
Merta dan Geof kembali ke Indonesia setelah dua minggu lebih berbulan madu di Itali. Gading, Luky serta Lita menyambut kedatangan mereka penuh suka cita. Namun saat itu tampak wajah Merta tak begitu ceria. Lingkaran hitam di bawah kelopak mata begitu jelas terlihat.
"Merta, apa kau baik-baik saja?" Tanya Lita pada sang menantu.
"Aku lelah, ma!" Sahut Merta tak berdaya.
"Ke...kenapa?" Tanya Lita bingung.
"Gara-gara pria jahat itu!" Sahut Merta sambil mengarahkan jari telunjuknya kepada Geof.
"Dia selalu mengganggu waktu tidurku setiap hari ketika berbulan madu!" Sambung Merta lagi.
"Hehehe." Geof hanya cengengesan saat Merta dan Lita menatapnya dengan kesal.
"Huh, dasar! Pria di keluarga ini memang seperti itu, mereka selalu saja menindas wanita yang lemah!" Kata Lita membela sang menantu sekaligus menyindir Luky.
"Hei, hei, kau menyindir siapa?" Tanya Luky tak senang.
"Kau! Siapa lagi?" Sahut Lita sewot.
"Huh, aku selalu saja menjadi bahan untuk sindiranmu itu!" Ujar Luky kesal.
Merta melangkah dengan berat untuk masuk ke dalam kamarnya, sedangka Geof masih terkekeh melihat sang istri yang kelelahan karena gangguan darinya. Saat masih menatap Merta, tiba-tiba Gading berjinjit dan menarik Geof untuk berjongkok di hadapannya.
"Ada apa?" Tanya Geof pada Gading.
"Ayah, apa bunda sudah hamil?" Sahut Gading bertanya pada ayahnya itu.
"Mana ayah tau!" Jawab Geof.
"Huh, gimana sih? Katanya ayah menindas bunda disana, tapi kenapa belum hamil juga sih? Aku ingin adik perempuan, ayah!" Kata Gading.
"Hei, bocah! Kalau untuk urusan itu mana mungkin bisa secepat yang kau inginkan! Kita akan pastikan bulan depan." Sahut Geof.
"Lama sekali, sih!" Ujar Gading tak sabaran.
"Dasar tidak sabaran!" Ujar Geof kesal pada putranya yang mewarisi semua tingkah dan sifatnya.
"Sama! Kau juga tidak sabaran!" Ujar Luky kesal pada Geof karena memarahi Gading, sang cucu kesayangannya.
"Kau juga termasuk pria yang tak sabaran! Kau pikir sifat tak sabaran dari Geof dan Gading itu berasal darimana kalau bukan darimu?" Sahut Lita memarahi Luky.
"Huh, kenapa aku terus sih di salahkan?" Teriak Luky kesal.
"Sudah jelas menurun darinya, malah tidak mengakui!" Seru Lita, Geof, dan juga Gading seraya melangkah pergi menjauh dari Luky.
"Aaarrgghhh! Kalian semua sama saja?" Teriak Luky kesal sendirian.
Setelah beristirahat dengan cukup, keesokan paginya Geof bangun pagi untuk pergi ke kantor seperti biasanya. Sebagai CEO perusahaan besar, Geof selalu bekerja keras dalam mengerjakan pekerjaannya itu. Apalagi sekarang ia sudah memiliki keluarga kecilnya, Geof seakan bertambah semangat untuk berjuang demi kebahagian keluarganya tersebut.
Menjalin bisnis dengan perusahaan lain, membuat Geof terbiasa bertemu dengan relasi di luar kantor. Siang itu Geof pergi bersama sekretarisnya ke sebuah restoran mewah untuk bertemu dengan relasi bisnisnya yang tak lain adalah Nadya yang memiliki perusahaan besar di kota tersebut. Duduk saling berhadapan membuat Nadya terkesima saat melihat ketampanan Geof yang tanpa ia ketahui bahwa Geof sudah menikah dan memiliki seorang putra. Selesai membicarakan hal yang mengenai bisnisnya, Nadya berupaya untuk mengajak Geof berbincang ringan sambil menikmati hidangan yang ada di meja.
"Tuan Geof! Kapan-kapan bila kau punya waktu luang, aku ingin sekali mengundangmu untuk makan malam dirumahku." Kata Nadya sambil menatap Geof yang hanya fokus pada makanan di piringnya.
"Aku sangat tersanjung dengan undanganmu itu, namun setelah menikah aku tidak memiliki banyak waktu untuk orang lain! Setelah aku pulang kerja, aku hanya ingin menghabiskan waktu luangku untuk istri dan anakku." Sahut Geof membuat Nadya terkejut.
"Apa? Kapan kau menikah?" Tanya Nadya.
"Hampir dua bulan lebih, lah!" Sahut Geof.
