
Karena sikapnya terlalu kasar pada Merta, Geof akhirnya mengalah untuk mencari makanan di luar. Merta ngambek dan berniat untuk mogok masak selama sebulan. Geof pergi menghampiri Kenzo yang sedang kasmaran di base camp bersama seorang wanita. Geof datang dengan membawa makanan yang akan menjadi santapan makan siangnya.
Geof melihat mobil Kenzo terparkir di halaman base camp. Ia juga melihat ada sepatu wanita di depan pintu.
"Sepatu wanita! Siapa dia? Apa Kenzo membawa wanita ke base camp ini?" Gumam Geof dalam hatinya.
Geof terkekeh jahat dan berjalan masuk sambil mengendap-endap.
"Mampuslah kau, Kenzo! Aku akan segera mencidukmu! Hehehe." Gumam Geof melangkah menuju ke sebuah ruangan sempit di base camp itu.
Geof mendengar suara wanita yang sangat manja. Geof semakin penasaran dengan wanita yang di bawa masuk oleh Kenzo di base camp mereka.
"Kak Kenzo, jangan ah.., aku geli!" Ucap wanita itu.
Geof menghentikan langkahnya saat mendengar suara wanita yang berkali-kali menyebut nama Kenzo.
"Eh, sepertinya aku sangat familiar dengan suara wanita ini." Gumam Geof berpikir keras.
Geof semakin mendekati ruangan sempit itu dan terkejut melihat wanita yang sedang bermesraan dengan Kenzo.
Brrrraaaaakkkk................
Pintu ruangan sempit itu di tendang oleh Geof dengan sekuat tenaganya membuat dua orang yang sedang kasmaran di dalamnya kaget.
"Tantrib! Ada orang mesum disini, woi!" Teriak Geof mengagetkan Kenzo dan Syeril.
"Hei, Geof! Mengagetkan aku saja, kau." Ujar Kenzo kesal pada Geof.
"Huh, dia sangat menyebalkan!" Sahut Syeril sambil merapikan pakaiannya yang terlepas karena ulah Kenzo.
"Apa-apaan kalian, hah? Sejak kapan kalian bercinta di sini?" Teriak Geof pada Kenzo dan Syeril.
Kenzo dan Syeril hanya diam saja tak mau menanggapi teriakan Geof pada mereka.
"Hah, kalian diam saja kan setelah aku menangkap basah kalian berdua! Hahaha." Sambung Geof tertawa lepas.
"Idiot!" Ujar Kenzo menatap sahabatnya itu.
"Sudah lama kau tidak kesini, dari mana saja kau?" Tanya Kenzo pada Geof.
"Aku hanya sibuk mengurusi perusahaan papaku." Sahut Geof sambil duduk di ruangan itu.
"Apa?" Teriak Kenzo dan Syeril seakan tidak percaya.
Geof kaget saat kedua sahabatnya itu berteriak padanya.
"Sejak kapan kau berubah seperti ini?" Tanya Syeril bingung.
"Kurang lebih setahun." Jawab Geof menyantap makan siang yang ia beli di luar.
"Syukurlah, akhirnya kau insyaf juga!" Sahut Kenzo.
"Kalian sudah makan siang?" Tanya Geof pada Kenzo dan Syeril.
"Sudah!" Seru keduanya.
Geof terus menyantap makanannya dan sesekali melirik pada kedua sahabat yang duduk di hadapanya. Kenzi dan Syeril berbisik-bisik sambil menatap dirinya.
"Kak, apakah ini si Geof yang kita kenal?" Bisik Syeril pada Kenzo.
"Sepertinya begitu!" Sahut Kenzo.
"Tapi aku rasa ada yang aneh padanya, sehingga ia bisa berubah seperti ini." Bisik Syeril lagi.
"Iya! Aku juga tidak pernah melihatnya datang ke bar dan bermain wanita lagi." Sahut Kenzo.
"Apa jangan-jangan, om Devan sudah membedah otak mesumnya itu, hehehe." Kata Syeril.
"Hehehe, bisa jadi." Sahut Kenzo.
"Hei, hei, kenapa kalian berbisik-bisik di depanku? Dasar tidak sopan!" Ujar Geof sewot.
__ADS_1
"Geof, apa kau baru saja selesai operasi di otakmu?" Tanya Kenzo dengan wajah tololnya.
"Hahaha, kak Kenzo bodoh! Dia malah mengira ucapanku tadi benar." Kata Syeril tertawa geli melihat kebodohan Kenzo.
