
Geof yang baru saja tiba di perusahaan milik orang tuanya itu melangkah masuk ke dalam ruangannya. Geof yang belum mau memegang jabatan penuh di sana menduduki kursi sebagai wakil direktur. Geof duduk di kursinya sambil menatap keluar jendela ruangan. Pikirannya melayang mengingat perkataan Merta yang membuatnya sangat jengkel. Geof memutar otaknya untuk membalas penghinaan Merta terhadapnya.
Geof menghubungi karyawan yang mengatur segala urusan data-data para pekerja yang bekerja di perusahaan. Geof menyuruh karyawan tersebut untuk mencari informasi data mengenai Merta yang bekerja sebagai office girl di sana.
Di dalam kantor itu Geof duduk santai menunggu karyawan tersebut membawa berkas yang ia inginkan. Tak lama kemudian karyawan itu datang dan masuk keruanganya dengan membawa map yang berisi berkas info tentang wanita yang selalu bertengkar dengannya.
"Tuan muda, ini berkas office girl yang anda inginkan." Kata karyawan itu.
Geof membaca semua berkas mengenai data diri Merta yang kini berada di tangannya.
"Jadi namanya Mertarya! Lulusan SMA." Gumam Geof.
Geof terlihat mengerutkan dahinya saat membaca alamat tempat tinggal Merta.
"Dimana daerah ini?" Tanya Geof pada karyawan itu.
"Daerah itu berada dii pinggiran kota, tuan." Sahut karyawan itu.
"Oh, jadi dia hanyalah wanita kampung yang sedang beradu nasib ke kota." Gumam Geof lagi dalam hatinya.
"Pecat dia sekarang juga!" Perintah Geof untuk segera memecat Merta dari perusahaan.
"Baik tuan." Sahut karyawan mematuhi perintah Geof.
Dengan perintah Geof sebagai anak dari pemiliki perusahaan itu, mereka pun mencari-cari Merta di ruangan office girl untuk memberinya surat pemecatan. Namun saat mencari keberadaan Merta, mereka tidak dapat menemukannya di sana. Salah satu office girl di sana mengatakan kalau Merta tidak ingin bekerja lagi dan tak masuk bekerja hari itu.
Geof semakin kesal saat tau kalau Merta yang menginginkan dirinya tidak bekerja di perusahaan itu sebelum Geof memecatnya.
"Sial! Hingga kini aku belum sempat membalas semua penghinaannya padaku!" Teriak Geof kesal di ruangan kerjanya.
* * *
Di kos-kosan pinggiran kota, Merta sedang terduduk lemas meratapi nasibnya yang kini kembali menjadi pengangguran. Merta bingung harus berbuat apa setelah ia tidak bekerja lagi menjadi office girl maupun pengantar minuman lagi di bar. Saat sedang merundungi nasibnya yang menjadi pengangguran ia mendengar suara gedoran pintu dari luar dan berteriak memanggil namanya. Dengan langkah cepat Merta membuka pintunya.
"Ibu kos!" Kata merta.
"Hei, bayar tagihan kosmu! Kau sudah menunggak 3 bulan!" Teriak ibu kos yang judes itu.
"Iya bu, kasih saya waktu sedikit lagi, saya pasti akan membayarnya." Kata merta.
"Kau hanya berjanji-janji terus! Aku beri waktu dua hari, jika kau tidak bisa melunasinya maka segera angkat kaki dari sini." Kata ibu kos itu.
"Iya baiklah. Terima kasih ya bu." Ucap Merta sedikit bernafas lega.
Ibu kos pun berlalu dan merta menutup kembali pintunya. Ia kembali duduk dan berpikir untuk mencari uang agar bisa membayar uang kos yang sudah menunggak 3 bulan.
"Dimana aku harus cari uang? Uang kos nunggak, ibuku membutuhkan uang untuk biaya berobat dirumah sakit. Aku sangat pusing!" teriak Merta frustasi.
Tidak lama kemudian ponselnya berdering. Merta cepat-cepat menerima panggilan itu karena itu adalah panggilan telepon dari tantenya yang selama ini telah menjaga ibunya Merta di kampung.
"Iya tante." ucap merta.
"Merta, ibumu masuk rumah sakit! Kata dokter ibumu harus segera di operasi untuk membuang ginjalnya yang rusak. Kalau tidak ibumu bisa meninggal." Kata tante Maya yang mengurusi ibunya di kampung.
"Astaga! Berapa biayanya tante?" Tanya Merta dengan pikirannya yang semakin kalut.
"50 juta." Sahut tante Maya.
"Aku tidak punya uang sebangnyak itu. bagaimana ini tante?" Merta kebingungan.
"Tante juga tidak punya uang! Apa sebaiknya kita jual rumah saja?" Tanya tante Maya.
"Tante, jangan! Kalau rumah itu di jual nanti ibu dan tante mau tinggal dimana?" Kata Merta.
__ADS_1
"Jadi kita harus apa? Tante juga bingung." Ujar tante Maya lagi.
"Kapan akan di operasi?' Tanya Merta.
"Besok pagi, itupun kalau urusan administrasinya sudah lunas." Jawab tante Maya.
