
Shafa mengirimkan alamat cafenya kepada Lutfi yang baru saja tiba di kota itu. Shafa sangatlah antusias untuk bertemu dengan Lutfi yang ia kenal dari jejaring media sosial. Shafa masuk kembali ke dalam cafenya dan menemui Merta yang sedang beristirahat setelah bernyanyi. Saat itu Merta melihat wajah Shafa berseri-seri.
"Kelihatannya kau sedang senang!" Kata Merta pada Shafa yang duduk di hadapannya.
"Aku akan bertemu dengan kekasih medsos ku!" Sahut Shafa kegirangan.
"Yang dari ibu kota itu?" Tanya Merta.
"Iya! Dia baru saja tiba tadi siang dan sekarang dia akan menemui aku disini." Jawab Shafa.
"Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajahnya secara langsung." Sambung Shafa lagi.
"Kau punya fotonya? Aku lihat dong!" Pinta Merta.
Saat Shafa akan memperlihatkan foto Lutfi pada Merta, tiba-tiba saja seorang pelayan cafe menghampiri mereka.
"Nona Shafa! Ada keributan diluar." Kata pelayan itu pada bosnya.
"Apa?" Teriak Shafa panik.
Shafa segera berlari keluar dan tidak jadi memperlihatkan foto Lutfi pada Merta. Merta yang tidak berurusan dengan masalah yang terjadi di cafe itu, hanya duduk saja menunggu gilirannya untuk naik ke panggung lagi dan bernyanyi.
Beberapa menit kemudian, Lutfi telah tiba di depan cafe yang Shafa miliki dengan sebuah taksi online yang ia pesan. Setelah membayar jasa taksi itu, Lutfi pun keluar dari taksi dan segera menghubungi Shafa.
"Shafa, aku sudah berada di depan cafemu!" Kata Lutfi melalui ponselnya.
"Baiklah, aku akan menemuimu!" Sahut Shafa kegirangan.
Shafa pun akhirnya keluar dari cafe dan menemui Lutfi. Mata Shafa tak berkedip saat melihat wajah Lutfi secara langsung. Jantung Lutfi berdebar kencang saat ia melihat Shafa yang begitu cantik di matanya. Sungguh kedua insan itu sedang di mabuk cinta.
"Lulut!" Ucap Shafa menatap Lutfi.
"Fafa!" Ucap Lutfi yang juga memiliki panggilan mesra untuk Shafa.
Awalnya mereka merasa canggung saat bertemu. Mereka bingung harus di mulai darimana. Jika diawali dengan bersalaman tapi mereka menginginkan lebih. Kalau di awali dengan pelukan, mereka takut akan berpikir terlalu agresif.
"Eeemmmm, apa aku boleh peluk?" Tanya Lutfi pada Shafa yang juga merasa canggung.
"Tapi, kita kan baru saja saling kenal!" Sahut Shafa malu-malu.
"Oh, iya kau benar juga!" Ucap Lutfi ikutan malu.
"Tapi kalau bergandengan tangan boleh saja." Kata Shafa.
"Be..benarkah? Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam cafe sambil bergandengan tangan." Kata Lutfi sambil mengulurkan tangannya.
Shafa meraih lengan Lutfi dan berjalan bersama untuk masuk ke dalam cafe. Shafa dan Lutfi duduk di meja yang ada di pojokan. Shafa memerintahkan pelayannya untuk membawakan makan serta minuman ke mejanya. Selang beberapa menit makanan dan juga minuman telah terhidang di atas meja yang mereka duduki.
"Ayo, nikmati hidangan dari cafeku!" Kata Shafa kepada Lutfi.
Lutfi pun mencicipi makanan serta minuman yang sudah di suguhkan untuknya. Sambil menikmati hidangan yang ada di meja, Lutfi celingak-celinguk melihat suasana cafe yang tampak begit ramai pengunjung.
"Kelihatannya cafemu ini cukup tersohor ya! Banyak pengunjung yang datang." Kata Lutfi pada Shafa.
"Iya! Itu semua berkat Merta si penyanyi yang memilliki suara merdu." Sahut Shafa.
"Apa? Merta?" Tanya Lutfi terkejut.
"Iya! Kenapa? Apa kau kenal?" Tanya Shafa bingung.
Lutfi berusaha sedikit tenang agar tidak menimbulkan kesan yang mencurigakan.
"Eeemmm, nama itu sedikit familiar saja di telingaku! Hehehe." Sahut Lutfi.
"Apakah suaranya sangat merdu?" Tanya Lutfi mengorek informasi dari Shafa.
"Iya, suaranya sangat merdu!" Sahut Shafa.
"Dimana kau bertemu dengannya? Apa kalian sudah lama kenal?" Tanya Lutfi.
