WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
KABAR BURUK


__ADS_3

Keesokan paginya setelah mereka selesai sarapan, Geof dan Merta berangkat ke bandar untuk kembali ke Indonesia. Mereka kembali menempuh perjalanan yang panjang hingga puluhan jam untuk tiba di Indonesia. Di dalam pesawat entah apa yang membuat Merta begitu risau. Ia seakan tidak sabar ingin segera tiba di Indonesia secepatnya. Geof memperhatikan Merta yang gelisah sedari tadi.


"Ada apa? Kenapa kau begitu gelisah?" Tanya Geof pada Merta.


"Entahlah! Aku merasa ada sesuatu yang terjadi." Sahut Merta.


"Geof, apa jangan-jangan pesawat yang kita tumpangi akan jatuh?" Ujar Merta membuat Geof panik.


"Kau jangan berkata seperti itu! Membuatku takut saja, kau." Teriak Geof.


"Huh, aku kan hanya mengatakan apa yang kurasa!" Sahut Merta sembari berdengus kesal.


"Lebih baik kau tidur saja! Beberapa jam lagi kita akan sampai di Indonesia." Kata Geof menyuruh Merta untuk beristirahat.


Merta kembali mendengus kesal sambil menutupi wajahnya dengan selimut yang disediakan di kabin pesawat. Merta mencoba untuk memejamkan matanya agar perasaan gelisah yang sedang ia rasakan hilang. Namun apalah daya, perasaan itu terus muncul dan membuat Merta tidak bisa memejamkan matanya sedikitpun. Merta kembali membuka selimutnya dan melirik pada Geof yang duduk santai sambil mendengarkan musik.


"Geof!" Panggil Merta sambil menarik lengan kemeja Geof.


"Apa? Kenapa kau tidak tidur?" Tanya Geof.


"Aku tidak bisa tidur." Kata Merta.


Geof mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Merta.


"Apa kau ingin aku tiduri? Hehehe." Bisik Geof.


"Huh, menyebalkan!" Umpat Merta kesal.


Geof tertawa melihat wajah Merta memerah karena ucapannya tadi.


"Geof, aku tidak sedang bercanda! Aku benar-benar tidak bisa tidur karena perasaanku ini." Kata Merta.


"Kau gelisah memikirkan apa?" Tanya Geof.


"Aku teringat pada ibuku!" Sahut Merta.


"Apa setelah kita tiba aku boleh mengunjungi ibuku di kampung?" Tanya Merta dengan wajah memelas.


"Iya, pergilah!" Sahut Geof memberikan izin kepadanya.


"Terima kasih, Geof! Kau memang baik." Ucap Merta senang.


"Tidak ada yang gratis!" Bisik Geof lagi.


"Huh, kau selalu saja begitu! Bisakah kau memberikanku sesuatu tanpa harus ada imbalan?" Ujar Merta sewot.


"Baiklah! Aku anggap kau sedang berhutang padaku. Jika aku membutuhkannya aku akan menagihnya darimu." Sahut Geof.


"Tapi aku tidak mau kalau kau menginginkan itu lagi dariku!" Kata Merta terus terang.


"Iya, baiklah! Apa kau sudah puas?" Sahut Geof kesal.


"Hehehe, sudah!" Sahut Merta cengengesan.


"Pergilah tidur! Kalau sudah sampai nanti aku akan membangunkanmu." Kata Geof.


Merta pun kembali menarik selimutnya dan memejamkan matanya lagi. Sedangkan Geof juga kembalj memakai headset di telinganya untuk mendengarkan musik.


 


Beberapa jam kemudian, pesawat yang mereka tumpangi tiba di bandara Indonesia. Geof membangunkan Merta untuk segera keluar dari pesawat tersebut. Masih di dalam bandara, Merta menyalakan ponselnya yang sejak tadi tidak di aktifkan. Tak lama kemudian, ponselnya berdering dan panggilan tersebut dari Maya. Merta segera mengangkat telepon dari Maya.


"Halo, Tante." Ucap Merta.


"Mer, ibumu." Kata Maya menangis.


"Ada apa Tante? Apa yang terjadi pada ibu?" Tanya Merta dengan jantung yang berdegup kencang.


"Ibumu masuk rumah sakit lagi dan berada di ruang ICU!" Jawab Maya terus menangis.


"Apa? Apa ibu koma lagi?" Tanya Merta panik bercampur khawatir.


"Iya!" Sahut Maya.


"Aku akan segera kesana!" Kata Merta.


