WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
TERSESAT


__ADS_3

Pagi hari Merta terbangun dalam dekapan Geof yang masih tertidur pulas. Merta menggeser tangan Geof yang melingkar di tubuhnya dengan perlahan. Karena hal itu membuat Geof terbangun dari tidurnya. Geof menatap Merta dengan tatapan yang tajam.


"Kenapa kau menggeser tanganku?" Tanya Geof pada Merta.


"Aku ingin ke kamar mandi, jadi menyingkirlah!" Jawab Merta mendorong Geof untuk menjauh darinya.


Merta melangkah cepat ke kamar mandi setelah Geof melepaskan dekapannya. Geof berdecak kesal karena ia tak bisa lagi memaksakan kehendaknya terhadap Merta karena kalah taruhan waktu itu.


"Huh, aku menyesal kalah taruhan dengannya waktu itu! Gara-gara itu aku tak bisa lagi menyentuhnya semauku." Gerutu Geof yang masih berbaring di atas ranjang.


Geof berpikir sejenak untuk mencoba mengakali Merta lagi agar taruhan itu batal. Geof terus berpikir keras saat itu, namun tak ada satupun ide yang dapat membatalkan taruhan tersebut. Geof kembali berdecak kesal karena ia tak bisa mengakali Merta lagi.


"Aaarrgghhhh! Merta kau menyebalkan." Teriak Geof hilang akal.


Di dalam kamar mandi, Merta kaget mendengar teriakan Geof.


"Dia pasti sedang kesal karena tidak bisa memaksaku lagi, hehehe." Gumam Merta sambil terkekeh senang.


Geof turun dari ranjang dan mendekati pintu kamar mandi.


"Kalau aku tidak bisa memaksakan kehendakku lagi padanya, namun aku kan masih bisa mengganggunya. Hehehe." Gumam Geof dalam hatinya.


Geof menggedor pintu kamar mandi dan berteriak memanggil Merta untuk mengganggunya.


"Merta!" Teriak Geof.


"Apa?" Sahut Merta berteriak dari dalam kamar mandi.


"Aku mau mandi!" Teriak Geof lagi.


"Aku sedang mandi! Tunggu sebentar." Sahut Merta.


"Buka pintunya!" Teriak Geof lagi.


"Apa kau tidak dengar yang aku katakan tadi? Aku sedang mandi!" Teriak Merta.


"Aku bilang cepat buka pintunya!" Teriak Geof lagi.


"Aku tidak mau!" Teriak Merta melawan.


"Aku akan mendobrak pintunya." Kata Geof.


"Jangan! Ini pintu hotel, bukan pintu apartemenmu." Sahut Merta.


"Aku tidak perduli." Ujar Geof.


Merta tau sifat Geof yang selalu nekat dalam bertindak. Ia tak ingin kejadian pintu roboh yang terjadi di apartemen waktu itu terjadi kembali di hotel itu. Cepat-cepat Merta membuka pintu kamar mandinya dan mengintip sedikit keluar. Melihat pintu sedikit terbuka, Geof langsung mendorongnya hingga pintu itu terbuka lebar. Geof menelan ludahnya saat melihat Merta yang sedang telanjang bulat.


"Kenapa kau mendorong pintunya, bodoh!" Teriak Merta kesal.


"Aku kan sudah bilang kalau aku ingin mandi." Sahut Geof dengan santainya masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintunya kembali.


"Geof, kau menyebalkan!" Teriak Merta lagi.


Geof menatap wajah Merta yang memerah karena tidak memakai sehelai benangpun di tubuhnya. Geof meraih tubuh Merta dan mendekapnya dengan erat. Geof juga mendekatkan wajahnya kepada wajah Merta.


"Hei, kepiting rebus! Merah sekali wajahmu. Apa kau malu karena aku melihatmu seperti ini?" Kata Geof berniat hanya ingin mengganggu Merta saja.


"Tentu saja, bodoh!" Sahut Merta berupaya terus berontak untuk terlepas dari dekapan Geof.


"Aku sudah sering melihatnya dan aku bahkan sudah menikmatinya! Lalu apa lagi yang membuatmu malu? Kau juga sudah sering melihat tubuhku saat telanjang kan? Hehehe." Bisik Geof yang membuat Merta semakin malu.


"Kau......" Merta tak bisa berkata apa-apa lagi untuk membalas ucapan Geof yang sangat memalukan itu.


