
Geof menghentikan mobilnya tepian di depan warung bakso yang terkenal akan baksonya yang enak. Geof dan Merta keluar dari mobil dan masuk ke dalam warung bakso tersebut. Mereka pun memesan bakso yang akan menjadi santapan malam mereka. Geof dan Merta satu hari dalam menyukai makanan pedas. Kuah bakso yang awalnya bening dan berbumbu berubah warna menjadi kemerahan sangking banyaknya cabai yang mereka campur.
"Heemmm, pedas!" Seru Geof dan Merta serentak.
Makan malam yang tak biasa itu di nikmati oleh Geof dan Merta di sebuah warung yang sederhana. Keringat mengucur deras dari dahi mereka berdua. Dandanan Merta yang semula rapi kini tampak sedikit berantakan karena keringat yang membahana di wajahnya. Wajah mereka berdua memerah menahan rasa pedas dari kuah bakso yang begitu merah karena cabai.
"Gila, nih bakso! Enak banget." Kata Geof menikmati semangkuk bakso miliknya.
"Iya, kali ini aku sependapat denganmu!" Sahut Merta yang sedang kepedasan.
Tak lama kemudian saat sedang menikmati baksonya, Geof dan Merta di hampiri oleh sepasang suami istri yang terkenal akan kekonyolannya. Mereka tak lain adalah orang tua Geof yang kebetulan menjadi pelanggan setia di warung bakso tersebut.
"Geof, sayang!" Seru Lita heboh membuat Geof kaget dan menelan sebutir bakso bulat-bulat, sedangkan Merta juga kaget dan tersedak kuah bakso yang pedas itu.
Author (tau kan gimana rasanya kalau tersedak kuah pedas? Aku gak bisa ngebayangin gimana perasan Merta saat itu! Wkwkwkwkwk) LANJUT.....
Merta terbatuk-batuk sedangkan Geof bengong karena bakso tertelan bulat-bulat. Luky terkekeh melihat keduanya yang kaget karena teriakan Lita yang mengguncang warung bakso tersebut. Geof menoleh pada Lita yang menepuk pundaknya barusan.
"Mama! Mengagetkan saja." Teriak Geof kesal.
"Hei, kalian masih muda! Begitu saja kaget." Sahut Lita duduk di samping Merta yang masih terbatuk-batuk.
Luky pun ikut menempelkan pantatnya di kursi yang ada di sebelah Geof.
"Mama sama papa mau apa kesini? Jangan bilang kalau mama dan papa mengikuti aku!" Tanya Geof pada kedua orang tuanya.
"Hah, seenak jidatmu saja kalau bicara! Siapa yang membuntutimu? Kami kesini mau makan bakso." Sahut Luky kesal.
"Sejak kapan mama dan papa makan disini?" Tanya Geof sedikit terkejut.
"Sebelum kau lahir kami sudah menjadi langganan tetap di warung bakso legendaris ini!" Sahut Lita.
"Itu benar! Saat kami berpacaran kami sering makan disini." Sambung Luky.
"Apa saat masih lajang papa tidak punya uang sehingga papa mengajak mama makan di sini?" Tanya Geof yang mengundang amukan Luky.
Ppplleeettaakk.....
Luky memukul kepala Geof yang membuat Merta terkejut.
"Sembarangan saja kau kalau ngomong! Aku ini sama sepertimu begitu brojol sudah jadi pria kaya." Kata Luky.
"Lalu kenapa mengajak mama makan disini?" Tanya Geof sewot.
"Karena mamamu yang suka! Lagipula bakso disini sangat enak, aku jadi ketagihan makan disini." Sahut Luky.
Luky dan Lita melirik Merta yang sedikit terlihat canggung duduk bersama mereka.
"Apa kalian sedang kencan?" Tanya Lita.
"Iya!" Sahut Geof singkat.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Luky.
"Huh, selalu saja bertanya seperti itu!" Gumam Geof tak senang.
Lita melihat wajah Merta tampak merah dan menunduk ke bawah.
"Merta, wajahmu sangat merah! Apa kau demam?" Tanya Lita.
"Dia itu kepiting rebus, maka dari itu wajahnya merah. Hehehe." Sahut Geof meledek Merta yang duduk berhadapan dengannya.
