WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
PERASAAN YANG MEMBINGUNGKAN


__ADS_3

Merta masih menjaga ibunya di rumah sakit. Pagi-pagi sekali ia sudah bangun dan membasuh tubuh ibunya dengan air hangat yang sudah di beri sabun. Merta tidak melewatkan waktu sedikitpun untuk merawat ibunya. Hampir dua hari Merta merawat ibunya di rumah sakit. Membasuhnya dan juga menyuapinya makan. Ibunya sangat senang karena dekat dengan anak semata wayangnya itu.


"Ibu, besok aku akan kembali ke kota untuk bekerja." Kata Merta pada ibunya.


"Secepat itu kah?" Tanya Ibu.


"Iya, bos ku hanya memberikan izin selama dua hari saja. Ibu tidak kecewa kan?" Kata Merta.


Ibu tersenyum dan membelai wajah Merta dengan lembut.


"Tidak! Ibu sudah sangat bersyukur karena bos mu telah memberikan izin padamu untuk merawat ibu di sini. Sampaikan salam ibu untuknya ya." Sahut Ibu.


"Iya." Sahut Merta.


 


Sebelum Merta kembali ke kota, ia berbelanja keperluan untuk ibu dan tantenya dengan menggunakan kartu yang diberikan oleh Geof kepadanya. Banyak bahan-bahan makanan dan keperluan lainnya yang Merta beli untuk stok selama sebulan. Setelah itu ia pamit kepada ibu dan tantenya yang masih di rumah sakit. Dengan derai air mata dan langkah yang sangat berat Merta pun masuk ke dalam mobil untuk kembali ke kota. Sepanjang perjalanan Merta terus mengucapkan doa agar ibu dan tantenya di berikan kesehatan selama ia tidak berada di kampung. Ia juga sangat menyesali perbuatannya karena telah membohongi ibu dan tantenya.


"Maafkan aku ibu, tante! Aku berbohong hanya demi untuk membahagiakan kalian berdua. Aku tidak ingin kalian merasakan kesusahan lagi dan kekurangan uang untuk biaya hidup kalian." Ucap Merta dalam hatinya.


Air matapun menetes dari pelupuk matanya. Merta mengusap air matanya saat ia mendengar nada dering dari ponselnya. Ia menerima panggilan telepon dari Geof yang terus saja menghubunginya.


"Ya, halo!" Ucap Merta.


"Kau sudah sampai mana? Kapan kau akan tiba di sini?' Tanya Geof tidak sabaran.


"Sebentar lagi aku akan sampai!" Sahut Merta kesal.


Merta memutuskan sambungan telepon secara tiba-tiba. Geof sangat kesal dengan sikap Merta yang semakin berani kepadanya. Dari kaca spion sang supir tersenyum dan melirik Merta yang duduk di belakangnya.


"Hehehe, tuan muda sudah tidak sabar ingin bertemu dengan nona." Kata supir.


"Huh, dia sangat menyebalkan!" Sahut Merta.


"Bersabarlah nona, tuan muda Geof memang memiliki karakter pemaksa dan tidak sabaran, tapi selama aku bekerja dengan keluarganya dia selalu bersikap baik kepada para pekerja." Kata supir.


"Iya, baiklah." Sahut Merta menghela nafas panjang.


 


Malam harinya, Merta tiba di apartemen Geof. Merta masuk dengan membawa koper berisikan baju-baju miliknya. Geof melirik Merta yang hendak masuk ke dalam kamar. Geof merasa kesal saat Merta tidak acuh padanya yang sedari tadi menunggu kepluangannya.


"Apa begini sikapmu masuk ke apartemen orang lain?" Tanya Geof pada Merta.


Merta menghentikan langkah kakinya dan tidak jadi masuk ke dalam kamar. Merta melangkah mendekat pada Geof yang duduk di sofa sambil memegang kaleng minuman soda.


"Aku sudah kembali." Ucap Merta.


"Bawa kopermu ke dalam kamarku di atas!" Perintah Geof pada Merta.


"Untuk apa?" Tanya Merta.


"Apa kau lupa dengan statusmu kalau kau sudah menjadi wanitaku, hah?" Teriak Geof.


Merta menundukkan wajahnya dan merasa terhina dengan status yang diberikan Geof untuknya.


