
Geof duduk di meja makan dengan kemeja yang belum di kancing dan sehelai dasi di tangannya. Geof menatap Merta yang masih panik memikirkan uang untuk biaya pengobatan ibunya yang sedang di rawat di rumah sakit untuk kesekian kalinya.
"Merta, mana makanannya?" Teriak Geof yang mengagetkan Merta.
"Iya, sebentar lagi siap!" Sahut Merta.
Tidak menunggu lama Merta datang dengan makanan yang akan menjadi sarapan pagi untuk Geof. Merta meletakkan makanan itu di atas meja. Geof terus menatapnya untuk mencari celah agar bisa melancarkan niat liciknya terhadap Merta.
"Si..silahkan makan." Ucap Merta pada Geof.
Geof menarik tubuh Merta untuk duduk di atas pangkuannya. Merta hanya diam saja dan mengikuti apa yang di inginkan oleh majikannya itu.
"Suapi aku!" Perintah Geof.
Merasa terlibat kontrak yang tidak mampu untuk melawannya, Merta pun melakukan apa yang di perintahkan Geof terhadapnya. Geof masih menatap Merta sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutnya.
Selesai makan Geof memerintahkan Merta untuk mengancingkan kemeja dan memakaikan dasi di lehernya. Merta kembali melakukan apa yang di perintahkan Geof padanya.
"Tuan, apa aku boleh izin untuk pulang ke kampungku? Dua hari saja!" Pinta Merta pada Geof.
"Untuk apa kau pulang kampung?" Tanya Geof pura-pura tidak tau.
"Ibuku masuk rumah sakit, jadi aku ingin menjenguk ibuku." Jawab Merta.
"Pergilah sana!" Kata Geof memancing Merta untuk meminta bantuan darinya.
"Tuan, aku ingin pulang tapi tidak punya uang. Apa aku boleh meminjam uang darimu?" Tanya Merta.
"Mau berapa? 10 juta? 20 juta? Atau 50 juta?" Tanya Geof menipiskan senyumannya.
"Apa kau sungguh mau meminjamkan aku uang sebanyak itu?" Tanya Merta antusias.
"Tentu saja!" Sahut Geof semakin senang karena umpannya di makan oleh Merta.
"Apa aku boleh pinjam uang 20 juta untuk biaya rumah sakit ibuku?" Tanya Merta.
"Boleh! Asalkan kau mau menjadi wanitaku selama kau terikat kontrak denganku." Sahut Geof menarik tubuh Merta mendekat padanya.
"Tidak jadi!" Ujar Merta seraya memalingkan wajahnya dari Geof.
"Ya sudah kalau begitu! Kau tidak boleh kemana-mana." Kata Geof melepaskan pelukannya dari Merta dan berlalu pergi ke kantor.
Merta masih tidak bergeming dengan keputusan Geof yang tidak mengizinkannya untuk pulang kampung. Hari itu Merta merasa tidak tenang dan terus berpikir untuk mencari solusi dari masalah yang sedang menghimpitnya. Tante Maya kembali menghubungi melalui ponselnya.
"Iya, tante?" Ucap Merta.
"Mer, sebaiknya kau balik ke kampung dulu, karena ibumu merindukanmu." Kata tante Maya.
Merta memejamkan matanya sejenak untuk berpikir.
"Iya, tante! Nanti aku akan segera pulang dan membawa uang untuk biaya rumah sakit ibu." Sahut Merta.
"Baiklah." Sahut tante Maya.
Setelah berbicara di telepon dengan tante Maya, Merta menguhubungi Geof di kantornya. Kebetulan saat itu Geof sedang duduk menghadap jendela sambil memikirkan cara untuk mengikat Merta agar mau menjadi wanitanya. Geof melirik ponselnya yag berdering.
"Huh, akhirnya kau menyerah, Merta! Hehehe." Ucap Geof tersenyum licik.
Geof segera mengangkat panggilan telepon dari Merta.
"Ada apa? aku sangat sibuk!" Kata Geof pada Merta.
"Eeemmm, itu, anu..
"Emm, itu, anu! Ada apa? Cepat katakan!" Teriak Geof.
"Aku mau jadi wanitamu!" Sahut Merta.
Geof melebarkan senyumannya saat mendengar Merta setuju untuk menjadi wanitanya.
"Oh, benarkah? Kalau begitu aku akan menemui sekarang. Tunggu aku di apartemen!" Kata Geof.