"Hei, jangan malu-malu seperti itu! Hehehe." Kata Lita lagi pada Merta.
"Merta, kapan kita karaoke bersama lagi?" Tanya Lita bersemangat.
Merta melirik Geof yang memberikan kode agar tidak menerima ajakan Lita untuk berkaraoke bersama lagi.
"Hehehe, terserah nyonya saja." Sahut Merta.
"Jangan panggil aku nyonya! Aku ini calon ibu mertuamu." Sahut Lita.
"Mama, sudahlah! Selalu saja sesuka hati kalau bicara." Ujar Geof sewot kepada Lita.
Ibu dan anak itu bertengkar di warung bakso tersebut dan lebih tepatnya lagi di hadapan Luky yang sedang menyantap semangkuk bakso yang ia pesan. Lita melirik Luky yang sudah hampir menghabiskan bakso miliknya.
"Luky! Kenapa kau makan sendirian? Kenapa tidak menungguku?" Terima Lita kesal.
__ADS_1
"Apa? Aku lapar!" Sahut Luky dengan wajah konyolnya itu.
"Huh, kau menyebalkan!" Ujar Lita semakin kesal pada Luky.
Lita dan Luky sibuk dengan percekcokan mereka berdua. Merta dan Geof menghela nafas melihat kedua orang tua itu selalu saja heboh dimana pun mereka berada. Momen seperti itu menjadi kesempatan bagi Geof untuk melarikan diri bersama Merta. Geof menarik tangan Merta dan melangkah dengan perlahan untuk keluar dari warung bakso itu. Lita dan Luky berhenti cekcok setelah merasa Geof dan Merta tidak berada di dekat mereka lagi.
"Eh, kemana mereka?" Tanya Lita celingak-celinguk mencari keberadaan Geof dan Merta.
"Sudah kabur!" Sahut Luky.
"Ini semua gara-gara kau, Luky!" Ujar Lita kembali kesal dengannya.
"Sudah makan saja! Nanti baksomu dingin." Kata Luky.
Lita pun kembali kepada mangkuk bakso yang ada di depannya, sedangkan Luky sudah menghabiskan semangkuk bakso miliknya.
Di dalam mobil yang sedang menyala, Geof dan Merta kembali mengambil nafas dengan lega. Akhirnya mereka bisa terbebas dari Luky dan juga Lita yang selalu saja menyuruh mereka untuk segera menikah dan memberikan cucu untuk mereka.
"Hah, jadi kacau!" Keluh Geof sembari menginjak pedal gas pada mobilnya.
"Ngomong-ngomong orang tuamu seru juga ya!" Kata Merta sambil tersenyum.
"Ya begitulah mereka! Selalu saja membuat kehebohan dimana mereka berada." Sahut Geof.
"Tapi walaupun mereka begitu, mereka saling melengkapi! Banyak cerita unik yang aku dengar dari sahabat orang tuaku tentang perjalanan cinta mereka." Sambung Geof lagi.
"Pasti seru ya!" Sahut Merta.
Geof dan Merta kembali terdiam di dalam mobil. Suasana canggung meliputi mereka berdua. Geof melirik Merta yang sedang menatap lirik ke depan.
"Eeemm, bagaimana keadaan tantemu di kampung?" Tanya Geof berbasa-basi ingin memecahkan suasana canggung di antara mereka berdua.
"Tante Maya baik! Hanya saja dia pasti sedang kesepian dirumah sendirian semenjak ibuku meninggal." Sahut Merta tampak sedih.
"Ah, dia malah jadi sedih! Bodoh sekali aku membicarakan hal itu hanya akan membuatnya teringat pada mendiang ibunya." Gumam Geof dalam hatinya.
"Merta, apa kau mau pergi ke tempat lain?" Tanya Geof.
"Tidak! Kita kembali saja, setelah makan banyak aku jadi mengantuk." Sahut Merta.
Tepat pukul 10 malam, Geof dan Merta tiba di apartemen. Merta pergi membersihkan dirinya di kamar mandi atas sedangkan Geof membersihkan diri di kamar mandi bawah. Setelah selesai mandi, Geof memutuskan untuk menonton televisi di ruang tengah sejenak. Minuman kaleng bersoda dan beberapa cemilan pun menemani Geof malam itu di ruang tengah.
