
Keesokan paginya, Merta terbangun dan mendapati dirinya tak memakai sehelai benangpun. Hanya selimut tebal yang membalut di tubuhnya, itu pun ia harus berbagi bersama Geof yang masih tertidur. Merta memejamkan matanya dengan rasa kesal yang ada di hatinya. Sebenarnya ia tak ingin hal itu terjadi lagi.
Merta turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai mandi ia pun pergi menyiapkan sarapan pagi di dapur. Saat sedang memasak ia mengingat kejadian semalam yang begitu membuatnya terlena. Perasaan cinta yang tumbuh di hatinya terhadap Geof membuat kejadian semalam seakan indah untuk di kenang.
Sekitar jam 8 pagi, Merta belum juga melihat Geof keluar dari kamar. Merta naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar berniat untuk membangunkannya. Namun saat itu ia tidak melihat Geof di atas ranjang. Ia mendengar suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi.
"Oh, ternyata dia sedang mandi!" Pikirnya.
Merta kembali turun ke bawah untuk menyiapkan perlengkapan makan di meja. Tidak lama berselang, Geof memeluknya dari belakang yang membuat Merta kaget.
"Selamat pagi!" Ucap Geof pada Merta.
"Pagi!" Sahut Merta.
Merta melihat Geof belum memakai kemeja kerjanya.
"Kenapa belum siap? Ini sudah jam 8 lewat!" Kata Merta.
"Aku sedang malas! Di luar juga sedang hujan." Sahut Geof merebahkan kepalanya pada pundak Merta.
"Kau kan perginya naik mobil! Itu juga si Lutfi yang nyetir. Kau tinggal duduk manis di kursi belakang." Kata Merta.
"Malas! Aku tidak mau ngantor hari ini." Kata Geof.
Merta hanya menghela nafas karena sifat Geof yang memang pemalas. Merta dan Geof pun sarapan bersama pagi itu. Cuaca terlihat mendung dan hujan gerimis pun belum juga berhenti. Merta membuka sedikit tirai jendela dan melihat hujan belum juga reda.
"Hujannya awet! Dari tadi belum juga berhenti." Gumam Merta.
Merta kembali menutup tirai jendelanya dan bergegas untuk mencuci piring bekas mereka sarapan tadi. Geof masih bermalas-malasan di ruang tengah sambil menonton televisi sambil sesekali memainkan ponselnya. Tak lama kemudian ponselnya itu pun berdering. Geof seakan malas menerima panggilan telepon yang tak lain dari Luky.
"Geof, kau dimana?" Tanya Luky.
"Di apartemen!" Sahut Geof.
"Kenapa kau tidak ke kantor?" Tanya Luky.
"Malas! Di luar sedang hujan." Sahut Geof lagi.
"Apa kau jalan kaki jika pergi ke kantor, hah?" Teriak Luky kesal pada putranya yang pemalas itu.
"Huh, ada apa sih pa?" Tanya Geof ngegas.
"Ada proyek penting yang akan segera kita kerjakan!" Kata Luky.
"Cepat kemari!" Sambung Luky lagi.
"Iya, baiklah!" Sahut Geof kesal.
Geof pun bergegas untuk bersiap-siap pergi ke kantor. Sebelum ia memakai kemejanya, Geof sempat menghubungi Lutfi untuk segera menjemputnya di apartemen. Merta yang baru saja selama mencuci piring, melihat Geof tampak rapi dengan kemeja dan juga dasi yang ia berikan sebagai kado ulang tahun. Merta merasa senang saat Geof menggunakan kado darinya itu.
"Apa kau mau ke kantor?" Tanya Merta.
"Iya, ada proyek penting yang harus aku kerjakan!" Sahut Geof.
Merta membantu Geof memakai jas.
"Sudah selesai!" Seru Merta bergelayut manja pada Geof.
"Apa hari ini kau akan berniat untuk pergi keluar?" Tanya Geof.
