WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
JANGAN PAKSA AKU, GEOF!


__ADS_3

Geof menunggu dengan tidak sabaran. Ia mondar-mandir kesana-kemari dan berkali-kali melirik arloji yang ia pakai di pergelangan tangannya. Sesekali ia menendang barang-barang yang ada di dalam apartemen sederhana itu karena kesal menunggu Merta yang tak kunjung muncul.


"Huh, sialan! Nyangkut dimana sih? Lama sekali dia!" Gumam Geof yang sudah tak sabar ingin menyentuh wanita pujaan hatinya.


Tak lama Geof mendengar suara pintu yang terbuka. Geof lari bersembunyi di balik pintu kamar utama. Geof ingin memberikan kejutan untuk Merta yang telah lama menghilang darinya.


"Gading, bunda sudah pulang! Kau dimana, sayang?" Seru Merta memanggil sang buah hati.


Merasa tidak ada sahutan, Merta pun mencari keberadaan putranya tersebut ke ruangan yang lain. Merta mencari Gading ke kamar mandi, ruang tengah dan juga ruang tamu namun ia tetap tidak menemukannya. Merta terus memanggil-manggil putranya tersebut, namun ia tidak mendapatkan jawaban.


"Dasar anak nakal! Kau bersembunyi dimana, Gading? Jika bunda mendapatkanmu, akan bunda jewer telingamu itu!" Ancam Merta sambil terus mencari Gading.


Merta membuka pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam kamar tersebut.


"Gading, dimana kau?" Panggil Merta melihat ke segala sudut ruangan.


Tiba-tiba Merta terkejut saat dua tangan kekar melingkar di tubuhnya.


"Aarrgghh! Maling...maling!" Teriak Merta berontak sekaligus ketakutan.


Merta memberanikan dirinya untuk menoleh ke belakang dan memukuli orang yang memeluknya.


"Dasar maling kau! Beraninya kau masuk ke dalam apartemen ini." Ujar Merta terus memukulinya.


"Aduh! Merta jangan pukuli aku, bodoh! Ini aku, Geof." Teriak Geof kesakitan.


Merta terdiam bak patung Liberti yang pernah ia kunjungi sebelumnya bersama Geof di Amerika. Merta kaget setengah mati melihat Geof terduduk lemas di lantai akibat di hajar olehnya.


"Eh, bussett! Ka..ka..kau..." Merta tidak dapat berkata-kata saat melihat Geof di hadapannya.


"Aaarrgghhh! Aku pasti bermimpi." Teriak Merta berlari naik ke atas ranjang.


"Aku mau tidur lagi agar aku bisa terbangun dari mimpi sial ini!" Kata Merta berbaring dan menyelimuti dirinya dengan selimut tebal, padahal cuaca di luar sangatlah terik.


Geof hanya melirik wanita konyol yang baru saja memukuli dirinya.


"Hah, niat mau beri kejutan, malah jadi aku yang terkejut! Apes banget sih!" Gumam Geof menghela nafas panjang.


Geof kembali melirik Merta yang berbaring dan memaksakan dirinya untuk tidur.


"Hehehe, aku akan melakukannya lagi seperti dulu!" Gumam Geof dalam hatinya.


Geof berjengkat jalan menuju ke tempat tidur dimana Merta sedang berbaring.


"Merta!" Bisik Geof sambil menarik selimut yang menutupi wajah Merta.


Merta membuka matanya dan kembali berteriak sambil menendang burung puyuh milik Geof dengan kuat.


"Aarrgghh, dasar mimpi sialan! Kenapa kau begitu nyata?" Teriak Merta lagi.


Geof berguling kesana kemari sambil memegangi selangkangannya yang terasa begitu menyedihkan.


"Dasar wanita gila! Kenapa kau menendang burung masa depanku, Merta?" Ucap Geof terbata-bata.


Merta melebarkan matanya dan melihat Geof berguling kesana-kemari dan melenguh kesakitan. Untuk meyakinkan dirinya, Merta mencubit pipi Geof dengan kuat.


"Aarrgghh! Sakit!" Teriak Geof lagi.


"Aaarrgghh, ternyata semuanya nyata!" Teriak Merta terkejut.


Merta melompat turun dari ranjang dan berupaya lari menjauh dari Geof. Dengan sigap Geof menangkapnya dan membawanya kembali ke atas ranjang.


"Mau lari kemana kau, hah?" Tanya Geof saling beradu pandang dengan Merta.


"Geof!" Ucap Merta masih terkejut.

