kepada Lita. Ia terus saja menggendong Giselle di dalam dekapannya.
"Luky! Gantian dong!" Ujar Lita kesal.
"Tidak!" Sahut Luky menolak memberikan Giselle pada Lita.
"Sejak Giselle datang hingga sekarang kau terus saja menggendong dan bermain dengannya! Gantian dong! Aku juga ingin menggendong cucu Perempuanku!" Teriak Lita.
"Tidak mau!" Balas Luky tetap menolak memberikan Giselle pada Lita.
Melihat kakek dan neneknya berebut adiknya, Gading pun menghampiri keduanya.
"Nek, gendong aku saja! Aku kan juga cucu nenek!" Kata Gading.
"Tidak! Kau berat!" Sahut Lita berdengus kesal.
"Hah, aku jadi terlupakan oleh kedua kakek dan nenek ini!" Gumam Gading sewot.
"Kau itu sudah besar Gading! Mana mungkin kakek dan nenek menggendongmu lagi!" Kata Geof yang sudah pusing melihat tingkah keluarganya yang aneh itu.
Gading tiba-tiba berlari masuk ke dalam kamar orang tuanya dan duduk di meja rias yang biasa digunakan Merta. Merta melihat putranya yang meraih bedak serta alat-alat makeup miliknya. Merta kaget melihat Gading memakai semua alat makeup miliknya. Beberapa menit kemudian, Merta berteriak kaget melihat wajah Gading telah dipenuhi oleh makeup yang belepotan.
"Gading! Apa yang kau lakukan?" Teriak Merta pada putranya itu.
Gading tak perduli akan teriakan bundanya. Ia lantas berlari keluar kamar dan kembali menghampiri kakek dan neneknya yang masih ribut memperebutkan Giselle yang masih berusia 5 hari. Geof tak kalah kagetnya melihat wajah Gading yang belepotan dengan makeup.
"Kakek, nenek! Lihatlah, aku sudah jadi cucu perempuan kalian!" Seru Gading pada Lita dan Luky.
Lita dan Luky pun menoleh dan melihat cucunya yang konyol itu. Mereka begitu terkejut karena Gading sengaja memakai makeup milik Merta di wajahnya agar menjadi cucu perempuan untuk mendapatkan perhatian dari kakek dan neneknya itu.
"Apa yang kau lakukan, hah?" Teriak Lita bak ular naga yang menyemburkan api dari mulutnya kepada Gading.
Ppplleeettaakk......
Ppplleeettaakk......
Ppplleeettaakk......
Gading pun mendapat amukan dari kakek dan neneknya serta ayahnya.
"Aduh, benjol tiga!" Ucap Gading berjongkok di lantai sambil mengelus kepalanya.
"Cepat bersihkan wajahmu sana!" Seru ketiganya lagi memarahi Gading.
"Iya!" Sahut Gading melangkah ke kamar mandi yang ada di dekat dapur.
"Dasar anak konyol!" Gumam Merta geleng kepala melihat tingkah putranya itu.
Di ruang tengah Luky dan Lita masih saling menghujat untuk memperebutkan Giselle. Geof semakin tak tahan melihat tingkah kedua orang tuanya itu. Geof bangkit dari tempat duduknya dan mendekati Luky. Geof merampas bayinya itu dengan paksa. Luky dan Lita melongo melihat Geof membawa Giselle masuk ke dalam kamarnya.
"Cucuku!" Seru kedua orang tua Geof.
"Mau kau bawa kemana Giselle, Geof?" Teriak Lita.
"Ke kamar! Kalian lanjutkan saja bertengkarnya!" Sahut Geof terus melangkah.
"Huh, menyebalkan!" Teriak Luky dan Lita kesal pada Geof.
Geof tak perduli umpatan kedua orang tuanya yang kesal padanya. Ia membawa Giselle masuk ke dalam kamarnya dan meletakkan bayi kecil itu ke ranjang bayi yang ada di samping ranjang tidurnya. Merta yang baru saja selesai mandi melihat Geof begitu telaten meletakkan Giselle di ranjang bayi itu.
"Telatennya ayah yang satu ini!" Seru Merta memeluk Geof dari belakang.
"Iya dong! Aku kan ayah yang baik!" Sahut Geof berbalik dan menatap Merta.
__ADS_1
"Kau juga suami yang baik!" Sambung Merta lagi.
"Kau juga istri yang paling baik sedunia!" Balas Geof memuji istrinya.
"Tentu saja!" Seru Merta menyombongkan diri.
