
Geof keluar dari kamarnya dengan wajah empat L (Lemah, Letih, Lesu dan Lunglai) karena tidak dapat membinasakan semua foto dirinya bersama Merta yang terpajang di setiap dinding rumah. Geof duduk di ruang tengah dengan wajah yang cemberut. Lita menghampiri putranya itu untuk mengajak makan siang bersama.
"Sayang, ayo kita makan siang bersama. Papa sudah menunggu dari tadi di ruang makan." Ajak Lita pada Geof.
Geof tidak menyahut, namun cacing yang ada di perutnya lah yang menyahut agar diberikan makanan. Geof melangkah menuju ke ruang dapur dan melihat Luky duduk dengan wajah yang penuh lebam. Geof terkekeh melihat sang ayah yang baru saja di siksa oleh Lita.
"Hihihi, wajah papa banyak bintangnya." Ucap Geof terkekeh.
Pplleettaakk...................
"Diam kau! Dasar anak durhaka." Ujar Luky memukul kepala Geof dengan centong sayur.
Geof masih tertawa saat ia akan duduk di kursi. Namun setelah melihat beberapa foto di ruang makan itu, tawa Geof menghilang seketika. Geof kembali berdengus kesal melihat foto dirinya yang begitu banyak terpajang di setiap dinding ruangan. Luky tersenyum licik melihat putranya yang sedang kesal.
"Istriku sayang, aku rasa semua foto yang ada di rumah ini belum cukup! Bagaimana jika kau menambahkannya lebih banyak lagi?" Kata Luky pada Lita.
"Papa!" Teriak Geof kesal.
"Baiklah! Besok aku akan memajang banyak foto Geof dan calon menantuku di rumah ini!" Seru Lita dengan girangnya.
Luky terkekeh jahat sedangkan Geof hanya bisa menghela nafas dengan kesal.
Mereka bertiga pun makan siang bersama di ruang makan itu. Lita melirik Geof yang seakan tidak berselera makan.
"Ada apa? Apa makanannya tidak enak?" Tanya Lita pada Geof.
"Tidak! Aku hanya kurang berselara saja." Sahut Geof bingung dengan dirinya yang kali ini tidak berselera makan.
"Hehehe, sudah terbiasa makan masakan seseorang, pasti tidak akan selera jika tidak makan makanan yang biasanya." Sahut Luky menyindir Geof.
"Papa, apaan sih!" Ujar Geof dengan wajah memerah.
"Wah, ternyata calon menantuku pintar memasak!" Seru Lita senang.
"Ma, Merta itu hanya pelayan di apartemenku." Sahut Geof.
"Jadi nama wanita itu Merta, ya! Hahaha." Ucap Luky.
"Hehehe, tidak usah malu-malu begitu, Geof! Aku tau kalau Merta itu adalah pelayan di hatimu kan? Iya kan, Geof? Hehehe." Sahut Lita.
"Huh, menyebalkan! Aku akan kembali ke apartemenku sekarang." Kata Geof beranjak pergi dari rumah orang tuanya dengan perasaan yang campur aduk.
"Apa kau sudah merindukan pelayan cantikmu, Geof?" Teriak Luky mengejek putranya itu.
"Tisam ya untuk calon menantuku!" Teriak Lita sembari cengengesan.
Geof hanya berlalu begitu saja dan enggan menanggapi perkataan kedua orang tuanya. Geof pergi mengendarai mobil mewahnya untuk kembali ke apartemen. Diruang makan, Luky masih bingung dengan perkataan Lita barusan.
"Tadi kau bilang Tisam! Maksudnya apa? Apa itu Tisam?" Tanya Luky dengan wajah tololnya.
"Tisam itu singkatan dari titip salam! Hehehe." Jawab Lita cengengesan.
"Wah, ternyata kau tidak bodoh lagi sekarang!" Seru Luky yang membuat Lita seketika menjadi murka.
"Kau bilang apa tadi?" Tanya LIita dengan wajah penuh kegelapan.
"Eemm..., maksudku kau sudah menjadi pintar dan cantik!" Ucap Luky keringat dingin.
"Baiklah, aku terima perkataanmu untukku!" Sahut Lita berubah sikap menjadi tenang.
"Ffiiuhh..., hampir saja!" Gumam Luky menghela nafas lega karena terhindar dari amukan Lita.
