
Luky dan Lita tiba di acara pesta pertunangan Boy dan Gaby. Disana sudah banyak tamu undangan yang berdatangan. Luky dan Lita menghampiri si empunya pesta. Dengan senyuman yang lebar Gaby menyambut rambah kehadiran sahabat orang tuanya tersebut.
"Selamat ya atas pertunangan kalian berdua. Tante tidak menyangka kalau Boy akan seberuntung ini mendapatkan Gaby." Ucap Lita pada sepasang kekasih yang kini sudah bertunangan.
"Terima kasih tante." Ucap Boy.
"Selamat ya Boy! Sebentar lagi om pasti akan mendengar kabar lebih baik dari ini yaitu pesta pernikahan kalian berdua." Ucap Luky.
"Terima kasih om." Balas Boy.
"Gaby, om sangat terpesona melihatmu yang sangat cantik malam ini. Hehehe." Kata Luky pada Gaby.
"Hehehe, om Luky pintar sekali memuji orang." Sahut Gaby.
Boy celingak-celinguk mencari keberadaan salah seorang sahabatnya yaitu Geof. Ia tidak melihat sosok Geof yang ikut hadir bersama kedua orang tuanya.
"Maaf, om. Dimana Geof? Kenapa aku tidak melihatnya datang bersama kalian?" Tanya Boy pada Luky.
"Geof sedang tidak enak badan, jadi dia sedang istirahat dirumah." Sahut Luky terpaksa berbohong agar Boy tidak kecewa.
"Oh begitu. Sampaikan salamku padanya ya om, semoga dia cepat sembuh." Kata Boy.
"Iya baiklah." Sahut Luky.
Luky dan Lita pun duduk di meja yang sudah di sediakan setelah mereka mengambil beberapa makanan di pesta itu. Mereka duduk bergabung dan berbincang dengan tamu yang lain sekaligus menikmati rangkaian acara di pesta tersebut. Tidak lama kemudian Azlan datang membawa istrinya yaitu Yasmin. Pengantin baru itu turut hadir di pesta pertunangan Boy dan Gaby sebelum mereka bergegas pergi berbulan madu. Mereka pun tak lupa mengucapkan selamat pada Boy dan Gaby. Di sela-sela perbincangan mereka, Azlan mengamati setiap sudut ruang pesta mencari keberadaan Geof.
"Sedari tadi aku tidak melihat Geof! Dimana dia?" Tanya Azlan.
"Entahlah! Kata om Luky dia sedang tidak enak badan." Sahut Boy.
"Apa dia lebih memilih tidur bersama dengan para wanita penghibur dari pada menghadiri pesta pertunangan sahabatnya?" Ujar Azlan sedikit merasa kecewa terhadap Geof.
"Sudahlah, mungkin dia memang sedang ada urusan yang lebih penting." Kata Boy.
* * *
Malam itu Geof berniat untuk menghabiskan malam dengan hobinya yang suka bersenang-senang di salah satu bar yang biasa ia kunjungi. Dengan banyak wanita yang mengelilinya, Geof duduk sambil menenggak minuman yang ada di gelasnya. Geof terus menikmati suasana bar dengan tawa canda wanita-wanita yang sibuk mencari perhatian darinya. Tanpa terasa setelah berjam-jam ia disana, minuman yang ia pesan pun habis. Geof kembali memesan minuman yang sering ia minum di bar tersebut.
Tak lama menunggu masuklah seorang wanita mengantar minuman yang Geof pesan ke dalam ruangan. Wanita itu terlihat masih sangat muda. Dengan pakaian ketat dan minim wanita itu berjalan menuju ke meja Geof. Geof menatap wanita itu dari atas kepala hingga ke ujung kakinya.
"Putih, mulus, wajahnya cantik, asetnya juga besar! Dia sangat cantik." Gumam Geof dalam hatinya menatap wanita pengantar minuman itu.