Geof kembali ke apartemen miliknya untuk menemui Merta dengan membawa secarik kertas sebagai kontrak yang akan di tanda tangani oleh Merta.
Geof tiba di apartemen dan melihat Merta yang baru saja selesai mandi. Pikiran mesum kembali menyeruak di otak Geof saat melihat rambut panjang Merta yang masih basah. Geof mendekat sehingga Merta terpojok di tembok.
"Kau sangat wangi, Merta." Ucap Geof mengendus rambut Merta.
"Lebih baik kita bicara masalah kita dahulu, bukan?" Kata Merta menatap Geof kesal.
"Oke, baiklah!" Sahut Geof.
Geof memberikan kertas untuk di tanda tangani oleh Merta.
"Apa ini?" Tanya Merta.
"Surat kontrak bahwa kau adalah wanitaku selama dua tahun." Jawab Geof.
"Cepat tanda tangani surat kontrak itu." Sambung Geof lagi.
__ADS_1
Merta membaca dengan teliti isi kontrak yang akan di tanda tanganinya itu. Ia tidak mau tertipu lagi oleh Geof yang selalu berbuat licik terhadap kepolosannya.
"ini sama saja aku menjual diriku!" Gumam Merta dalam hatinya.
Merta melihat nominal uang yang akan menjadi bayarannya setiap bulan sebanyak 20 juta perbulan.
"Tapi aku juga butuh uang untuk ibu dan tanteku." Gumamnya lagi kebingungan.
"Aarrgghhh, aku sangat pusing!" Teriak Merta yang mengagetkan Geof.
"Hei, kenapa kau berteriak?" Teriak Geof kesal.
"Semua isi di kontrak ini hanya menguntungkan dirimu saja!" Ujar Merta.
"Apa matamu buta? Atau kau tidak bisa membacanya? Kau lihat isinya dengan jelas, kau mendapatkan gaji 20 juta perbulan, dan kau bisa berbelanja sepuasmu membeli apapun yang kau mau dengan kartu yang akan aku berikan padamu. Apa itu tidak cukup?" Ujar Geof.
"Menurutku kita saling menguntungkan!" Sambung Geof lagi.
"Ya sudahlah!" Ujar Merta yang tidak mempunyai pilihan lain selain menjadi wanitanya Geof.
"Bagus! Hehehe." Ucap Geof senang atas kemenangannya.
Merta menandatangani surat kontrak yang mengikat dirinya dengan Geof untuk kedua kalinya. Merta memberikan kertas itu dan berlalu ke dapur untuk menyiapkan makan siang. Geof mengikutinya hingga ke dapur dan memeluknya dari belakang.
"Merta, menurutku sebaiknya kau melakukan tugasmu sebagai wanitaku sekarang!" Bisik Geof padanya.
"Hehehe, tapi aku akan menyiapkan makan siang untukmu." Sahut Merta berniat untuk menolak keinginan Geof.
"Tidak perlu! Aku akan makan siang di luar nanti dengan rekan bisnisku." Ujar Geof menyeret tubuh Merta untuk masuk ke dalam kamarnya.
Mau tak mau Merta harus melayani apapun yang diinginkan oleh Geof sebagai wanitanya.
Tepat jam 11 siang, Geof selesai mandi dan memakai kemeja baru yang dia ambil dari dalam lemari. Ia melirik Merta yang masih berbaring membelakanginya. Geof berniat untuk mendekati Merta lagi, namun dia mengurungkan niatnya itu karena mendengar ponselnya berdering. Geof berbicara di telepon hanya sebentar kemudian ia bercermin untuk memakai dasi.
"Tuan, aku ingin menjenguk ibuku." Kata Merta pada Geof.
"Pergilah!" Sahut Geof.
Geof membuka lemari brangkas dan mengambil uang 20 juta untuk di berikan kepada Merta yang masih duduk di sisi ranjang dengan berbalut selimut. Ia juga memberikan kartu kredit kepada Merta agar dia bisa membeli apapun yang ia inginkan.
"Ini uang dan kartu untukmu belanja! Tapi ingat aku hanya memberimu waktu dua hari untuk bertemu dengan ibumu dan kau juga akan di antar oleh supir pribadiku kesana." Kata Geof dengan nada datar.
"Huh, terlalu berlebihan!" Gumam Merta.
