WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
BERTEMU SI RENDANG


__ADS_3

Tiba di Itali, Geof memboyong Merta ke sebuah hotel yang ternama dan berlokasi tak jauh dari menara Pisa. Setelah masuk ke dalam kamar, Geof merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang empuk, sedangkan Merta membuka tirai jendela kaca dan terkesima melihat menara miring itu.


"Wah, aku sangat terharu karena bisa melihat salah satu keajaiban dunia!" Seru Merta dengan mata yang berkaca-kaca.


"Memangnya selama ini kau belum pernah melihatnya?" Tanya Geof yang masih telentang di atas ranjang.


"Sudah pernah sih!" Sahut Merta yang membuat Geof terkejut dan langsung bangun terduduk di sana.


"Apa? Kau pernah melihatnya? Apa kau pernah ke Itali sebelumnya? Dengan siapa kau ke sini? Apa jangan-jangan ada pria lain yang mengajakmu ke sini sebelum aku menemukanmu waktu itu?" Begitu banyak pertanyaan yang Geof lontarkan kepada Merta.


"Hehehe, apa kau cemburu, Geof?" Ujar Merta sambil terkekeh licik.


"Aku akan membunuh pria itu jika dia pernah menyentuh wanitaku!" Teriak Geof emosi.


"Dasar pria pencemburu!" Ujar Merta sewot.


Geof pun turun dari ranjang dan mendekati Merta yang berdiri di dekat jndela kaca yang besar itu.


"Katakan siapa pria itu?" Tanya Geof kesal sambil mencengkram lengan Merta.


"Tidak ada pria lain! Aku melihat menara pisa dari majalah." Sahut Merta.


"Hah, kau membuatku kesal saja!" Ujar Geof menghela nafas lega.


"Aku senang melihatmu kesal, Geof! Hehehe." Kata Merta sambil terkekeh.


"Hei, hei, itu adalah kalimatku! Kau jangan menirunya." Sahut Geof sewot.


"Hehehe, walaupun kau sudah menjadi seorang ayah, tapi kau tetap saja menggemaskan." Ucap Merta menatap mata sang suami penuh cinta.


"Oh iya, aku baru ingat! Tujuan kita kesini adalah untuk membuat anak yang kedua, jadi aku harus menindasmu, Merta. Hehehe." Kata Geof menatap Merta sambil terkekeh jahat.


Ketika menikmati masa bulan madunya, Geof menghubungi Reyn yang belum lama ini dekat dengannya karena suatu urusan kerja sama. Reyn si pecinta daging rendang itu menjalani perusahaan warisan dari ayahnya yang berada di Itali. Setelah di hubungi oleh Geof, Reyn pun mengundangnya untuk makan malam bersama di kediamannya.


Malam itu Geof dan Merta pun datang ke kediaman Reyn yang terlihat begitu megah dengan kamar yang begitu banyak. Reyn dan istrinya yang bernama Fatya menyambut mereka dengan begitu ramah. Ini kali pertama Merta berkenalan dengan Reyn dan Fatya. Merta celingak-celinguk melihat setiap sudut rumah yang begitu megahnya.


"Apakah ini hotel? Kamarnya begitu banyak! Hehehe." Kata Merta pada Reyn dan Fatya.


"Hahaha, kakekku yang membangun rumah ini! Dulu kakekku ingin memiliki anak yang banyak, namun tidak kesampaian, karena kakekku tidak memiliki umur yang panjang." Sahut Reyn.


"Tapi walaupun begitu, aku berniat untuk mewujudkan keinginan kakekku itu! Karena di rumah ini memiliki 15 kamar, maka aku akan memiliki 15 anak yang tampan dan gagah sepertiku! Hehehe." Sambung Reyn lagi.


"Hei, siapa yang akan melahirkan anak sebanyak itu?" Teriak Fatya protes.


"Kau! Hahahaha." Sahut Reyn seenak jidatnya saja.


"Tidak mau!" Teriak Fatya lagi.


Hei, gadis minangku! Kau jangan malu-malu. Aku tau kau sebenarnya menginginkan anak yang banyak juga kan?" Kata Reyn menatap wajah istrinya yang cemberut.