__ADS_1


"Aku mencarimu selama 5 tahun! Akhirnya aku menemukanmu lagi, Merta." Kata Geof menekan tubuh Merta yang berada di bawahnya.


"Darimana kau tau aku disini, Geof?" Teriak Merta sambil berontak agar terlepas dari Geof.


"Kau tak perlu tau! Yang perlu kau tau, Gading berada di tanganku sekarang." Sahut Geof membuat Merta ketakutan.


"Beraninya kau menyembunyikan putraku selama ini! Aku akan memberikanmu pelajaran." Kata Geof mencium Merta dengan paksa.


Merta mendelik saat Geof yang secara tiba-tiba mendaratkan ciumannya. Merta berusaha berontak dengan memukuli dada bidang Geof, namun entah apa yang membuat Merta akhirnya menyerah dan malah membalas apa yang Geof lakukan padanya. Geof menarik garis senyumannya ketika Merta membalas semua yang ia lakukan.


"Dia masih mencintai aku hingga sekarang!" Gumam Geof dalam hatinya.


Geof dan Merta melakukannya lagi setelah 5 tahun lamanya mereka terpisah oleh jarak. Kerinduan yang begitu mendalam yang mereka rasakan saat itu terbayar sudah dengan pertemuan mereka di apartemen sederhana tersebut.


"Aku mencintaimu, Merta! Sampai ke neraka pun kau akan aku kejar." Ucap Geof. Merta hanya memejamkan matanya ketika ia mendengar perkataan Geof padanya. Tidak bisa di pungkiri kalau Merta juga merindukan sosok Geof yang telah memberikan benih kepadanya 5 tahun yang lalu. Perasaan Merta tak pernah berubah sedikitpun kepada Geof, walaupun dulu ia pernah merasa sakit hati karena Geof membiarkan dirinya untuk pergi.


Tepat pukul 7 malam, Merta terbangun dan kaget melihat Geof berbaring menyamping menghadap dirinya sambil tersenyum.


"Selamat malam, sayang!" Ucap Geof tersenyum pada Merta.


"Heeemmppp!" Balas Merta memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Huh, dasar kau!" Ujar Geof ikut kesal.


"Aaarrgghhh! Dimana anakku, Geof?" Teriak Merta menjambak rambut Geof secara tiba-tiba.


"Di hotel, singa betina!" Sahut Geof mempunyai julukan baru untuk Merta.


"Di hotel mana?" Tanya Merta lagi dengan tangan yang belum terlepas dari rambut Geof.


"Di hotel tempat aku menginap! Ada Lutfi dan anak buahku yang menjaganya." Jawab Geof santai.


"Kembalikan anakku!" Kata Merta berdengus kesal.


"Ikut aku kembali ke ibukota!" Kata Geof lagi.


"Aku tidak mau!" Sahut Merta sewot.


"Kalau kau tidak mau, aku akan memaksamu!" Kata Geof.


"Jangan paksa aku, Geof!" Teriak Merta kesal.


"Baiklah, jika kau tidak mau aku akan membawa Gading ke ibukota dan kau tidak aku perbolehkan untuk bertemu dengannya!" Kata Geof berpura-pura ingin mengancam Merta.


Merta tak dapat berkata apa-apa lagi kalau menyangkut perihal putranya. Merta hanya bisa berdengus kesal saat Geof memaksa dirinya untuk ikut ke ibukota. Tiba-tiba Geof mendengar tangisan Merta yang merindukan Gading.


"Kenapa kau menangis?" Tanya Geof.


"Aku rindu Gading!" Sahut Merta.


"Baiklah, aku akan video call agar kau bisa melihatnya." Kata Geof mengambil ponselnya dan menghubungi Lutfi.


*****


Di hotel yang paling mewah di kota itu, Gading sedang bermain gelembung sabun di dalam bathtub kamar mandi. Tampak di bathtub itu mainan anak-anak yang terbuat dari karet yang berbentuk bebek dan juga bola-bola kecil. Lutfi menghampiri Gading yang bagaikan raja di hotel tersebut.


"Tuan muda! Ayahmu video call." Kata Lutfi memberikan ponselnya kepada Gading.


"Hah, dia menggangguku saja!" Gumam Gading tak senang.


Gading meraih ponsel itu dan mengarahkannya kepada wajahnya itu. Ia melihat kedua orang tuanya yang sedang duduk bersama dan menatap layar ponsel melakukan video call dengannya. Saat itu Gading melihat Merta tampak tenang duduk bersebelahan dengan Geof. Ia berpikir bahwa Geof telah berhasil membuat Merta kembali dalam pelukannya. Keinginan seorang anak hanya ingin melihat kedua orang tuanya bersatu kembali.