"Tidak bisa membalasku, hah? Hehehe." Bisik Geof lagi namun kali ini Geof sekaligus menyentuh bokong Merta dengan gemas. Merta tersentak kaget dan berubah menjadi singa betina yang ganas.


"Beraninya kau menyentuh bokongku!" Teriak Merta menyerang Geof.


Merta menarik rambut Geof sambil memukulinya. Geof berteriak kesakitan seraya mencoba untuk menghindar dari Merta.


"Hentikan, Merta! Aduh, sakit, bodoh!" Teriak Geof.


"Aarrrggghh, kau menyebalkan! ****** kau." Sahut Merta tak mau berhenti menghajar Geof.


A few moment later.......


"Hah...hah...hah..., aku sudah puas!" Kata Merta masuk ke dalam bathtub setelah puas menghajar Geof.


"Aduh, sakit!" Kata Geof terduduk di lantai kamar mandi sambil mengusap kepalanya.


"Dasar singa betina! Tidak ada imut-imutnya sama sekali." Gerutu Geof sambil melirik Merta yang sedang menikmati berendam di dalam bathtub.


Geof bangkit dari lantai kamar mandi dan berjalan kearah Merta.


"Mau apa kau?" Tanya Merta gugup.


"Aku mau berendam!" Sahut Geof ikut masuk ke dalam bathtub bersama Merta.


Geof duduk di samping Merta yang sedang cemberut karenanya.


"Wah, sangat nyaman!" Seru Geof menikmati air yang ada di dalam bathtub.


Merta menatap Geof yang berendam sambil memejamkan matanya.


"Haiihh, biarkan saja lah! Dia juga sudah sering melihatku seperti ini, asalkan dia tidak melakukan hal yang lebih aku rasa tidak masalah." Gumam Merta dalam hatinya.


Merta masih melihat Geof yang memejamkan matanya saat berendam.


"Geof, apa pekerjaanmu sudah selesai disini?" Tanya Merta.


"Sudah!" Sahut Geof masih enggan membuka matanya.


"Lalu kapan kita akan kembali ke Indonesia?" Tanya Merta.


"Lusa." Jawab Geof singkat.


"Oh, begitu!" Sahut Merta.


Tiba-tiba Geof membuka matanya dan menatap Merta.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau ingin pulang? Apa kau tidak nyaman disini?" Tanya Geof.


"Tidak, bukan begitu. Aku hanya rindu pada ibuku. Entah kenapa beberapa hari ini aku gelisah saat teringat pada ibuku." Jawab Merta.


"Geof, ayo kita pulang saja. Aku ingin bertemu dengan ibuku." Pinta Merta.


Geof mendekatkan wajahnya kepada Merta sambil tersenyum mesum padanya.


"Kalau kau ingin cepat kembali ke Indonesia dan bertemu dengan ibumu, maka kau harus menciumku disini!" Kata Geof.


"Di bibir?" Tanya Merta.


"Iya, tapi jika kau ingin melakukan hal yang lebih pada tubuhku, aku rela memberikannya! Hehehe." Sahut Geof kembali tersenyum mesum.


Ppppllllaaakkkkkkkkkkk...........


Telapak tangan Merta mendarat di pipi Geof.


"Kenapa kau menamparku, Merta? Apa kau ingin mati, hah?" Teriak Geof kesal.


"Itu karena kau selalu berpikir mesum padaku! Dasar gila." Ujar Merta melangkah keluar dari kamar mandi.


"Merta, apa kau sudah selelai mandinya?" Tanya Geof bingung.


"Sudah!" Sahut Merta menggunakan handuk kimono.

__ADS_1


"Kenapa cepat sekali? Aku belum selesai!" Teriak Geof tidak senang.


"Bukan urusanku!" Sahut Merta seraya membanting pintu kamar mandi dengan keras.


Geof masih menatap Merta yang sudah keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya kembali. Geof tersenyum lebar karena puas mengganggu Merta pagi itu. Geof menyelesaikan mandinya untuk segera sarapan bersama Merta di restaurant hotel tempat mereka menginap.


Saat sedang sarapan bersama, Geof melihat wajah Merta yang sedikit murung. Saat itu bahkan Merta terlihat tak berselera untuk menyantap makanan yang ada dihadapannya. Geof tau apa yang sedang ada dipikiran Merta saat ini.