"Tidak! Aku hanya ingin di apartemen saja." Sahut Merta.
"Baiklah, aku akan pergi ke kantor! Cepat berikan aku ciuman." Perintah Geof di setiap harinya.
Merta berjinjit dan memberikan kecupan pada kedua pipi juga bibir Geof dengan senang hati tanpa ada paksaan sama sekali. Geof membalas ciuman Merta dengan mengecup kening Merta dengan lembut.
Geof pergi ke kantornya bersama Lutfi sebagai supir yang mengantar dirinya. Setelah Geof pergi, Merta melanjutkan pekerjaannya untuk membersihkan ruangan apartemen seperti setiap harinya.
*****
Beberapa minggu kemudian, Geof sedang beristirahat sejenak di ruang kantornya. Ia melihat tanggal yang ia lingkari sebagai tanda bahwa tanggal tersebut adalah masa kontrak Merta telah usai. Geof menghitung tanggalnya yang bersisa hanya 10 hari saja.
"Sebentar lagi masa kontraknya habis! Tapi aku tak ingin dia pergi. Aku mencintainya, begitu pula dengan dia." Gumam Geof dalam hatinya.
Tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk dari luar.
"Masuklah!" Kata Geof dari dalam ruangan.
Tampak masuk sang sekretaris Amel yang masuk dengan membawa jadwal kegiatan yang akan Geof lakukan untuk hari ke depan.
"Tuan, besok pagi kau dan tuan Luky akan pergi perjalanan bisnis ke Itali! Perusahaan kita akan bekerja sama dengan perusahaan milik tuan Zidan." Kata Amel.
"Berapa hari aku disana?" Tanya Geof.
"Sesuai jadwal, kurang lebih seminggu!" Sahut Amel.
"Baiklah, persiapkan semuanya! Apa papaku sudah tau akan hal ini?" Tanya Geof lagi.
"Sudah, tuan!" Sahut Amel.
__ADS_1
"Oke, baiklah!" Kata Geof.
Setelah Amel keluar dari ruangannya, Geof kembali menatap kalender yang terpajang di atas meja kerjanya.
"Masih tersisa tiga hari lagi! Setelah pulang dari Itali aku akan melamarnya." Gumam Geof dalam hatinya.
Geof seakan tidak sabar menunggu hari itu dimana dia akan melamar wanita pujaan hatinya. Geof berencana untuk membeli sebuah cincin yang akan ia berikan kepada Merta di Itali saat dia dan Luky melakukan perjalanan bisnis disana.
Malam harinya, Geof kembali ke apartemen di saat Merta sedang memasak di dapur. Geof menghampirinya dengan memeluk pinggang Merta dari belakang.
"Wangi sekali! Kau masak apa?" Tanya Geof setelah ia memberikan kecupan hangat pada pipi Merta.
"Makanan kesukaanmu, sup iga sapi!" Sahut Merta.
"Wah, perutku semakin lapar mendengarnya!" Kata Geof.
"Pergilah mandi dulu, sebentar lagi supnya akan matang!" Kata Merta.
"Iya, baiklah!" Sahut Geof seraya melangkah naik ke lantai atas.
Sementara Geof sedang mandi, Merta terus menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Selang beberapa menit, Geof kembali menghampiri Merta dengan handuk kecil yang ada di kepalanya. Merta menyuruh Geof untuk duduk sedangkan Merta menyiapkan sebuah piring untuk mengisinya dengan beberapa centong nasi.
Geof terlihat sangat lahap makan nasi dengan sup iga sapi yang di masak oleh Merta. Sambil berbincang ringan mereka berdua pun makan bersama di meja makan.
Malam itu kian larut, Merta melihat Geof masih sibuk menyusun beberapa berkas di dalam ruang kerjanya. Merta masuk ke dalam kamar hendak mencuci wajahnya dan memakai pelembab sebelum tidur. Saat Merta akan masuk ke dalam kamar mandi, ia merasakan pusing pada kepalanya. Cepat-cepat Merta memegang sisi tembok agar dapat menyeimbangkan dirinya.