"Hehehe, ayahku memang the best!" Gumam Gading dalam hatinya.


Merta menatap wajah putranya yang sedang bermain gelembung sabun di dalam bathtub kamar mandi.

__ADS_1


"Sayang, apa kau baik-baik saja? Bunda khawatir padamu." Kata Merta yang sedang menatap wajah anaknya dari layar ponsel.


"Bunda, ada apa? Aku sedang sibuk!" Sahut Gading tak acuh kepada Merta.


"Dasar bedebah kecil kau! Beraninya kau mengacuhkan aku." Teriak Merta ngamuk pada putranya yang masih saja santai dengan gelembung sabun.


Geof terkekeh melihat reaksi Gading yang terlalu santai menanggapi amukan Merta.


"Bunda, hidup itu harus selow! Karena....ku selow, sungguh selow, amat selow, tetap selow! Santai...santai, jodoh gak akan kemana." Kata Gading malah bernyanyi dengan wajah yang konyol.


"Pppfftt, buuaahhahahahahaha.....!" Geof jungkir balik tertawa terbahak-bahak mendengar putranya malah bernyanyi disaat Merta sedang murka.


"Kurang ajar!" Teriak Merta melemparkan ponsel itu ke dinding hingga pecah berantakan.


Geof masih tertawa jungkir balik, sementara Merta bergegas pergi sambil menyeret Geof untuk membawanya bertemu kepada Gading yang sedang menikmati kehidupan menjadi cucu dari pengusaha kaya raya di ibukota.


 


*****


Tiba di depan pintu hotel itu, Geof berkali-kali mencoba untuk menenangkan Merta yang sedang murka. Geof mencoba untuk menjelaskan bahwa anak diusia Gading memang sedang nakal-nakalnya. Merta hanya diam tak mau menanggapi perkataan Geof sedikitpun.


Lutfi membuka pintunya dan kaget melihat wajah Merta yang sangat angker. Lutfi mundur teratur mempersilahkan Merta untuk masuk ke dalam. Geof dan Lutfi berdiri di sudut ruangan tak berani membantu Gading yang akan di hajar oleh Merta.


"Maafkan ayahmu ini, nak! Aku lebih takut pada bundamu dari pada musuh-musuhku di luar sana." Kata Geof mematung di sudut ruangan.


Merta mendekati Gading yang sedang duduk di atas ranjang sambil membelakangi Merta.


"Gading!" Teriak Merta murka bak api yang berkobar.


Gading menoleh menatap Merta dengan tatapan mata yang lesu. Gading terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya.


"Bunda, tenggorokanku sakit!" Ucap Gading dengan lirih.


Api yang berkobar itu langsung padam dan hanya menyisakan asap tipis di kepala Merta.


"Apa kau sakit, sayang?" Tanya Merta pada Gading.


Wwwuussshhh....


Geof berlari menghampiri putranya.


"Kenapa dia? Apa dia sakit? Sakit apa dia? Lutfi, cepat panggil dokter!" Teriak Geof panik.


Gading mengedipkan matanya pada Geof memberikan kode bahwa dia sedang berakting ketika Merta sedang mengalihkan pandangannya dari Gading.


"Aku hanya berakting saja!" Bisik Gading pada Geof.


"Dasar anak nakal! Beraninya dia membuatku cemas." Gumam Geof dalam hatinya.


"Lutfi, tidak usah panggil dokter! Gading adalah anak yang kuat." Teriak Geof lagi dari dalam kamar.


"Baik, bos!" Sahut Lutfi.


Merta menidurkan putranya yang berpura-pura sakit hanya karena untuk menghindari amukan dari sang bunda. Geof menatap kelakuan putranya itu yang begitu lihai memperdaya orang lain.


"Sayang, lebih baik kau istirahat saja ya! Bunda ambil air hangat dulu agar tenggorokanmu tidak terasa sakit lagi." Kata Merta beranjak keluar dari kamar.


Melihat Merta sudah keluar dari kamar, Gading duduk di atas ranjang sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Geof.


"Hehehe, aku sungguh memiliki bakat akting!" Kata Gading sambil cengengesan.


Geof auto tepok jidat mengetahui tingkah konyol yang turun temurun di keluarga Luky, diwariskan kepada Gading putranya itu.


"Muncul lagi, manusia somplak di keluargaku!" Gumam Geof tepok jidat.

__ADS_1


__ADS_2