"Sayang sekali wanita secantik dia hanya sebagai pengantar minuman." Gumam Geof lagi dalam hatinya.
Merasa di tatap wanita pengantar minuman yang bernama Merta itu merasa risih. Ia segera meletakkan botol minuman itu di meja dengan perlahan. Geof mendekati wajahnya pada Merta yang sedang berada di berjongkok di hadapannya.
"Apa kau hanya pengantar minuman saja disini?" Tanya Geof pada Merta.
"Iya, tuan!" Sahut Merta ketakutan.
"Apa kau tidak ingin melakukan hal lain selain menjadi pengantar minuman?" Tanya Geof semakin mendakatkan wajahnya pada Merta.
Merta tau apa yang di maksud oleh Geof padanya. Merta tak mau menjawabnya dan bergegas pergi menghindari Geof. Geof kesal saat Merta tak menanggapi dirinya. Geof mengejar dan menghalangi Merta saat akan keluar dari ruangan itu. Geof menahan pintu ruangan itu dengan tangannya.
"Aku sedang bertanya padamu, Wanita!" Ujar Geof sangat kesal pada Merta.
"Maaf tuan, tapi aku sedang bekerja jadi tolong jangan ganggu aku." Ucap Merta masih dengan sikap yang sopan.
"Kau bekerja disini untuk melayani pelanggan, bukan? Jadi kau harus melayani aku dengan benar!" Ujar Geof dengan nada sedikit berteriak.
"Apa kau mau tau jawaban dariku, tuan?" Tanya Merta mulai tersulut emosi.
"Tentu saja." Sahut Geof menatap mesum pada Merta.
"Aku tidak sudi melakukan hal lain denganmu!" Jawab Merta menatap tajam pada Geof.
Geof tersentak saat melihat tatapan tajam Merta padanya. Geof menyatukan alis matanya dan menarik lengan Merta dengan kasar.
"Apa kau ingin di pecat dari sini hah?" Teriak Geof marah.
"Aku akan bilang pada manager di bar ini untuk segera memecatmu!" Sambung Geof lagi mengancam Merta.
"Aku tak takut! Silahkan saja jika kau menginginkannya. Aku percaya rezeki ku bukan berada di tanganmu." Kata Merta berani menantang geof.
Geof semakin kesal dengan sikap berani Merta padanya.
"Berani sekali kau! Kau tau siapa aku, hah?" Bentak Geof.
"Aku tau siapa kau! Kau hanya lah anak orang kaya yang punya hobi berfoya-foya dan bermain dengan wanita rendahan yang sama rendahnya seperti dirimu!" Jawab Merta dengan gamblangnya dan tepat sasaran.
__ADS_1
Merta tak pernah mengenal Geof sebelumnya, karena ia baru saja mulai bekerja di bar itu. Merta hanya asal bicara mengenai Geof. Merta menganggap semua orang yang berada di bar tersebut hanyalah orang-orang yang bisa membuang uangnya untuk berfoya-foya. Geof semakin murka mendengan jawaban Merta untuknya.
"Beraninya kau menghinaku!" Bentak Geof pada Merta.
Geof mencengkram lengan Merta semakin kencang, Merta tampak meringis kesakitan dengan apa yang dilakukan oleh geof padanya.
"Apa kau sedang kesakitan sekarang?" Ujar Geof.
"Lepaskan aku!" Sahut Merta.
"Kau berani menghinaku, aku pastikan hidupmu tidak akan tenang setelah malam ini!" Ancam Geof.
Geof melepaskan lengan Merta dan menghempaskannya dengan kasar sehingga Merta terpental jatuh ke lantai.
"Ladies! Kalian tau harus berbuat apa padanya, bukan?" Kata geof pada wanita-wanita yang menghibur dirinya malam itu.