"Iya, baiklah!" Sahut Merta.


Merta pun menuruti apa yang di perintahkan oleh Geof kepadanya. Sambil menitikkan air matanya, Merta menyusun semua pakaiannya di dalam lemari yang ada di kamar Geof. Semenjak malam itu Merta dan Geof tidur sekamar berdua dan berbagi selimut setiap harinya.


 


* * *


Beberapa hari kemudian, Merta mendapat kabar kalau ibunya sudah membaik dan di perbolehkan keluar dari rumah sakit. Merta sangat bersyukur mendengar kabar baik dari tante Maya. Merta menggunakan kartu yang diberikan oleh Geof untuk membeli barang-barang sembako yang akan di kirimkan kepada ibu dan tantenya di kampung. Dengan hal itu hidup ibu dan tantenya tidak pernah kekurangan apapun lagi karena bantuan dari Merta yang sering mengirimkan bahan pokok makanan untuk mereka.


Tinggal bersama Geof setiap harinya, membuat Merta seakan terbiasa dengan sikap-sikap Geof yang terkadang sangat menyebalkan bagi dirinya. Merta sudah membiasakan dirinya menjadi wanita sekaligus pelayan di apartemen itu. Geof sering pulang malam dari kantornya. Terkadang ia lembur dan pulang hingga tengah malam. Merta selalu berusaha untuk mematuhi apa yang diperintahkan Geof kepadanya.


Suatu malam Geof pulang dalam keadaan mabuk. Ia pulang ke apartemen dengan di antarkan oleh supir pribadinya. Merta memapah tubuh Geof yang sangat bau alkohol.


"Dia sangat mabuk." Ucap Merta saat memapah tubuh Geof.

__ADS_1


"Iya, tadi ada perayaan di kantor dan tuan muda minum terlalu banyak bersama klien disana." Sahut supir.


"Baiklah, terima kasih sudah mengantarkannya." Ucap Merta pada supir.


Merta membawa Geof yang sudah mabuk berat masuk ke dalam kamar. Merta merebahkan tubuh Geof di atas ranjang tidurnya. Ia pun melepaskan pakaian Geof satu persatu untuk di ganti dengan pakaian yang bersih.


Saat Merta akan memakaikan pakaian yang bersih, Geof menarik tubuhnya hingga jatuh ke atas ranjang itu.


"Wanitaku, kau sangat cantik." Racau Geof mendekap tubuh Merta.


"Hei, kau ini sedang mabuk! Aku akan memakaikanmu baju yang bersih." Kata Merta.


"Tidak perlu!" Racau Geof lagi.


"Hah, kau sangat menyusahkan kau jika kau sedang mabuk." Ujar Merta kesal.


Pagi harinya Geof terbangun dengan kepala yang terasa sedikit pusing. Geof melirik ke sisi ranjang dan ke seluruh kamar mencari keberadaan Merta. Namun Merta tidak berada di dalam kamar, melainkan di dapur untuk menyiapkan sarapan. Geof mengingat apa yang ia lakukan pada Merta semalam.


"Hehehe, tidak di sangka, wanita itu sekarang menjadi milikku!" Gumam Geof dalam hatinya.


Geof menuruni anak tangga dengan pakaian yang sudah rapi. Geof melangkah ke ruang makan karena mencium aroma yang sangat enak dari sana. Merta melihat Geof yang sudah tampak rapi dengan kemeja dan dasinya.


"Selamat pagi! Apa kau ingin sarapan sekarang?" Tanya Merta pada Geof.


"Iya." Sahut Geof duduk di meja makan.


"Apakah ini sup iga sapi?" Tanya Geof melihat mangkuk berisikan makanan kesukaannya itu.


"Iya." Jawab Merta.


"Apa kau tidak suka?" Tanya Merta.


"Bagaimana mungkin aku tidak suka, ini adalah makanan favoritku!" Seru Geof senang.


Merta menghela nafas lega saat Geof mengatakan kalau sup iga sapi adalah makanan kesukaanya. Merta meletakkan nasi pada piring dan juga sup iga sapi buatannya. Geof langsung menyantap makanan itu dengan sangat lahap. Berkali-kali Geof memuji masakan Merta yang terasa enak di lidahnya. Geof minum sedikit air setelah selesai menyantap sarapannya. Merta yang duduk di sebelahnya terlihat sibuk merapikan bekas makan Geof. Merta bagaikan seorang istri yang sangat lihai melayani suami.