Geof menghampiri Merta setelah ia selesai berurusan dengan petugas bandara. Geof melihat wajah Merta yang sedang menangis dan juga panik.


"Ada apa?" Tanya Geof.


"Ibuku masuk rumah sakit lagi! Kata Tante Maya ibuku sedang koma." Jawab Merta menangis dalam pelukan Geof.


"Ayo kita pergi kesana! Aku akan menemanimu." Kata Geof.


Lutfi yang sedari tadi menunggu kedatangan Geof dan Merta, langsung membawa mereka pergi ke kampung di mana tempat ibu Merta di rawat. Beberapa jam menempuh perjalanan darat, akhirnya mereka tiba di kampung kecil tersebut saat malam hari. Merta dan Geof berlari menemui Maya yang menangis di ruang tunggu pasien.


"Tante, bagaimana kondisi ibu?" Tanya Merta pada Maya.


"Kata dokter, kondisi ibumu semakin melemah." Sahut Maya dalam Isak tangisnya.


"Aku akan menemui dokternya." Kata Geof melangkah pergi untuk menemui dokter yang sedang berjaga di rumah sakit itu.

__ADS_1


Merta masuk ke dalam ruang ICU itu dengan pakaian yang di sediakan disana. Air matanya tumpah karena melihat kondisi ibunya yang tak sadarkan diri dan semakin melemah.


"Ibu, aku datang!" Ucap Merta mengelus wajah ibunya yang terlihat sangat pucat.


Merta terus menumpahkan air matanya di samping ibunya itu. Sementara Geof sedang berbicara pada dokter yang berjaga disana.


"Penyakit apa yang di derita olehnya?" Tanya Geof pada dokter itu.


"Kami tidak bisa mengetahuinya dengan pasti karena alat-alat di rumah sakit ini terbatas. Tapi aku merasa ada kejanggalan pada paru-parunya!" Kata dokter itu.


"Apa maksudmu, dokter?" Tanya Geof lagi.


"Aku berharap aku salah! Namun aku curiga dia memiliki penyakit kangker paru-paru." Jawab dokter itu.


"Dokter, persiapkan semuanya! Aku akan bawa dia ke rumah sakit kota yang lebih memadai." Kata Geof.


"Baiklah!" Sahut dokter itu.


 


Pihak rumah sakit sedang menyiapkan segala sesuatunya untuk membawa ibu Merta ke rumah sakit kota. Selang beberapa menit semuanya telah selesai dan ibu Merta kini sudah berada di dalam ambulan dan segera dipindahkan ke rumah sakit kota. Maya dan Merta ikut masuk ke dalam ambulan itu sementara Geof mengikuti dari belakang dengan mobil yang di bawa Lutfi.


Selang beberapa jam, mereka tiba dirumah sakit kota yang peralatannya sangat canggih dan bagus. Rumah sakit itu milik Devan yang tidak lain adalah sahabat Luky. Semua biaya di rumah sakit itu Geof yang menanggungnya. Geof menghubungi Devan untuk memintanya datang ke rumah sakit itu. Devan pun datang dan segera melihat kondisi ibu Merta yang semakin lemah di ruang ICU.


"Geof, siapa wanita tua itu?" Tanya Devan.


"Om, dia adalah ibu dari temanku!" Jawab Geof.


"Teman?" Tanya Devan lagi seakan tak percaya.


"Om, bagaimana kondisinya?" Tanya Geof mengalihkan pembicaraan.


"Kondisinya sangat memburuk! Dokter disini akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyakitnya." Jawab Devan.


"Berapa lama kita akan mengetahuinya, om?" Tanya Geof.


"Paling cepat, besok!" Jawab Devan.


"Om, tadi kata dokter yang dirumah sakit sebelumnya, dia curiga kalau ibu Merta itu memiliki kanker pada paru-parunya." Kata Geof.


Saat akan menanggapi perkataan Geof, tiba-tiba ada seorang dokter yang datang menghampiri Devan dengan membawa berkas hasil pemeriksaan medis milik ibunya Merta.


"Prof, aku tadi telah melakukan pemeriksaan pada paru-paru pasien itu dan ini dia hasilnya." Kata dokter itu memberikan hasil pemeriksaan medis itu pada Devan.


Devan melebarkan matanya saat melihat hasil pemeriksaan medis milik ibunya Merta. Geof curiga melihat raut wajah Devan yang tampak serius.


"Ada apa om? Apa penyakitnya parah?" Tanya Geof pada Devan.