Geof mengisyaratkan kepada wanita-wanita yang menemaninya untuk membully Merta di ruangan itu. Dengan senang hati wanita-wanita itu langsung mendekati Merta dan mulai membully nya. Para wanita itu menjambak dan bahkan merobek pakaian Merta. Merta berontak berusaha untuk terlepas dari para wanita-wanita yang sedang melakukan tindakan yang akan mempermalukan dirinya. Awalnya Geof menikmati perbuatan para wanita itu terhadap Merta, namun saat ia melihat air mata mengalir dari sudut mata Merta, hati Geof menjadi iba padanya.
"Berhenti!" Teriak Geof.
Wanita-wanita itu menghentikan perbuatannya pada Merta. Merta masih menangis sambil berusaha untuk menutupi tubuhnya karena pakaiannya robek. Geof menatap iba pada Merta yang saat itu masih duduk di lantai. Ia mengambil jasnya dan menutupi tubuh Merta. Namun Merta bangun dan melemparkan jas itu ke wajah Geof.
"Aku tidak butuh belas kasih mu!" Ujar Merta seraya pergi meninggalkan ruangan itu.
Geof mengepalkan tangannya dan menjadi semakin kesal. Geof balik ke mejanya bukan untuk meminum minuman yang ia pesan, namun ia berbalik dan menendang meja tersebut sehingga minuman yang ada di atas meja itu tumpah dan jatuh berserakan.
"Belum pernah ada wanita yang berani menolakku! Awas saja kau, jika suatu hari nanti aku bertemu denganmu lagi, aku akan membalas semua penghinaanmu padaku." Gumam Geof sangat kesal dalam hatinya pada Merta.
* * *
Suatu pagi Lita membangunkan putranya yang masih sering bermalas-malasan di rumah dan berfoya-foya di luar.
Hari itu Luky ingin mengajak putranya untuk ikut ke kantornya. Lita membujuk Geof penuh dengan kesabaran agar Geof mau ikut dengan ayahnya ke kantor.
"Nak, papamu itu sudah tua dan kau harus menggantikan posisinya di perusahaan." Kata Lita pada Geof.
"Ma, aku belum berminat untuk bekerja di perusahaan papa." Sahut Geof.
"Tolonglah, kau jangan buat papa dan mama kecewa! Hanya kau yang kami harapkan." Kata Lita lagi dengan berlinang air mata.
Geof melihat mata Lita yang sudah berkaca-kaca. Ia bangun dari ranjangnya dan masuk kedalam kamar mandi. Geof memang pria yang tidak bertanggung jawab, kehidupan yang bebas membuatnya lupa diri. Namun ia masih memiliki hati yang baik, ia tak bisa melihat wanita menangis di hadapannya.
"Geof, papa ingin kau membantu papa di perusahaan." Pinta Luky.
"Kali ini saja pa, aku masih belum berminat untuk bergabung di perusahaan papa." Kata Geof.
"Suatu saat kau akan menjadi CEO di perusahaan itu untuk menggantikan posisi papa." Kata Luky.
"Kita lihat nanti saja lah." Sahut Geof.
Lita menggenggam tangan Luky untuk tidak berdebat dengan putra tunggalnya itu. Setelah selesai sarapan Luky dan Geof pergi menuju ke kantor. Disana banyak mata wanita yang menatap kagum ada ketampanan Geof. Geof masuk bergabung dalam ruang rapat yang akan diadakan pagi itu.
setelah dua jam mengikuti rapat yang sangat membosankan baginya, akhirnya rapat itu selesai. Geof berencana untuk pergi dari kantor papanya. Namun saat itu ia merasa kebelet ingin pergi ke toilet. Geof pun melangkahkan kakinya menuju ke toilet untuk buang air kecil. Saat Geof baru saja keluar dari toilet tersebut, ia melihat salah satu office girl yang sedang membersihkan lantai di depan toilet tersebut. Geof merasa wanita ini tidak asing baginya.
Geof pun mendekati office girl tersebut.
