WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
AMUKAN MERTA


__ADS_3

Selesai sarapan bersama keluarganya, Merta mengantar Geof untuk pergi ke kantor. Ketika itu, Merta sedang menggenggam ponsel milik Gading. Saat Geof akan masuk ke dalam mobilnya, Merta mencegahnya sejenak.


"Sini deh sayang, coba kau lihat gadis kecil ini! Apa kau mengenalnya?" Tanya Merta pada Geof.


"Eh, bukannya ini Rena?" Ucap Geof menatap foto gadis kecil yang ada di ponsel Gading.


"Benar dugaanku! Ini anaknya Reyn." Sambung Merta yang telah menduganya ketika ia menyita ponsel milik putranya itu.


"Bagaimana bisa ada di ponsel Gading?" Tanya Geof pada Merta.


"Aku juga bingung! Darimana dia bisa mengenal Rena? Rena kan tidak pernah ke Indonesia!" Sahut Merta ikut kebingungan.


Lalu Geof mengingat kembali akan geng PLETAK yang beranggotakan bocah-bocah nakal termasuk putranya. Geof menarik garis senyumannya ketika ia mengingat Jodi, anak dari Gaby dan Boy.


"Gading bisa kenal dengan Rena karena Jodi!" Kata Geof.


"Jodi? Jodi mana?" Tanya Merta.


"Jodi, anaknya Gaby dan Boy! Reyn itu kan adiknya si Gaby. Jadi Rena dan Jodi itu sepupuan, nah mungkin Jodi yang mengenalkan Rena pada Gading. Mungkin mereka sering ngobrol di telepon, sampai akhirnya kirim foto. Hehehe. Putraku memang hebat!" Sahut Geof cengengesan.


"Hebat apanya?" Tanya Merta masih belum mengerti.


"Hebat dong! Dia tau memilih gadis. Rena itu anak dari konglomerat di Itali!" Sahut Geof.


"Wah, benar juga!" Seru Merta mengerti akan maksud Geof.


"Hehehehe...." Geof dan Merta terkekeh licik.


"Baiklah, aku pergi ke kantor dulu ya!" Ucap Geof seraya mencium kening istrinya.


"Nanti siang kau mau makan apa? Aku akan mengantarnya.". Tanya Merta.


"Apa saja, yang penting kau yang masak." Bisik Geof.


"Oke!" Sahut Merta tersenyum senang.


Geof pun masuk ke dalam mobil dan pergi ke kantor dengan di antarkan oleh supir pribadinya yaitu Lutfi. Merta kembali masuk ke dalam rumah dan melihat Gading yang sedang cemberut di ruang tengah. Luky dan Lita berusaha untuk membuat Gading tak cemberut lagi, namun segala macam cara itu tak mampu membuat garis senyuman di bibir bocah yang berusia 5 tahun itu.


"Ini ponselmu!" Kata Merta memberikan ponsel mahal itu kepada Gading.


"Hehehehe, terima kasih bunda!" Ucap Gading cengengesan senang.


"Aku dan kakeknya begitu lelah mencoba untuk membuatnya tersenyum! Setelah di beri ponsel, dia malah cengengesan senang begitu! Dasar cucu edan!" Ujar Lita dengan judesnya.


"Dia sedang kasmaran!" Sahut Merta sambil menghela nafas.


"Kasmaran dengan siapa? Apa dengan gadis Itali yang dia bilang tadi saat sarapan?" Tanya Luky.


"Iya!" Sahut Merta.


"Siapa gadis Itali itu?" Tanya Luky lagi.


"Cucunya om Zidan!" Jawab Merta.


"Apakah kita akan berbesanan dengan Zidan si konyol itu?" Teriak Luky terkejut.


"Hei, kau juga konyol kakek tua!" Ujar Lita pada Luky.


"Kau, Abrar, Romi, Devan, Aska dan juga Zidan sama gilanya!" Sambung Lita.


"Hehehehe, kau benar! Hah, aku jadi ingin mengulang masa mudaku lagi bersama sahabat-sahabatku itu!" Sahut Luky.


"Tak terasa waktu cepat berlalu! Sekarang kita semua sudah punya cucu!" Sambung Lita.


"Kira-kira diantara kita nanti, siapa duluan ya yang akan masuk ke liang kubur?" Tanya Luky.


"Kau!" Jawab Lita.


"Hei, kalau aku yang lebih dulu mati, nanti kau akan jadi janda!" Teriak Luky sewot.


"Tidak masalah! Setelah aku jadi janda, aku akan mengincar duda kaya! Hahahaha." Ucap Lita asal bicara.