"Kenapa tiba-tiba kepalaku jadi pusing? Apa aku terlalu banyak makan sup iga sapi tadi?" Gumam Merta sambil berupaya memegang sisi dinding.
Merta mencuci wajahnya setelah ia merasa sedikit membaik. Merta duduk di depan cermin sambil menggunakan pelembabnya.
"Eh, pelembabnya habis!" Ucap Merta melihat botol pelembabnya yang sudah kosong.
"Aku sudah membeli yang baru kemarin!" Ucap Merta lagi membuka laci untuk mengambil pelembab yang baru. Tanpa sengaja ia melihat bungkusan pembalut yang masih tersusun rapi di dalam laci itu.
"Eh, perasaan pembalut ini aku beli beberapa bulan yang lalu! Kenapa masih banyak?" Gumamnya dalam hati.
Deg. Deg.
Detak jantung Merta terasa berdetak lebih kencang. Ia melangkah cepat melihat kalender yang ada dia atas lemari kecil.
"Hampir dua bulan ini aku belum menstruasi!" Gumam Merta.
"Ya Tuhan, jangan sampai apa yang aku pikirkan saat ini terjadi padaku!" Gumamnya lagi.
Merta terkejut saat mendengar suara pintu terbuka. Merta menoleh kepada Geof yang baru saja masuk ke dalam kamar. Geof melangkah menghampirinya.
"Merta, besok pagi aku akan pergi perjalanan bisnis bersama papaku ke Itali." Kata Geof.
"Kalau begitu apa kau sudah menyiapkan pakaian yang akan kau bawa?" Tanya Merta.
"Baiklah, aku akan membantumu menyiapkan pakaianmu." Kata Merta lagi.
Geof memilih pakaian mana yang akan ia bawa, sedangkan Merta meraih dari tangan Geof dan menyusunnya dengan rapi di dalam koper. Beberapa saat kemudian semua pakaian yang Geof butuhkan selama di Itali telah tersusun rapi di dalam koper.
"Selesai!" Seru Merta meletakkan koper itu di sudut kamar.
Geof mendekatinya dengan memeluk tubuh Merta dan saling berhadapan.
"Berapa lama kau akan pergi?" Tanya Merta pada Geof
"Seminggu! Aku pasti akan merindukanmu." Bisik Geof.
"Aku juga!" Sahut Merta memeluk Geof dengan hangat.
Geof mengangkat tubuh Merta dan di bawanya untuk naik ke atas ranjang. Merta tau apa yang Geof inginkan darinya.
"Geof, jangan lakukan lagi!" Ucap Merta berusaha untuk menolak.
"Sebentar saja! Besok aku akan pergi dan aku pasti akan merindukanmu." Sahut Geof terus merayu Merta sehingga Merta tak bisa menolak keinginannya itu.
Sekali lagi karena perasaan cinta di antara keduanya, membuat mereka terhanyut dalam gairah cinta yang sedang mereka rasakan saat ini.
Keesokan paginya, Geof pun pergi bersama Luky ke Itali untuk membicarakan bisnis yang akan mereka lakukan bersama Zidan yang tak lain adalah sahabat dari Luky dan juga ayah mertuanya Boy. Sebelum pergi, Geof menitipkan pesan pada Lutfi untuk menjaga Merta dan mengantar Merta kemanapun Merta pergi. Dengan perintah majikannya itu, Lutfi on time 24 jam untuk selalu menyalakan ponselnya agar Merta dengan mudah menghubunginya.
Beberapa hari Geof pergi ke Itali, Merta merasakan pusing dan mual-mual ketika ia bangun tidur di pagi hari. Merta juga tidak berselera makan. Merta curiga dengan kondisi yang ia rasakan saat itu. Setelah selesai mandi ia menghubungi Lutfi untuk mengantarnya ke rumah sakit.
