
5 TAHUN KEMUDIAN.
Di sebuah pulau kecil yang jauh dari ibu kota, tampak berlarian seorang anak kecil bernama Gading. Bocah kecil itu sangat suka mengumpulkan cangkang kerang yang terlihat unik di matanya.
"Bunda, aku dapat satu cangkang kerang yang unik!" Seru Gading kepada Merta.
"Wah, cangkang kerang yang bagus! Apa kau akan menyimpannya sebagai koleksimu?" Tanya Merta pada Gading yang ia lahirkan 4 tahun yang lalu.
"Iya! Ini adalah koleksiku yang ke 20." Sahut Gading sambil menunjukkan 10 jari tangan dan kakinya.
"Wah, Gading sudah pintar berhitung ya!" Seru Merta senang.
"Tentu saja! Kata kakek Pandi, aku harus jadi anak yang pintar. Jika suatu saat aku sudah dewasa akan banyak gadis yang mengejarku karena aku pintar. Hehehe." Sahut Gading penuh percaya diri.
"Hah, ternyata itu cita-citanya!" Gumam Merta sambil menghela nafas melihat tingkah konyol putranya.
"Ayo kita pulang! Nenek Maya pasti sudah selesai memasak." Kata Merta mengajak putranya untuk pulang.
"Apa hari ini nenek Maya memasak sup iga sapi untukku?" Tanya Gading antusias.
"Iya!" Sahut Merta.
Gading langsung berlari kencang meninggalkan Merta yang bengong melihatnya. Gading sudah tidak sabar ingin makan makanan kesukaannya itu.
"Ya Tuhan, anak itu sangat menyukai sup iga sapi!" Gumam Merta bergeleng kepala.
Mengatakan sup iga sapi, Merta teringat kepada Geof yang juga menyukai makanan itu. Perasaan sedih menyeruak di dalam relung hati Merta saat itu. Tak dapat dipungkiri kalau Merta masih belum bisa melupakan perasaannya terhadap Geof yang sudah terpisah dengannya selama lima tahun.
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan Geof? Wajah dan juga makanan kesukaan mereka sama persis!" Gumam Merta lagi sambil terus berjalan menuju ke rumah sederhana yang sekarang menjadi tempat tinggalnya selama ini.
Merta masuk ke dalam rumah dan melihat Pandi sedang sibuk menganyam jaring yang akan ia gunakan untuk menjaring ikan di laut. Pandi adalah sepupu dari Maya dan juga ibunya Merta. Usia Pandi tak jauh berbeda dengan Maya. Pandi pernah menikah, namun karena kehidupannya yang sulit membuatnya harus bercerai dengan istrinya dulu. Sebelum kedatangan Merta dan Maya, kehidupan Pandi sangatlah terasa sunyi. Ia hanya tinggal sendirian dia rumah itu. Namun setelah kedatangan mereka dan juga kelahiran Gading, hidup Pandi menjadi lebih berwarna.
Merta duduk di sebelah Pandi yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Merta membantunya untuk merapika jaring yang sudah siap di pakai.
"Paman, beristirahatlah sejenak! Kau terlihat sangat lelah." Kata Merta pada Pandi.
"Usiaku sudah tua, sudah pasti aku akan mudah lelah." Sahutnya sambil tersenyum.
Lalu Gading datang menghampiri Pandi dan duduk di atas pangkuannya. Gading sudah terbiasa bermanja-manja padanya.
"Kakek, ayo kita makan! Aku sudah lapar." Ajak Gading sudah tak sabar ingin makan sup iga sapi buatan Maya.
"Baiklah! Cucuku sudah lapar. Hahaha." Sahut Pandi menggendong Gading dan berjalan ke ruang makan.
Mereka duduk bersama di meja makan yang terbuat dari kayu sederhana. Merta dan Maya sibuk memberikan nasi ke piring Gading dan juga Pandi. Pandi menatap Maya yang meletakkan nasi ke piringnya.
"Maya, aku rasa semakin hari kau terlihat cantik saja!" Kata Pandi menggoda Maya seperti setiap harinya.
"Hah, aku bosan mendengar kau selalu menggodaku!" Sahut Maya.
"Aku serius!" Kata Pandi lagi.
"Kakek genit!" Sahut Gading tertawa sambil menutup mulutnya.
"Hei, apa kau setuju jika aku menikahi nenek Maya? Hehehe." Kata Pandi menyenggol lengan Gading yang duduk di sampingnya.
