WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
BELAJAR BAHASA INGGRIS.


__ADS_3

Luky dan Lita ngos-ngosan setelah mereka berjoget ria dikarenakan usia mereka yang tak muda lagi. Luky dan Lita duduk di sofa bersama Geof, sedangkan Merta berada di dapur untuk membuatkan minuman. Geof pasang wajah cemberut saat duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.


"Hei, kapan kau akan memberikan cucu untukku?" Bisik Luky pada Geof saat Merta berada di dapur.


"Pa, mau berapa kali aku katakan kalau Merta itu cuma pelayanmu saja!" Sahut Geof.


"Dia itu calon menantuku bukan pelayan, Geof!" Teriak Lita penuh amarah.


Geof sontak ketakutan melihat amarah Lita yang sudah berapi-api.


"Iya, terserah mama." Sahut Geof.


"Hehehe, gitu dong!" Ucap Lita senang.


Merta datang dengan sebuah nampan yang berisi cangkir minuman. Merta menyuguhkan minuman itu untuk Luky dan Lita. Geof menatap Merta dengan tatapan kesal. Geof tak ingin kedua orang tuanya berlama-lama di apartemen itu. Geof menarik Merta untuk menjauh dari Luky dan Lita.


"Kenapa kau menyuguhkan minuman kepada kedua orang tuaku?" Bisik Geof pada Merta.


"Apa salahnya? Mereka harus diperlakukan dengan baik. Apalagi mereka orang tuamu." Sahut Merta.


"Iya! Tapi kalau kau menyuguhkan minuman pada mereka, nanti mereka akan lebih lama disini." Kata Geof lagi.


"Hei, apa kau tidak suka mereka mengunjungimu?" Tanya Merta.


"Bukan begitu! Hanya saja waktunya tidak pas!" Sahut Geof.


"Aku tak mengerti maksudmu." Kata Merta.


Geof berdecak kesal dan ngedumel sendirian.


"Duh, ***** banget sih dia! Aku kan hanya ingin berduaan saja dengannya, kenapa dia tidak mengerti maksudku sih?" Gumam Geof.


"Apa? Kau bilang kau ingin berduaan saja denganku?" Tanya Merta mendengar gumaman Geof tadi.


"Tidak! Siapa yang bilang begitu?" Ujar Geof berdalih.


"Tadi aku dengar dengan jelas kalau kau bicara seperti itu." Kata Merta.


"Tidak! Aku tidak bicara seperti itu. Kau terlalu kepedean!" Sahut Geof.


Geof kembali mendekati kedua. Orang tuanya yang sedang menonton drama percintaan antara Geof dan Merta barusan. Merta masih bingung dengan apa yang ia dengar dari gumaman Geof.


Luky menyandarkan lengannya pada bahu Geof.


"Hei, kalian sedang mendiskusikan apa barusan? Apa mendiskusikan tentang rencana pernikahan kalian?" Tanya Luky tersenyum pada Geof.


"Hentikan pa! Jangan bicara seperti itu." Sahut Geof kesal.


"Jika kau suka aku tak masalah! Aku sudah menyelidiki siapa Merta. Aku rasa dia gadis yang baik." Kata Luky.


Geof sudah tak tahan lagi dengan desakan kedua orang tuanya itu. Ia meraih tangan kedua orang tuanya dan membawa mereka keluar pintu apartemen.


"Kau mengusir kami, hah?" Teriak Lita marah.


"Eeemmm, mama ingin cucu kan? Jadi aku akan buatkan malam ini." Kata Geof asal bicara agar kedua orang tuanya pergi dari apartemennya.


Lita dan Luky saling pandang sejenak.


"Ayo kita pulang!" Kata Lita kepada Luky sembari menyeretnya.


Geof menjadi sangat lega saat kedua orang tuanya sudah pergi dari apartemennya itu. Geof kembali masuk dan duduk di sofa ruang tamu sendirian. Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya.


"Hah, hari ini aku sangat lelah menghadapi kedua orang tuaku!" Gumam Geof.


"Mereka selalu saja mendesak ku!" Gumamnya lagi.