"Jadi maksud om? Nyawa ibunya tidak dapat tertolong lagi?" Tanya Geof.


Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari dalam ruang ICU tempat ibu Merta di rawat. Geof dan Devan cepat-cepat mendekati ruang ICU tersebut. Devan dan beberapa dokter masuk untuk memeriksa kondisi ibunya Merta. Tak lama Devan keluar dengan raut wajah yang sedih.


"Ada apa om?" Tanya Geof.


"Ibu temanmu telah meninggal dunia." Ucap Devan.


Maya dan Merta menjerit histeris mendengar kalau ibunya telah meninggal dunia karena penyakit kangker paru-paru yang sudah lama ia miliki. Merta berlari mendekati jasad ibunya yang sudah tidak memiliki nyawanya lagi. Hatinya begitu hancur saat melihat wajah ibunya yang sudah pucat pasi.


Geof mendekati Merta untuk mencoba menenangkannya.


"Ibu bangun! Aku sedang bersama ibu." Ucap Merta sambil memeluk jasad ibunya.


"Merta!" Kata Geof menyentuh pundak Merta.


Merta berbalik dan langsung memeluk Geof.


"Geof, tolong bangunkan ibuku! Aku tidak ingin dia tidur seperti itu terus." Kata Merta.


"Sabarlah Merta! Cobalah terima kenyataan, ibumu sudah tiada." Kata Geof mencoba menenangkan Merta.


"Ibuku tidak boleh pergi! Aku sangat menyayanginya." Kata Merta dalam Isak tangisnya.


 


Setelah semuanya tenang, ibu Merta di bawa kembali ke kampung halamannya dengan ambulan. Geof masih setia menemani Merta hingga pemakaman ibunya. Luky dan Lita turut hadir dalam pemakaman ibunya tersebut. Mereka mengetahui kabar meninggalnya ibu Merta dari Lutfi yang juga terus mendampingi Geof dan Merta.


*****


Setelah acara pemakaman selesai, Merta hanya duduk diam di rumahnya yang terlihat sederhana. Merta menatap kosong sambil menguraikan air matanya. Geof kembali mendekati Merta yang seharian tidak mau makan apapun. Geof membawa sebungkus roti coklat untuknya.


"Merta, makanlah sedikit." Kata Geof sambil menyodorkan roti itu pada Merta.


"Aku tidak lapar, Geof!" Sahut Merta.


"Makanlah sedikit saja! Sejak kemarin kau belum makan apapun." Kata Geof.


"Ibu!" Ucap Merta kembali menangis dihadapan Geof.


Geof merasa sakit hati melihat Merta berkali-kali meneteskan air mata kesedihannya itu. Geof mendekap Merta dengan erat.


"Ini jawaban rasa gelisahku kemarin, Geof! Aku tak menyangka ibuku telah pergi meninggalkan aku." Kata Merta dalam Isak tangisnya.

__ADS_1


"Sudahlah jangan menangis lagi! Ibumu sudah tenang disana. Dia sudah tidak merasakan sakit lagi seperti dulu.". Kata Geof.


"Iya, kau benar! Ibuku sekarang tidak perlu menderita lagi karena penyakit yang ia rasakan selama ini." Sahut Merta mencoba untuk berhenti menangis.


Geof melepaskan dekapannya dan menatap wajah Merta yang begitu sembab.


"Geof, izinkan aku disini beberapa hari lagi. Aku mohon!" Pinta Merta.


"Iya, baiklah! Kau boleh kembali kapan saja ketika kau sudah merasa tenang." Sahut Geof.


"Terima kasih, Geof! Kau pria yang baik." Ucap Merta.


"Aku akan kembali ke kota! Ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan." Kata Geof.


"Iya! Hati-hati di jalan." Kata Merta.


Saat Geof akan masuk ke dalam mobil Merta menarik lengannya.


"Geof, sekali lagi terima kasih karena kau selalu membantuku!" Ucap Merta.


Geof masuk ke dalam mobil dan pergi kembali ke kota. Merta masih menatap mobil mewah itu dari kejauhan.


Maya sedari tadi memperhatikan perhatian Geof kepada Merta. Maya merasa curiga hubungan antara Merta dan Geof.


"Aku yakin, mereka pasti memiliki hubungan yang lebih dari sekedar bos dan pekerja saja. Tapi jika itu benar, aku harap Geof adalah pria yang tepat untuk Merta." Gumam Maya dalam hatinya.


