
Keesokan harinya, Geof sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantornya. Ia memilih dasi yang tersusun rapi di dalam laci lemari. Pandangan Geof tertuju pada sebuah dasi yang Merta berikan sebagai kado ulang tahunnya waktu itu. Pikiran Geof kembali teringat pada malam saat ia dan Merta menikmati malam yang panjang di atas ranjang.
"Hah, saat itu aku begitu yakin kalau Merta juga mencintaiku! Malam itu dia membalas semua yang aku lakukan padanya. Dia juga memberikan sentuhan hangatnya padaku." Gumam Geof mengingat kembali yang telah ia lakukan bersama Merta di malam ulang tahunnya.
"Ternyata dia melakukannya hanya karena dia sebagai wanitaku saja." Gumam Geof lagi.
Geof memilih dasi yang lain. Sedangkan dasi yang Merta berikan tersimpan rapi di dalam laci lemari itu. Geof menjaga satu-satunya benda yang menjadi kenangan antara dia dan Merta.
Geof pergi ke kantor untuk bekerja seperti biasanya. Geof duduk di dalam ruang kerjanya dan tak lama masuklah seorang office girl yang menawarkan kopi panas untuknya. Lagi-lagi Geof teringat pada Merta yang sempat menggigit tangannya ketika mereka pertama kali bertengkar di depan toilet perusahaan.
"Lagi-lagi aku teringat padanya! Aku sangat merindukan dia." Gumam Geof dalam hatinya dengan perasaan yang sangat merindukan Merta.
Lalu Geof pergi ke ruang rapat setelah Amel sang asisten mengatakan jadwal kerjanya hari itu. Geof duduk bersebelahan dengan Luky yang menjadi pimpinan rapat disana. Isi rapat tersebut adalah mengenai jabatan CEO yang akan di berikan kepada Geof selaku pewaris dari perusahaan ayahnya. Semua orang yang mengikuti rapat tersebut menyetujui keputusan tersebut dan mereka juga tak lupa memberikan ucapan selamat kepada Geof yang kini menjadi pemimpin perusahaan.
Luky melihat raut wajah putranya yang tidak merasa senang sama sekali. Ia melihat Geof lebih banyak diam dan juga termenung sendirian. Jika ada yang mengajaknya berbicara maka Geof baru akan mulai bicara, setelah itu ia akan diam kembali dan tak begitu ingin menanggapi obrolan orang-orang yang ada di sekitarnya.
Malam harinya, Lutfi menunggu Geof di depan pintu masuk area apartemen. Lutfi akan mengantar Geof pergi ke kediaman orang tua Azlan yang sedang mengadakan acara perjamuan untuk para relasi yang terikat bisnis dengannya.
Geof tampak rapi dengan setelan jas yang formal itu. Geof masuk ke dalam mobil setelah Lutfi membukakan pintu mobil untuknya. Lutfi pun segera melajukan mobilnya untuk pergi ke kediaman orang tua Azlan.
Setibanya di sana Geof di sambut hangat oleh sahabat itu. Tak lama berbincang dengan Geof, Azlan di hampiri oleh seorang wanita yang cukup terkenal dari kalangan keluarga kaya. Wanita itu terlihat sangat ramah dan juga sopan dalam berbicara. Nama wanita itu adalah Nadya. Dia terlihat sangat cantik dan juga anggun.
"Selamat malam, tuan Azlan!" Sapa Nadya dengan nada bicara yang sopan.
"Selamat datang, nona Nadya!" Balas Azlan padanya.
Karena Geof sedang berada di sampingnya, Azlan pun mengenalkan Nadya pada Geof.
"Nona Nadya! Perkenalkan ini adalah sahabatku, Geof! Dia adalah CEO di perusahaan jaya abadi." Kata Azlan memperkenalkan Geof pada Nadya.
"Hai, tuan Geof! Senang berkenalan denganmu!" Sapa Nadya seraya mengulurkan tangannya kepada Geof.