"Tentu saja! Supaya kakek Pandi dan nenek Maya tidak kesepian lagi." Sahut Gading dengan polosnya.
"Hei, Maya! Kita bahkan sudah mendapatkan restu dari Gading." Kata Pandi lagi sambil cengengesan.
"Kau dan Gading sama saja!" Sahut Maya malu-malu.
"Kawin! Kawin! Kawin!" Kata Merta menyemangati Pandi dan Maya.
"Hei, diamlah!" Ujar Maya terlihat malu-malu.
"Hehehe, nenek Maya juga genit! Nenek Maya malu-malu." Seru Gading menatap Maya.
Merta memberikan kode pada Pandi untuk segera melamar Maya secara langsung. Sudah beberapa tahun ini, Merta tau kalau Pandi dan Maya saling menyukai. Namun karena merasa memiliki hubungan saudara sepupu, mereka lebih memilih untuk memendam perasan mereka masing-masing.
"Paman, setelah ini berikan cincinnya! Lamar tante Maya." Bisik Merta pada Pandi.
"Sip!" Sahut Pandi mengacungkan jempolnya.
Setelah selesai makan siang, Merta membawa Gading untuk tidur siang. Hawa panas yang ada di sekitaran pantai sudah biasa mereka rasakan. Merta mengelus punggung Gading untuk menidurkannya.
"Bunda, kenapa aku tidak punya ayah seperti teman-temanku?" Tanya Gading membuat batin Merta tersiksa.
"Hei, tidurlah! Nanti sore kau akan bermain dengan teman-temanmu kan?" Kata Merta mengalihkan pertanyaan Gading padanya.
"Ya baiklah! Bunda selalu saja mengalihkan pembicaraan ketika tidak bisa menjawab pertanyaan dariku!" Sahut Gading dengan begitu gamblangnya.
__ADS_1
"Kalau kau sudah tau, kenapa kau masih saja bertanya, hah?" Ujar Merta kesal pada putranya.
"Aku hanya menguji kesabaran bunda saja!" Sahut Gading lagi.
"Hah, kau berbicara seperti orang dewasa saja!" Kata Merta ingin sekali mencubit pipi putranya itu.
"Bunda, setelah aku berusia 5 tahun, aku akan menjelma menjadi pria dewasa." Kata Gading asal bicara.
Ppplleeettaakk.....
Merta menjitak kepala putranya karena sudah tak sabar menghadapi sikap putranya yang konyol.
"Tidurlah! Kau terlalu banyak bicara." Ujar Merta pada Gading yang membuatnya auto diam.
Melihat putranya sudah tertidur, Merta berjengkat jalan keluar dari kamar Gading. Merta melihat Pandi menangis di sudut ruang tengah. Merta panik dan mendekatinya.
"Paman, kenapa? Kenapa menangis?" Tanya Merta panik kepada Pandi.
"Aku sangat terharu, karena aku akan menikah lagi!" Sahut Pandi dalam Isak tangisnya.
"Maksudnya, Paman mau menikah dengan tante Maya?" Tanya Merta lagi.
Pandi mengangguk sambil menghirup ingus mengalir di hidungnya. Merta tepok jidat melihat Pandi yang begitu terharu karena Maya setuju menikah dengannya. Lalu tiba-tiba Pandi mencubit Merta sehingga Merta berterima keras.
"Aaarrgghhh! Kenapa paman mencubitku?" Teriak Merta kesakitan.
"Aku hanya ingin memastikan kalau aku sedang tidak bermimpi! Hehehe." Kata Pandi cengengesan.
"Huh, dasar gila!" Gumam Merta mengelus lengannya yang biru karena cubitan Pandi.
"Kapan kalian akan menikah?" Tanya Merta pada Pandi.
"Minggu depan!" Seru Pandi kegirangan.
"Apa? Secepat itu?" Teriak Merta terkejut.
"Iya!" Sahut Pandi.
"Hehehe, tak ku sangka ternyata paman dan tante sudah tidak sabar ingin tidur seranjang bersama." Kata Merta menggoda Pandi.
"Hehehe, aku harus minum ramuan obat agar bisa kuat nanti!" Sahut Pandi bersemangat.
"Wow, dia begitu bersemangat!" Gumam Merta dalam hatinya melihat Pandi begitu senang akan menikah dengan Maya.