"Dasar bodoh!" Ujar Geof kesal pada Kenzo.
"Hei, lantas apa yang membuatmu bisa berubah seperti ini?" Tanya Kenzo penasaran.
Geof diam saja dan tidak mau menjawab pertanyaan Kenzo padanya. Tiba-tiba Kenzo melebarkan matanya dan mengingat wanita yang menjadi pendamping Geof saat di pesta pernikahan Gaby dan Boy.
"Apa karena wanita yang di sebut-sebut sebagai pelayanmu itu?" Teriak Kenzo pada Geof.
"Huh, bisakah kau tidak berteriak, Kenzo?" Teriak Geof kesal.
"Jawab dulu pertanyaanku, Geof!" Balas Kenzo penasaran.
"Aku tidak mau!" Sahut Geof dengan wajah yang memerah.
"Wah, wajah Geof merah! Hehehe." Seru Syeril menatap Geof.
"Hah, kalian terlalu berisik! Aku pergi saja dan nikmati ruangan sempit ini untuk perbuatan mesum kalian berdua." Kata Geof sudah selesai makan dan beranjak pergi dari base camp itu.
Kenzo dan Syeril masih menatap Geof yang beranjak pergi dengan wajah memerah. Mereka tau dengan sikap yang Geof tunjukkan pada mereka mengenai Merta yang menjadi wanita pendamping di pesta pernikahan Boy dan Gaby.
Geof masuk ke dalam mobilnya dan melihat wajahnya memerah di kaca spion.
"Hah, kenapa wajahku merah sekali? Ada apa denganku?" Gumam Geof seraya membenturkan kepalanya secara perlahan di batang setir mobil.
Geof menyalakan mesin mobilnya dan bergegas kembali ke apartemen. Sesampainya di apartemen, Geof melirik pintu kamar Merta yang tertutup rapat. Geof melangkah mendekati pintu itu dan menarik gagang pintu untuk membukanya. Ternyata pintu itu terkunci dari dalam. Geof menggedor-gedor sambil memanggil Merta dari luar kamar.
"Merta, cepat keluarlah!" Teriak Geof.
"Tidak mau!" Sahut Merta mengundang kesal Geof.
"Kalau kau tidak mau keluar, akan aku dobrak pintunya!" Teriak Geof kesal.
"Coba saja kalau kau berani!" Sahut Merta menantang.
"Iya!" Sahut Merta.
"Kurang ajar! Dia semakin berani padaku." Umpat Geof dalam hatinya.
Geof masih berdiri di depan pintu memikirkan cara agar bisa masuk ke dalam kamar Merta.
"Oh iya, kunci cadangan!" Seru Geof.
Geof menyibukkan dirinya untuk mencari keberadaan letak kunci cadangan seluruh ruangan di apartemen itu. Ia tidak mengetahui kalau kunci cadangan itu sudah berada di tangan Merta.
Merta berada di dalam kamarnya terus saja mondar-mandir memikirkan sikap Geof terhadap dirinya.
"Dia tadi sampai memukul Vian berkali-kali! Apa Geof cemburu?" Gumam Merta menanggapi sikap Geof padanya.
"Kalau dia benar cemburu, apa berarti dia suka padaku?' Gumam Merta lagi.
"Aaarrgghhh! Itu tidak mungkin terjadi." Teriak Merta frustasi.
"Mana mungkin pria sekaya dan setampan dia akan menyukai gadis kampungan sepertiku!" Gumam Merta lagi.
"Tapi kenapa dia semarah itu melihatku ngobrol dengan Vian?" Tanya Merta bingung dengan sikap Geof.
"Aaargghhh! Aku jadi pusing!" Teriak Merta lagi.
Geof tidak dapat menemukan kunci cadangan dimana-mana, sedari tadi menguping di depan pintu kamar Merta. Ia mendengar semua gumaman Merta di dalam. Garis senyuman Geof naik saat ia mendengar apa yang digumamkan oleh Merta tentang dirinya.
"Hehehe, dasar wanita bodoh!" Ucap Geof tersenyum.
Seketika Geof menghilangkan garis senyumnya saat ia teringat dengan tujuan utamanya berdiri di depan pintu kamar Merta.
"Eh, kenapa aku malah senyum-senyum seperti orang gila?" Ucap Geof bingung dengan dirinya sendiri.
"Aku akan segera menyeret wanita itu untuk kembali ke kamarku!" Ucap Geof kembali fokus dengan tujuan utamanya.