"Hei, apa aku ini kurang kaya, hah?" Teriak Luky kesal.


Merta hanya bisa tepok jidat melihat mertuanya itu beradu mulut. Hampir setiap hari ia melihat pertarungan antara kedua mertuanya yang tak lagi berusia muda. Merta seat sudah terbiasa dengan hal tersebut.


Merta menuju ke kamar putranya yang masih cengengesan sambil menatap layar ponselnya. Merta kembali menghela nafas panjang melihat tingkah putranya itu.


"Gading, cepatlah bersiap-siap! Apa kau tidak bersekolah hari ini?" Kata Merta pada putranya.


"Iya! Sebentar lagi." Sahut Gading sambil terus menatap layar ponselnya.


Merta melirik jam sudah menunjukkan pukul 8.45. sedangkan Gading masuk ke sekolahnya pukul 9 pagi. Merta sudah tak dapat menahan kesalnya. Ia mendekati putranya itu dan menyeretnya untuk segera mengganti pakaiannya dengan seragam TK.


"15 menit lagi! Cepat! Nanti kau terlambat, Gading!" Teriak Merta.


"Iya, Bun!" Sahut Gading.


"Ya Tuhan! Dia dan ayahnya selalu membuatku kesal setiap hari." Gumam Merta.


Tak ingin putranya selalu terlambat ke sekolah, Merta kembali menyeret Gading yang sudah berseragam TK untuk segera masuk ke dalam mobil. Supir yang di gaji untuk mengantar Gading ke sekolah pun tancap gas setelah diteriaki oleh Merta yang tak ingin Gading terlambat lagi.


Setelah dapat bernafas lega, Merta pun menuju ke ruang dapur dan memutuskan untuk memasak makan siang untuk suami tercinta. Dengan di bantu beberapa pelayan di dapur, Merta pun memaksakan beberapa menu makanan kesukaan Geof. Tak butuh waktu yang lama, Merta sudah menyiapkan semuanya. Bekal makan siang sudah tersusun rapi di dalam wadah.

__ADS_1


"Kau mau pergi mengantar makan siang untuk Geof?" Tanya Lita.


"Iya, ma!" Sahut Merta.


"Bekal ini biar supir saja yang antar, kau kan sedang hamil tua nanti kau lelah." Kata Lita.


"Tidak apa-apa, ma! Aku tidak lelah." Sahut Merta bersikeras untuk mengantar bekal makan siang untuk Geof.


"Ya sudah! Kalau begitu kau hati-hati ya. Jangan terlalu lelah." Kata Lita pada menantunya itu.


Setelah pamit dengan mertuanya, Merta pun pergi ke kantor Geof dengan di antarkan oleh supir. Jalanan yang begitu padat membuat mobil yang dinaiki oleh Merta terhenti di pertengahan jalan. Merta begitu resah dan bolak-balik melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Huh, kenapa bisa macet begini sih? Sudah hampir jam makan siang! Geof pasti sudah kelaparan." Gumam Merta resah sambil memegang bekal makan siang untuk Geof.


 


*****


Di ruang kantornya, Geof kedatangan tamu yang tak diundang. Geof yang semula fokus pada kerjaannya tiba-tiba melirik ke arah pintu ruangannya tersebut. Ia melihat Nadya yang masuk dengan blazer yang sedikit lebih ketat di tubuhnya. Senyuman mengambang pada bibir merah merona Nadya.


"Huh, dia lagi!" Umpat Geof dalam hatinya.


"Maaf, apa aku mengganggumu?" Kata Nadya berdiri di hadapan Geof.


Geof menekan tombol pada teleponnya yang tersambung ke sekretarisnya.


"Apa aku memiliki janji pertemuan dengan nona Nadya?" Tanya Geof pada sekertarisnya itu.


"Maaf, pak CEO! Nona Nadya yang mendesak ingin bertemu dengan anda." Sahut sekretarisnya.


Geof pun menutup sambungan teleponnya dengan sedikit rasa kesal.


"Apa aku boleh duduk?" Tanya Nadya dengan wajah yang begitu menggoda.


"Silahkan!" Sahut Geof.


"Ada apa nona Nadya? Setahuku kita tidak memiliki janji apapun!" Tanya Geof pada Nadya.


"Iya kau benar! Tadi aku kebetulan lewat sini, jadi aku memutuskan untuk singgah." Sahut Nadya.


"Apa kau sudah makan siang?" Tanya Nadya.


"Belum!" Sahut Geof.


"Mungkin kita bisa makan siang bersama!" Ajak Nadya seraya bangkit dari kursinya dan melangkah mendekati Geof yang masih duduk di kursi kerjanya. Nadya mencoba untuk menggoda geof sambil memijat pundak Geof.


