WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
NIKAH


__ADS_3

Geof, Merta dan juga Gading masuk ke dalam rumah yang terlihat sangat megah itu. Lita dan Luky berlari menuruni anak tangga untuk menyambut kedatangan mereka. Lita dan Luky saling mendahului saat berlari sehingga tanpa sadar mereka tidak memperhatikan langkah kaki mereka. Tanpa sengaja kaki Lita menyenggol kaki Luky yang membuat Luky terjatuh dan berguling-guling di anak tangga hingga ke lantai dasar. Geof, Merta dan Gading kaget melihat Luky tertelungkup jatuh di lantai.


"Sayang, apa kau tidak apa-apa?" Tanya Lita khawatir pada Luky.


"Hahaha, aku tidak apa-apa!" Sahut Luky seraya mengacungkan kedua jempolnya pada Lita. Padahal saat itu pinggang Luky terasa senat-senut, namun karena sedang bahagia dengan kehadiran cucu, sakit itu tak terlalu di hiraukan oleh Luky.


Perhatian Lita dan Luky pun tertuju pada bocah yang selama bertahun-tahun mereka impikan. Lita dan Luky pun menghampiri Gading yang sedang berdiri di samping Geof.


"Cucuku!" Seru kedua kakek nenek itu kepada Gading.


Luky dan Lita memeluk Gading dengan erat. Gading merasa senang saat kakek dan neneknya ternyata sangat menyayanginya. Merta tampak sedikit gugup. Lagi-lagi Geof mencoba untuk menenangkan Merta dengan menggenggam tangannya.


Lita melihat Merta yang berdiri di samping Geof. Lita tersenyum lebar dan memeluknya.


"Oh, aku sangat merindukanmu, Merta! Kau menghilang selam 5 tahun karena ulah putraku yang bodoh ini." Kata Lita seraya melotot pada Geof.


"Apa kabar, nyonya? Lama tidak bertemu!" Ucap Merta berlaku sopan di depan Lita dan juga Luky.


"Merta, jangan terlalu sungkan kepada kami! Kami ini adalah kakek dan nenek dari putramu. Sebentar lagi kau akan menjadi bagian keluarga kami." Sahut Luky sambil menggendong Gading dengan kondisi pinggang yang senat-senut.


"Maaf, telah membuat khawatir selama 5 tahun ini!" Ucap Merta pada Luky dan Lita.


"Sudahlah! Semua bukan kesalahanmu, Merta! Tapi si bodoh ini lah yang salah." Sahut Luky ikut melotot pada Geof.


"Iya...iya, aku memang bodoh!" Kata Geof mengalah.


"Lebih baik kalian beristirahat saja di kamar." Kata Lita pada Merta dan Gading.


"Ma, Merta dan Gading akan tinggal di apartemen bersamaku!" Kata Geof pada Lita.


"Tidak boleh! 5 tahun lamanya aku tidak bertemu dengan Merta dan juga cucuku, apa kau masih ingin menjauhkan mereka lagi dariku, Geof?" Teriak Lita kesal. Gading menatap Lita dengan kekaguman yang luar biasa. Ia melihat rupa Lita bak seekor naga betina yang sedang menyemburkan api dari mulutnya kepada Geof.


"Wah, nenekku adalah wanita yang paling keren sedunia!" Seru Gading terpukau melihat Lita yang berteriak kesal pada Geof.


"Ma, hanya sebentar saja! Setelah aku dan Merta menikah, kami akan tinggal disini bersama kalian." Sahut Geof bersikeras.


"Aku tidak mengizinkannya!" Teriak Lita lagi.


"Begini saja, biarkan Merta tinggal bersama Geof di apartemen dan Gading tinggal bersama kita disini!" Kata Luky memberikan ide.


"Itu tidak mungkin pa! Merta tidak mungkin tinggal terpisah dari Gading." Kata Geof menolak ide Luky.


 


Merta bingung melihat Geof sedang bersitegang dengan kedua orang tuanya. Tak ingin hal itu terus terjadi, akhirnya Merta membuat keputusan demi kedamaian yang ada dirumah itu.


"Geof, aku tidak masalah jika Gading tinggal bersama kakek dan neneknya disini!" Kata Merta membujuk Geof.


"Kau yang benar saja! Kau dan Gading kan tidak pernah tinggal terpisah." Sahut Geof.


"Sudahlah, tidak masalah! Jika Gading senang, aku juga akan senang." Sahut Merta tersenyum kepadanya.


"Terserah kau!" Kata Geof.


Merta mendekati putranya yang masih bertengger di gendongan sang kakek.


"Gading, apa kau mau tinggal disini bersama kakek dan nenek?" Tanya Merta pada putranya.


"Iya!" Seru Gading bersemangat.


