WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
NOSTALGIA


__ADS_3

Geof kembali menemui Merta yang masih duduk sambil berbincang dengan Yasmin. Geof mengajak Merta dan juga Yasmin untuk kembali menikmati pesta perjamuan tersebut. Saat Merta dan Yasmin keluar dari ruangannya barusan, mereka begitu kebingungan dengan suasana yang ada.


"Eeemm, apa kita melewatkan sesuatu?" Tanya Yasmin pada Merta dan juga Geof.


"Iya! Suasananya kenapa jadi agak ricuh ya?" Sahut Merta juga bingung.


"Ada insiden kecil tadi!" Sahut Geof terus menuntun istrinya untuk duduk di ruang acara.


"Ada apa?" Tanya Merta.


"Bukan apa-apa! Tidak terlalu penting." Sahut Geof lagi.


"Baiklah, aku kembali mendampingi suamiku dulu, ya!" Kata Yasmin pamit pada Geof dan juga Merta.


Merta tersenyum sambil melambaikan tangannya sebentar pada Yasmin yang melangkah menuju kepada Azlan. Geof mengambil minuman untuk Merta yang kembali duduk di meja bundar itu.


"Apa kau lelah, sayang?" Tanya Geof mengelus pipi istrinya dengan lembut.


"Tidak! Aku hanya merindukanmu." Sahut Merta dengan tatapan yang menggoda.


"Jangan paksa aku untuk menindasmu malam ini, Mertarya!" Bisik Geof pada telinga istrinya itu.


"Coba saja kalau kau berani!" Sahut Merta balas berbisik membuat gairah Geof seketika bangkit.


"Ayo pulang!" Ajak Geof menarik tangan Merta.


"Eh, pestanya kan belum berakhir." Sahut Merta bingung.


'Biarkan saja!" Kata Geof tak perduli.


"Tapi papa, mama dan Gading masih disini!" Kata Merta terus mengikuti langkah suaminya yang beranjak ke luar gedung pesta perjamuan itu.


"Nanti aku kirim pesan pada mereka, kalau kita pulang duluan!" Sahut Geof.


Merta dan Geof pun masuk ke dalam mobil. Geof yang memilih untuk menyetir mobilnya sendiri, tancap gas untuk memburu nafsunya. Merta melihat dari sisi jendela mobil pada ruas-ruas jalan. Merta bingung karena mobil melaju bukan ke arah jalan pulang ke rumah.


"Sayang, kita mau kemana?" Tanya Merta pada Geof yang fokus menyetir mobil.


"Nanti kau juga akan tau!" Sahut Geof terus tancap gas.


Tak lama berselang, Merta melihat sebuah tempat yang begitu familiar baginya.


"Apartemen!" Lirih Merta melihat bangunan yang menjulang tinggi beberapa lantai yang mewah itu.


"Ayo!" Ajak Geof membawa Merta turun dari mobil.


"Sayang, kenapa kita ke apartemen?" Tanya Merta pada Geof.


"Aku ingin mengulang masa lalu kita yang indah, sayang!" Bisik Geof pada telinga Merta.


"Iiihhh, kau genit!" Ujar Merta seraya mencubit dada bidang Geof.


"Tapi kau suka kan? Hehehe." Sahut Geof semakin genit.


Masuklah pasangan suami dan istri itu ke dalam sebuah apartemen yang isi dalamnya tidak berubah sama sekali. Semua benda-benda perabot yang ada di apartemen itu tidak ada satupun yang begeser apalagi berpindah tempat. Senyuman mengambang pada sudut bibir Merta. Ia seakan bernostalgia dan kembali ke masa lima tahun silam.


"Aku selalu merindukan tempat ini!" Ucap Merta lirih sambil bergelayut manja pada Geof.


"Aku juga!" Sahut Geof.


"Apartemen ini yang menjadi saksi bisu cinta kita tumbuh, sayang!" Kata Geof lagi.


"Kau mau kan bermalam disini bersamaku?" Tanya Geof.


"Bermalam di goa yang gelap sekaligus pun, aku mau asalkan itu bersamamu!" Sahut Merta membuat hati Geof klepek-klepek.

__ADS_1


"Kau semakin membuatku merasa gemas padamu." Ucap Geof yang kemudian menggendong Merta untuk masuk ke dalam tempat peraduan mereka berdua di apartemen itu.


 


 


*****


Keesokan harinya, di kediamannya Luky yang sedang sarapan bersama cucu kesayanganya itu terkejut mendengar teriakan kesal dari Lita. Kakek dan cucu itu pun menatap bingung pada Lita yang pagi-pagi buta sudah uring-uringan sambil menggenggam ponselnya.


"Ada apa lagi? Setelah menjadi seorang nenek, kau bertembah bawel saja!" Ujar Luky pada istrinya.


"Geof dan Merta tidak pulang semalam!" Teriak Lita khawatir.


"Coba hubungi saja ponselnya!" Kata Luky.


"Aku sudah menghubunginya, tapi ponsel mereka berdua tidak aktif!" Sahut Lita panik.


"Oh, menantuku sedang hamil! Apa yang harus aku lakukan jika terjadi sesuatu padanya?" Gumam Lita semakin panik.


"Hei, tenanglah!" Ucap Luky pada Lita.


"Bagaimana aku bisa tenang, hah? Aku tidak ingin kehilangan menantuku lagi, kakek peyot!" Teriak Lita memarahi Luky.


"Hihihihihi, kakek peyot!" Ujar Gading terkekeh geli sambil menunjuk ke arah Luky.


"Huh, dasar ompong!" Ujar Luky kesal pada Gading yang menertawainya.


"Hhheemmppp!" Sahut Gading ikut kesal karena di juluki ompong.