"Merta, nanti malam ikutlah denganku." Kata Geof.


"Kemana?" Tanya Merta.


"Baiklah." Sahut Merta.


Saat Geof hendak pergi bekerja, Merta menahannya.


"Nanti siang aku akan pergi ke rumah sakit." Kata Merta.


"Apa kau sedang sakit?" Tanya Geof.


"Tidak!" Sahut Merta.


"Lantas kau mau apa kesana?" Tanya Geof lagi.


"Aku ingin berkonsultasi dengan dokter. Aku akan menanyakan cara agar aku tidak hamil selama menjadi wanitamu." Sahut Merta yang membuat perasaan Geof geram.


"Terserah kau!" Ujar Geof seraya berlalu begitu saja.


Pagi itu Geof sangat kesal setelah mendengar perkataan Merta yang tidak ingin hamil selama menjadi wanitanya. Geof duduk di ruang kantornya dengan rasa kesal yang ia rasakan. Geof melemparkan berkas-berkas yang ada di tanganya hingga berserakan di lantai.


"Ada apa dengan diriku? Kenapa aku sangat kesal saat dia mengatakan kalau dia tidak ingin hamil selama menjadi wanitaku? Aku dan dia tidak terikat dengan pernikahan, tapi kenapa aku sangat kesal mendengar ucapannya tadi?" Teriak Geof sangat kesal sekaligus bingung dengan perasaannya itu.


"Oh ya Tuhan, apa mungkin aku jatuh cinta pada wanita itu?" Gumam Geof dalam hatinya.


***


Setelah dari rumah sakit, Merta pergi jalan-jalan ke mall untuk membeli beberapa gaun yang akan ia pakai untuk ke pesta bersama Geof. Merta membeli beberapa gaun mahal di sana. Ia tidak ingin membuat Geof malu bila membawanya nanti maka dari itu ia membeli beberapa gaun indah yang dengan harga yang fantastis. Setelah membeli beberapa keperluannya, Merta masih ingin jalan-jalan sekaligus melihat-lihat perhiasan. Saat sedang memilih beberapa perhiasan, pundaknya di tepuk oleh temannya yang pernah menjebak dirinya di tempat perjuadian waktu itu. Eva melirik barang belanjaan Merta yang sangat banyak dan mahal.


"Kau bekerja dimana sekarang?" Tanya Eva pada Merta.


"Bukan urusanmu!" Sahut Merta ketus.


Merta masih kesal dengan temannya itu yang tega menipu dirinya.

__ADS_1


"Hei, kau masih marah padaku?" Tanya Eva.


"Kau pikir saja sendiri!" Sahut Merta.


"Mer, saat itu aku juga terpaksa melakukannya, karena bos yang memerintahkan aku. Lagi pula kau juga memintaku untuk membantumu, kan?" Kata Eva dengan gamblangnya.


Merta enggan menanggapi perkataan Eva dan berlalu pergi begitu saja setelah membayar perhiasan yang ia beli. Eva terdiam saat melihat sebuah kartu yang Merta gunakan untuk membayar tagihan belanjaannya. Setelah melihat Merta menjauh dari toko itu, Eva bertanya pada kasir toko tersebut.


"Apa aku boleh tau, berapa harga perhiasan yang di beli oleh temanku tadi?" Tanya Eva.


"128 juta, nona!" Sahut seorang kasir itu.


"A..apa?" Teriak Eva sangat terkejut.


Eva mengipas wajah dengan telapak tangannya. Ia hampir pingsan mendengar nominal yang di katakan oleh kasir tersebut. Eva segera keluar dan mencari Merta untuk mengikutinya.


"Aku sangat ingin tau, apa yang di kerjakan Merta sehingga ia memiliki banyak uang seperti itu." Gumam Eva dalam hatinya.