"Aku bertemu dengannya saat aku liburan ke sebuah pulau kecil yang tak jauh dari sini! Aku mengenalnya sekitar beberapa Minggu yang lalu." Jawab Shafa tidak curiga bahwa Lutfi sedang mengintrogasi dirinya.
"Apa dia wanita single atau sudah menikah?" Tanya Lutfi.
"Bagaimana ya aku mengatakannya? Dia sudah memiliki anak laki-laki tapi dia belum menikah! Hah, cerita mengenai masa lalunya itu membuatku sedih." Sahut Shafa.
"Berapa tahun usia anaknya?" Tanya Lutfi.
"Sekitar 4 tahunan!" Jawab Shafa.
"Hei, aku cemburu loh karena sedari tadi kau menanyakan mengenai bintang penyanyi di cafe ku ini!" Kata Shafa pada Lutfi.
"Hehehe, aku hanya ingin tahu saja!" Sahut Lutfi.
Lutfi mendekatkan wajahnya pada wajah Shafa.
"Apa kau tau selama ini hanya kau yang ada di hatiku!" Ucap Lutfi merayu Shafa.
__ADS_1
"Dasar gombal!" Sahut Shafa malu-malu.
"Aku serius! Jika tidak maka untuk apa aku mengejarmu hingga sejauh ini? Jarak ibukota ke Sulawesi itu jauh!" Kata Lutfi berupaya agar Shafa percaya pada ucapannya.
Shafa seakan melambung tinggi di langit mendengar perkataan Lutfi yang pintar dalam merayu wanita. Saat sedang mencoba untuk mengutarakan isi hatinya, mata Lutfi melirik pada seorang wanita yang baru saja naik ke atas panggung bintik bernyanyi. Lutfi seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat saat itu. Lima tahun lamanya ia tak bertemu, namun tanpa di cari ia menemukannya.
"Akhirnya aku menemukanmu, nona!" Gumam Lutfi dalam hatinya menatap Merta dari kejauhan.
Malam itu Lutfi mengajak ngobrol Shafa sambil sesekali menatap Merta yang sedang bernyanyi. Tak lupa Lutfi juga melemparkan rayuan gombalnya kepada Shafa agar Shafa tidak curiga dengan dirinya yang memilki rencana untuk Merta.
Lutfi melihat Merta turun dari panggung setelah mengucapkan kalimat pamit pada pengunjung yang suka dan menikmati suara merdunya. Lutfi memutar otaknya untuk melancarkan rencananya.
"Sayang, aku kebelet! Aku ke toilet dulu ya." Kata Lutfi pada Shafa.
"Aku akan mengantarmu!" Sahut Shafa hendak bangkit dari kursinya.
"Tidak usah! Aku akan pergi sendiri saja. Aku bisa tanya pelayan nanti." Kata Lutfi yang tak ingin Shafa mengacaukan rencananya.
Lutfi segera pergi ke arah belakang berpura-pura ingin ke toilet, padahal ia ingin mengikuti Merta yang sedang bersiap-siap untuk pulang ke apartemen.
Diam-diam Lutfi membuntuti Merta yang masuk ke dalam taksi untuk kembali pulang ke apartemen yang ia tinggali bersama dengan putranya. Lutfi pun menyetop taksi dan terus mengikuti taksi yang membawa Merta.
Selang beberapa menit, Lutfi melihat Merta keluar dari taksi dan masuk ke dalam kawasan apartemen yang terbilang cukup sederhana. Lutfi mengendap-endap mengikuti langkah Merta yang akan masuk ke dalam apartemennya.
"Seperti ada orang yang mengikuti aku!" Gumam Merta ketakutan.
Lutfi sembunyi di balik tembok agar aksinya tidak ketahuan oleh Merta. Lutfi kembali mengikuti langkah Merta yang segera masuk ke dalam ruang apartemennya. Saat Merta membuka pintu, Lutfi melihat seorang anak yang wajahnya sangat mirip dengan Geof yang sedang menyambut kepulangan Merta.
"Eh bussett! Itu bocah mirip banget dengan wajah si bos!" Gumam Lutfi terkejut.
"Mampuslah kau bos! Saingan baru akan segera datang ke rumahmu. Aku yakin setelah bocah itu datang kerumah orang tuamu, kau pasti akan di campakkan oleh kedua orang tuamu! Hehehe." Gumam Lutfi lagi dalam hatinya.
Lutfi kembali ke hotel tempatnya menginap dan segera menghubungi Geof yang berada di ibukota. Dengan sangat antusias Lutfi mengatakan kalau dia sudah menemukan Merta dan juga anaknya.
"Bos, akhirnya aku berhasil menemukan nona dan juga anaknya!" Kata Lutfi melalui ponselnya dan membuat Geof sangat terkejut.