"Baiklah, semuanya sudah beres." Kata Merta melirik Geof yang hanya bisa menghela nafas.


Kemudian, seorang pelayan menghampiri Lita untuk mengatakan bahwa makan siang telah siap di sajikan. Lita mengajak mereka untuk makan siang bersama di ruang makan itu.


Gading duduk di tengah-tengah antara Lita dan juga Luky. Sementara Geof dan Merta duduk berdampingan tepat di hadapan Gading. Luky dan Lita yang baru saja merasakan menjadi sepasang kakek dan nenek, terus memanjakan Gading dengan suapan-suapan makanan yang lezat itu.


"Apa kau suka, sayang?" Tanya Lita pada Gading.


"Lezat!" Seru Gading sambil mengunyah dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.


"Apakah semua ini nenek yang masak?" Tanya Gading dengan tampang imutnya kepada Lita.


"Tentu saja! Aku menyiapkan semuanya untuk cucuku yang tersayang." Sahut Lita mencubit pipi Gading dengan gemas.


"Gading, kakek mau tanya, apa cita-citamu jika kau sudah besar nanti?" Tanya Luky pada cucunya.


"Aku ingin menjadi penyanyi dan juga aktor tertampan di dunia!" Seru Gading penuh percaya diri.


"Hei, kau harus punya satu pilihan! Menjadi penyanyi atau menjadi aktor?" Sahut Geof menanggapi perkataan putranya itu.


"Ayah, menyanyi itu adalah hobiku dan akting adalah bakatku! Jadi aku tidak bisa memilih satu diantaranya." Sahut Gading begitu pintar menjawab pertanyaan Geof.


"Wah, ternyata kau hobi bernyanyi ya?" Seru Lita senang.


"Tentu saja! Nenek mau mendengar suara merduku?" Tanya Gading pada Lita.


"Di ruang makan tidak boleh bernyanyi!" Kata Geof menasehati Gading.


"Apa yang di katakan oleh ayahmu benar! Bagaimana kalau setelah makan nanti kita berkaraoke?" Tanya Luky pada Gading.


"Baiklah!" Seru Gading antusias.


Setelah makan siang, mereka pun berkaraoke di ruangan yang khusus di buat untuk karaoke. Geof dan Merta duduk kaku di sofa empuk yang ada di dalam ruangan itu. Sementara Luky, Lita dan juga Gading sedang kegirangan bernyanyi dan berjoget bersama. Luky tetap berjoget walaupun pinggangnya sedari tadi senat-senut akibat terjatuh di tangga tadi.

__ADS_1


Gading tampak percaya diri dengan memegang sebuah microphone yang ada ditangannya. Lita dan Luky memegang tamborin untuk menambah keseruan mereka dalam berkaraoke. Luky dan Lita masih merasa senang dan jejingkrakan sambil berjoget ria saat Gading bernyanyi lagu dengan musik yang agak cepat. Lalu setelah itu, Gading bernyanyi lagi dengan lagu yang sedih.


Di persimpangan jalan ku duduk sendiri tak ada kamu yang selalu


Temani aku saat tangis dan tawa kita rasa bersama berjanji bersama


Menggapai bintang kini hilanglah sudah semua cerita


Itu sahabat kecil dimanakah kau berada Masih ingatkah kamu


Saat-saat yang indah


Kini aku tak tahu kau dimana


Sahabat kecil yang selalu ku rindukan


Lelapkan tidurmu jika memang kau telah tiada


Sahabat kecil yang selalu ku nantikan


Ku berharap suatu saat nanti


Kamu akan datang


Berharap kamu akan datang


Geof dan Merta melihat putranya bernyanyi dengan penuh semangat dan percaya diri, sedangkan Luky dan Lita berpelukan sambil menangis haru dengan deraian air mata. Geof dan Merta tepok jidat melihat sepasang kakek dan nenek itu yang menjadi baper gara-gara mendengar lirik lagu yang di nyanyikan oleh Gading penuh dengan penghayatan.


"Ya Tuhan, aku bahkan tak kuat melihat kedua orang tuaku yang memiliki sifat konyol seperti itu!" Kata Geof menunduk sambil tepok jidat.


"Hehehe, jangan seperti itu!" Sahut Merta mengelus pundak Geof untuk menguatkannya.


Gading selesai bernyanyi dan duduk sejenak untuk beristirahat. Luky memberikan minuman yang ada di atas meja kepada Gading.


"Bagaimana suaraku tadi?" Tanya Gading pada kakek dan neneknya yang sudah berhenti menangis.


"Suaramu keren sekali!" Seru si kakek dan nenek yang konyol itu.


"Tentu saja!" Sahut Gading menyombongkan dirinya.


"Nenek, sekarang giliranmu!" Kata Gading menyuruh Lita bernyanyi.