Merta sangat galau dengan kondisi ibunya yang memiliki penyakit gagal ginjal sejak lama. Karena untuk mengobati penyakit ibunya lah ia harus merantau ke kota dan bekerja apa saja demi mendapatkan uang. Seketika Merta teringat dengan temanya sesama office girl yaitu Eva, namun sudah lama tidak bekerja lagi setelah bekerja di salah satu tempat perjudian di kota itu. Merta pun menghubungi temannya itu untuk meminjam uang.
Eva berjanji akan meminjamkan uang pada Merta sebesar 50 juta namun bukan melaluinya tapi melalui bos nya di tempat kerja dengan jaminan kalau Merta akan bekerja tanpa gaji selama dua tahun penuh disana. Tidak ada cara lain, Merta terpaksa menyetujuinya agar bisa mendapatkan uang untuk biaya operasi ibunya.
Malam hari merta datang ke tempat bekerjanya yang baru. Dengan pakaian minim ia melihat beberapa wanita melayani para tamu yang menginginkan wanita di sampingnya. Setelah lama di telusuri oleh Merta ternyata tempat perjudian itu bukanlah untuk berjudi saja, melainkan untuk menjajakan wanita cantik sebagai wanita penghibur.
Merta ketakutan saat tau ternyata ia akan di jual kepada pria hidung belang oleh bos barunya. Disaat yang bersamaan Geof berada di tempat itu dan sedari tadi menatap Merta yang ketakutan disana. Teman merta mencari-carinya, namun Merta berusaha untuk bersembunyi di balik keramaian dan sampai akhirnya lengan Merta di tarik oleh bos barunya yang kesal mencarinya sejak tadi.
"Apa kau mau kabur, hah?" Teriak bos pada Merta
"Bos, aku tidak ingin menjadi *******! Aku mohon lepaskan aku." Pinta Merta memohon pada Bosnya.
"Kau sudah mengambil uang sebesar 50 juta dariku, maka dari itu kau harus menuruti semua perkataanku!" Kata bos.
"Aku janji akan melunasi uang 50 juta itu, tapi aku mohon jangan jual aku." Kata Merta.
Geof memperhatikan Merta yang tampak menangis. Air mata telah membasahi wajah gadis yang berusia 21 tahun itu. Ia tak bisa melihat wanita yang menangis dan memohon seperti yang di lakukan Merta pada bosnya. Geof pun mendekat dan berbisik pada bos yang memiliki tempat perjudian itu. Merta kaget saat melihat Geof seperti sedang melakukan negosiasi pada bosnya. Lalu tidak lama kemudian tangan Merta di lepas oleh bosnya dan di cengkram oleh Geof.
"Merta, aku sudah menjualmu padanya tuan Geof!" Kata bos yang membuat Merta semakin terkejut.
"Tuan, wanita ini sudah menjadi milikmu sekarang!" Kata bos itu pada Geof.
Geof melebarkan senyumanya pada Merta yang menatapnya ketakutan.
"Sekarang kau adalah milikku!" Bisik Geof pada Merta.
Geof langsung membawa Merta masuk ke dalam kamar yang telah di sediakan untuk mereka. Geof melemparkan tubuh Merta ke atas ranjang dan ia segera membuka kancing bajunya serta tali pinggang di celananya.
Merta sangat ketakutan saat melihat Geof yang akan menyerangnya. Merta duduk dan berusaha untuk memohon pada Geof.
"Kau milikku! Apa kau tau berapa uang yang aku keluarkan malam ini untukmu, hah?" Tanya Geof.
Merta menggeleng.
"100 juta! Aku membayar 2 kali lipat dari uang yang kau ambil dari bos sialan mu itu." Kata Geof.
"Aku akan membalas semua penghinaanmu padaku waktu itu, Mertarya!" Sambung Geof.
Geof langsung melancarkan aksinya terhadap Merta. Ia memaksa Merta untuk melayaninya. Merta mati-matian mempertahankan dirinya agar tidak di kotori oleh pria yang telah membelinya itu. Sambil menangis Merta pun menepis segala macam cara yang Geof lakukan padanya.
Isak tangis Merta terdengar oleh Geof. Ia berdecak kesal dan menjauh dari tubuh Merta yang masih gemetar ketakutan.
"Diam!" Teriak Geof pada Merta.
Merta kaget saat mendengar teriakan Geof yang sedang kesal padanya. Masih terdengar isak tangis Merta saat itu. Geof berjalan mendekati Merta dan mencengkram wajahnya dengan kasar.
"Aku bilang diam! Jangan menangis lagi." Ujar Geof.
"Kau datang kesini untuk menjadi wanita penghibur, bukan? Lalu kenapa kau menangis, hah? Kau bahkan sudah terima uangnya." Kata Geof lagi sambil mencengkram wajah Merta dengan kuat.
"Mereka menjebakku! Mereka bilang aku akan bekerja sebagai pengantar minuman di tempat ini. Maka dari itu aku mau menerima tawaran untuk bekerja disini." Sahut Merta.
"Makanya jadi wanita jangan bodoh!" Teriak Geof.