Tak tahan mendengar ocehan dan teriakan Lita yang sedang panik, akhirnya Luky pun memanggil Lutfi yang tak lain adalah orang kepercayaan Geof. Lutfi yang sedang membersihkan mobil majikannya itu di hampiri oleh Luky.


"Lutfi, kemari!" Panggil Luky.


"Iya, Tuan besar?" Sahut Lutfi.


"Di apartemen!" Sahut Lutfi.


"Apa? Apartemen?" Ucap Luky kaget.


"Semalam saya tak sengaja berselisih dengan mobil tuan Geof! Saya lihat mobil tuan Geof menuju ke apartemen." Sahut Lutfi.


"Mau apa mereka kesana?" Tanya Luky bingung.


"Nostalgia, mungkin? Hehehe." Sahut Lutfi cengengesan.


"Hehehe, kau benar juga!" Sahut Luky ikut cengengesan.


Luky kembali masuk ke dalam ruang makan dan melihat Lita masih uring-uringan disana sambil menyuapi Gading yang hampir saja tersedak makanan karena ulahnya.


"Nenek! Mulutku sudah penuh, tapi nenek terus saja memasukkan makanan dalam mulutku!" Pekik Gading yang sedang sibuk menelan makanan yang penuh di dalam mulutnya.


"Hei, nenek peyot! Geof dan Merta berada di apartemen!" Kata Luky pada Lita.


"Darimana kau tau?" Tanya Lita sewot.


"Dari Lutfi! Semalam ia melihat mobil Geof ke arah apartemennya." Sahut Luky.


Lita kembali mengambil ponselnya dan mencoba untuk menghubungi ponsel Geof dan Merta lagi sambil terus menyuapi Gading dengan makanan yang banyak.


Diapartemen Merta baru saja bangun dalam kondisi telanjang bulat dan hanya berbalut selimut tebal. Ia meraih ponselnya yang sengaja dimatikan karena tak ingin di ganggu siapapun semalam. Merta melirik Geof yang sama sepertinya tak memakai sehelai benangpun tidur tertelungkup di sampingnya. Merta menyalakan ponselnya dan tak lama melihat panggilan dari mertuanya.


"Eh, mama." Gumam Merta cepat-cepat menerima panggilan telepon dari Lita.


"Halo, ma?" Ucap Merta.

__ADS_1


"Merta! Dimana kalian?" Teriak Lita yang membuat telinga Merta hampir budek.


"Kami di apartemen, ma!" Sahut Merta.


"Kenapa kalian tidak bilang kalau mau menginap disana? Hah, aku pikir aku akan kehilanganmu lagi seperti lima tahun lalu." Ujar Lita kesal.


"Maaf, ma! Kami lupa. Hehehe." Ucap Merta sambil melirik kesal pada Geof.


"Ya sudahlah! Yang penting kau baik-baik saja." Sahut Lita seraya memutuskan sambungan teleponnya.


Merta kesal pada Geof yang lupa mengabari pada kedua orang tuanya karena tidak pulang kerumah. Merta membangunkan Geof yang masih dalam keadaan yang begitu lelap tertidur karena sangking lelahnya bernostalgia bersama dirinya.


"Geof!" Panggil Merta.


"Heemm?" Sahut Geof tetap memejamkan matanya.


"Bangun!" Kata Merta.


"Aku tidak sanggup lagi, sayang! Aku istirahat dulu ya, nanti aku akan menggempurmu lagi." Sahut Geof asal bicara.


"Geof! Dasar mesum kau! Bukan itu yang aku maksud, dodol!" Teriak Merta murka.


"Ada apa sih, sayang?" Ucap Geof berusaha untuk membuka matanya menatap Merta yang masih tanpa pakaian.


"Hehehe, kau belum pakai baju, ya sayang? Hehehe, apa ibu hamil selalu bergairah ya?" Ujar Geof cengengesan mesum menatap gunung kembar istrinya yang tanpa pakaian.


Bbbrruuukkk......


Merta memukul wajah mesum Geof menggunakan bantal yang membuat nyawa Geof terkumpul semuanya seketika.


"Hei, kenapa kau memukulku dengan bantal?" Teriak Geof kesal pada Merta.


"Karena kau selalu saja berpikiran jorok terhadapku!" Sahut Merta tak kalah garangnya.


"Ada apa sih? Pagi-pagi sudah ngomel!" Gerutu Geof duduk di atas ranjang.


"Mama tadi menelponku, katanya kau tidak mengatakan kalau kita menginap disini semalam!" Kata Merta yang membuat Geof tersentak kaget.


"Oh iya! Aku lupa!" Sahut Geof.


"Lalu mama bilang apa padamu?" Tanya Geof.


"Mama hanya mengkhawatirkan aku saja!" Sahut Merta.


"Huh, kenapa sih mama selalu saja mengkhawatirkan kau dan juga Gading saja? Jelas-jelas aku ini putranya yang ia lahirkan!" Ujar Geof cemburu.


"Mungkin mama sudah bosan memiliki putra yang somplak sepertimu! Hehehe." Sahut Merta terkekeh mengejek.


"Bukan hanya aku yang somplak, tapi semua tokoh yang ada di cerita ini, somplak semuanya!" Teriak Geof kesal.


"Kenapa kau berteriak padaku, Geof! Kalau kau kesal teriak saja sana pada Authornya!" Teriak Merta kesal sembari melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


"Huh, dasar singa betina! Kalau sedang marah, aumannya keluar seperti singa betina." Gerutu Geof menatap Merta yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi.


"Hehehehe, walaupun dia singa betina, aku tetap mencintainya!" Kata Geof lagi sambil cengengesan sendirian di atas ranjang itu.


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2