__ADS_1
Geof kembali menggedor-gedor pintu kamar Merta dan berteriak padanya.
"Merta, keluar kau!" Teriak Geof kesal.
"Aku tidak mau! Kau menyebalkan!" Sahut Merta.
"Baiklah! Akan aku dobrak pintu ini." Kata Geof mulai mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaganya.
Bbbrrraaakkkkk........
Bbbrrruuukkkkkk........
Geof berupaya untuk mendobrak pintu kamar, sedangkan Merta berteriak ketakutan di dalam.
"Aaarrgghhhh! Jangan dobrak pintunya, bodoh! Nanti pintunya rusak." Teriak Merta.
"Aku tidak perduli!" Sahut Geof terus mendobrak pintu kamar.
Bbbrrraaakkkkkkkk...........
Pintu terbuka lebar dan Merta gemetar ketakutan melihat Geof menatapnya kesal.
"Hehehe, aku tak menyangka tubuhmu sangat kuat, tuan!" Ucap Merta gemetar ketakutan.
Geof tidak mau menanggapi ucapan Merta padanya. Ia melangkah mendekati Merta dan langsung menyeret tubuh Merta untuk kembali ke kamar di lantai atas.
"Aku tidak akan mengizinkanmu untuk pisah ranjang denganku!" Kata Geof menyeret tubuh Merta.
"Aku tidak mau!" Teriak Merta berontak.
Geof melempar tubuh Merta jatuh ke atas ranjang tidurnya. Geof langsung menyerangnya dan menind*h tubuh Merta di atas ranjang.
"Tadi kau bilang aku sangat kuat, bukan? Hehehe." Bisik Geof pada telinga Merta.
"Lantas kau mau apa?' Tanya Merta gugup.
"Menunjukkan kekuatanku yang sebenarnya padamu!" Sahut Geof.
Merta tidak dapat berbuat apa-apa saat dirinya di himpit oleh tubuh Geof yang kekar. Geof tidak perduli dengan kondisi Merta yang terkadang menolak untuk melakukan hal itu bersamanya.
Setelah menuntaskannya kepada Merta, Geof terkekeh menatap wajah Merta yang memerah.
"Kepiting rebus!" Ucap Geof menjuluki wajah Merta yang memerah.
"Kau menyebalkan!" Sahut Merta sewot.
"Hehehe, siapa suruh kau ngambek padaku? Gara-gara aksi mogok masakmu itu aku harus makan di luar tadi. Jadi menurutku, kau pantas mendapatkan hukuman dariku." Kata Geof.
"Huh, minggir sana! Aku mau mandi." Kata Merta mendorong tubuh Geof untuk menjauh darinya.
Merta turun dari ranjang dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Geof melirik Merta sambil cengengesan senang. Terlintas ide gila untuk kembali mengerjai Merta sekali lagi di pikiran Geof. Geof melompat turun dari ranjangnya, dan melangkah ke kamar mandi. Geof memutar gagang pintu kamar mandi yang tidak di kunci oleh Merta.
"Hehehe, kebetulan sekali! Dia lupa mengunci pintunya." Gumam Geof terkekeh jahat.
Geof nyelonong masuk saja dan mendekap Merta yang berdiri di bawah shower untuk mandi. Merta kaget saat Geof tiba-tiba mendekapnya dan merem*s kedua dadanya.
"Aaarrgghh! Kenapa kau bisa masuk ke dalam?' Teriak Merta pada Geof.
"Kau yang mengundangku, jadi aku masuk saja. Hehehe." Sahut Geof cengengesan.
"Apa maksudmu? Aku tidak pernah mengundangmu." Kata Merta bingung.
"Dasar bodoh! Kau tidak mengunci pintu kamar mandinya, berarti kau sengaja mengundangku kan?" Sahut Geof.
"Kau...kau salah paham! Aku lupa menguncinya tadi." Kata Merta benar-benar lupa mengunci pintu kamar mandi.
"Hah, bagaimanapun juga kau sudah terlanjur masuk ke dalam sini, jadi mau tak mau kau harus berbagi kamar mandi denganku. Hehehe." Kata Geof seenak jidatnya saja.
"Dasar modus!" Ujar Merta pasrah.
Ini kali kedua Merta dan Geof mandi bersama. Banyak hal yang di lakukan Geof untuk mengganggu Merta di dalam sana sehingga membuat wanita yang berusia 23 tahun itu hampir mati kesal padanya.
__ADS_1