Beberapa jam kemudian, Geof merasakan kantuk yang luar biasa. Ia pun mematikan televisi itu dan naik ke lantai atas untuk masuk ke dalam kamarnya. Geof melihat lampu kamar telah padam. Ia juga melihat Merta telah tertidur di atas ranjang. Geof naik ke atas ranjang dan mendekap wanita yang mampu menumbuhkan rasa cinta yang telah lama mati di hatinya.
Merta bergerak saat merasa ada lengan kekar yang membalut tubuhnya. Bau tubuh yang familiar di hidungnya menjadi penanda bahwa Geof lah yang sedang mendekapnya. Merta membalikkan tubuhnya berhadapan dengan Geof.
"Kau terbangun?" Ucap Geof pada Merta.
"Hheemmm....!" Sahutnya.
"Kembalilah tidur, ini sudah larut." Ucap Geof lagi.
"Iya!" Sahut Merta menenggelamkan wajahnya pada dada Geof.
Geof memberikan kecupan hangat pada pucuk kepala Merta yang membuat Merta merasa sangat nyaman ketika berada dalam dekapannya.
*****
Hari-hari di lewati bersama di apartemen itu. Geof dan Merta semakin menunjukkan perasaan mereka berdua masing-masing. Bahkan Geof dan Merta semakin mesra walaupun terkadang mereka sering bersitegang dengan hal-hal yang termasuk sepele.
Siang hari Merta keluar bersama Lutfi yang setia mengantar dirinya pergi kemana saja. Merta pergi ke salah satu toko yang menjual perlengkapan untuk pria. Hari itu Merta ingin membelikan Geof sebuah dasi yang bagus sebagai kado ulang tahunnya. Merta memilih dasi yang sangat cocok untuk karakter Geof. Merta membungkus dasi itu dengan kertas kado yang berwarna cerah.
Setelah dari toko itu, Merta pergi membeli kue tart yang berukuran sedang. Kue itu dihiasi dengan ukiran nama Geoffrey dan juga wajah seorang pria jutek yang dimaksudkan itu adalah Geof.
Malam itu Geof dan sahabat-sahabatnya berkumpul di basecamp untuk merayakan hari ulang tahun Geof. Mereka pun bersenang-senang bersama. Disana tampak Azlan, Boy, dan juga Kenzo yang sedang menyemprotkan krim ke kepala Geof. Geof hanya pasrah saja saat di kerjai oleh sahabat-sahabatnya itu. Puas mengerjai Geof, mereka pun duduk bersama menyantap cemilan yang mereka bawa untuk pesta kecil-kecilan di basecamp itu.
"Geof, usiamu sudah 29 tahun, kapan lagi kau akan menikah?" Tanya Azlan pada Geof.
"Iya, di antara kita semua hanya kau yang masih betah melajang!" Sahut Boy.
"Kalian tenang saja, aku pasti akan segera menikah!" Kata Geof penuh percaya diri.
"Apa kau sudah menemukan wanita yang cocok untukmu?" Tanya Kenzo.
__ADS_1
"Ya sudahlah!" Sahut Geof menyombongkan dirinya.
"Siapa? Apakah wanita yang ada di apartemenmu itu?" Tanya Boy.
Geof hanya cengengesan saja tak mau menjawab pertanyaan Boy. Geof seakan ingin membuat kejutan kepada sahabat-sahabatnya itu.
Malam kian larut, Merta menunggu Geof pulang dengan sebuah kue tart yang lilinnya belum dinyalakan. Merta melirik jam yang ada di dinding. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Merta juga seakan sudah mengantuk. Merta memutuskan untuk berbaring di atas ranjang sambil menunggu kepulangan Geof.
Pukul 1 dini hari, Geof kembali ke apartemen dengan pakaian yang sudah berantakan akibat di kerjai oleh sahabat-sahabatnya di basecamp. Geof melihat semua lampu di apartemen telah di matikan. Geof masuk ke kamar dan menyalakan lampunya. Ia melihat Merta yang sudah tertidur di atas ranjang. Geof juga melihat sebuah kue tart yang terukir namanya. Geof tersenyum bahagia sambil melirik Merta lagi.