"Berlakulah seperti tamu, nona Nadya yang terhormat!" Kata Geof menahan kesalnya.


"Kenapa? Apa kau tidak suka jika aku perhatian padamu?" Sahut Nadya terus berupaya menggoda Geof.


Geof sangat terkejut saat melihat Merta yang tiba-tiba masuk dan menyerang Nadya. Ia juga melihat Merta memukul Nadya dengan keras dan mendorong Nadya hingga terjatuh di lantai.


"Dasar tidak tau malu! Kau mau merebut suamiku, hah?" Teriak Merta ngamuk kepada Nadya.


"Maaf, aku tidak bermaksud......


"Pergi kau!" Teriak Merta lagi.


Nadya masih terduduk lemas di lantai, dengan maksud untuk mendapatkan perhatian dari Geof. Namun sayangnya, Geof tidak peduli sama sekali dengan Nadya. Perhatian Geof malah tertuju pada Merta yang ngamuk-ngamuk dalam kondisi hamil tua.


"Sial! Geof tetap tak perduli padaku walaupun aku telah dipukuli oleh istrinya itu!" Umpat Nadya kesal dalam hatinya.


Saat Merta akan memukul Nadya lagi, Geof menghentikannya. Geof menangkap tangan Merta yang hampir saja mendarat di kepala Nadya.


"Sayang, sudah!" Kata Geof menahan Merta.


"Kenapa kau menghalangiku? Apa kau mencoba untuk membela wanita penggoda ini, hah?" Teriak Merta kesal pada Geof.


"Bukan begitu sayang! Aku takut kau akan terluka nanti! Kau sedang hamil, sayang." Sahut Geof mencoba untuk menenangkan Merta yang sudah gelap mata.


"Aku tidak perduli!" Teriak Merta meronta-ronta.


Saat sedang meronta-ronta, tiba-tiba saja Merta merasakan kontraksi pada perutnya. Ia lantas meringis menahan sakit kontraksi pada perutnya. Geof melihat raut wajah Merta yang sedang menahan sakit.


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Geof pada Merta.


"Perutku sakit!" Sahut Merta.


"Apa? Apa kau akan melahirkan?" Tanya Geof mulai panik.


"Sudah! Tidak apa-apa. Perutku hanya kontraksi sebentar saja." Sahut Merta yang membuat Geof bisa bernafas lega.


Merta kembali melirik Nadya yang masih enggan pergi dari ruangan Geof. Merta kembali melangkah dengan cepat dan menarik rambut panjang milik Nadya. Sontak saja perlakuan Merta membuat Nadya menjerit kesakitan. Suara keributan pun terdengar hingga keluar ruangan. Banyak karyawan yang bekerja di perusahaan Geof berdiri di hadapan ruang kerja Geof untuk mendengar amukan dari Merta dan jeritan kesakitan dari Nadya.


"Beraninya kau menggoda suamiku!" Teriak Merta menarik rambut Nadya semakin kuat.


"Tolong aku, tuan Geof!" Pekik Nadya meminta pertolongan dari Geof.


"Tadi kau menggodaku, sekarang kau minta tolong padaku! Kau rasakan lah sendiri amukan dari istriku! Aku saja tak bisa berbuat apa-apa jika dia ngamuk!" Gumam Geof hanya bisa menatap dua Nadya yang sedang di tindak Merta.


Geof memutuskan untuk memanggil pihak keamanan untuk menghentikan Merta yang terus saja menindas Nadya. Saat menunggu pihak keamanan datang, Merta tiba-tiba melepas genggamannya dari rambut Nadya dan memegangi perutnya lagi sambil meringis menahan sakit.


"Aarrgghh! Sakit!" Pekik Merta yang membuat Geof kembali panik.

__ADS_1


"Sayang, apa perutmu sakit lagi?" Tanya Geof.


Merta mengangguk cepat.


"Aaarrgghhh!" Teriak Merta.


"Aku akan bawa kau ke rumah sakit!" Kata Geof menggendong Merta untuk keluar dari ruangannya dan membawanya ke rumah sakit.


Lagi-lagi Nadya berdecak kesal karena Geof tak memperdulikan dirinya. Pihak keamanan gedung perusahan milik Geof pun menghampiri Nadya dan membawanya keluar dari perusahaan itu. Semua karyawan di perusahaan itu menatap Nadya dengan tatapan dingin dan saling berbisik.


"Dasar tidak tau malu! Sudah tau CEO punya istri, tapi dia berusaha untuk menggodanya." Bisik salah satu karyawati yang berkerja di perusahaan Geof.