"Iya, tapi tidak sebanyak itu juga kaleeeee!" Ujar Fatya semakin sewot pada Reyn.


"Hehehe, Reyn, apa kau ingin menjadi saingannya om Abrar memiliki anak lebih dari 10?" Sahut Geof terkekeh geli.


"Hehehe, kau bilang begitu, aku jadi merindukan kampung hawa!" Kata Reyn yang sudah hampir 7 tahun tidak menginjakkan kakinya di Indonesia karena kesibukan yang ia jalani setiap harinya mengurus perusahaan keluarganya.


"Ayo kita makan malam bersama!" Ajak Fatya berjalan berdampingan dengan Merta menuju ke ruang makan.


 

__ADS_1


Tiba di ruang makan, Merta dan Geof duduk berdampingan. Tak lama kemudian datang seorang bocah kecil perempuan yang begitu manis ketika ia tersenyum menghampiri mereka diruang makan itu. Bocah kecil perempuan itu bernama Rena, yang tak lain adalah buah cinta dari Reyn dan Fatya.


"Mami, papi!" Seru Rena pada Reyn dan Fatya.


"Kemarilah sayang! Sapa pada om dan Tante!" Kata Fatya pada Rena.


Dengan sopan dan senyuman manisnya itu, Rena pun menyapa Merta dan Geof. Merta begitu gemas melihat Rena yang sangat manis,. Walaupun saat itu giginya ompong satu di bagian depannya.


"Halo, om, tante! Namaku Rena." Sapa Rena.


"Kau manis sekali!" Ucap Merta mencubit gemas pada pipi Rena.


"Hai, Rena!" Sahut Geof tersenyum pada Rena.


"Rena, gigimu ompong ya! Hehehe." Sambung Geof lagi.


"Iya! Kemarin malam di ambil sama peri gigi!" Sahut Rena dengan polosnya, padahal giginya di cabut oleh Fatya yang kini sudah menjadi seorang dokter spesialis anak di salah satu rumah sakit ternama di Itali.


"Gigi putra om juga ompong! Tapi giginya ompong dua." Kata Geof membicarakan mengenai Gading.


"Benarkah? Ternyata peri gigi itu sangat serakah ya! Dia mengambil gigi anak om lebih dari satu." Sahut Rena.


Mendengar perkataan dari bocah perempuan yang polos itu pun, mereka semua tertawa geli. Rena yang merasa di tertawakan hanya meringis sambil terkekeh geli.


"Siapa nama anak om?" Tanya Rena pada Geof.


"Namanya Gading!" Sahut Geof.


"Berapa usianya?" Tanya Rena lagi.


"Sebentar lagi akan berusia 5 tahun!" Sahut Geof.


"Aku juga 5 tahun." Sahut Rena.


"Eemm, begitu ya!"sahut si bocah polos yang mengundang gelak tawa mereka kembali.


Makan malam bersama itu terasa lebih menyenangkan karena celotehan Rena yang begitu banyak bicara dan ingin tau mengenai Gading. Rena selalu bertanya tentang Gading kepada Merta dan juga Geof.


 


 


*****


Gading yang sedang santai menikmati pelayanan yang di berikan oleh kakek dan neneknya membuatnya lupa akan Merta yang untuk pertama kali jauh darinya. Gading asyik makan cemilan sambil menatap layar televisi menonton acara kartun kesukaannya. Lita dan Luky tak merasa lelah sedikitpun ketika menemani sang cucu seharian. Mereka selalu saja duduk dekat dengan cucu kesayangannya itu.


"Wah, pahlawannya kerena abis!" Seru Gading fokus dengan tontonannya.


"Iya, kau benar! Pahlawannya memang super." Sahut Luky.


"Gading, jika kau sudah besar nanti apa kau akan menjadi pahlawan super?" Tanya Luky pada cucunya itu.


"Tentu saja tidak!" Sahut Gading membuat Luky terdiam.


"Hahahaha, cucuku memang pintar! Menjadi pahlawan itu tidak mudah, apalagi kalau pahlawan kesiangan, seperti siapa ya, waktu itu?" Ucap Lita menyindir aksi Luky ketika mengejar cintanya dulu.