"Kau mau pulang kampung apa tidak sih?" Teriak Geof.
"Iya!" Balas Merta berteriak pada Geof.
Merta keluar dari kamar Geof dengan selimut yang masih membalut tubuhnya. Geof sangat kesal melihat sikap Merta yang selalu berani untuk melawan dirinya.
Siang itu Merta pulang ke kampung halamannya dengan diantarkan oleh supir yang di perintahkan Geof. Merta tiba di rumah sakit tempat ibunya di rawat dengan membawa uang untuk membayar segala administrasi rumah sakit. Tante Maya sangat merindukan keponakannya itu. Maya dan Merta saling berpelukan dan menangis disana.
"Merta, sebaiknya kau jujur pada tante, darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu? Kau hanya seorang office girl saja kan di kota?" Tanya tante Maya.
"Eeemm, itu tante, aku memiliki kerja sambilan di kota dan gajinya juga lumayan besar! Tapi kalau uang 18 juta ini aku dapatkan karena meminjam dengan teman-teman kerjaku dan aku kumpulkan semuanya." Jawab Merta berbohong pada sang tante yang sangat menyayanginya.
"Ya sudah, lebih baik kau segera temui ibumu. Dia sudah sangat merindukanmu." Kata tante Maya.
Merta masuk ke dalam ruang rawat dan melihat ibunya yang sedang tertidur dengan selang infus yang menggantung dan selang pernafasan di hidungnya.
"Ibu." Ucap Merta menangis.
Ibu terbangun dan melihat Merta yang duduk di sebelahnya.
"Merta, maafkan ibu yang hanya bisa menyusahkanmu saja." Ucap Ibu ikut menangis.
"Ibu, jangan bicara seperti itu! Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai anak ibu. Ibu sudah bersusah payah membesarkan aku sendirian. Apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan apa yang ibu lakukan untukku." Kata Merta.
"Nak, tinggal lah bersama ibu disini." Kata Ibu.
"Tidak bisa, ibu! Aku harus mencari uang agar aku bisa membiayai ibu dan juga tante Maya." Sahut Merta.
"Ibu, aku sangat sedih melihat tante Maya yang hingga sekarang memilih menjadi perawan tua hanya karena untuk merawat ibu saat aku bekerja di kota. Tapi jika aku menetap disini, tidak ada yang bisa membiayai pengobtatan ibu." Sambung Merta.
"Tapi nak, di kota kau hanya sendirian saja. Ibu sangat khawatir padamu." Kata Ibu.
"Ibu jangan pikirkan aku ya! Aku memiliki seorang teman yang sangat baik dan selalu membantu aku. Aku juga memiliki pekerjaan yang gajinya lumayan besar disana. Jadi ibu jangan khawatir padaku lagi ya." Kata Merta mencoba untuk menenangkan ibunya.
"Aku janji akan melakukan apapun untuk ibu dan juga tante Maya." Kata Merta lagi.
"Kau anak yang sangat baik! Terima kasih." Ucap Ibu.
Merta menciumi ibunya yang masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Hatinya sangat sakit saat ia berbohong pada ibunya tentang pekerjaan yang ia lakukan di kota.
"Ibu maafkan aku! Aku berbohong padamu agar kau tidak mencemaskan aku lagi." Gumam Merta dalam hatinya.
Di luar ruangan, Maya melihat seorang pria yang datang bersama Merta. Maya sangat penasaran dengan pria tersebut yang tidak lain adalah supir yang di tugaskan oleh Geof.
"Maaf, bapak ini siapa? Kenapa bapak datang bersama keponakan saya?" Tanya Maya pada supir.
__ADS_1
"Aku adalah supir pribadi dari tuan Geof." Jawab supir itu.
"Siapa tuan Geof?" Tanya Maya bingung.
"Dia adalah majikan dari nona Merta." Jawab supir.
"Nona Merta? Apa maksudnya? Kenapa dia memanggil Merta dengan sebutan nona?" Gumam Maya merasa kebingungan.
Tak lama Merta keluar dari ruang rawat ibunya setelah ibunya tertidur. Maya mendekat dan berbisik padanya.
"Mer, apa maksud pria itu? Kenapa dia memanggilmu nona?" Tanya Maya yang membuat Merta terkejut.