Merta keluar dari mall tersebut dan menaiki taksi online yang ia pesan. Merta kembali ke apartemen setelah membeli barang-barang apa saja yang ia inginkan. Tanpa sepengetahuan Merta, Eva mengikutinya hingga ke apartemen. Eva juga melihat Merta masuk ke kawasan apartemen yang terbilang sangat elit itu.


"Ini apartemen yang hanya bisa dimiliki oleh konglomerat saja! Kenapa dia bisa masuk ke sana? Bahkan para satpam yang menjaga sangat ramah padanya." Gumam Eva sangat penasaran.


"Aku harus segera mencari tau, apa yang terjadi pada Merta sehingga ia bisa membeli begitu banyak barang belanjaan yang mahal dan juga tinggal di apartemen mewah seperti ini." Gumamnya lagi.


Untuk saat ini, Eva melepaskan Merta yang dulu menjadi temannya sesama office girl di perusahaan Luky. Namun saat ada kesempatan lagi, Eva berniat untuk mencari tau tentang kehidupan Merta yang kini tampak bergelimangan harta.


Merta duduk di sofa ruang tengah dengan remot televisi di tangannya. Ia duduk santai sambil menonton acara yang ia gemari. Wajahnya tampak menggunakan masker dan beberapa cemilan di atas meja. Merta teringat akan kata dokter yang memberikan suntikan kontrasepsi agar ia tidak hamil.


"Aku harus melingkari kalendernya agar aku tau kapan harus kembali untuk melakukan suntik lagi di rumah sakit nanti." Kata Merta bangun dari duduknya dan menandai tanggal kalender dengan spidol.


Merta kembali duduk dan bersantai sambil menikmati cemilan yang ia beli tadi saat di mall. Tidak lama kemudian, Merta mendengar pintu terbuka. Ia menoleh dan melihat bahwa Geof kembali lebih cepat dari kantornya.


"Kau sudah kembali." Sapa Merta pada Geof.


"Iya." Sahut Geof dengan wajah masam.


"Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya sangat masam seperti itu?" Gumam Merta dalam hatinya.


"Aku akan menyiapkan air mandi untukmu." Kata Merta hendak naik ke lantai atas.


"Tidak usah! Aku tidak ingin mandi sekarang." Sahut Geof memilih untuk duduk di depan televisi dan makan cemilan disana.


Geof melirik Merta yang masih berdiam diri di belakangnya.


"Kemarilah! Temani aku disini." Perintah Geof pada Merta.


Merta menuruti apa yang di perintahkan Geof padanya. Merta duduk di samping Geof di ruang tengah.


"Pijat punggungku!" Perintah Geof lagi.


Merta pun memijat punggung Geof dengan masker wajah yang masih menempel di wajahnya. Geof menatap wajah Merta dengan kesal.


"Lepaskan masker itu! Kau seperti hantu saja." Teriak Geof.


"Ya Tuhan! Aku ingin sekali merobek mulutnya itu. Dia selalu saja berteriak padaku." Gumam Merta dalam hatinya seraya melepaskan masker yang ada di wajahnya.


Tiba-tiba Geof menciumnya dengan kasar membuat Merta susah untuk mengambil nafas. Merta berteriak kecil saat ia memang sudah benar-benar tidak bisa mengambil nafas lagi. Geof melepaskan ciumannya dan nafas mereka berdua terengah-engah.


"Apa aku begitu buruk untukmu?" Tanya Geof membuat Merta kebingungan.


"Maksudmu?" Ucap Merta balik bertanya.


"Jawab saja pertanyaanku! Apa aku begitu buruk di matamu?" Teriak Geof.


Merta ketakutan saat Geof berteriak kesal padanya.


"Tidak!" Sahut Merta.


Geof dan Merta saling beradu pandang. Geof menatap mata wanita itu dalam-dalam. Tak lama kemudian, Geof menarik nafas dengan berat serta melepaskan dekapannya pada tubuh Merta.


"Pergilah siapkan air mandi untukku." Ucap Geof dengan nada sedikit melemah.

__ADS_1


Merta bangkit dan pergi naik ke atas untuk menyiapkan air mandi Geof. Geof masih menatap wanita yang sedang menaiki anak tangga tersebut. Pikiran Geof melayang entah kemana saat itu.


"Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku bertanya seperti itu padanya tadi?" Gumam Geof frustasi di dalam hatinya.


__ADS_2