Geof melangkah keruang tengah dan melihat Merta sedang bersih-bersih disana. Ia berbalik dan menaiki anak tangga menuju masuk ke dalam kamar. Geof  menjatuhkan tubuhnya pada ranjang yang empuk disana. Ia merasa agak lelah dan memutuskan untuk segera tidur.


Dilantai bawah Merta masih sibuk dengan urusan bersih-bersih. Ia mencuci beberapa gelas dan piring yang kotor. Ia kembali teringat dengan perkataan Geof mengenai dirinya.


"Waktu dirumah sakit aku dengar sangat jelas, dia bilang dia sayang padaku! Lalu tadi aku juga mendengar dengan jelas kalau dia bilang dia hanya ingin berduaan denganku. Tapi kenapa dia tidak mengakuinya? Aku tidak mungkin salah dengar kan! Kupingku tidak rusak." Gumam Merta seraya menarik-narik telinganya.


"Tapi kalau dipikir-pikir mana mungkin dia suka padaku! Aku kan hanya pelayan dan wanitanya saja. Dia hanya menginginkan tubuhku saja." Gumam Merta lagi dengan raut wajah sedih.


"Eh,. Kenapa aku jadi sedih? Hah, ada apa denganku?" Lagi-lagi Merta bingung dengan dirinya sendiri.


Merta menyiapkan pekerjaannya dengan cepat dan pergi masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Disana Merta melihat Geof sudah tertidur pulas dengan kondisi lampu yang masih menyala.


"Tidak seperti biasanya, dia tidur dalam kondisi terang benderang begini! Apa dia terlalu lelah hingga tertidur pulas dalam keadaan terang seperti ini?" Gumam Merta dalam hatinya.


Merta memadamkan semua lampu dan naik keatas ranjang lalu ia pun tertidur pulas.

__ADS_1


 


 


*****


Beberapa Minggu kemudian, Geof memerintahkan anak buahnya untuk mengurus segala keperluan Merta agar bisa ikut dengannya keluar negeri. Geof akan melakukan perjalanan bisnis selama beberapa minggu. Pada saat perjalanan bisnisnya itu, Geof juga memiliki jadwal untuk menghadiri sebuah pesta perjamuan. Geof ingin membawa Merta untuk mendampinginya di pesta itu nanti.


Geof kembali dari kantor hampir tengah malam. Ia membawa sebuah map ditangannya. Geof masuk ke dalam kamar dan melihat Merta sedang duduk di depan cermin. Geof memberikan map itu kepada Merta.


"Apa ini?" Tanya Merta.


"Itu pasport dan visa yang akan kau gunakan nanti saat ikut bersamaku keluar negeri." Jawab Geof seraya melucuti pakaiannya satu persatu.


"Apa? Keluar negeri?" Teriak Merta kaget.


"Iya! Kenapa kau terkejut seperti itu?" Tanya Geof.


"Bagaimana mungkin aku ikut keluar negeri? Aku tidak bisa bahasa Inggris!" Sahut Merta panik.


Geof hanya diam dan enggan menanggapi perkataan Merta.


"Kapan kita akan pergi?" Tanya Merta lagi.


"Minggu depan." Jawab Geof.


"Aku tidak mau pergi!" Kata Merta tiba-tiba saja menolak.


"Apa maksudmu? Aku sudah menyiapkan semuanya! Pasport dan juga visa untukmu." Kata Geof kesal.


"Aku tidak bisa bicara bahasa Inggris! Nanti aku pasti kebingungan." Kata Merta.


"Aku akan mengajarimu!" Kata Geof.


"Mana mungkin aku bisa jika belajarnya hanya seminggu?" Gumam Merta.


"Aku bilang kau harus ikut denganku!" Teriak Geof memaksa.


"Ya sudah! Aku ikut." Balas Merta.


Geof melangkah masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya setelah ia pulang dari kantor. Sedangkan Merta masih menggerutu sendirian di kamar karena sikap Geof yang selalu saja memaksa dirinya. Merta masih sedikit panik dan khawatir bila ia harus pergi ke negara asing yang bahasanya juga tak mengerti. Namun apa yang bisa ia lakukan jika Geof sudah memaksa dirinya.


 


"Merta, kau sedang apa?" Tanya Geof.


"Sedang malas!" Sahut Merta singkat.