Geof menyambut tangan lentik Nadya dengan kesan yang biasa saja. Geof juga memilih untuk tidak berbicara banyak disana.
"Kalian mengobrol lah berdua! Aku akan menyapa tamu yang lain." Kata Azlan pada Geof dan juga Nadya.
Azlan pun pergi meninggalkan Geof dan Nadya berdua. Nadya menatap wajah Geof yang sangat tampan di matanya. Nadya merapikan sedikit helaian rambut yang terjatuh di wajahnya.
"Kenapa dia tidak menatapku? Apa aku kurang cantik?" Gumam Nadya dalam hatinya.
Geof terus diam dan menatap ke segala arah sambil meneguk minuman yang ia pegang. Sedikitpun Geof tidak melirik apalagi menatap Nadya yang berada di hadapannya. Nadya menatap Geof dan mulai berbicara agar suasana canggung tidak terlalu lama menghampiri mereka.
"Tuan Geof! Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu." Kata Nadya hanya untuk mencairkan suasana.
"Iya, kau benar!" Sahut Geof singkat.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Apa mengenai pekerjaan?" Tanya Nadya lagi.
"Tidak! Aku memikirkan seseorang yang sedang aku rindukan saat ini." Sahut Geof.
"Siapa? Apakah kau sedang merindukan kekasihmu?" Tanya Nadya penasaran.
"Dia bukan sekedar kekasih untukku, melainkan sosok wanita yang akan tetap hidup di dalam hatiku sampai kapanpun. Mungkin karena dia lah aku tidak tertarik ingin melirik wanita lainnya!" Kata Geof bermaksud untuk menyindir Nadya yang sedari tadi menatap wajahnya.
"Aku permisi dulu ya!" Sambung Geof seraya melangkah pergi meninggalkan Nadya begitu saja.
Nadya menatap kesal pada Geof yang sama sekali tidak tertarik padanya.
"Sial! Dia sengaja menyindirku tadi!" Umpat Nadya dalam hatinya.
"Secantik dan sebaik apa sih wanita itu, sehingga mampu membuat Geof tidak tertarik pada wanita cantik sepertiku? Aku jadi semakin penasaran!" Gumamnya lagi dalam hati.
__ADS_1
Masih di ruangan perjamuan, Geof melirik Chika yang sedang duduk sambil menyantap kue. Chika adalah adik bungsu Azlan. Geof mendekatinya sekedar untuk mendapatkan hiburan dari gadis kecil yang masih berusia 10 tahun itu.
"Hai, Chika!" Sapa Geof duduk di sampingnya.
Chika berdengus kesal menatap Geof yang duduk di sampingnya.
"Jangan makan kue manis terlalu banyak, nanti kau gendut!" Kata Geof berniat untuk mengganggu Chika.
"Be...benar kah? Apa aku terlihat gendut?" Tanya Chika panik.
"Tentu saja! Jika kau gendut aku tidak akan mau menikah denganmu." Kata Geof sambil menahan tawanya.
"Hei, siapa yang mau menikah dengan pria tua sepertimu?" Teriak Chika kesal.
"Apa kau tidak dengar, kalau orang tua kita telah setuju untuk menikahkan aku denganmu! Hehehe." Sahut Geof semakin mengganggu Chika.
"Aku dan kau akan segera menjadi suami dan istri loh!" Sambung Geof lagi sambil cengengesan.
"Mimpi saja sana!" Teriak Chika lagi.
Chika menyambung makan kuenya sedangkan Geof tertawa geli sambil menatap Chika.
"Chika, ayo menikahlah denganku!" Kata Geof menarik paksa tangan Chika.
"Aku tidak mau! Dasar Geof, bodoh!" Teriak Chika kesal.
"Hahaha, si Chika kabur!" Geof tertawa terbahak-bahak melihat Chika berlari menjauh darinya.