"Apa kau tidak tau kalau aku menikah? Aku rasa kau tidak mungkin tidak di undang, karena semua relasi bisnis di undang ke acara pesta pernikahanku!" Sambung Geof lagi.
"Aku baru saja kembali dari perjalanan Bisnisku di beberapa negara, jadi aku tidak tau dan tidak bisa hadir di acara pesta pernikahanmu." Sahut Nadya dengan nada yang sedikit bergetar.
"Oh begitu! Tapi saat itu aku juga tidak tau kalau kau tidak hadir di acara pesta pernikahanku, karena aku terlalu sibuk untuk mencari cara agar aku bisa secepatnya pergi berbulan madu bersama istri tercintaku." Kata Geof dengan sengaja agar Nadya tidak berharap padanya. Bagaimanapun juga sebagai seorang pria, Geof tau bahwa Nadya memiliki perasaan yang lebih padanya.
"Aku sangat penasaran dengan istrimu. Aku yakin dia pasti sangat cantik!" Kata Nadya dengan senyuman yang terpaksa.
"Hehehe, aku tak pernah salah dalam melihat paras wanita! Dimataku, hanya istriku yang tercantik di dunia ini." Sahut Geof membuat Nadya diam-diam mengepalkan kedua tangannya dengan kesal di bawah meja.
*****
Geof kembali ke rumah, setelah semua orang telah selesai makan malam. Merta menyambut kepulangannya dengan senyuman manis serta pelukan yang hangat.
"Apa kau lelah hari ini?" Tanya Merta pada Geof sambil membantunya untuk melepaskan jas dan juga dasi yang melingkar di lehernya.
"Iya, lumayan! Hari ini aku pergi ke beberapa tempat untuk bertemu dengan relasi bisnis." Sahut Geof duduk di tepi ranjang.
"Kenapa kau malah duduk? Pergilah mandi! Aku akan mengambilkan makan malam untukmu." Kata Merta akan beranjak keluar dari kamar mereka.
"Kemarilah sebentar!" Kata Geof menarik pinggang Merta agar kembali mendekat padanya.
"Ada apa?" Tanya Merta.
__ADS_1
"Apa kau sudah hamil?" Tanya Geof sambil mengelus perut Merta.
"Tadi aku lihat di kalender, jadwal haidku sudah lewat dari tanggalnya, tapi aku sih belum terlalu yakin! Bisa saja aku telat karena hal lain." Sahut Merta.
"Benarkah? Jika kau sudah telat haid, maka cepat periksalah ke dokter! Aku akan menemanimu." Kata Geof antusias.
"Tapi aku tak yakin, Geof! Kau jangan terlalu bersemangat dulu. Aku takut kau akan kecewa nantinya." Kata Merta.
"Apapun hasilnya aku tidak akan kecewa!" Sahut Geof.
"Aku akan menyuruh pelayan untuk pergi membeli alat tes kehamilan untukmu!" Kata Geof berjalan cepat dan menyuruh kepada salah seorang pelayannya untuk membelikan alat tes kehamilan di apotek terdekat.
Selang beberapa saat kemudian, pelayan tersebut kembali dan memberikan alat tes kehamilan itu pada Geof. Geof dengan begitu antusiasnya memberikan alat itu kepada Merta dan menyuruhnya untuk mengeceknya langsung malam itu juga.
"Ayo cepat cek di kamar mandi, sana!" Kata Geof mendorong tubuh Merta untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Geof, bukan sekarang waktu yang tepat untuk mengeceknya, tapi besok pagi." Sahut Merta.
"Begitu ya?" Ucap Geof bingung.
"Huh, dasar kau ini tidak sabaran sekali!" Ujar Merta menyimpan alat tersebut ke dalam laci.
"Baiklah, besok pagi aku akan bangun lebih awal dan mengingatkanmu untuk segera mengeceknya!" Kata Geof.
Keesokan paginya, Merta terbangun mendahului Geof yang masih nyenyak dengan bantal guling di pelukannya. Merta turun dari ranjang dan akan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Saat di depan pintu kamar mandi, tiba-tiba saja matanya berkunang-kunang. Pandangannya tak begitu jelas.
"Ada apa ini? Kenapa pandanganku menjadi buram seperti ini?" Gumam Merta dalam hatinya.
Lama Merta terduduk di lantai untuk menghilangkan pandangan kabur pada matanya. Merta memijat-mijat dahinya yang terasa sedikit pusing.
"Apa aku hamil?" Gumam Merta dalam hatinya.
"Dulu saat aku mengandung Gading, aku juga merasakan hal seperti ini!" Gumam Merta lagi berupaya bangkit dan meraih laci yang ada di dekatnya.