"Apa?" Ucap Geof seakan tak percaya.
"Iya, bos! Aku menemukannya." Sahut Lutfi.
"Katakan padaku! Dimana mereka?" Tanya Geof dengan perasaan yang begitu gembira.
"Di salah satu apartemen sederhana yang ada di kota ini, bos!" Jawab Lutfi.
"Lutfi atur rencana, jangan sampai Merta curiga kalau kita menemukannya! Aku takut dia akan lari dariku." Perintah Geof pada supir sekaligus orang kepercayaannya itu.
"Baik, bos!" Sahut Lutfi.
Setelah menutup teleponnya, Lutfi melihat pesan yang masuk dari Shafa.
"Aaarrgghhh! Mampus aku! Aku lupa saat aku meninggalkan cafe tanpa pamit kepada Shafa." Teriak Lutfi panik.
Malam itu untuk pertama kalinya, Lutfi menerima amukan dari wanita yang sedang ia gilai. Lutfi hanya pasrah mendengar omelan Shafa yang begitu memekakkan telinganya. Setelah puas mendengar omelan Shafa, Lutfi terduduk lemas di atas ranjang hotel.
"Apalah dayaku, yang begitu antusias menjalankan tugas negara!" Gumam Lutfi ngedumel sendirian.
*****
Di kediaman orang tuanya, Geof bersiap-siap untuk segera pergi ke Sulawesi menyusul Merta dan juga buah hatinya. Geof juga membawa beberapa anak buahnya untuk ikut bersamanya dan mengatur segala keperluan dirinya disana.
Waktu itu menunjukkan pukul tengah malam. Lita tanpa sengaja melihat Geof yang sedang terburu-buru pergi keluar rumah. Lita mengikuti langkah putranya itu.
"Geof, kau mau kemana?" Tanya Lita.
"Aku menemukannya, ma!" Kata Geof begitu gembira.
"Apa kau bilang? Apa kau menemukan mertuaku dan juga cucuku?" Tanya Lita.
Geof mengangguk cepat.
"Aaarrgghhh!" Lita tergeletak sesak nafas di lantai. Geof panik bukan kepalang say melihat ibunya hampir pingsan. Luky keluar dari kamar setelah mendengar teriakan Lita.
"Ada apa? Kau kenapa, sayang?" Tanya Luky panik.
"Geof, bawa pulang calon menantu dan juga cucuku! Aku sangat bahagia. Sangking bahagianya aku ingin pingsan." Kata Lita pada Geof.
"Baiklah, ma!" Sahut Geof berlari keluar dari rumah.
Luky ternganga mendengar Geof sudah menemukan Merta dan juga cucunya. Perasaan yang menghampiri Luky Daan itu campur aduk. Tiba-tiba Luky melompat-lompat kegirangan saat tau kalau sebentar lagi ia akan bertemu dengan cucu yang sudah lama diidamkannya itu.
Geof segera berangkat menuju ke Sulawesi dengan menggunakan jet pribadinya. Tak lama mengudara, Geof pun tiba di salah satu kota yang menjadi tempat tinggal Merta dan buah hatinya itu. Lutfi menemui sang majikan dan membawa Geof ke apartemen yang Merta tinggali.
"Bos, ini apartemennya!" Kata Lutfi pada Geof.
"Mereka tinggal disini?" Tanya Geof melihat apartemen yang sederhana itu. Ia seakan tak terima jika Merta dan buah hatinya tinggal di apartemen yang sederhana itu.
__ADS_1
"Iya, bos!" Sahut Lutfi.
"Bos, tuan muda sedang berada di apartemen sendirian karena nona Merta baru saja keluar untuk berbelanja." Kata Lutfi yang terus memperhatikan gerak gerik Merta.
"Bawa anakku ke hotel! Ingat jangan buat dia takut." Perintah Geof pada semua anak buahnya yang ia bawa.
"Baik bos!" Seru semua anak buahnya.
Geof segera masuk ke apartemen itu dan memencet bel pintunya. Tak lama seorang bocah kecil laki-laki membuka pintu dan mengintip keluar. Geof terkejut melihat raut wajah bocah itu sangat mirip dengannya ketika ia masih kecil. Senyuman di bibir Geof mengambang ketika melihat Gading sedang menatapnya.
"Hei, om! Kau cari siapa? Jika kau tertarik pada bundaku, kau harus minta izin dulu padaku." Kata Gading kepada Geof yang berdiri tegak di hadapannya.
"Benarkah begitu?" Tanya Geof menaikkan sebelah alis matanya.
"Tentu saja! Pria yang menginginkan bundaku harus memiliki kriteria yang aku tetapkan!" Sahut Gading lagi dengan ekspresi penuh percaya diri.