"Hehehe, maksudnya begini tante. Aku bekerja sambilan menjadi pelayan di salah cafe milik orang kaya di kota dan panggilan nona itu khusus untuk karyawan yang bekerja di cafe itu." Kata Merta kembali membohongi tantenya.
"Siapa tuan Geof?" Tanya Maya.
"Tuan Geof itu adalah si pemilik cafe!" Jawab Merta.
Karena Maya adalah orang kampung yang tidak pernah mengecam pendidikan di sekolah, hanya bisa percaya saja pada omongan Merta.
Merta mengajak supir pribadi Geof untuk bicara dengannya di luar rumah sakit agar Maya tidak mengetahui rahasianya.
"Pak, apakah kau mau membantuku?" Tanya Merta pada supir.
"Apapun yang kau inginkan, nona!" Sahut supir itu.
"Pak, jangan panggil aku nona, panggil saja aku Merta." Kata Merta.
"Tidak bisa nona! Nona adalah kekasihnya tuan Geof dan tuan Geof telah memerintahkan saya untuk menghormati dan melakukan apapun yang nona inginkan." Sahut supir itu.
"Begini maksudku! Aku sedang bersama keluargaku, dan aku tidak ingin keluargaku tau tentang hubunganku dan Geof! Apa kau bisa membantuku?" Tanya Merta lagi.
"Baiklah nona." Sahut supir.
"Jangan panggil nona, panggil saja namaku, oke?" Kata Merta.
"Baik." Sahut supir.
Merta menghela nafas lega setelah berbicara dengan supir agar mau bekerja sama dengannya. Merta kembali menemui Maya yang duduk di samping ibu. Merta menarik tangan Maya untuk keluar dari ruang rawat ibunya itu.
Merta memberikan uang sejumlah 5 juta kepada Maya untuk keperluan mereka selama ia tidak berada di kampung.
"Tante, ini uang lima juta untuk membeli keperluanmu dan juga ibu." Kata Merta.
"Ini terlalu banyak." Kata Maya.
"Darimana kau mendapatkan uang sebanyak ini?" Tanya Maya.
"Aku meminjamnya dari bos Geof!" Jawab Merta.
"Bosmu itu sangat baik." Kata Maya polos.
"Tapi jika ini kau berikan padaku, bagaimana denganmu? Apa kau masih memegang uang?" Tanya Maya.
"Ada! Tante tenang saja jangan pikirkan aku." Sahut Merta.
Merta menggenggam tangan Maya dengan erat.
"Tante, terima kasih karena tante telah merawat ibu selama aku bekerja di kota! Karena hal itu tante tidak menikah sampai di usia tante yang sudah 45 tahun ini." Kata Merta menitikkan air matanya.
"Hei, aku tidak menikah bukan karena merawat ibumu, tapi memang tidak laku saja!" Ujar Maya.
"Apa tante?' Tanya Merta bingung menatap sang tante.
"Apalah dayaku, jika semua pria di kampung ini tidak tertarik denganku karena aku judes!" Sahut Maya yang memang memiliki sikap yang tempramen kepada semua pria.
Merta hanya tersenyum saja mendengar perkataan sang tante. Tidak lama kemudian ponsel Merta berdering. Ia melihat nama Geof di layar ponselnya. Merta buru-buru menjauh dari Maya untuk menerima panggilan telepon dari Geof.
"Halo?" Ucap Merta.
"Kapan kau akan pulang?" Tanya Geof tidak betah sendirian di apartemen.
"Lusa!" Jawab Merta.
"Kenapa lama sekali?" Teriak Geof kesal.
"Kau bilang dua hari kan? Ya sudah berarti lusa." Sahut Merta.
"Apa ibumu sudah membaik?" Tanya Geof.
Merta terdiam saat Geof menanyakan kabar ibunya.
"Kenapa dia jadi perhatian seperti ini? Apa dia salah makan tadi siang?" Gumam Merta bingung.
"Hei, kenapa kau diam saja?" Teriak Geof lagi.
"Ibuku masih dalam perawatan, namun sudah sedikit membaik." Sahut Merta.
"Cepatlah kembali! Tidak ada yang mengurus apartemenku jika kau berlama-lama disana." Ujar Geof.
__ADS_1
"Iya. Lusa aku akan kembali." Sahut Merta.
Geof mematikan sambungan teleponnya begitu saja tanpa aba-aba apapun pada Merta. Merta hanya bisa berdengus kesal menyikapi Geof yang sangat angkuh kepada dirinya.