Merta membuka laci itu dan mengambil alat tes kehamilan yang di berikan Geof semalam. Merta pergi masuk ke dalam kamar mandi untuk segera mengeceknya. Selang beberapa menit, Merta melebarkan senyumannya ketika dua garis merah melintang di alat tersebut. Ia kemudian keluar dari kamar mandi dan menghampiri Geof yang masih mendengkur dengan keras di atas ranjang.
"Geof, bangun!" Kata Merta mengguncangkan tubuh Geof agar ia terbangun dari tidurnya.
"Heeemm, ada apa sayang? Agak siangan sedikit ya, aku pasti akan memuaskanmu! Aku masih ngantuk!" Sahut Geof meracau tak jelas.
Ppplleeettaakk....
"Bangun!" Teriak Merta membuat Geof langsung terbangun.
"Ada apa, sayang?" Tanya Geof dengan wajah blo'onnya.
"Ini, lihatlah! Hehehe." Sahut Merta memberikan alat tes kehamilan itu pada Geof.
"Kalau garis satu hamil, kalau dua tidak hamil!" Gumam Geof sambil melihat alat tersebut.
"Hei, kau itu terbalik mengucapkannya!" Ujar Merta.
"Aaarrgghh!" Teriak Geof menyadari kalau garis dua adalah positif hamil.
"Aaarrgghh!" Teriak Merta kaget karena teriakan Geof yang secara tiba-tiba.
"Kau hamil, sayang?" Tanya Geof seakan tak percaya.
"Iya!" Sahut Merta.
"Hore!" Seru suara keributan yang berasal dari luar pintu kamar.
"Eh, siapa itu?" Tanya Merta saling tatap kebingungan dengan Geof.
Geof dan Merta pun melangkah ke arah pintu dan segera membuka pintu kamarnya. Mereka tak melihat siapapun di sana.
"Kalau aku tidak salah dengar, sepertinya tadi itu suara papa dan Gading!" Gumam Geof dalam hatinya.
"Geof, apa mungkin tadi itu papa dan Gading? Apa mereka sedang menguping pembicaraan kita?" Tanya Merta pada Geof.
"Sepertinya begitu!" Sahut Geof.
"Ya sudahlah, biarkan saja! Yang penting sekarang aku sangat bahagia, karena sebentar lagi aku akan memiliki seorang putri! Hehehe." Sambung Geof lagi.
"Hei, tau darimana kau kalau anak yang ada di dalam kandunganku ini bayi perempuan?" Ujar Merta sewot.
"Insting seorang ayah!" Sahut Geof percaya diri.
"Huh, terserah kau saja lah!" Ujar Merta tak ingin berdebat dengan Geof si tak terbantahkan.
Di halaman belakang rumah, Lita tampak sibuk menyirami tanaman bunga kesukaannya itu. Saat hendak memindahkan pot bunga minimalis, Luky dan Gading menghampirinya dengan wajah yang sumringah.
"Lita, sebentar lagi kita akan punya cucu lagi!" Kata Luky pada istrinya itu.
"Aaarrgghhh! Benarkah?" Teriak Lita girang.
__ADS_1
"Nenek, aku akan segera punya adik!" Seru Gading senang.
"Syukurlah, akhirnya kehidupan Geof menjadi bahagia! Huhuhuhu.." ucap Lita menangis haru.
"Iya, kau benar! Semoga kebahagiaan selalu ada untuk keluarga kita." Sahut Luky ikut terharu.
Dengan berita yang menggembirakan itu, Merta semakin di sayang oleh kedua mertua dan juga suaminya. Gading yang memang menginginkan adik, menjadi overprotektif terhadap Merta. Dialah yang selalu memperhatikan Merta, di saat Geof sedang sibuk pada pekerjaannya.
*****
Waktu berlalu begitu cepat. Perut Merta sudah terlihat membuncit setelah usia kandungannya mencapai lima bulan. Dengan kondisinya yang sedang hamil, Merta tetap saja tampil cantik dan modis ketika Geof selalu mengajaknya pergi menghadiri berbagai acara pesta.
"Sayang, apa kau sudah siap?" Tanya Geof pada Merta yang masih duduk di meja riasnya.
"Iya, sebentar lagi!" Sahut Merta seraya memakai anting-antingnya.
Merta berdiri dan melihat dirinya di depan cermin yang tampak cantik dan modis dengan gaun pesta yang di design khusus untuk ibu hamil. Merta keluar dari kamar dan menghampiri Geof yang menunggunya sedari tadi. Geof selalu terpesona dengan kecantikan istrinya itu.
"Kau terlihat semakin sexy ketika hamil seperti ini, sayang!" Bisik Geof pada Merta.
"Gombal!" Sahut Merta.
"Aku serius, sayang!" Bisik Geof lagi.
"Hei, ayo kita berangkat!" Ajak Luky yang tiba-tiba saja muncul di hadapan Geof dan Merta.
"Oke!" Seru Geof dan Merta.