"Kita bertemu lagi wanita pengantar minuman." Kata Geof pada Merta yang sudah lama bekerja di perusahaan milik Luky sebagai office girl.
Merta kaget setengah mati saat melihat Geof menatapnya tajam padanya.
"Maaf tuan, aku tidak mengenalmu!" Ucap Merta hendak pergi menghindar dari Geof.
Geof menarik lengannya dengan kuat untuk menahan Merta agar tidak pergi darinya.
"Apa kau pikir kau bisa membodohi aku, hah?" Teriak Geof pada Merta.
"Lepaskan aku! Apa masalahmu padaku?" Tanya Merta pada Geof.
"Masalahmu padaku adalah karena kau berani menolak dan menghinaku saat di bar waktu itu." Sahut Geof.
"Kau sudah membalasku dengan membuatku di pecat dari sana, lantas apa lagi yang kau inginkan dariku?" Ujar Merta.
"Sialan! Beraninya dia meninggikan suaranya padaku! Aku adalah anak dari pemilik perusahaan tempat ia bekerja tapi dia malah berani melawanku." Gumam Geof dalam hatinya.
"Apa kau tau siapa aku, hah?" Teriak Geof semakin kesal.
"Lepaskan aku! Aku tidak perduli siapa kau." Kata Merta berontak.
Merta terus berontak namun Geof semakin kencang mencengkram lengannya. Tidak ada cara lain, Merta memberanikan diri untuk menggigit tangan Geof dengan kuat membuat bekas gigitan di tangannya. Geof melepaskan cengkramannya dan Merta pun lari menghindari Geof. Geof meringis kesakitan sambil melihat bekas gigitan dari Merta yang melukai tangannya itu.
__ADS_1
"Awas kau wanita sialan!" Ujar Geof kesal.
Dari balik tembok Luky melihat semua aksi anaknya dengan seorang office girl yang bekerja di perusahaan miliknya. Luky begitu terkejut melihat gadis office girl itu berani melawan putranya. Luky menaikkan garis senyuman di bibirnya kala itu.
"Hehehe, akhirnya kau bertemu dengan lawanmu, Geof." Gumam Luky dalam hatinya.
Malam harinya Geof dan kedua orang tuanya sedang makan malam bersama. Luky melirik Geof yang sedang cemberut. Lita yang tidak mengetahui apa-apa berusaha untuk mencoba membuat putra kesayangannya itu tersenyum namun apapun yang di usahakan oleh Lita sia-sia, Geof masih saja terlihat cemberut dan merasa kesal.
"Sayang, ada apa? Kenapa kau cemberut terus semenjak pulang dari kantor?" Tanya Lita pada Geof.
"Aku tidak apa-apa, ma!" Sahut Geof yang bahkan tidak berselara untuk makan.
Geof bangkit dari tempat duduknya meninggalkan makanan yang masih tersisa banyak di dalam piringnya.
"Aku sudang kenyang! Aku mau ke kamarku dulu untuk istirahat." Kata Geof pada kedua orang tuanya.
Lita begitu kebingungan melihat sikap anaknya hari ini. Biasanya Geof selalu makan dengan porsi yang banyak dan begitu lahap namun kali ini Geof hanya makan sedikit saja dan tidak menghabiskan makan malamnya. Luky melihat Lita yang tampak kebingungan.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu di kantor?" Tanya Lita pada Luky.
"Hehehe, putra kita sudah menemukan rivalnya." Jawab Luky.
"Apa maksudmu?" Tanya Lita semakin bingung.
"Nanti kau juga akan mengetahuinya." Sahut Luky.
Lita menatap suaminya yang masih enggan untuk berbicara menganai office girl yang berani melawan Geof saat di kantor. Luky lebih memilih untuk menyimpan hal itu dari Lita.