 


Hari itu adalah hari yang tak akan pernah terlupakan oleh Merta. Dimana ia harus kehilangan sosok ibu yang selama ini berjuang untuk membesarkan dirinya tanpa di dampingi oleh seorang suami karena ayah Merta telah meninggal lama sejak ia masih kecil.


Merta duduk di atas ranjang miliknya dan menatap langit-langit kamarnya.


"Ibu, ayah! Semoga kalian bahagia disana." Ucap Merta tak sanggup menahan air matanya.


 


Geof tiba di kediaman orang tuanya sekitar dini hari. Ia merasakan lelah yang luar biasa. Geof masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sofa kecil miliknya. Geof duduk bersandar dan mengembuskan nafas panjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia teringat tangisan Merta yang begitu terpukul karena kehilangan ibunya.


Geof bangkit masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu ia menggunakan piyama tidurnya dan berbaring di atas ranjangnya yang empuk. Perlahan-lahan Geof memejamkan kedua matanya hingga ia tertidur dengan lelap.


Keesokan paginya, Lita mendengar dari pelayan kalau Geof kembali ke rumah pukul dini hari. Lita dan Luky memutuskan tidak untuk menggangu istirahat putranya itu. Mereka membiarkan Geof untuk istirahat lebih lama.


Sekitar jam 10 pagi, Lita membawa makanan untuk Geof yang masih tertidur di dalam kamarnya. Lita masuk dan membuka tirai jendela agar sinar matahari masuk ke dalam kamar Geof itu. Lita meletakkan makanan itu di atas meja. Ia mendekati Geof untuk membangunkannya.


"Geof, bangun sayang!" Ucap Lita mengusap wajah putranya itu dengan lembut.


"Merta!" Racau Geof seraya memonyongkan bibirnya kepada Lita.


"Hah, dia merindukan Merta!" Gumam Lita.


"Geof, bangun!" Kata Lita lagi.


"Merta, aku cinta padamu." Racau Geof lagi.


"Hehehe, akhirnya kau mengakui perasaanmu itu, Geof!" Ucap Lita dalam hatinya.


"Aku akan berpura-pura menjadi Merta!" Ucap Lita lagi.


"Geof, apa kau sungguh mencintaimu?" Kata Lita berpura-pura menjadi Merta.


"Iya, sayang! Sini peluk aku!" Racau Geof lagi.


"Aku ingin punya anak darimu, Geof!" Kata Lita mengerjai putranya.


"Iya, kau mau berapa anak? Jika kau ingin 100 anak, aku akan sumbangkan spermaku yang banyak untukmu! Hehehe. Racau Geof lagi.


Ppplllaaakkkk.....


Lita menampar wajah Geof dengan keras sehingga Geof sontak terbangun dari tidurnya.


"Hei, kau pikir wanita hanya bekerja untuk mencetak anak, hah?" Ujar Lita kesal pada Geof.


"Ma...mama! Mama sedang apa di kamarku?" Teriak Geof pada Lita.


"Aku sedang berpura-pura menjadi Merta, agar aku tau perasaanmu yang sebenarnya pada calon menantuku itu." Jawab Lita dengan lugas.


"Huh, mama apaan sih! Menganggu tidurku saja." Ujar Geof kesal.


"Aku bawakan makanan untukmu! Makanlah selagi hangat." Kata Lita beranjak keluar dari kamar Geof.


"Geof, segera nyatakan perasaanmu itu pada Merta, sebelum dia pergi meninggalkanmu!" Kata Lita.


"Mama! Apaan sih!" Ujar Geof kesal beserta malu.


Lita tertawa seraya melangka keluar dan menutup pintu kamar Geof lagi. Geof turun dari ranjang dan duduk di sofa untuk menyantap makanan yang dibawakan oleh Lita tadi. Saat akan menyantap makanan itu, tiba-tiba Geof teringat pada Merta yang sedang berada di kampungnya.


"Eh, Merta sudah makan apa belum ya?" Gumam Geof dalam hatinya.


Geof mengambil ponselnya dengan niat untuk menghubungi Merta guna menanyakan kabarnya. Namun Geof berubah pikiran dan meletakkan kembali ponsel miliknya.


Disisi lain hal itu juga terjadi pada Merta yang sedang berada di dapur rumahnya. Merta teringat kepada Geof yang terpisah jarak olehnya.

__ADS_1


"Geof, sudah makan apa belum ya di apartemen? Dia kan sendiri disana." Gumam Merta dalam hatinya.


__ADS_2