"Kau ini! Jawabanmu membuat orang kesal saja." Ujar Geof.


"Ada apa?" Tanya Merta.


"Ikut denganku! Aku akan mengajarkanmu bahasa Inggris." Jawab Geof.


"Lupakan saja! Aku pasti tidak akan mengerti." Kata Merta.


Geof kesal dengan jawaban Merta yang tak acuh pada dirinya. Geof menyeret Merta untuk ikut dengannya keruang kerja. Geof duduk berhadapan dengan Merta dan mulai membuka buku yang ia bawa.


"Sebelum kita mulai, aku mau bertanya padamu, dalam bahasa Inggris kata apa saja yang kau ketahui?" Tanya Geof.


"Oh, yes! Oh no!" Jawab Merta.


Geof berpikir sejenak dan entah kenapa tiba-tiba ia langsung berpikir mesum.


"Hei, apa kau sering menonton film laknat itu? Hehehe." Tanya Geof dengan maksud film porno.


"Film laknat? Memangnya ada film yang berjudul laknat?" Merta balik bertanya dengan wajah polosnya itu.


"Maksudku film porno!" Kata Geof.


"Dasar gila! Mana mungkin aku nonton film menjijikkan seperti itu." Sahut Merta dengan wajah merah padam.


"Tadi kau bilang oh yes, oh no! Perkataan seperti itu hanya ada di film porno. Hehehe." Sahut Geof tersenyum mesum.


"Berhentilah untuk berpikir mesum, Geof!" Teriak Merta kesal.


"Oke! Selain itu apakah ada kata-kata lainnya?" Tanya Geof kembali ke pelajaran.


"Happy birthday!" Jawab Merta.


"Hah, apakah kau tidak pernah belajar bahasa Inggris di sekolahmu?" Tanya Geof kesal.

__ADS_1


"Pernah, tapi aku jarang masuk! Karena aku tak suka pelajaran itu." Sahut Merta dengan gamblangnya.


"Ya Tuhan, ternyata wanita ini murid nakal di sekolahnya!" Gumam Geof tak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menghadapi Merta.


"Baiklah, aku akan mulai dari kata dasarnya. Bahasa Inggris aku adalah i (ai) dan kamu adalah you (yu)." Kata Geof.


"Oh!" Sahut Merta mengangguk dan mengerti apa yang dikatakan oleh Geof.


Banyak kata-kata dasar perkenalan yang Geof ajarkan kepada Merta saat itu. Hampir dua jam lamanya Geof terus mengajarkan Merta di ruang kerjanya. Merta mulai terlihat bosan tak karuan. Kepalanya seakan mau pecah mendengar perkataan Geof yang berbicara dengan bahasa Inggris. Di sela-sela kebosanannya itu, tiba-tiba timbul rasa untuk mengerjai Geof.


"Pak guru! Aku mau tanya." Kata Merta pada Geof.


"Tanya apa?" Sahut Geof.


"Tadi kau bilang bahasa Inggrisnya aku i dan kau you, lalu cinta itu love. Berarti bila di satukan jadi seperti ini, I LOVE YOU!" Kata Merta hanya berniat untuk membuang rasa jenuh yang melanda pikirannya.


Deg...deg....


Jantung Geof berdetak kencang saat Merta mengatakan kata cinta itu padanya. Geof menatap mata Merta dalam-dalam. Ia merasakan perasaan yang campur aduk sehingga ia tak mengetahui apa sebenarnya yang ia rasakan saat itu. Ia hanya merasa dirinya bagaikan terbang ke awan yang tinggi dengan dihiasi matahari yang bersinar cerah.


"Hei, Geof! Geof..." Panggil Merta pada Geof yang sedang melamun.


Berkali-kali Merta melambaikan telapak tangannya ke wajah Geof.


"Geof!" Teriak Merta untuk menyadarkan Geof.


Geof tersentak kaget dengan lamunannya yang buyar.


"Kenapa kau berteriak?" Ujar Geof kesal.


"Habisnya kau melamun terus! Pelajarannya mau dilanjutin atau tidak?" Tanya Merta.


"Tidak! Sudah selesai. Kau keluarlah." Jawab Geof.


"Yeeeyy...., Asik!" Seru Merta kegirangan.