"Sudah, jangan murung lagi! Kita akan kembali ke Indonesia, besok." Kata Geof.


"Benarkah?" Tanya Merta dengan senyuman lebarnya.


'Iya." Sahut Geof.


"Tapi ada syaratnya!" Sambung Geof lagi.


"Kalau syaratnya hanya untuk melayanimu di ranjang, aku tidak mau!" Gerutu Merta sewot.


"Huh, dia bahkan bisa membaca pikiranku saat ini." Gumam Geof dalam hatinya.


"Baiklah, aku tidak memintamu untuk melakukan itu lagi! Aku hanya ingin kau menemaniku jalan-jalan di kota ini sebelum kita kembali ke Indonesia." Kata Geof.


"Baiklah! Dengan senang hati." Seru Merta senang.


"Hehehe, jalan-jalan kali ini pasti akan menguntungkan untukku." Gumam Geof memiliki rencana untuk mengerjai Merta.


Setelah selesai sarapan, Geof membawa Merta untuk pergi ke Central Park yang ada di kota New York. Disana banyak pengunjung yang menghabiskan waktu untuk bersantai menikmati pemandangan yang indah dan juga berfoto selfie pada air mancur yang ada di tengah-tengah taman itu.


Geof dan Merta duduk di sebuah bangku taman untuk menikmati suanana keramaian dari pengunjung.


"Udara disini lebih sejuk, ya!" Kata Merta menghirup udara dengan tenang.


"Tentu saja, karena di Central Park ini masih banyak pepohonan dan juga sungai yang bersih." Sahut Geof.


"Ini adalah tempat yang paling aku sukai, jika aku ke Amerika." Sambung Geof lagi.


"Apa kau sering kesini bersama Alya?' Tanya Merta.


Geof menatap wajah Merta yang duduk di sebelahnya.


"Apa kau sedang cemburu, Merta?" Tanya Geof sambil menaikan sebelah alisnya.


"Ti..tidak! Aku kan hanya bertanya saja. Mana mungkin aku cemburu. Hahaha." Sahut Merta gugup.


Geof memalingkan pandanganya dari Merta dan melihat kearah yang lain.


"Hah, seandainya kau benar-benar cemburu, aku pasti akan lebih mudah mengetahui perasaanmu yang sebenarnya terhadapku." Gumam Geof dalam hatinya sedikit merasa kecewa.


"Hei, jawab pertanyaanku! Apa kau sering kesini bersama Alya dulu?" Tanya Merta lagi ingin tau.


"Iya. Aku sering berjalan-jalan sambil bergandengan tangan dengannya disini dulu saat kami masih bersama." Jawab Geof.


"Huh, ternyata itu alasannya kenapa dia menyukai tempat ini, karena ada kenang-kenangannya bersama Alya." Gumam Merta kesal dalam hatinya.


Geof bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya kepada Merta untuk mengajaknya jalan-jalan mengitari taman itu.


"Ayo, kita jalan bersama." Ajak Geof.


"Huh, aku tidak mau jalan denganmu! Aku jalan-jalan sendiri saja." Sahut Merta dengan wajah sewot dan berjalan cepat menjauh dari Geof.


"Kenapa lagi sih dia? Kenapa tiba-tiba dia marah? Dasar kepiting rebus yang aneh!" Gerutu Geof bingung melihat sikap Merta terhadapa dirinya.


Geof mengikuti Merta dari belakang agar ia tidak kehilangan jejak Merta. Geof takut kalau Merta tersesat disana karena Central Park itu sangat lah luas dan juga ramai.


Sesekali Geof memanggilnya agar Merta tidak terlalu cepat dan menjauh darinya. Karena suasana taman itu terlalu ramai, Geof tiba-tiba saja kehilangan jejak Merta disana. Geof mulai panik karena ia tak dapat menemui Merta dimanapun.


"Ya Tuhan, dimana dia?" Kata Geof panik sambil mencari-cari keberadaan Merta.


Disatu sisi, Merta mulai ketakutan karena berjalan sendirian tanpa melihat Geof di dekatnya. Merta celingak-celinguk melihat tempat yang begitu asing darinya.


"Dimana ini? Geof dimana?" Gumam Merta panik dan mulai menangis.


Merta duduk di pinggiran air mancur sambil menangis disana. Beberapa orang memperhatikan Merta yang sedang menangis. Mereka mulai mendekati Merta dan bertanya-tanya tentangnya.