"Seperti apa kriteria yang kau tetapkan itu?" Tanya Geof lagi.
"Yang pertama pria itu harus menggilai bundaku! Yang kedua pria itu harus memiliki harta dan kekayaan yang bisa mencukupi kebutuhan bundaku! Dan yang ketiga, dia harus bisa membuatku menyukainya." Jawab Gading dengan begitu lantang berbicara.
"Apa yang kau suka?" Tanya Geof.
"Tentu saja mainan yang banyak!" Sahut Gading.
"Belikan mainan yang banyak, seorang juga!" Perintah Geof pada anak buahnya.
"Baik, bos!" Seru anak buahnya itu.
Gading tercengang melihat anak buah Geof yang berlari pergi setelah mendengarkan perintah dari Geof.
"Wah, apakah kau seorang mafia?" Tanya Gading dengan tatapan yang berbinar-binar.
"Bukan! Aku adalah pemimpin perusahaan ternama di ibukota." Sahut Geof menyombongkan diri.
"Ah, tidak asik!" Sahut Gading kecewa.
Geof terkejut mendengar ucapan Gading yang kecewa.
"Apakah dia menginginkan aku menjadi mafia?" Gumam Geof dalam hatinya.
Geof melirik ke dalam dan melihat ruangan apartemen itu tampak sepi.
"Apa aku yang tampan ini boleh masuk?" Tanya Geof pada Gading.
"Kata bunda orang asing di larang masuk dan berbicara padaku!" Sahut Gading sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan-kiri.
"Hei, sedari tadi kau berbicara denganku!" Teriak Geof kesal menghadapi putranya itu.
"Hehehe, benar juga ya!" Sahut Gading cengengesan dengan menampilkan giginya yang ompong tengah.
Lutfi hanya bisa menghela nafas melihat majikan dan anaknya sedang berbicara dan bertingkah konyol di depannya.
"Ya Tuhan, perbincangan apa yang sedang aku dengar saat ini!" Gumam Lutfi kehabisan kata-kata melihat tingkah konyol sang majikan dan anaknya.
Gading berkata lagi pada Geof yang masih berdiri di luar pintu.
"Kau boleh masuk, ketika anak buahmu membawakan mainan yang banyak untukku!" Kata Gading lagi.
"Sial! Dia berlagak sedang bernegosiasi denganku!" Gumam Geof dalam hatinya.
"Ya baiklah!" Sahut Geof mengalah.
"Kalau mainannya sudah datang, jangan lupa pencet bel lagi." Kata Gading lagi pada Geof.
Gading masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan rapat.
"Wajahnya mirip denganku! Hehehe, dia pasti ayahku." Gumam Gading saat berada di dalam ruangan apartemen.
"Wah, bunda memang pintar mencari pria! Ayahku ternyata seorang pimpinan perusahaan terkenal di ibukota. Hehehe." Gumam Gading lagi kegirangan.
Di depan pintu, Geof menghentakkan kakinya menunggu sang anak buah yang ia tugaskan membeli banyak mainan. Geof merasa sangat kesal karena anak buahnya begitu lama untuk kembali. Hampir satu jam, akhirnya anak buahnya kembali dengan membawa begitu banyak mainan untuk Gading. Geof langsung memencet bel pintu itu lagi. Gading membuka pintu sedikit dan mengintip keluar.
"Wah, mainannya banyak sekali!" Seru Gading dengan mata yang berbinar-binar seraya membuka pintu itu lebar-lebar.
"Apa kau mau semua mainan ini?" Tanya Geof.
"Tentu saja!" Sahut Gading tak sabar ingin memainkannya.
"Ada syaratnya!" Kata Geof.
"Apa?" Tanya Gading bingung.
"Kau harus ikut denganku ke hotel dimana aku menginap!" Kata Geof.
Gading tampak berpikir keras saat itu.
"Hehehe, aku tau maksudmu, ayah! Jika kau membawaku ikut bersamamu, otomatis bunda juga akan bersedia ikut denganmu juga. Huh, dasar ayah! Trik lama seperti ini masih mau dipakai untukku yang cerdas ini." Gumam Gading dalam hatinya.
__ADS_1
"Iya, baiklah! Ayo kita pergi!" Sahut Gading begitu mudahnya untuk ikut bersama Geof.
Geof yang kalah pintar dari sang anak, terkekeh senang. Ia merasa begitu mudahnya untuk mendapatkan hati dari sang bocah. Geof memerintahkan anak buahnya dan juga Lutfi untuk membawa Gading ke sebuah hotel tempat dimana ia menginap selama ia berada di kota tersebut. Setelah Gading pergi bersama Lutfi dan anak buahnya, Geof masuk ke dalam apartemen itu dan menunggu kepulangan Merta yang masih berbelanja keperluan dapur.