Geof duduk di ruang kerjanya sambil menatap kepergian Merta dari sana. Perkataan Merta barusan membuat pikiran Geof melayang entah kemana-mana.


"Apa yang aku pikirkan? Merta hanya bercanda saja, dia tidak mungkin serius dengan perkataanya tadi." Gumam Geof menepis kuat-kuat pikirannya mengenai perkataan Merta.


Selama seminggu penuh Geof mengajarkan bahasa Inggris kepada Merta agar ia mudah berkomunikasi di negara asing yang akan ia datangi. Sedikit demi sedikit Merta mulai memahami bahasa Inggris dasar perkenalan. Ia juga sudah mulai mengucapkan kalimat demi kalimat dengan mudah.


Sehari sebelum keberangkatannya ke luar negeri bersama Geof, Merta pergi berbelanja untuk membeli beberapa gaun yang akan ia pakai disana. Ia berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan dan melihat-lihat beberapa gaun yang bagus dan bermerk. Setelah pusat berbelanja, Merta sedang menunggu kedatangan Lutfi yang akan menjemputnya di depan pintu masuk pusat perbelanjaan tersebut. Tiba-tiba ada seseorang wanita yang menggunakan masker di wajahnya menghampiri Merta. Ia menarik tangan Merta dan membawanya ke tempat yang agak sepi.


"Hei, siapa kau? Kenapa kau menarik ku kesini?" Tanya Merta pada wanita bermasker itu.


Wanita itu membuka masker wajahnya dan memperlihatkan wajahnya itu pada Merta. Merta sangat terkejut dan mundur beberapa langkah karena ketakutan melihat wajah wanita itu.


"Eva!" Ucap Merta terkejut.


"Syukurlah kau masih mengenalku!" Ujar Eva seraya mencengkram lengan Merta dengan kasar.


"Apa...apa yang terjadi padamu?" Tanya Merta ketakutan.


"Apa kau masih ingin berpura-pura? Aku tau kalau kau yang menjadi dalang atas apa yang terjadi pada wajahku!" Kata Eva semakin kencang mencengkram lengan Merta.


Merta kembali mengingat apa yang dia inginkan saat ia kesal terhadap Eva waktu itu. Merta menjadi kesal saat ia mengingat bahwa Eva sudah memfitnah dirinya di hadapan ibunya. Gara-gara fitnah itu, ibunya harus menderita menahan sakit selama beberapa hari dirumah sakit waktu itu.


"Memang aku yang mengingatkan kau menjadi seperti ini! Aku sangat puas telah berhasil membalaskan apa yang kau lakukan pada ibuku waktu itu!" Kata Merta menepis tangan Eva hingga terlepas dari lengannya.


"Kau lihat saja, Merta! Aku akan segera membalasmu kembali." Kata Eva.


"Kau mau apa? Apa kau bisa untuk melawanku? Aku memiliki Geof! Kapan saja Geof bisa mengahncurkanmu hingga berkeping-keping jika aku mau!" Kata Merta menantang Eva.


"Apa kau punya orang yang bisa melawan Geof?" Kata Merta lagi sambil tersenyum licik.


"Dasar kau, wanita ******!" Teriak Eva sangat kesal kepada Merta.


"Sudah mengumpatnya? Kalau begitu aku pergi ya. Hahaha." Kata Merta lagi membuat Eva semakin kesal tak karuan.


Merta berjalan menuju ke depan pintu masuk pusat perbelanjaan dan melihat Lutfi telah menunggunya sedari tadi. Merta lantas masuk ke dalam mobil dan bernafas lega.


"Hah, akhirnya aku bisa melarikan diri dari Eva!" Ucap Merta dalam hatinya.


"Untung saja dia takut pada gertakanku tadi!" Ucapnya lagi dalam hatinya.


Merta sangat tak menyangka kalau Eva mengalami kesulitan yang begitu berat dalam hidupnya.


"Apa itu benar-benar perbuatan Geof? Tapi kenapa harus sampa seperti itu?" Gumamnya.


"Hah, tapi aku juga salah! Waktu itu aku terlalu emosi sehingga aku menginginkan kehancuran Eva. Tak disangka Geof melakukan hal yang diluar dugaanku." Gumamnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2