"Aku butuh uang untuk biaya operasi ibuku." Ucap Merta kembali menangis.
Hati Geof bergetar saat mendengar perkataan Merta yang memerlukan uang untuk biaya operasi ibunya.
"Jadi karena itu dia datang kesini. Aku pikir dia menjual dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya." Gumam Geof dalam hatinya.
"Kau memiliki hutang 100 juta padaku. Kau harus membayarnya." Kata Geof.
__ADS_1
"Aku hanya mengambil uang 50 juta bukan 100 juta." Kata Merta.
"Apa kau ingin aku mengembalikanmu pada bos itu dan menjualmu pada pria tua yang akan memperkosamu, hah?" Teriak Geof.
Merta kembali ketakutan saat Geof mengancam dirinya.
"Aku tidak mau jadi *******." Ucap Merta kembali menangis.
"Diamlah! Aku tidak tahan mendengar tangisanmu." Kata Geof.
Kemudian Geof mengambil ponselnya dan berbicara lama disana. Merta hanya duduk diam disudut ranjang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Selang beberapa jam, seorang pria datang dan memberikan selembar kertas pada Geof. Geof mendekati Merta dan menyodorkan kertas itu.
"Tanda tangani kontrak kerja ini! Kau harus melunasi hutangmu menjadi pelayanku selama dua tahun." Kata Geof.
Geof melihat Merta ragu-ragu untuk menanda tangani kontrak kerja itu.
"Kau ingin bekerja disini sebagai ******* selama dua tahun atau menjadi pelayanku selama dua tahun?" tanya geof.
"Maksudmu pelayan rumah tangga kan?" Merta balik bertanya.
"Ya iya lah!" Sahut Geof.
"Iya baiklah! Aku akan bekerja menjadi pelayan untukmu dari pada aku harus menjadi ******* disini." Kata Merta langsung menandatangani kontrak kerja itu.
Geof tersenyum licik saat melihat Merta menandatangani kontrak kerja dengannya.
"Aku akan membuatmu menderita, Mertarya. Hehehe." Gumam Geof dalam hatinya.
Geof memberikan baju ganti untuk Merta dan berniat untuk membawanya ke apartemen. Sebelum ikut bersama Geof, Merta meminta untuk singgah ke kosannya agar ia bisa mengambil pakaian-pakaiannya. Geof pun mengikuti apa yang Merta katakan saat itu. Tibalah Geof di pinggiran kota tepatnya di depan gang sempit yang tercium aroma tidak sedap di sana.
"Apa kau tinggal di daerah sini?" Tanya Geof pada Merta.
"Iya." Sahut Merta.
"Bagaimana mungkin kau bisa tinggal di tempat kumuh seperti ini?" Ujar Geof memendang jijik tempat kosan Merta.
"Hanya tempat ini yang aku mampu bayar, itupun aku masih menunggak 3 bulan." Sahut Merta lagi.
"Cepatlah sana, ambil pakaianmu." Ujar Geof.
Merta pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam kamar kosnya. Saat sedang menunggu Merta mengemasi pakaiannya, kaca mobil Geof di ketuk oleh seseorang. Geof melihat seorang ibu-ibu paruh baya yang hanya memakai daster saja. Geof membukan kaca mobilnya.
"Hei, apa kau pacarnya Merta?" Tanya ibu itu yang tidak lain adalah ibu sang pemiliki kos.
"Ada apa?" Geof balik bertanya dengan tatapan kesalnya.
"Pacarmu itu sudah menunggak uang tagihan kos-kosannya. Bagaimana mungkin dia memiliki tunggakan tagihan kos sementara pacarnya anak orang kaya sepertimu!" Ujar ibu kos itu yang membuat Geof kesal setengah mati padanya.
Geof mengambil dompet dan melemparkan segepok uang ke wajah ibu kos yang judes itu.
"Makan tuh duit!" Ujar Geof melemparkan uang itu pada ibu kos.
"Dasar anak orang kaya sombong!" Balas ibu kos sambil mengutip lembaran uang yang berserakan di tanah.
Ibu kos pergi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Tak lama kemudian Merta datang dengan membawa tas yang berisi pakaiannya. Merta menunduk dan mendekat pada Geof yang berada di dalam mobil untuk menunggunya.
"Apa aku boleh meminjam uang lagi padamu?" Tanya Merta pada Geof.
Geof menatapnya dengan tajam.
"Aku belum membayar tagihan kos selama tiga bulan.
"Aku sudah membayarnya!" Kata Geof memotong ucapan Merta.
Merta terkejut saat tau kalau Geof sudah melunasi tagihan kosannya yang menunggak selama tiga bulan.
"Cepat masuk!" Teriak Geof pada Merta.
__ADS_1
Merta pun segera masuk ke dalam mobil dan Geof melanjukan mobilnya menuju ke apartemen. Selama di perjalanan Merta hanya diam dan kaku duduk di samping Geof yang sedang fokus menyetir. Di dalam pikirannya Merta hanya berpikir tentang kondisi ibunya yang akan segera di operasi besok pagi setelah ia mengirimkan uang kepada tante Maya yang selama ini menemani dan mengurus ibunya saat Merta berada di kota.