Tiba dirumah sakit, Merta pun memeriksakan dirinya ke dokter kandungan yang ada disana. Setelah melakukan beberapa tes, dokter pun mengatakan kalau Merta sedang hamil sekitar 9 minggu. Merta sempat kaget dengan hasil pemeriksaan yang dokter katakan padanya. Dokter memberikan hasil pemeriksaan itu kepada Merta dan juga menuliskan resep obat untuk menguatkan janin yang ada di dalam kandungannya itu.
Langkah Merta gontai saat keluar dari rumah sakit itu. Lutfi melihat raut wajah Merta yang sedikit aneh sambil memegang sebuah amplop yang berisi hasil pemeriksaan medisnya.
"Nona, apa kau tidak apa-apa?" Tanya Lutfi pada Merta.
"Iya, aku tidak apa-apa!" Sahut Merta.
"Ayo kita kembali ke apartemen." Kata Merta pada supir pribadinya itu.
Lutfi pun mengantarkan Merta kembali ke apartemen. Saat di perjalanan Lutfi terus memperhatikan raut wajah Merta yang terlihat gusar. Lutfi mencurigai sesuatu terhadap kekasih majikannya itu.
"Pasti terjadi sesuatu terhadap nona Merta!" Gumam Lutfi dalam hatinya.
__ADS_1
Tiba di apartemen sekali lagi Lutfi bertanya pada Merta apakah dia sedang baik-baik saja saat itu. Namun lagi-lagi Merta mengatakan kalau dirinya sedang baik-baik saja. Merta masuk ke dalam apartemen dan duduk di sofa sambil melihat hasil pemeriksaan medisnya.
"Ya Tuhan, aku tidak tau apakah aku harus senang atau sedih saat ini! Aku sedang mengandung anak Geof, namun aku dan Geof belum terikat dalam pernikahan! Apa yang harus aku lakukan?" Gumam Merta bingung dengan keadaan yang seperti itu.
"Lebih baik aku mengatakan hal ini kepada Geof setelah ia kembali dari Itali! Kalau aku mengatakannya sekarang aku takut hal ini akan mengganggu pekerjaannya disana." Gumam Merta lagi.
Merta menyimpan hasil pemeriksaan itu di dalam laci yang ada di dalam kamar. Merta berbaring sejenak saat ia merasakan pusing di kepalanya. Merta pun tertidur setelah ia meminum beberapa obat yang di berikan dokter kepadanya.
*****
Di Itali Geof sedang berada di salah satu toko perhiasan. Ia melihat beberapa cincin yang terlihat indah disana. Geof berniat untuk membelikan cincang itu kepada Merta saat ia akan melamarnya. Pilihan Geof jatuh kepada cincin berlian yang memiliki ukuran lumayan besar. Geof membeli cincin itu dengan perasaan yang begitu tidak sabar ingin segera bertemu dengan Merta.
"Lusa aku akan kembali! Saat itu aku akan segera melamarnya." Gumam Geof dalam hatinya.
Geof dan Luky sekarang berada di bandara untuk kembali ke Indonesia. Dengan perasan yang begitu tidak sabaran, Geof duduk di dalam pesawat sambil menatap cincin yang akan ia berikan kepada Merta. Tanpa sengaja Luky melirik cincin yang di pegang oleh Geof saat itu.
"Apa itu untuk Merta?" Tanya Luky pada Geof.
"Huh, mau tau saja!" Sahut geof sewot.
"Hei, jika kau memang ingin menikahinya, aku akan membuatkan pesta pernikahan selama seminggu berturut-turut!" Kata Luky dengan api semangat yang membara.
"Pa, kalau pestanya selama seminggu, kapan malam pengantinnya?" Tanya Geof.
"Hehehe, akhirnya kau mengakui juga kalau kau memang ingin melamar Merta!" Sahut Luky yang ternyata hanya ingin memancing Geof bicara.
"Huh, menyebalkan!" Ujar Geof kesal.