"Are you lost?" Tanya Salah seorang wanita bule disana.


Merta menggangguk sambil menangis.


"Who do you come with?" Tanyanya lagi.


"I come with my friend!" Jawab Merta.


"Do you know the way out of this park?" Tanya Merta ingin keluar dari taman itu.


"Come with me!" Kata wanita bule itu mengajak Merta untuk ikut bersamanya.


Merta bangun dari duduknya dan mengikuti wanita bule itu yang baru saja bertemu dengannya, bahkan Merta pun tidak tau nama wanita tersebut. Wanita itu memiliki niat yang terselubung pada Merta yang menggunakan jam tangan mewah di pergelangan tangannya. Wanita bule itu ingin mengambil harta benda yang Merta miliki.


Wanita bule itu pun membawa Merta ke sebuah tempat yang tampak sunyi dan jauh dari keramaian. Merta ketakutan dan mencurigai wanita bule itu.


"Aku tadi sempat melihat pintu masuk ke taman ini dan bukan ini tempatnya! Wanita bule ini pasti sedang menipuku." Gumam Merta dalam hatinya.


"Geof, dimana kau? Tolong aku." Gumamnya lagi dalam hati.


Merta berhenti mengikuti wanita itu.


"Why did you stop?" Tanya wanita bule itu.


Merta hanya diam saja seraya melangkah mundur dengan perlahan. Wanita bule itu tersenyum jahat dan mendekati Merta untuk melakukan niat jahatnya. Merta berlari berusaha untuk sejauh mungkin menghindari wanita bule itu. wanita bule itu tak tinggal diam, ia pun berlari mengejar Merta.


Merta terus berlari dengan kencang. Namun tiba-tiba lengannya di tarik. Merta berteriak histeris dan berontak sekuat tenaga.


"Go away! don't bother me." Teriak Merta berontak.


"Merta, lihatlah! Ini aku, Geof." Kata Geof.


Merta membuka matanya dan melihat Geof berada di hadapannya. Merta langsung memeluk Geof dengan erat.


"Geof, aku takut!" Ucap Merta dengan tubuh yang gemetar.


"Apa yang terjadi? Darimana saja kau?" Tanya Geof panik.


"Aku tersesat! Lalu ada seorang wanita yang mendekatiku dan berniat jahat padaku." Sahut Merta.


"Dimana wanita itu?" Tanya Geof.


"Aku tidak tau! Tadi dia mengejarku." Jawab Merta.


Geof melihat sekeliling dan tidak mendapati wanita yang dikatakan oleh Merta. Wanita itu bersembunyi di balik rerimbunan karena takut pada Geof.


"Sudahlah, yang penting aku sudah menemukanmu sekarang." Kata Geof.


"Jangan jauh-jauh lagi dariku, apa kau dengar?" Teriak Geof memarahi Merta.


"Iya." Sahut Merta takut pada Geof.


"Hah, kau membuatku panik saja." Kata Geof lagi.


"Geof, kita pulang saja." Pinta Merta.


"Tidak! Aku belum puas menikmati suasana disini." Sahut Geof menolak.


"Pegang tanganku, jangan sampai lepas! Kalau tidak kau akan tersesat lagi dan di bunuh oelh orang jahat yang ada di sini." Kata Geof menakut-nakuti Merta.


Merta langsung memegang erat lengan Geof karena takut pada perkataan Geof barusan. Geof tersenyum senang karena berhasil menakut-nakuti Merta.

__ADS_1


Geof dan Merta berdiri di atas jembatan sambil melihat beberapa orang yang sedang bersampan ria di sungai itu.


"Geof, aku haus." Kata Merta bergelayut pada lengan Geof yang sedari tadi tak terlepas dari genggamannya.


"Kemarilah, dekatkan wajahmu padaku!" Kata Geof.


Merta si lugu pun mengikuti perkataan Geof padanya. Merta mendekatkan wajahnya pada Geof yang berdiri di hadapannya. Geof segera menarik kepala serta leher Merta dan mendaratkan ciumannya pada bibir Merta. Merta kaget setengah mati karena Geof menciumnya di depan umum.


"Apa kau masih haus? Hehehe." Tanya Geof setelah puas melum*t bibir Merta.


"Dasar tidak tau malu!" Teriak Merta dengan wajah merah padam.