Mereka pun berangkat pergi ke pesta ulang tahun perusahaan milik tekad bisnisnya. Di sana, tampak banyak tamu undangan yang sudah memenuhi ruangan pesta. Tampak juga sahabat Geof yaitu Azlan, Boy, dan juga Kenzo. Mereka turut membawa istri dan anak-anaknya.
Saling sapa dan juga berbincang, Merta dan Yasmin sedang ngobrol terkait dengan kehamilan yang kini Merta alami. Saat sedang ngobrol dengan Yasmin, Merta melihat seorang wanita cantik yang berdiri di samping Geof. Wanita itu terus menatap pada suaminya itu.
"Siapa sih wanita itu? Kenapa dia terus saja menatap Geof?" Gumam Merta dalam hatinya.
Wanita yang tak lain adalah Nadya, terus menatap Geof yang sedang berbincang dengan Azlan dan juga Boy. Perbincangan mereka tak lain mengenai masalah bisnis yang sedang mereka jalani, namun seakan kesal dengan tatapan Nadya, Geof beranjak pergi dengan alasan ingin menemui istirnya. Geof menghampiri Merta yang sedang berbincang dengan Yasmin.
"Sayang, apa kau lelah?" Tanya Geof.
"Tidak! Aku biasa saja." Sahut Merta.
"Duh, perhatian sekali ya terhadap istrinya!" Ledek Yasmin pada Geof.
"Iya dong! Sebagai seorang suami yang baik, aku harus SIAGA!" Sahut Geof.
"Ketika kau hamil, Azlan juga seperti itu kan?" Sambung Geof lagi.
"Hah, si Azlan itu manusia lebay! Ketika aku hamil dia terlalu berlebihan menjagaku!" Sahut Yasmin.
"Maaf menyela perbincangan kalian!" Ucap Nadya yang tiba-tiba saja menghampiri mereka.
"Tuan Geof, apakah ini istrimu?" Tanya Nadya pada Geof.
"Iya!" Sahut Geof singkat.
"Hai, nyonya! Aku salah satu rekan bisnis dari suamimu! Namaku Nadya." Sapa Nadya ramah pada Merta sambil menyodorkan tangannya.
"Namaku Merta! Senang berkenalan denganmu." Sahut Merta membalas senyuman ramah dari Nadya.
Nadya diam-diam memperhatikan Merta dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tanpa sengaja Yasmin melihat tatapan Nadya terhadap Merta.
"Apa yang dia lakukan? Kenapa dia menatap Merta seperti itu?" Gumam Yasmin curiga pada Nadya.
Di hadapan Nadya, Geof berkali-kali memberikan perhatiannya terhadap Merta. Geof juga tampak mengelus perut Merta sambil tersenyum bahagia yang membuat Nadya merasa jengkel. Yasmin melihat bagaimana ekspresi Nadya ketika melihat Geof mesra kepada Merta. Kecurigaan Yasmin semakin mencuat ketika ia melihat Nadya tampak kesal saat Geof mencium kening Merta.
"Huh, apa dia menyukai Geof?" Gumam Yasmin kesal pada Nadya.
"Aku benci sekali pada wanita yang menginginkan suami orang!" Gumam Yasmin lagi dalam hatinya.
Tiba-tiba saja muncul sebuah ide di otak Yasmin untuk menjauhkan Geof dari Nadya.
"Geof, aku rasa Merta sedikit lelah! Kau pasti mengerti kan kondisi wanita hamil akan mudah lelah, jadi sebaiknya kau bawa Merta untuk istirahat di ruangan lain!" Kata Yasmin pada Geof.
"Iya, kau benar!" Sahut Geof.
"Ayo, sayang, kita pergi ke ruangan lain agar kau bisa istirahat sejenak!" Ajak Geof Apada Merta.
Geof dan Merta pun pergi ke ruangan lainnya. Sedangkan Yasmin dan Nadya masih bersama di ruangan pesta itu. Yasmin kembali melihat Nadya yang tampak kesal karena Geof pergi bersama Merta.
"Nona Nadya! Ngomong-ngomong, apa kau sudah punya kekasih atau mungkin calon pendamping?" Tanya Yasmin.
"Hehehe, aku terlalu sibuk dengan urusan bisnisku! Jadi aku tak sempat memikirkan soal pendamping." Sahut Nadya.
"Oh, begitu ya! Tapi aku sarankan, lebih baik kau cepatlah menikah, tapi jangan menikahi suami orang ya? Hehehe." Sindir Yasmin.
Deg.....
__ADS_1
Hati Nadya merasa terpukul dengan sindiran pedas dari Yasmin untuknya. Nadya hanya tersenyum simpul sambil menatap kepergian Yasmin yang mendekati Azlan.
"Apa dia menyadari kalau aku menyukai Geof?" Gumam Nadya dalam hatinya.