"Kalau kau memang istri yang terbaik di dunia, maka tak akan masalah dong jika kau melahirkan bayi lagi untukku! Hehehehe." Bisik Geof di telinga Merta sambil tertawa licik.
"Mimpi saja sana!" Teriak Merta mendorong wajah Geof menjauh darinya.
"Hahahaha, ekspresimu itu sangat lucu Merta!" Kata Geof tertawa terpingkal-pingkal.
"Huh, Giselle bahkan belum genap seminggu, kau malah ingin aku melahirkan lagi! Dasar kejam!" Ujar Merta sewot.
"Hehehe, aku hanya bercanda saja, sayang!" Sahut Geof terkekeh geli sambil memeluk Merta.
"Aku tak ingin melihatmu merasakan sakit lagi seperti saat kau melahirkan Giselle. Aku tak tega melihatmu mengerang kesakitan!" Kata Geof lagi sambil mengelus wajah Merta dengan lembut.
"Oh, suamiku! Ucapanmu barusan membuat hatiku terasa seperti teraduk-aduk!" Ucap Merta lebay.
"Memangnya minuman teh pakek diaduk-aduk!" Ujar Geof.
"Hehehehe." Merta hanya cengengesan sambil menatap Geof.
"Geof! Bagaimana dengan Nadya?" Tanya Merta.
"Aku sudah membereskannya! Kau tenang saja, aku hanya milikmu seorang!" Bisik Geof membuat wajah ibu dua orang anak itu memerah merona.
"Jangan gombal terus!" Ujar Merta memukul dada bidang Geof.
"Aku tidak gombal! Aku sungguh-sungguh ingin menua bersamamu, sayang! Kita akan membesarkan kedua anak kita dan mendidik mereka dengan benar agar mereka menjadi anak yang berbakti pada Nusa dan bangsa!" Kata Geof semangat berapi-api.
"Merdeka!" Seru Merta ikut bersemangat.
Kemudian, Geof dan Merta pun tertawa bersama. Dari sela-sela celah pintu yang sedikit terbuka, Gading menatap kedua orang tuanya itu dengan tatapan aneh.
*****
Beberapa tahun kemudian, Gading telah menyelesaikan Sarjananya di salah satu universitas ternama di ibukota. Sedangkan Giselle tumbuh menjadi gadis remaja SMA yang banyak di sukai oleh para pria-pria yang menatap wajah cantik serta genitnya itu.
Suatu hari Giselle yang baru saja pulang dari sekolahnya, melintas di depan kamar Gading yang bersebelahan dengan kamarnya. Saat itu kebetulan pintu kamar Gading terbuka sedikit. Keusilan Giselle pun menyeruak di otaknya untuk mengerjai sang kakak yang sedang memberikan harapan palsu kepada setiap wanita melalui telepon selulernya. Giselle masuk ke dalam kamar dan mendekati Gading yang berbaring sambil menerima telepon dari seorang wanita. Giselle ikut berbaring di samping Gading. Saat itu Gading yang begit sayang pada adiknya, mengelus kepala Giselle dengan penuh kasih sayangnya. Namun tiba-tiba Gading kaget saat ponselnya direbut oleh Giselle.
"Sayang! Aku kangen! Cium aku dong!" Ucap Giselle berperan sebagai kekasih gelap Gading.
"What the hell!" Gumam Gading kaget melihat Giselle.
"Ayo dong, Gading sayang! Cium dan peluk aku!" Ucap Giselle lagi merapatkan bibirnya pada ponsel milik Gading.
Sontak saja wanita yang sedang teleponan dengan Gading murka.
"Gading! Apa kau sedang bersama kekasih gelapmu yang lain, hah?" Teriak wanita itu.
"Sayang, jangan marah dulu! Itu bukan seperti yang kau pikirkan!" Kata Gading berupaya menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada wanita incarannya itu.
"Huh, dasar playboy!" Ujar wanita itu seraya memutuskan sambungan teleponnya dengan Gading.
Seketika Giselle tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Gading yang kecewa sambil garuk-garuk kepala.
"Hah, padahal sedikit lagi aku pasti akan menaklukkan dia!" Gumam Gading masih menatap layar ponselnya.
Gading melirik pada Giselle yang masih tertawa jungkir balik karena keusilannya itu berhasil membuat sang kakak kehilangan wanita yang sedang diincarnya.
"Dasar gadis nakal! Kau membuatku kehilangan wanita ingatanku!" Teriak Gading menarik telinga Giselle.