***
__ADS_1
Geof keluar dari mobil setelah ia memarkirkan mobilnya di area parkir apartemen. Geof berjalan menuju ke lift untuk naik ke lantai apartemen miliknya. Saat akan keluar dari lift itu, Geof melihat Merta sedang berbincang dengan tetangga depan apartemennya. Geof sangat kesal melihat Merta tersenyum lebar dengan pria tampan yang bernama Vian.
Geof berjalan cepat untuk menghampiri mereka berdua. Setelah mendekat dengan Merta, ia menarik lengan Merta dengan kasar.
"Merta, masuk!" Kata Geof menarik lengan Merta dengan kasar.
Vian terkejut saat melihat Geof memperlakukan Merta dengan kasar. Vian menepis tangan Geof yang mencengkram lengan Merta.
"Hei, kenapa kau begitu kasar pada wanita?" Kata Vian menatap Geof sinis.
Geof melepaskan lengan Merta dan mendorong tubuh Vian dengan kuat.
"Siapa kau? Beraninya kau mencampuri urusanku!" Teriak Geof kesal pada Vian.
"Namaku Vian! Aku teman Merta." Jawab Vian yang membuat Geof semakin kesal.
"Sejak kapan kau berteman dengan wanitaku, hah?" Teriak Geof lagi.
Vian semakin terkejut mengetahui kalau Merta berstatus sebagai wanita simpanan Geof.
"Geof, sudahlah! Jangan bertengkar." Kata Merta mencoba untuk menenangkan Geof dengan merengkuh lengannya.
Geof masih dalam keadaan emosi langsung menepis dan mendorong Merta hingga ia terjatuh di lantai. Vian melebarkan matanya melihat Merta jatuh terduduk di lantai akibat dorongan Geof yang terlalu kencang padanya.
Vian kesal dan memberika pukulan di wajah Geof. Geof hampir tersungkur mendapatkan pukulan dari Vian, namun ia segera membalas pukulan Vian padanya. Merta berteriak ketakutan saat kedua pria itu saling baku hantam.
"Berhentilah!" Teriak Merta sambil menangis.
Geof melihat air mata jatuh membasahi wajah Merta. Ia pun berhenti untuk menyerang Vian yang sudah babak belur sama seperti dirinya.
"Geof, aku mohon, berhentilah." Ucap Merta.
"Apa kau menangis untuk pria ini, hah?" Teriak Geof marah pada Merta.
Merta hanya diam saja tidak mau menjawab pertanyaan Geof terhadapnya.
"Hei, Merta! Aku merasa kasihan padamu." Kata Vian.
Merta tertunduk malu di hadapan Vian yang selama ini ia bohongi mengenai statusnya yang tinggal seatap bersama Geof. Geof terkejut mendengar ucapan Vian yang mengatakan kalau Merta mengakui dirinya adalah sebagai suami Merta.
"Vian, maafkan aku karena berbohong padamu! Aku permisi." Ucap Merta seraya berlari masuk ke dalam apartemen.
Vian dan Geof masih saling bersitatap.
"Huh, jika kau sudah bosan pada wanitamu itu, aku bersedia untuk menampungnya." Kata Vian pada Geof.
Bbbrrruukkk.......
Geof mendaratkan kepalan tangannya sekali lagi ke wajah Vian dengan rasa kesal yang menyelimuti pikirannya. Vian tersungkur di lantai sambil memegang bagian wajah yang di pukul oleh Geof barusan.
"Jangan mendekati Merta lagi atau aku tidak akan segan untuk melakukan hal yang lebih dari ini padamu!" Ancam Geof pada Vian.
Geof berjalan untuk mengejar Merta yang sudah masuk duluan ke dalam apartemen. Sedangkan Vian masih tergolek lemas di lantai dengan beberapa luka lebam di wajahnya. Vian menarik garis senyumannya ketika ia tau status Merta yang sebenarnya.
"Merta, aku akan segera mendapatkan dirimu! Hehehe." Ucap Vian yang diam-diam selama ini menyukai Merta.
***
Geof masuk ke dalam apartemennya dan mencari Merta di dalam kamarnya, namun saat itu ia tidak melihat Merta di sana. Ia kembali menuruni anak tangga dan mencari Merta di kamarnya yang lama. Ia membuka pintu kama itu dan melihat Merta sedang meringkuk menangis di sudut kamar. Geof mendekati Merta dengan wajah yang sudah basah.