"Hei, apa kau mengungkit masa lalu?" Tanya Luky tak senang.


"Tentu saja!" Sahut Lita.

__ADS_1


"Huh, aku rela digebukin oleh 4 sahabatku hanya demi kau, Lita!" Kata Luky membuat Gading mual mendengarnya.


"Hhoowweekkkk! Aku ingin muntah!" Kata Gading membuat Luky kesal.


"Sama! Nenek juga mual mendengarnya." Sahut Lita terkekeh jahat bersamaan dengan Gading.


"Huh, dasar menyebalkan! Nenek dan cucu sama konyolnya!" Gumam Luky kesal.


Lita dan Gading terus tertawa melihat Luky kesal pada mereka. Tak lama kemudian telepon rumah berdering. Salah seorang pelayan pun mengangkat gagang telepon dan berbicara sebentar disana, lalu memberikan telepon itu kepada Gading yang sedang santai bersama kakek dan neneknya.


"Tuan muda! Ada telepon dari nyonya Merta." Kata pelayan pada Gading.


Gading mengambil telepon itu dengan ekspresi yang begitu malas.


"Halo!" Ucap Gading sambil menempelkan gagang telepon itu di telinganya.


"Sayang, bunda sangat merindukanmu! Apa kau merindukan bunda?" Sahut Merta begitu antusias mendengar suara putra kesayangannya itu.


"Iya, rindu!" Sahut Gading dengan nada datarnya.


"Eh, kenapa kau terdengar biasa saja, sayang? Jangan bilang kau tidak pernah merindukan aku, Gading!" Ujar Merta dongkol. Geof terkekeh geli ketika mendengar pembicaraan antara ibu dan anak tersebut.


"Hah, lalu aku harus bagaimana, bunda? Aku sudah memiliki orang lain untuk aku rindukan!" Sahut Gading membuat Luky dan Lita tercengang saat melihat ekspresinya yang seperti orang dewasa.


"Si...siapa?" Tanya Merta bingung.


"Tante Chika! Hehehe." Sahut Gading cengengesan.


"Tunggulah aku pulang ya, Gading? Akan aku pites kau!" Ujar Merta geram. Geof kembali terkekeh geli ketika mendengar putranya yang menyukai gadis remaja yang tak lain adalah adik bungsunya Azlan.


Merta menatap kesal pada Geof yang tak berhenti tertawa di sampingnya. Merta meletakkan ponselnya dengan sedikit keras di atas meja kecil dan melipat kedua tangannya di atas perut dengan wajah yang cemberut. Geof berhenti tertawa dan memeluk Merta dengan erat.


"Kenapa kau kesal?" Tanya Geof pada Merta.


"Aku tidak kesal!" Sahut Merta masih dengan wajah yang cemberut.


"Suatu saat nanti, Gading pasti bertemu dengan seorang wanita yang menjadi tempat untuk mencurahkan rasa rindunya!" Kata Geof.


"Iya, aku tau!" Sahut Merta.


"Lalu kenapa kau masih kesal?" Tanya Geof.


"Gading itu masih 4 tahun...


"Sebentar lagi 5 tahun!" Sahut Geof menimpali perkataan Merta.


"Iya! Dia itu masih kecil, tapi pikirannya sudah seperti orang dewasa saja!" Gumam Merta.


"Biarkan saja lah! Namanya juga masih bocah, dia itu hanya asal bicara saja." Sahut Geof.


Hening sejenak.


"Sayang, ayo kita buat adik untuk Gading!" Ajak Geof mulai menciumi tubuh Merta dari belakang.


"Lagi?" Ujar Merta terkejut.


"Iya!" Sahut Geof.


"Tuan Geof, aku tau kau adalah pria terkuat dan terhebat di atas ranjang, namun aku tak sanggup lagi!" Seru Merta hendak melarikan diri dari dekapan Geof.

__ADS_1


"Kau tidak bisa lari dariku, Merta! Hehehe." Ucap Geof terkekeh jahat sambil menyeret Merta untuk kembali naik ke atas ranjang mereka di hotel tersebut selama bulan madu.


"Aaarrgghhh! Aku pasrah, ya lord!" Ucap Merta tak bisa berbuat apa-apa lagi.


__ADS_2