"Hei, kepiting rebus! Kenapa kau malu? Coba lihat di sekelilingmu, mereka berciuman dengan mesra dengan kekasihnya. Tidak ada satupun yang perduli dengan apa yang mereka lakukan." Kata Geof sambil menunjuk kearah beberapa pasangan yang sedang bermesraan di taman itu.


Merta melebarkan matanya saat melihat pasangan-pasangan tersebut sedang berciuman mesra disana.


"Apa kau ingin lagi?" Bisik Geof di telinga Merta.


Bak kereta uap, kepala Merta seakan mengembuskan kepulan asap karena mendengar bisikan Geof padanya.


"Aku sudah tidak tahan lagi!" Gumam Merta dalam hatinya.


Merta menarik kerah baju Geof dan menyeretnya untuk ikut bersamanya. Geof terhuyung-huyung berjalan mengikuti langkah Merta yang menarik kerah bajunya.


"Kenapa kau menarik kerah bajuku, Merta?" Teriak Geof.


"Aku haus, bodoh! Aku mau beli minuman." Sahut Merta terus menyeret Geof.


"Eh, ini dimana ya?" Ucap Merta bingung sambil berhenti di tengah jalan.


"Kita salah jalan, bodoh!" Teriak Geof kesal.


"Lalu jalan yang benar kearah yang mana?" Tanya Merta.


"Kesana!" Sahut Geof masih kesal.


Merta kembali menyeret Geof untuk ikut bersamanya. Tibalah mereka di salah satu restaurant yang terdekat di area cantral park itu. Merta duduk sambil mengibaskan rambut panjangnya karena merasa sedikit gerah. Geof duduk di hadapannya sambil merapikan kerah baju yang berantakan karena tarikan Merta.


Saat Geof sedang memesan minuman, mata Merta tertuju pada seorang wanita yang berdiri sambil menatap Geof.


"Itukan wanita yang kemarin! Alya." Gumam Merta dalam hatinya.


"Merta, kau mau pesan minuman apa?" Tanya Geof sibuk membolak balikkan sebuah buku menu.


"Terserah kau saja." Sahut Merta dengan nada yang sedikit sedih.


Geof menatap wajah Merta yang sedang melirik kepada Alya. Sontak saja Geof menoleh pada apa yang sedang di lirik oleh Merta. Geof menajamkan matanya saat ia melihat Alya yang beradu pandang dengannya.


"Ayo kita pergi dari sini!" Kata Geof menarik tangan Merta untuk ikut dengannya.


Merta ikut saja saat Geof menarik tangannya. Saat akan pergi dari restaurant itu, Alya menghadang mereka dan berupaya untuk menahan mereka untuk pergi.


"Geof, aku ingin bicara denganmu, sebentar saja!" Pinta Alya memohon pada Geof.


"Siapa kau? Aku tidak mengenalmu!" Ujar Geof pada Alya.


"Geof, aku mohon maafkan aku! Aku menyesal karena telah mengkhianatimu dulu. Aku..aku masih mencintaimu hingga sekarang. Aku bahkan sering datang kesini hanya untuk mengenang kenangan manis kita." Kata Alya sambil menangis.


"Kau pikir aku perduli dengan apa yang kau rasakan? Pergi kau, jangan menghalangi jalanku!" Teriak Geof sangat kesal pada Alya seraya mendorongnya.


Merta sangat terkejut saat Geof bersikap sangat kasar pada Alya.


"Geof, apa yang kau lakukan? Kenapa kau sangat kasar padanya?" Tanya Merta sambil berjalan dengan cepat untuk mengikuti langkah Geof yang sedang menarik tangannya.


"Dia hanya ingin minta maaf padamu dan menyesali perbuatannya dulu." Kata Merta lagi.


"Merta, cukup! Berhentilah ikut campur dalam urusanku." Bentak Geof kepada Merta.


Merta terdiam dengan mata yang berkaca-kaca. Ia seakan ingin menangis saat Geof membentaknya tadi. Geof kembali menariknya dan membawa Merta meninggalkan Central Park itu untuk segera kembali ke hotel. Setibanya di hotel Geof masih terlihat sangat kesal. Geof berdidi di dekat jendela kaca sambil menghela nafas dengan keras.


"Geof, apa kau masih mencintai Alya?" Tanya Merta.


"Aku sudah bilang padamu, jangan campuri urusanku!" Bentak Geof.