"Baiklah!" Seru Lita bersemangat untuk bernyanyi lagu dangdut favoritnya.


Geof melirik Merta yang tersenyum lebar saat melihat Lita akan mulai bernyanyi.


"Merta, ayo bernyanyi denganku!" Seru Lita mengajak calon menantunya yang juga hobi bernyanyi.


"Mau kemana kau?" Tanya Geof melotot pada Merta.


"Aku mau joget!" Sahut Merta.


"Tidak boleh!" Kata Geof melarang Merta berjoget bersama mereka.


Geof menyeret Merta keluar dari ruang karaoke itu dengan paksa.


"Geof, aku ingin berjoget dan bernyanyi di dalam bersama mereka!" Teriak Merta sambil berontak.


"Tidak! Kita akan kembali ke apartemen sekarang juga." Sahut Geof terus menyeret Merta dengan kesal.


 


Lutfi mengantar Geof dan juga Merta ke apartemen. Setibanya disana, hati Merta terenyuh melihat ruang apartemen itu yang tidak berubah sama sekali. Semua perabotan dan juga warna cat dindingnya juga tak berubah sedikitpun. Merta naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar. Ia melangkah ke arah lemari dan melihat isi lemari itu yang juga tidak berubah. Merta menatap semua barang-barang yang ia tinggalkan di dalam lemari itu dengan terharu.


"Semua pakaian dan juga perhiasanmu aku rawat dengan baik di dalam lemari ini." Bisik Geof samabil memeluk Merta dari belakang.


"Iya, aku tau itu! Aku juga melihat apartemen ini tidak berubah sama sekali. Semua masih sama seperti dulu." Sahut Merta.


"Aku tidak akan merubahnya, karena setiap benda yang ada di apartemen ini adalah saksi bisu atas cinta kita, Merta!" Bisik Geof lagi.


"Oh, setelah 5 tahun tidak bertemu kau menjadi pria yang romantis!" Seru Merta seraya bergelayut manja pada tubuh Geof.


"Istirahatlah! Besok kita akan pergi membeli gaun pengantin kita." Kata Geof yang menginginkan segera menikahi Merta.


"Kapan kau akan menikahi aku?" Tanya Merta.


"Lusa!" Sahut Geof.


"Apa? Secepat itu?" Teriak Merta terkejut.


"Mempersiapkan pernikahan itu tidak semudah yang kau pikirkan, Geof!" Teriak Merta Lagi.


"Hei, aku ini Sultan! Jadi aku bisa melakukan apa saja dengan uangku yang berjibun di dalam bank. Hehehe." Sahut Geof menyombongkan diri.


"Huh, dasar sombong!" Ujar Merta sewot.


Sebenarnya sebelum Geof berangkat ke Sulawesi, ia telah mengerahkan semua anak buahnya untuk menyiapkan acara pernikahannya bersama Merta. Lita dan Luky juga ikut membantu mempersiapkan pesta pernikahan untuk mereka setelah tiba di ibukota.


 


Keesokan harinya, Geof dan Merta pergi ke sebuah boutique untuk membeli gaun pengantin mereka. Tidak mau terlalu banyak memilih, Merta dan Geof memutuskan untuk membeli gaun pernikahan yang mereka rasa cocok dan nyaman untuk mereka kenakan di resepsi perniakahan nanti.


Setelah membeli gaun pengantinnya, Geof dan Merta pergi makan siang di salah satu restoran di kota tersebut. Saat sedang menyantap makan siangnya, Geof melirik Merta yang tampak sedih.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kau sedih?" Tanya Geof pada Merta.


"Aku hanya bingung, bagaimana aku akan menikah jika keluargaku tidak berada disini untuk mendampingiku nanti." Sahut Merta teringat pada Maya dan juga Pandi.


"Kau tenang saja! Aku sudah mengutus orang untuk menjemput mereka." Kata Geof.


"Benarkah?" Tanya Merta.


"Iya! Mereka akan segera tiba dan mendampingimu saat di akad perniakahan kita besok." Sahut Geof mengelus wajah Merta.


Merta terlihat senang karena tau bahwa Maya dan juga Pandi akan datang ke ibukota untuk mendampingi dirinya saat akan akad nikah besok pagi.


 


*****


Gading yang tinggal bersama Luky dan Lita, sedang menikmati segala kemewahan yang kakek dan neneknya berikan. Lita dan Luky menuruti segala keinginan cucu kesangannya itu. Lita mencari cucunya yang sedang asyik bermain game di IPad-nya.


"Gading, ayo kita tidur! Hari sudah larut, kau harus sgera tidur, sayang." Kata Lita pada Luky.


"Sebentar lagi, nek!" Sahut Gading.