__ADS_1
"Aduh! Bunda, kak Gading jahat nih!" Teriak Giselle memanggil Merta yang sedang berada di ruang tengah bersama Luky dan Lita.
"Bunda tidak akan mendengar teriakanmu! Bunda sedang bersama kakek dan nenek di rumah tengah." Kata Gading melepaskan tarikannya pada telinga Giselle.
"Kakak sih kerjaannya memberi harapan palsu mulu pada setiap wanita! Pikirin kak Rena dong! Dia setia tau di Itali sana!" Kata Giselle pada Gading.
"Hehehe, aku memang playboy, namun hatiku tetap untuk Rena!" Sahut Gading percaya diri.
"Huh, kalau kak Rena tau kelakuan kakak disini, dia pasti bakalan mutusin kakak dan pacaran sama bule-bule ganteng di Itali sana!" Sambung Giselle lagi.
"Kau jangan menakutiku, Giselle!" Teriak Gading.
"Makanya jangan jadi palyboy!" Ujar Giselle.
"Huh, kepo banget lu! Pergi sana!" Ujar Gading mengusir adiknya keluar dari kamarnya.
Giselle pun keluar dari kamar Gading setelah Gading menyeretnya sampai depan pintu. Giselle masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Gading. Giselle berbaring di atas ranjang yang dipenuhi oleh boneka-bonekanya yang cantik. Giselle penggemar boneka Barbie.
Giselle menatap layar ponselnya dan membuka medsos miliknya. Ia melihat beberapa foto Ari yang muncul di beranda medsosnya itu.
"Aduh, kenapa kak Ari setampan ini sih? Aku kan jadi suka padanya! Hehehehe." Gumam Giselle yang kesemsem akan pesona Ari yang tak lain sahabat dan se-gengnya Gading.
Malam harinya, Giselle dan Gading makan malam bersama kedua orang tuanya dan juga kakek neneknya yang sudah semakin tua itu. Giselle yang sangat menyayangi Luky tampak sedang menyuapinya dengan semangkuk bubur ayam.
"Kakek, makan yang banyak ya!" Kata Giselle menyuapi Luky yang sudah tua dan menggunakan kursi roda.
"Hah, aku sudah begitu tua! Makan banyak juga percuma! Aku pasti akan mati." Sahut Luky.
"Kakek! Jangan bicara seperti itu! Aku sedih, tau!" Ujar Giselle kesal.
"Hehehe, kau cucuku yang paling baik!" Kata Luky mengusap kepala Giselle dengan lembut.
"Kakek, aku kan juga cucu kakek yang baik!" Sahut Gading tak mau kalah.
"Huh, kau itu tidak punya waktu untukku! Kau selalu saja keluyuran dan menelpon semua wanita untuk memberikan harapan palsu pada mereka! Apa kau lupa, cukup banyak wanita yang datang kerumah ini hanya untuk mengejarmu?" Teriak Luky ngegas pada Gading yang duduk di hadapannya.
"Kakek kan juga begitu saat muda!" Gerutu Gading membalas ucapan Luky.
"Siapa yang bilang?" Ujar Luky melotot kesal.
"Nenek!" Seru Gading menunjuk ke arah Lita yang duduk di samping Luky.
Luky pun melirik kepada istrinya yang tak muda lagi itu.
"Kenapa kau mengatakan masa laluku padanya?" Bisik Luky pada Lita.
"Biar dia tau, siapa yang menurunkan sifat playboy di keluarga ini!" Sahut Lita dengan santainya.
"Huh, kau ini!" Ujar Luky tampak kesal pada Lita.
Merta dan Geof hanya bisa menghela nafas mendengarkan perbincangan antara cucu dengan kakek dan neneknya. Namun walaupun mereka selalu bersitegang saat bersama, Geof dan Merta tetap bersyukur akan keluarga yang terbentuk dengan sempurna bagi mereka.
"Walaupun seperti ini setiap harinya, aku tetap bahagia memiliki keluarga seperti mereka." Bisik Geof pada Merta.
"Iya, kau benar!" Sahut Merta.
"Terima kasih, sayang! Kau memberikan dua anak dan juga sayang kepada kedua orangtuaku!" Ucap Geof pada Merta.
"Oh, aku mencintaimu, Geof!" Ucap Merta.
"Aku juga mencintaimu sayang! Stay My love!" Sahut Geof kepada istrinya itu.
THE END
BACA JUGA CERITA TERBARUKU
__ADS_1
\= AN INTROVERT FIRST LOVE =