"Jika kau tidak mencintainya, kenapa kau marah?" Teriak Merta memberanikan dirinya.


"Aku tidak mencintainya lagi! Aku tidak akan pernah mencintai wanita yang sudah mengubah hidupku menjadi tidak berguna seperti ini!" Teriak Geof sangat marah.


"Dia yang membuatku tidak berani untuk memiliki hubungan yang serius dengan wanita lainnya! Dia yang membuatku berpikir kalau wanita hanya sebagai tempat pelampiasan nafsu bagi pria! Dia yang membuatku menjadi pria yang di cap sebagai pria hidung belang!" Teriak Geof lagi yang sudah hilang kendali.


"Geof, tenanglah!" Kata Merta meraih tubuh Geof yang hilang kendali.


Merta memeluk Geof dengan erat dan berusaha untuk menenangkanya. Merta membawa Geof duduk di tepi ranjang sambil terus menenangkannya.


"Dia yang membuatku patah hati." Ucap Geof kembali frustasi setelah bertemu Alya.


"Tenanglah, Geof! Aku mengerti perasaanmu sekarang." Ucap Merta terus memeluk Geof.


"Aku akan pergi keluar sebentar." Kata Geof hendak pergi namun Merta menahannya.


"Geof, kau tidak perlu pergi kemanapun. Istirahatlah! Kau terlihat sangat lelah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu di luar sana." Kata Merta menahan Geof untuk pergi.


Geof kembali duduk di ranjang itu.


"Tunggulah sebentar! Aku akan menyiapkan air mandi untukmu." Kata Merta.


Merta melangkah masuk ke kamar mandi, sedangkan Geof memilih untuk berbaring di atas ranjang itu sambil memejamkan matanya sejenak. Saat Merta keluar dari kamar mandi, ia melihat Geof sudah tertidur dengan pakaian yang belum diganti.


"Biarlah ia tidur seperti itu. Semoga setelah bangun nanti dia akan merasa lebih baik." Ucap Merta dalam hatinya.


Merta pergi untuk mandi dan setelah itu ia mengambil posisi di sebelah Geof yang sudah tertidur pulas. Merta pun merebahkan tubuhnya dan memutuskan untuk beristirahat.


 


*****


Pukul 2 dini hari, Geof terbangun dari tidurnya. Ia melihat Merta yang tertidur menghadap kearahnya. Geof menyentuh wajah Merta seraya mengelusnya dengan lembut. Entah apa yang membuatnya bergerak dan mencium kening Merta saat itu. Geof duduk sejenak untuk membuka kemeja yang masih melekat pada tubuhnya yang berotot itu. Kemudian, ia bangun dan mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Setelah puas minum, Geof kembali berbaring di ranjang dan mendekap Merta. Merta terbangun saat merasa ranjang itu bergoyang. Ia melihat Geof yang sedang menatapnya.


"Jam berapa ini? Apa sudah pagi?" Tanya Merta sambil mengucek kedua matanya.


"Ini masih jam 3 pagi! Kembalilah tidur. Setelah sarapan, kita akan pergi ke bandara untuk kembali ke Indonesia." Kata Geof sambil mendekap Merta yang sudah terbangun.


"Geof, apa kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Merta.


"Iya." Sahut Geof.


"Apa kau tau, kau tadi sangat frustasi dan membuatku takut!" Kata Merta.


"Itu karena kau membela si Alya yang jahanam itu!" Ujar Geof kesal.


"Lalu apa menurutmu aku harus berpihak padamu, begitu?" Tanya Merta.


"Tentu saja! Aku ini orang yang teraniaya dalam masalah ini. lagipula aku adalah orang yang menggajimu. Bukannya membelaku tapi kau malah berpihak pada si Alya itu. Huh, dasar menyebalkan!" Ujar Geof lagi sambil berdengus kesal.


"Baiklah, aku akan berpihak padamu! Tapi naikkan gajiku ya." Pinta Merta.


"Dasar kau!" Ujar Geof.


"Hanya bersisa 4 bulan lagi masa kontrakku! Apa salahnya kau menaikkan gajiku?" Kata Merta sewot.


"Iya, baiklah! Aku naikkan gajimu menjadi 50 juta perbulan." Sahut Geof.


"Wow, Geof memang orang kaya!" Seru Merta.


"Tentu saja! Hehehe." Sahut Geof menyombongkan dirinya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2