Seminggu kemudian, di pagi hari Merta mendandani Maya di hari pernikahan yang di adakan secara sederhana. Penduduk disekitar rumah mereka juga ikut membantu membuat acara pernikahan yang diadakan secara mendadak. Pandi menggunakan pakaian batik tradisional yang membuatnya terlihat rapi. Sedangkan Maya mengunakan baju kebaya yang membuat mata Pandi tak berkedip saat menatap Maya.
Saat Pandi dan Maya akan melakukan akad pernikahan, tiba-tiba saja Gading bertanya pada Merta yang duduk disampingnya.
"Bunda! Kapan bunda akan menikah?" Tanya Gading.
"Hehehe, aku tak tau!" Sahut Merta tertawa canggung.
"Apa bunda sadar, kenapa bunda lama menikah?" Tanya Gading.
"Ke... kenapa?" Tanya Merta bingung.
"Karena bunda terlalu pemilih!" Jawab Gading dengan polosnya.
"Begitu banyak pemuda di pulau ini yang tergila-gila sama bunda, tapi tidak ada satupun yang bunda pilih untuk menjadi kekasih bunda!" Sambung Gading lagi.
"Kau...kau tau itu?" Tanya Merta terkejut.
"Tentu saja! Aku ini diam-diam menjadi mata-mata loh, bunda. Hehehe." Sahut Gading cengengesan.
"Huh, dasar kau!" Ujar Merta sewot.
"Bunda, pilih satu di antara semua pemuda disini!" Kata Gading.
"Tidak!" Sahut Merta.
"Kenapa?" Tanya Gading dengan tatapan mata yang sangat penasaran.
"Masa sih aku harus bilang padanya, kalau sampai saat ini aku masih mencintai pria yang menitipkan benih padaku lima tahun yang lalu?" Gumam Merta dalam hatinya.
Gading masih menatap wajah Merta yang enggan membalas tatapannya. Tiba-tiba Gading dan Merta kaget saat pak penghulu dan beberapa saksi menyerukan kata sah pada pernikahan Pandi dan Maya.
"Eh, sudah sah?" Tanya Merta bingung.
"Iyalah! Bunda sih, melamun saja." Sahut Gading.
"Itu semua gara-gara kau, tau!" Ujar Merta kesal.
__ADS_1
"Hehehe." Gading hanya cengengesan saja dengan giginya yang ompong tengah.
Penduduk beramai-ramai memeriahkan acara pernikahan itu dengan bernyanyi bersama. Mereka menyediakan sebuah organ tunggal untuk menjadi hiburan di acara tersebut. Banyak penduduk sekitar yang bernyanyi memeriahkan acara pernikahan itu. Merta yang hobi menyanyi tidak mau ketinggalan. Ia berdiri di dekat orang yang memainkan organ tunggal itu dan mulai menyanyikan sebuah lagu. Para pemuda yang mengejar cinta Merta, menatapnya dengan mata yang berbinar-binar. Gading memperhatikan semua pemuda yang mengejar cinta bundanya.
"Hehehe, aku harus mencari pria yang baik serta kaya untuk menjadi ayahku! Aku tidak akan membiarkan bunda menikah dengan pria yang tidak jelas masa depannya!" Gumam Gading dalam hatinya.
Merta terus menyanyi dengan suaranya yang begitu merdu. Suara Merta yang merdu terdengar oleh seorang wanita yang kebetulan sedang menjadi wisatawan di pulau itu. Wanita itu bernama Shafa dan dia tinggal di kota yang tak jauh dari pulau kecil tersebut. Shafa memiliki sebuah cafe yang hampir bangkrut karena sepinya pengunjung.
"Suaranya terdengar merdu!" Gumam Shafa mendengar suara Merta yang sedang bernyanyi.
Shafa mendekati acara pernikahan itu, dan melihat Merta yang sedang bernyanyi.
"Dia juga wanita yang cantik! Cafe ku akan ramai pengunjung jika dia menjadi penyanyinya." Gumam Shafa lagi.
Setelah acara selesai, Shafa mendekati Merta yang sedang membersihkan halaman depan rumah. Shafa berniat untuk menawarkan pekerjaan untuk Merta.
"Hai, apa aku boleh bicara denganmu sebentar?" Sapa Shafa dengan ramah.
"Ya, tentu saja!" Sahut Merta juga ramah.
Shafa mengajak Merta ngobrol terlebih dahulu agar mereka berdua saling kenal dengan dekat. Setelah merasa kenal dekat, Shafa pun mengatakan niatnya itu kepada Merta.