Setelah Chika pergi, Geof kembali merasa tidak nyaman di ruang perjamuan itu. Geof memutuskan untuk pergi ke halaman depan untuk menghirup udara segar. Saat dia berjalan di luar, ia melihat Azlan menyambut kedatangan Vian yang ternyata juga di undang ke acara perjamuan itu. Vian datang dengan seorang wanita cantik yang sama sekali bukan Merta.
"Itu kan Vian! Kenapa dia datang wanita lain? Lantas bagaimana Merta?" Gumam Geof dalam hatinya.
"Tuan Vian! Kenalkan ini Geof, sahabatku! Dia adalah CEO di perusahaan jaya abadi!" Kata Azlan pada Vian.
"Aku mengenalnya, tuan Azlan!" Sahut Vian.
"Oh, benarkah? Dimana kalian bertemu?" Tanya Azlan.
"Aku dan dia pernah menjadi tetangga saat aku tinggal di apartemen." Sahut Vian.
Geof hanya diam dan menatap Vian dengan kesal. Geof kesal karena Vian membawa wanita lain, bukannya Merta.
"Geof, dimana Merta? Apa kau tidak membawanya ikut bersamamu?" Tanya Vian.
"Seharusnya itu yang aku tanyakan padamu! Dimana Merta? Kenapa kau membawa wanita lain kesini?" Tanya Geof geram.
"Hei, apa maksudmu? Merta itu kekasihmu kan? Lantas kenapa kau bertanya padaku?" Tanya Vian bingung.
Vian menatap wajah Geof penuh curiga. Tiba-tiba Vian menyerang Geof dan menarik kerah bajunya.
"Jangan bilang kau telah mencampakkannya, Geof!" Teriak Vian kesal.
"Aku membiarkan dia pergi meninggalkan aku karena kau dan dia memiliki hubungan di belakangku!" Sahut Geof.
"Apa maksudmu?" Tanya Vian kesal.
"Kau dan Merta saling mencintai kan? Aku melihat kalian berdua tampak mesra di taman waktu itu!" Ujar Geof dengan suara lantang.
Via mengingat kembali pertemuan terakhirnya dengan Merta hari itu.
"Dasar bodoh, kau! Aku dan Merta tidak memiliki hubungan apapun. Aku dan Merta berteman. Memang iya, aku dulu pernah menyukainya, namun setelah aku tau kalau dia mencintaimu, aku dan Merta memutuskan untuk berteman saja!" Kata Vian menjelaskan hubungannya dengan Merta.
__ADS_1
"Geof, bagaimana mungkin kau membiarkannya pergi dengan kondisi dirinya sedang mengandung bayimu!" Teriak Vian mengatakan yang sebenarnya.
"Apa?" Ucap Geof sangat terkejut.
"Merta sedang mengandung bayimu, Geof!" Kata Vian mengulang perkataannya.
Geof bergegas pergi dari kediaman orang tua Azlan setelah ia tau kalau Merta sedang mengandung bayinya. Perasaan Geof campur aduk ketika itu. Ia tak tau ia harus merasakan senang karena ia akan memiliki anak dari Merta atau bahkan sedih karena telah membiarkan Merta pergi dari apartemennya waktu itu.
Geof menemui Lutfi untuk mengantarnya pergi ke kampung halaman Merta malam itu juga. Geof merasa gelisah karena ia ingin segera sampai ke kampung halaman Merta.
"Lutfi, cepatlah!" Perintah Geof pada supir pribadinya itu.
"Baik bos!" Sahut Lutfi menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
*****
Waktu tengah malam, Geof tiba di depan rumah Merta yang terlihat sangat sepi. Yang ada di pikiran Geof saat itu, suasana sepi dirumah Merta karena saat itu adalah waktu istirahat semau orang. Geof sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Merta yang sedang mengandung bayinya. Geof mengetuk pintu rumah Merta berkali-kali, namun tidak ada satupun orang yang membukakan pintu itu untuknya.