"Ayolah! Kau harus tidur cepat, karena besok kau harus bangun pagi-pagi untuk menghadiri pernikahan ayah dan bundamu." Kata Lita lagi.


"Baiklah!" Sahut Gading menuruti perkataan Lita.


Saat masuk ke dalam kamar, Gading melihat Luky yang sudah menunggunya sedari tadi. Luky melebarkan kedua tangannya untuk segera memeluk cucunya itu. Gading naik ke atas ranjang yang empuk dan masuk ke dalam dekapan Luky.


"Cucuku, sayang!" Seru Luky mendekap Gading.


"Apa kau senang jika ayah dan bundamu menikah besok?" Tanya Luky pada Gading yang sudah berbaring di tengah-tengah Luky dan Lita.


"Tentu saja! Aku bahkan sudah tidak sabar ingin melihat mereka bersama." Sahut Gading.


"Selama ini, aku sering melihat bunda duduk menyendiri dan sedih! Aku tau saat itu bunda pasti sedang merindukan ayah." Sambung Gading lagi.


"Akhirnya semua sudah berlalu. Kini ayah dan bundamu akan segera bersatu selamanya." Seru Luky mencoba untuk membuat cucunya tak bersedih mengingat masa lalu.


"Sekarang kita tidur ya! Nenek akan menyanyikan lagu nina bobo untukmu." Kata Lita hendak mulai bernyanyi.


"Stop!" Kata Gading menempelkan telapak tangannya pada mulut Lita.


"Kenapa?" Tanya Lita bingung.


"Aku lebih suka tidur dalam suasana yang tenang tanpa ada suara apapun." Sahut Gading.


"Oke!" Sahut Lita.


Gading pun memejamkan kedua matanya dan tidur terlelap di antara kakek dan neneknya yang begitu menyayangi dirinya.


Keesokan paginya, Merta sedang bersiap-siap menggunakan kebaya putih dan juga riasan yang akan membuatnya terlihat lebih cantik di acara akad nikahnya. Penata rias sedang melakukan keahliannya dalam mendandani Merta.


Di ruang acara akad yang telah di hiasi dekorasi yang indah, Geof mondar-mandir dengan tidak sabaran. Luky dan Gading menatap pada Geof yang sedari tadi gelisah menunggu Merta selesai berdandan.


"Ya Tuhan, kenapa lama sekali sih?" Gumam Geof tak sabaran.


"Ayah, aku pusing melihatmu mondar-mandir sedari tadi." Kata Gading memegang kepalanya.


"Iya! Aku juga pusing melihatmu seperti ini, Geof. Berhentilah mondar-mandir." Sahut Luky kesal menatap Geof yang tak sabaran.


Geof tak memperdulikan perkataan Luky dan Gading padanya. Geof melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya.


"Aku tidak sabar lagi!" Gumam Geof melangkah keluar dari ruang akad itu.


Geof pergi ke ruang rias dimana Merta sedang di dandani oleh penata rias yang terkenal di ibukota itu. Merta melirik Geof yang baru saja masuk ke dalam ruang rias itu. Merta kaget saat Geof tiba-tiba saja menarik lengan Merta.


"Geof, apa yang kau lakukan?" Teriak Merta pada Geof.


"Aku sudah tidak sabar ingin segera menikah denganmu!" Sahut Geof terus menyeret Merta untuk ikut bersamanya ke ruang acara akad pernikahan mereka.


"Tapi aku masih belum siap berdandan, Geof!" Teriak Merta lagi seraya berontak.


"Tidak usah dandan, yang penting sah!" Sahut Geof tidak perduli dengan teriakan Merta.


 


Woi, ini meme lucu Merta dan Geof yang mau akad nikah.


Wwkwkwkwkwkwkwk................................



Pagi itu Geof mengucapkan akad perniakahannya bersama Merta. Perasaan kedua belah pihak keluarga sangat bahagia karena Geof dan Merta akhirnya menikah juga.


Para sahabat Geof turut bahagia karena Geof akhrinya menemukan pelabuhan cintanya. Mereka sangat tau bagaimana Geof berjuang untuk mendapatkan cintanya itu selama ini.


"Selamat Geof, akhirnya kau menikah juga! Hahaha." Ucap Azlan tertawa senang sambil menepuk pundak Geof.


"Hehehe, akhirnya kalian tidak bisa membully aku lagi karena aku telah menjadi suami dan juga memiliki keluarga!" Sahut Geof menyombongkan diri.,


"Hei, kalian jangan lupa untuk menghadiri acara resepsiku nanti." Sambung Geof terhadap sahabat-sahabatnya itu.


"Tentu saja, sobat! Kami akan memeriahkan pesta perniakahanmu nanti." Sahut Boy.

__ADS_1


__ADS_2