"Merta." Ucap Geof hendak mendekati Merta.
"Pergilah! Aku hanya ingin sendiri." Sahut Merta dalam isak tangisnya.
__ADS_1
"Merta, maafkan aku! Aku sangat emosi tadi." Ucap Geof menyesali perbuatannya terhadap Merta.
"Geof, pergilah! Aku hanya ingin sendiri saja." Teriak Merta kesal.
Geof tersulut emosi saat Merta berteriak padanya. Ia lantas menarik lengan Merta dengan kuat dan kembali berbuat kasar pada Merta.
"Apa karena pria itu kau menjadi seperti ini padaku, hah?" Teriak Geof pada Merta.
"Katakan apa yang ingin kau katakan, Geof! Aku tidak perduli lagi." Balas Merta.
"Katakan saja pada semua orang kalau aku adalah wanita simpananmu atau kalau perlu katakan saja kalau aku ini wanita pelacur yang akan menghangatkan ranjangmu selama dua tahun!" Teriak Merta lagi.
Ppplllaaakkk.................
Geof sangat kesal dengan perkataan Merta sehingga ia menampar wajah Merta dengan keras. Merta terkejut saat Geof menampar dirinya. Air matanya kembali mengalir membasahi wajah cantiknya itu.
"Dengarkan aku! Kau memang wanita yang terlibat kontrak denganku, namun bagiku kau bukan seorang pelacur! Apa kau mengerti, hah?" Teriak Geof.
Merta menangis dengan perasaan yang sangat kesal terhadap Geof yang sangat kasar padanya. Air matanya terus saja mengalir dengan isak tangisnya yang menggangu pendengaran Geof. Geof sangat tidak suka dan tidak bisa melihat wanita menangis dihadapannya.
"Berhentilah menangis!" Kata Geof masih mencengkram kedua lengan Merta.
Merta ketakutan sambil menundukkan wajahnya yang sambil terus menangis.
"Berhentilah menangis. Aku mohon!" Ucap Geof kemudian memeluk Merta dengan erat.
"Aku minta maaf!" Ucap Geof lagi terus mendekap Merta dengan erat.
Entah perasaan apa yang Merta rasakan saat itu membuatnya membalas dekapan Geof terhadapnya. Merta mendekatkan wajahnya yang basah di dada Geof yang bidang. Setelah Merta merasa tenang dan berhenti menangis Geof menatap wajahnya dan mengelus lembut pipi Merta yang masih memerah akibat bekas tamparan dari tangannya.
"Apa masih terasa sakit?" Tanya Geof.
"Tentu saja, dasar idiot!" Ujar Merta sewot.
"Salah kau sendiri mengapa mengatakan hal yang paling ku benci tadi." Sahut Geof kembali kesal.
"Huh, menyebalkan!" Ujar Merta.
Kkkrriiuuukkk.................
Cacing di perut Geof meronta-ronta ingin segera diberi makanan. Merta menatap wajah Geof yang malu karena suara perutnya yang sangat jujur.
"Jangan hanya menatapku saja. Cepat buatkan aku makanan! Aku sangat lapar." Kata Geof pada Merta.
"Aku tidak mau! Aku mogok masak selama sebulan!" Teriak Merta ngambek.
"Kau...." Geof sudah kehabisan kata-kata menghadapi Merta.
"Pergi sana!" Teriak Merta lagi sembari mendorong Geof untuk keluar dari kamarnya.
"Oh iya, karena aku masih kesal padamu, maka aku akan tidur di kamar ini." Kata Merta.
"Tidak akan aku izinkan!" Teriak Geof kesal.
"Aku tidak perduli!" Balas Merta lagi sembari menutup pintu kamarnya.
Geof terus menggedor-gedor pintu kamar Merta dengan kesal.
"Merta! Aku tidak mengizinkanmu pisah ranjang denganku!" Teriak Geof dari luar pintu kamar Merta.
Merta duduk di sisi ranjang dengan kedua tangan yang terlipat di atas perutmya.
"Biarkan saja kau mati kesal sana!" Gerutu Merta sewot pada Geof.
Merta mengelus pipinya dan melihat pipinya itu masih memerah di depan cermin.
"Dasar Geof gila! Hanya dia manusia yang pertama kali menampar wajahku." Umpat Merta sangat kesal pada Geof.
__ADS_1