Perasaan gelisah kembali ia rasakan ketika itu. Geof terus berupaya untuk mengetuk pintu rumah Merta. Lalu tiba-tiba ada seseorang warga yang menghampiri Geof.
"Tuan, kau cari siapa?" Tanya pria paruh baya itu pada Geof.
"Aku ingin bertemu dengan si pemilik rumah ini!" Sahut Geof.
"Siapa maksudmu?" Tanyanya lagi.
"Merta!" Sahut Geof.
"Rumah ini sudah kosong beberapa hari yang lalu! Sepertinya Maya dan Merta pergi dari kampung ini." Kata pria paruh baya itu.
"Kemana mereka pergi?" Tanya Geof.
"Tidak ada satupun dari warga kampung sini yang tau kemana mereka pergi! Tiba-tiba saja rumah ini kosong dan tidak ada yang menempatinya." Sahut pria paruh baya itu.
Geof hilang arah. Ia tak tau apa yang bisa ia lakukan untuk menemukan Merta. Perasaan menyesal menyeruak di hatinya. Geof seakan kesal pada dirinya sendiri karena telah membiarkan Merta pergi dari kehidupannya. Lutfi tau apa yang kini sedang di rasakan majikannya itu.
"Bos, kita bisa mencari nona Merta! Aku yakin kita akan menemukannya." Kata Lutfi pada Geof.
"Ayo kita kembali ke kota! Aku akan memikirkan cara untuk menemukan Merta nanti." Sahut Geof dengan wajah yang begitu gusar.
Sepanjang jalan menuju ke kota, Geof hanya diam dan terus menatap ke luar jendela mobil. Lutfi melihat wajah sang majikan dari kaca spion tampak sedih dan menyesal. Lutfi juga menyesal karena telah membiarkan Merta pergi sendirian waktu itu.
"Andai saja aku bersikeras untuk mengantar nona Merta, mungkin aku akan tau dimana keberadaannya saat ini." Gumam Lutfi dalam hatinya sambil menyetir mobil.
Pagi harinya, tanpa beristirahat sedikitpun Geof mengarahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Merta. Tanpa rasa lelah sedikitpun Geof ikut mencari keberadaan Merta di setiap sudut kota dan juga perkampungan yang tak jauh dari kota tersebut.
Geof tak kenal lelah ataupun merasa lapar sedikitpun. Dengan wajah yang tampak lusuh, Geof terus mencari dan menyusuri setiap tempat untuk mencari keberadaan Merta. Lutfi sangat kasihan kepada Geof yang tampak sangat lusuh saat itu. Lutfi membawa sebungkus roti dan menghampiri Geof yang sedang duduk di dalam mobil.
"Bos, makanlah dulu! Sejak kemarin bos belum makan apapun!" Kata Lutfi menyodorkan sebungkus roti kepada Geof.
"Aku tidak lapar! Aku hanya ingin bertemu dengan Merta!" Kata Geof.
"Bos, tapi jika kau terus-terusan seperti ini kau bisa sakit! Bagaimana mungkin kau akan mencari keberadaan nona Merta, dengan kondisi yang seperti ini, bos?" Kata Lutfi.
"Hampir dua hari aku mencarinya! Semua orang sudah aku kerahkan, namun tidak ada satupun orang yang bisa menemukan keberadaan dia!" Kata Geof frustasi.
"Bos, percayalah! Suatu hari nanti, kita pasti akan menemukan nona Merta!" Kata Lutfi berusaha untuk menguatkan Geof.
"Bos, untuk sementara kita kembali ke kediaman orang tuamu saja! Jika ke apartemen, tidak ada yang akan menemanimu." Kata Lutfi khawatir pada kondisi Geof saat itu.
__ADS_1
Geof mengiyakan perkataan Lutfi dan berniat untuk kembali ke kediaman orang tuanya. Geof berusaha untuk menguatkan dirinya agar dia dapat terus mencari keberadaan Merta. Geof tidak akan pernah menyerah untuk menemukan wanita yang telah mengandung bayi miliknya itu.