
Merta melangkah ke dapur setelah ia selesai mandi. Ia akan membuatkan sarapan untuk Geof dan juga dirinya. Disana Merta tampak sedang memotong-motong sayuran dan juga bahan makanan lainnya. Geof mendekatinya dengan celana panjang dan bertelanjang dada. Hanya handuk kecil yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.
"Hari ini kau buat sarapan apa?" Tanya Geof.
"Capcay kuah! Apa kau suka?" Sahut Merta.
"Semua makanan aku suka!" Kata Geof.
"Baguslah kalau begitu, nanti aku masukkan daging manusia untukmu!" Ujar Merta.
"Kau pikir aku turunan Sumanto, apa?" Balas Geof sewot.
"Hehehe, siapa tau saja kau doyan!" Kata Merta cengengesan.
"Aku doyan dagingmu, Merta! Hehehe." Balas Geof dengan tatapan yang seakan ingin melahap Merta di dapur.
"Hehehe, kau tau aku sedang memegang apa, Geof?" Tanya Merta mengarahkan mata pisau kehadapan Geof.
"Huh, beraninya cuma mengancam saja, kau!" Ujar Geof mundur teratur.
"Cepat siapkan sarapannya! Aku sudah lapar." Kata Geof lagi meninggalkan ruang dapur itu. Geof bahkan mengurungkan niatnya untuk mengganggu Merta karena takut pada pisau yang di pegang Merta.
"Baik!" Seru Merta senang karena berhasil menakut-nakuti Geof sang predator.
Tak lama menunggu makanan sudah tersaji di meja makan. Merta memanggil Geof untuk datang ke ruang makan dan menyantap sarapan paginya. Setelah selesai sarapan pagi, Merta merapikan tempat tidur dan juga menyimpan pakaiannya ke dalam lemari.
Saat sedang sibuk-sibuknya, Merta sepintas melihat lingkaran kecil pada kalender yang tergeletak di atas meja. Ia melihat tanggal yang ia tandai untuk jadwalnya ke rumah sakit. Merta tampak berpikir sejenak saat itu.
"Aku dan Geof kan tidak melakukan hal itu lagi! Geof sudah berjanji padaku, jadi aku tidak perlu suntik kontrasepsi lagi." Pikirnya dalam hati.
Merta kembali mengerjakan pekerjaannya membereskan dan merapikan benda-benda yang berantakan. Seisi kamar terlihat rapi dan juga bersih. Kini Merta melangkah ke dapur dan melihat kantung sampah yang sudah mulai penuh. Merta membawa kantung sampah itu dan membuangnya ke tempat pembuangan sampah. Saat akan keluar dari apartemen, Geof mencegahnya.
"Mau kemana kau?" Tanya Geof pada Merta yang sedang membawa kantung berisi sampah.
"Apa kau tidak lihat kalau aku membawa kantung sampah? Aku mau buang sampah!" Sahut Merta.
"Biar aku saja!" Kata Geof seraya merampas kantung sampah itu dari Merta.
Merta kaget setengah mati saat Geof yang memiliki sifat pemalas dan suka memerintah, tiba-tiba saja mau membuang sampah yang tidak pernah ia lakukan sama sekali. Merta menatap Geof yang pergi keluar dengan membawa kantung sampah itu.
"Kenapa dia tiba-tiba saja berubah jadi rajin? Biasanya dia selalu cuek kalau aku mau membuang sampah!" Gumam Merta bingung melihat perubahan pada diri Geof.
"Ya sudahlah! Kalau dia menjadi rajin, itu kan bagus juga." Gumam Merta lagi seraya menutup pintu apartemen dan masuk ke dalam.
Geof turun menggunakan tangga darurat untuk membuang sampah dapur yang ia bawa. Geof berjalan terus menuruni anak tangga membuat kakinya merasa sedikit pegal.
"Kalau Merta yang membuang sampah ini, nanti dia bertemu dengan si Vian itu! Terus si Merta di pegang-pegang sama dia. Aku tidak akan mengizinkan itu terjadi." Gumam Geof dalam hatinya.
Ternyata perubahan sikap Geof terhadap Merta karena ia merasa cemburu pada Vian yang juga menyukai Merta. Sesama pria ia tau kalau tatapan mata Vian terhadap Merta bukan hanya sekedar teman atau tetangga saja, melainkan perasaan suka yang ditunjukkan Vian kepada Merta. Hal itu yang membuat Geof terkadang kesal dan cemburu saat melihat Merta berbincang dengan Vian.
Yang ada di pikiran Geof, ternyata benar. Pagi itu Vian memang kebetulan baru saja selesai membuang sampah. Geof pun berselisih jalan dengan Vian saat itu. Mata keduanya saling menatap kesal dan penuh kebencian.
"Apa yang kau lihat? Apa kau mau matamu ku congkel?" Ujar Geof kesal pada Vian.
"Hah, kau duluan yang menatapku! Kenapa kau yang marah? Dasar pria tempramen!" Sahut Vian ikutan kesal.
"Oh, kau sedang cari mati ya!" Kata Geof hendak menyerang Vian.