"Terima kasih, sayang!" Bisik Geof pada Merta yang tidur lelap.
Geof masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Merasa mendengar suara percikan air dari kamar mandi, Merta pun terbangun dari tidurnya. Ia melihat lampu menyala dan juga melirik jam yang menunjukkan pukul 1.45.
"Geof baru kembali!" Gumam Merta.
Tak lama Geof keluar dari kamar mandi dan bertatapan dengan Merta.
"Kau terbangun?" Ucap Geof.
"Iya, aku dengar suara air dari dalam kamar mandi." Sahut Merta duduk di atas ranjang.
"Kau baru pulang?" Tanya Merta.
"Iya! Aku tadi habis kumpul dengan sahabat-sahabatku di basecamp! Mereka mengadakan pesta kecil-kecilan untuk ulang tahunku." Sahut Geof.
Merta teringat akan kue tart dan juga kado yang akan ia berikan pada Geof. Merta cepat-cepat turun dari ranjang tanpa melihat kakinya yang tersangkut oleh selimut. Alhasil Merta terjatuh dari atas ranjang ke lantai. Geof terkejut melihat Merta terlungkup di lantai.
"Kau ini! Turun dari ranjang saja bisa jatuh seperti ini." Kata Geof membantu Merta untuk bangun.
"Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu!" Kata Merta.
Geof tersenyum sambil menatap wajah Merta yang bingung mencari kue tart yang ia letakkan di atas meja sebelum ia tertidur.
"Dimana kuenya?" Gumam Merta bingung.
"Sudah aku makan sampai habis!" Sahut Geof sambil terkekeh.
"Apa?" Teriak Merta terkejut.
"Kau menghabiskan semuanya?" Teriak Merta lagi.
"Iya lah! Aku lapar." Sahut Geof seakan tak berdosa.
"Huh, dasar rakus!" Ujar Merta kesal.
"Hah, jadi gak seru!" Gumam Merta lagi.
Geof yang hanya menggunakan celana pendek saja, memeluk Merta dari belakang.
"Tetap seru kok!" Sahut Geof.
"Mana hadiah untukku?" Tanya Geof pada Merta.
Merta pun memberikan sebuah kotak yang sudah di balut kertas kado yang berwarna cerah.
"Aku membeli ini untukmu! Tapi aku tak tau kau akan suka atau tidak." Kata Merta memberikan kado itu pada Geof.
"Selamat ulang tahun, Geof!" Bisik Merta seakan membuat Geof terpancing gairahnya.
Geof tersenyum melihat isi kotak yang menjadi kado istimewa baginya.
"Apa kau suka?" Tanya Merta.
"Iya! Dasi yang bagus." Sahut Geof.
"Apakah hanya ini saja hadiah untukku?" Tanya Geof.
"Maksudmu?" Merta bingung dan balik bertanya.
"Tidak akan seru jika hadiahnya hanya satu!" Bisik Geof.
"Lantas kau mau hadiah apa lagi?" Tanya Merta gugup.
Geof mendekatkan wajahnya dan mencium Merta. Merta memejamkan matanya merasakan ciuman Geof yang semakin lama semakin panas. Tak sampai disitu saja Geof juga membawa langkah Merta mendekat ke ranjang. Geof sedikit mendorong tubuh Merta sehingga mereka jatuh bersamaan di atas ranjang itu. Ciuman masih terjadi pada mereka berdua bahkan nafas mereka terengah-engah.
"Geof, apa yang akan kau lakukan? Kau sudah berjanji kan?" Ucap Merta lirih.
__ADS_1
"Aku merindukan sentuhan mu, Merta!" Bisik Geof di telinga Merta sambil menciumi lehernya.
Merta pun mendesah kecil karena ciuman Geof itu. Merta berusaha agar Geof menghentikan permainan itu padanya. Namun berkali-kali Geof membuatnya terlena. Rasa cinta dan nafsu mereka lebih kuat dari apa yang mereka bayangkan. Geof dan Merta tak dapat menahan diri mereka lagi. Malam itu Geof dan Merta melakukan hal yang seharusnya tak mereka lakukan lagi seperti sebelumnya.