Luky terkekeh geli melihat ekspresi putranya yang tampak kesal sekaligus malu terhadap dirinya. Luky menatap putranya itu sambil berucap syukur dalam hatinya.
"Syukurlah jika Geof menemukan jodohnya! Karena kehadiran Merta, Geof menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya!" Gumam Luky dalam hatinya.
Berbeda dengan waktu, Merta sedang menghirup udara segar di pagi hari sambil berjemur di sebuah taman yang tak jauh dari kawasan apartemen mewah itu. Merta duduk sendiri dengan mata yang terpejam sambil menikmati hangatnya matahari pagi yang bersinar cerah.
Saat itu Vian juga sedang berolah raga di taman tersebut. Vian melihat Merta yang sedang duduk di bangku taman dan ia pun menghampirinya.
"Hai, Merta. Selamat pagi!" Sapa Vian dengan keringat yang membasahi keningnya.
"Eh, Vian! Apa kau sedang lari pagi?" Sahut Merta.
"Ya, begitulah! Aktifitas yang padat membuat tubuhku kurang baik, jadi aku lari pagi akan kondisi tubuhku kembali bugar." Kata Vian ikut duduk di sebelah Merta.
"Apa kau mau minum?" Merta menawari Vian minum air yang ia bawa dalam botol.
Vian mengambil botol minuman itu dan segera meminumnya. Vian mengembalikan botol tersebut dan menatap wajah Merta yang terlihat sedikit pucat.
"Apa kau sakit?" Tanya Vian sambil menyentuh dahi Merta.
"Tidak!" Sahut Merta.
"Tapi wajahmu terlihat pucat." Kata Vian.
"Tidak aku tidak apa-apa!" Sahut Merta lagi.
Tiba-tiba saja Merta merasa mual dan ingin muntah. Merta mual-mual dan menahan rasa inginnya untuk muntah.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Vian.
"Aku baik-baik saja!" Sahut Merta.
Vian menatap wajah Merta yang tampak pucat. Vian melebarkan kedua matanya dan mendekatkan wajahnya pada Merta.
"Merta, apa kau hamil?" Bisik Vian agar tidak terdengar oleh orang-orang yang ada di sekitar.
Merta terkejut karena Vian menanyakan hal itu padanya. Vian melihat Merta sedang gugup tanpa mau menjawab pertanyaannya.
"Ada apa? Kenapa kau ragu untuk menjawabnya? Aku ini temanmu kan?" Tanya Vian lagi.
"Iya, aku hamil!" Sahut Merta dengan suara yang pelan.
"Apa Geof sudah tau?" Tanya Vian lagi.
Merta menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kau tidak memberitahukannya?" Tanya Vian.
"Aku ingin mengatakannya setelah ia kembali dari Itali! Namun aku masih ragu." Kata Merta.
"Apa yang kau ragukan?" Tanya Vian.
"Aku takut Geof tidak menginginkan bayi ini." Sahut Merta.
"Merta, kau dan Geof saling mencintai kan? Jadi kau tidak perlu takut untuk mengatakan hal ini! Aku yakin Geof pasti akan senang dan menerima buah cinta kalian." Kata Vian berusaha membuat Merta untuk memberanikan dirinya.
"Iya, kau benar! Aku harus berani mengatakan yang sebenarnya pada Geof. Aku yakin dia akan senang mendengar kehamilanku ini." Sahut Merta.
Dari kejauhan Geof melihat Merta duduk berdua bersama Vian di taman itu. Geof melihat bagaimana Vian menyentuh dan menggenggam tangan Merta disana. Bukan hanya saling menggenggam tangan saja, bahkan Vian juga menyentuh wajah Merta.
__ADS_1
Geof memejamkan matanya sejenak dan menggenggam erat kota yang berisi cincin berlian itu dengan perasan yang kecewa.
"Mengapa hal ini harus terjadi lagi padaku! Disaat aku ingin melamar kekasihku, aku selalu merasakan kekecewaan." Gumam Geof dalam hatinya.