Nadya tampak sangat kesal karena karyawati tersebut berlaku tak sopan pada dirinya. Nadya mendekati karyawati tersebut dan menamparnya dengan keras.


"Jaga bicaramu! Apa kau tidak tau siapa aku, hah? Aku adalah rekan bisnis dari bosmu! Kau pikir kau sejajar denganku! Dasar karyawati rendahan!" Ujar Nadya menumpahkan kekesalannya pada karyawati yang bekerja di perusahaan Geof.


"Maaf nona!" Ucap karyawati itu takut pada Nadya.


"Jangan pernah berani mengusikku! Atau kalian akan tau akibatnya!" Ancam Nadya pada semua karyawan di perusahaan Geof.


Nadya pun berlalu dari perusahaan Geof dengan wajah sombongnya. Hari itu ia tampak begitu kesal karena gagal untuk menggoda Geof. Nadya masuk ke dalam lift dan menatap wajahnya dari bayangan dinding lift itu. Ia melihat memar yang ada di wajahnya serta rambutnya yang teracak-acak.


"Kita lihat saja nanti! Siapa yang akan memenangkan hati Geof? Aku atau kau Merta? Hehehe." Gumam Nadya terkekeh jahat.


 


*****


Di salah satu ruang bersalin, Geof begitu panik saat menyaksikan Merta sedang berjuang untuk melahirkan bayinya. Teriakan-teriakan Merta menggema di ruangan bersalin itu. Merta menggenggam tangan Geof dengan kuat sambil terus berusaha untuk mengeluarkan bayinya.


"Geof! Aku tidak kuat lagi!" Pekik Merta.


"Sayang, kau harus kuat!" Sahut Geof mencoba untuk memberikan semangat pada Merta.


"Aku tidak mau melahirkan lagi nanti!" Kata Merta di sela-sela perjuangannya.


"Jangan bilang begitu sayang! Kita harus memiliki 5 orang anak." Sahut Geof.


"Aku tidak mau! Kau menyebalkan!" Terus Merta.


"Aaarrgghh!" Teriak Merta menekan bayinya agar segera keluar.


"Oek...oek...oek....!" Tangisan bayi pecah di ruangan bersalin itu.


Geof menatap bayinya yang baru saja lahir ke dunia. Bayi perempuan yang begitu mungil nan menggemaskan kini sedang di bersihkan oleh salah seorang perawat. Merta yang tak merasakan sakit lagi, mengambil nafas lega setelah melahirkan bayinya.


"Sayang, bayi kita perempuan! Dia cantik seperti dirimu!" Ucap Geof terharu.


"Hah, aku lelah!" Ucap Merta.


"Siapa nama bayi kita ya?" Tanya Geof.


"Terserah kau!" Sahut Merta tak begitu perduli akan perkataan Geof karena sangking lelahnya.


"Giselle?" Tanya Geof.


"Oke!" Sahut Merta.


Setelah bayinya selesai di bersihkan, Geof menggendongnya dengan perasaan yang begitu haru. Ia berucap syukur karena telah diberikan bayi perempuan yang begitu manis. Lita dan Luky baru saja tiba di rumah sakit. Mereka begitu gembira melihat cucu kedua mereka yang sangat menggemaskan itu.


"Cucuku!" Seru sepasang kakek dan nenek itu.


"Siapa namanya?" Tanya Luky pada Geof.


"Giselle!" Jawab Geof.


"Eh, aku jadi teringat pada artis yang sudah bercerai itu!" Sahut Lita berpikir keras.


"Siapa?" Tanya Luky.


"Gading dan Giselle." Jawab Lita yang hobi nonton infotainment.


"Wah, kebetulan sekali! Nama cucu kita Gading dan Giselle. Hehehe." Seru Luky cengengesan.


"Ngomong-ngomong dimana Gading? Apa dia tidak ikut kesini?" Tanya Geof.


"Dia masih di sekolahnya! Tadi papa sudah menghubungi supir pribadinya Gading dan menyuruhnya untuk membawa Gading kesini ketika sudah pulang sekolah." Sahut Luky.


"Oh, begitu!" Kata Geof.


"Bagaimana dengan menantuku?" Tanya Lita pada Geof.


"Merta baik-baik saja! Dia sedang di tangani oleh dokter di dalam." Jawab Geof.


Luky dan Lita begitu gembira mendapatkan cucu lagi. Bahkan sangking gembiranya, sepasang kakek dan nenek itu sampai berebut untuk menggendong bayi yang di beri nama Giselle itu.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2