Geof membuka pintu lemari es kecil yang ada di kamarnya. Ia mengambil kaleng minuman bersoda dan melangkah keluar menuju balkon kamarnya. Langit malam itu terlihat begitu cerah dengan cahaya bintang yang menghiasai. Angin malam itu bertiup sepoi-sepoi menambah suasana menjadi sangat menyenangkan. Namun hal itu tidak dapat merubah suasana hati Geof yang masih sangat kesal pada Merta. Ia kembali mengingat tentang ucapan yang Merta lontarkan untuk dirinya.
"Aku pastikan kau akan menyesal telah berani menolakku, wanita." Ujar Geof yang berniat untuk membalas penghinaan Merta kepadanya.
Malam itu dengan suasana hatinya yang sangat buruk, Geof memutuskan untuk tidak keluar rumah hari itu. Geof berbaring di atas ranjangnya dan tidur lebih awal dari malam yang biasanya.
Keesokan paginya, Luky dan Lita di kejutkan dengan kejadian langka dirumahnya. Saat sedang sarapan pagi di ruang makan, Luky dan Lita melihat Geof yang tampak sudah sangat rapi dengan setelan jas dan dasi yang terikat rapi di lehernya. Luky dan Lita tidak berkedip melihat putranya yang kali ini bangun pagi dan hendak pergi bekerja di kantor. Geof melirik kedua orang tuanya yang masih tidak berkedip menatapnya.
"Apaan sih!" Ujar Geof malu di tatap oleh kedua orang tuanya.
"Sayang! Apakah ini Geof, putra kita yang pemalas itu?" Tanya Lita pada Luky.
"Iya." Sahut Luky.
"Aku pasti sedang bermimpi! Aku akan mencubit pipimu, jika kau berteriak kesakitan makan ini bukanlah mimpi." Kata Lita mencubit pipi Luky sekuat tenaganya.
"Aduh! Dasar istri bodoh! Kenapa kau mencubitku sekuat ini?" Teriak Luky kesal pada Lita.
"Ternyata aku tidak bermimpi." Ucap Lita masih menatap Geof yang duduk di hadapannya.
Cubitan Lita membekas merah di pipi sebelah kanan Luky. Luky masih mengusap-usap pipinya yang merah akibat di cubit oleh Lita dengan kuat. Geof menghela nafas panjang melihat aksi kedua orang tuanya yang memang sudah terbiasa melakukan hal yang konyol di hadapannya.
"Geof, apa semalam kau jatuh dari ranjang?" Tanya Lita.
"Tidak!" Sahut Geof.
"Apa kepalamu terbentur benda keras semalam sehingga kau geger otak?" Tanya Lita lagi.
"Tidak, ma! Apaan sih." Ujar Geof menahan kesalnya.
"Lantas mengapa kau berubah menjadi seperti ini?" Teriak Lita panik melihat perubahan putranya pagi itu.
Geof hanya diam saja tak mau menanggapi Lita yang pagi-pagi buta sudah panik tingkat dewa. Sedangkan Luky hanya cengengesan saja melihat Lita yang sibuk menanyai Geof sedari tadi.
"Kenapa kau hanya cengengesan saja, Luky?" Teriak Lita kesal pada suaminya itu.
"Lantas aku harus berbuat apa, Lita ku yang cantik jelita?" Luky masih cengengesan menanggapi Lita.
Lita mendekat pada Luky dan berbisik sambil melirik Geof yang sedang makan dengan lahap.
"Apa yang membuatnya menjadi berubah baik seketika?" Bisik Lita bertanya pada Luky.
"Office girl!" Sahut Luky balas berbisik.
"Apa?" Teriak Lita kaget.
"Hehehe, untuk hal ini biar aku yang urus saja. Kau hanya akan melihat perubahan terbesar pada Geof sebentar lagi." Bisik Luky.
Lita yang masih belum mengerti apa yang di maksud Luky hanya bisa mengangguk saja mengiyakan apa yang di katakan Luky padanya.
__ADS_1
Luky dan Geof berangkat bersama menuju ke kantor setelah selesai sarapan pagi itu.