"Merta, aku dengar suaramu sangat merdu sekali!" Kata Shafa.
"Ah, kau terlalu memuji!" Sahut Merta.
"Aku serius! Apa kau mau menjadi penyanyi di cafe ku?" Tanya Shafa.
"Pe... penyanyi?" Ucap Merta terkejut.
"Iya! Aku memilki sebuah cafe yang ada di kota tak jauh dari pulau ini. Cafe ku itu hampir bangkrut karena sepinya pelanggan. Aku berniat untuk menjadikanmu penyanyi di cafe ku, siapa tau saja cafe ku itu akan ramai pengunjung jika kau menjadi penyanyi di sana. Tentu saja aku akan membayar suaramu itu." Kata Shafa.
"Oh begitu ya!" Sahut Merta.
"Aku tidak memaksamu! Tapi pikirkanlah tawaranku dulu. Jika kau setuju segeralah hubungi aku." Kata Shafa.
"Ini kartu namaku beserta alamat dan juga nomor ponselku." Kata Shafa lagi.
Merta mengambil kartu nama itu dan menyimpannya.
"Baiklah! Aku akan kembali ke resort dulu, karena besok pagi-pagi sekali aku akan kembali ke kota." Kata Shafa beranjak pergi.
"Jika kau setuju, hubungi aku ya, Merta!" Seru Shafa sambil melambaikan tangannya pada Merta.
Merta membalas lambaian tangan Shafa yang terlihat sama baik padanya. Kemudian Merta menatap kartu nama yang Shafa berikan padanya. Merta masuk ke dalam rumah dan menyimpan kartu nama tersebut.
*****
Beberapa hari kemudian, Merta melihat total saldo yang ada di buku rekeningnya. Ia tampak berpikir saat itu.
"Uang tabunganku tinggal sedikit! Aku tidak mungkin menjadi beban untuk paman Pandi. Gading juga akan bersekolah sebentar lagi. Jika aku tidak bekerja, aku tidak akan bisa membiayai Gading nanti." Gumam Merta tampak berpikir.
Tak lama ia teringat akan kartu nama yang Shafa berikan padanya. Ia juga teringat beberapa hari yang lalu Shafa menawarkan pekerjaan padanya. Merta tak bisa mengambil keputusan sendiri. Ia pergi menemui Pandi dan Maya untuk membicarakan hal itu.
"Tante, paman! Ada yang ingin aku bicarakan." Kata Merta.
"Iya, katakan saja!" Sahut Pandi.
"Aku ingin bekerja di kota! Ada seseorang yang menawarkan pekerjaan untukku." Kata Merta.
"Pekerjaan apa?" Tanya Maya.
"Menjadi penyanyi di sebuah cafe." Sahut Merta.
"Kenapa kau ingin bekerja? Aku bisa menghidupi kebutuhanmu dan juga Gading disini." Kata Pandi.
"Tapi paman, aku tak mungkin menjadi beban untukmu! Lagi pula aku ingin Gading mendapatkan pendidikan yang baik di kota." Kata Merta.
"Tapi saat di kota nanti, kau akan tinggal dimana?" Tanya Maya.
"Nanti akan aku pikirkan! Aku akan menghubungi temanku itu." Sahut Merta.
Merta mengubungi Shafa yang sedang berada di cafenya. Setelah berbincang di ponsel, Merta kembali menemui Pandi dan juga Maya.
"Tante, temanku itu memiliki apartemen sederhana di kota! Untuk sementara waktu aku dan Gading akan tinggal di sana." Kata Merta pada Maya.
"Aku khawatir padamu, nak!" Kata Maya mengelus wajah Merta.
"Tante, jarak kota dan pulau ini tidak terlalu jauh. Jika ada waktu akan akan sering-sering mengunjungi kalian." Kata Merta.
"Baiklah, kalau itu memang sudah menjadi keputusanmu!" Sahut Maya.
__ADS_1
Malam hari sebelum tidur, Merta berbincang dengan putranya. Ia mengatakan kalau beberapa hari lagi mereka akan pindah ke kota dan menetap disana. Gading begitu antusias mendengar kalau mereka akan pindah. Namun setelah tau bahwa Pandi dan Maya tidak ikut pindah ia menjadi sedih. Gading seakan tak mau jauh dari orang yang selama ini ia panggil kakek dan nenek itu.