Tiba-tiba terdengar teriakan Merta dari kejauhan.
"Geof, berhenti!" Teriak Merta seraya berlari mendekati keduanya.
"Untuk apa kau kemari? Sudah aku bilang biar aku saja yang membuang sampahnya!" Teriak Geof marah pada Merta.
"Justru itu aku mengikutimu! Aku tau kau pasti akan bertemu dengan Vian disini dan bertengkar seperti anak kecil." Sahut Merta.
"Aku tidak melakukan apa-apa! Dia yang duluan mencari masalah denganku." Kata Geof berdalih. Padahal terlihat jelas bahwa Geof sedang menarik kerah baju Vian untuk memukulnya.
__ADS_1
"Kau ini! Sudah salah masih saja tidak mau mengaku." Ujar Merta kesal pada Geof.
"Apa? Aku tidak melakukan apa-apa?" Tanya Geof berpura-pura polos.
"Kalau kau tidak melakukan apa-apa, lantas untuk apa kau masih menggenggam kerah baju Vian, Geof?" Teriak Merta hilang kesabaran.
Geof cepat-cepat menarik tangganya dari kerah baju Vian yang sedang menatapnya dengan kesal. Kemudian Geof berpura-pura seperti sedang tidak ada kejadian apa-apa. Geof mengangkat kantung sampah itu dan membuangnya ke tong sampah besar. Setelah itu Geof menarik tangan Merta untuk pergi dan menjauh dari Vian. Merta pun berjalan cepat mengikuti langkah Geof yang menariknya. Vian menatap Geof dan Merta yang sudah menjauh darinya.
"Dasar Geof gila! Terlalu kekanak-kanakan. Apa dia sudah menggilai Merta, sehingga dia berlaku konyol seperti tadi?" Gumam Vian sambil menggelengkan kepalanya.
Di dalam apartemen Merta masih menatap Geof dengan kesal. Sedangkan Geof masih berpura-pura seperti tidak ada sesuatu yang salah darinya. Geof melirik Merta yang sedang menatapnya sedari tadi.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Geof pura-pura bodoh.
"Masih bertanya? Kau pasti akan memukul Vian kan tadi?" Ujar Merta kesal.
"Tidak! Untuk apa aku memukulnya?" Sahut Geof.
"Jelas-jelas kau menarik kerah bajunya tadi, kau pasti akan menghajarnya." Kata Merta lagi.
"Kau salah paham padaku! Aku tadi berniat untuk merapikan kerah bajunya saja, bukan untuk memukulnya." Sahut Geof berdalih.
"Dasar kekanak-kanakan!" Ujar Merta.
"Siapa suruh dia mendekatimu!" Gumam Geof sembari menatap kesegala arah.
Merta salahnya kaget saat mendengar perkataan Geof, namun tak lama ia tersenyum curiga.
"Geof, apa kau sedang cemburu?" Tanya merta.
"Tidak! Aku tidak cemburu." Jawab Geof dengan wajah memerah.
"Hehehe, dasar udang goreng! Wajah sudah Semerah itu masih saja tidak mau mengakui." Gumam Merta.
"Bodo amat!" Sahut Geof masih tak mau mengakuinya.
Merta dan Geof saling menatap sejenak setelah itu mereka saling memalingkan wajah mereka masing-masing karena untuk menyembunyikan semburat merah yang ada di pipi mereka. Merta naik ke lantai atas untuk membersihkan dirinya, sedangkan Geof memilih kabur dan masuk ke ruang tengah sambil menyalakan televisi.
"Dasar kepiting rebus! Hehehe." Gumam Geof tersenyum bahagia.
*****
Vian sedang duduk di sofa yang ada di apartemen miliknya. Ia teringat wajah Merta yang menatap wajah Geof dengan cara yang tak biasa. Vian tau kalau Merta memiliki perasaan yang lebih terhadap Geof.
"Hah, sepertinya aku akan patah hati lagi sebelum aku mengatakannya!" Ucap Vian menghela nafas pasrah.
Ia menyadari kalau dirinya sudah pasti akan kalah dari Geof. Karena tatapan mata Merta ke Geof sudah menunjukkan kalau Vian tidak bisa merebut Merta dari Geof. Akhirnya Vian pun memutuskan untuk berhenti berharap dari Merta, walaupun ia tidak sempat menyatakan perasaannya itu.
Malam harinya, Vian baru saja kembali dari toko yang menjual peralatan melukis. Sesuai dengan hobinya itu, Vian selalu kembali ke apartemen dengan sebuah kantung yang berisi alat-alat melukis. Saat akan menaiki lift, ia melihat Merta yang juga sedang menunggu lift. Vian mendekati Merta yang tampak membawa barang belanjaan keperluan dapur.
"Hai, Merta!" Sapa Vian.
"Hai, Vian!" Balas Merta seakan ingin menjauhi Vian.
"Sepertinya kau ingin sekali menjauh dariku! Apa Geof melarangmu untuk berbicara denganku?" Tanya Vian.
"Tidak! Bukan seperti itu, aku hanya tak ingin kau dan dia selalu bertengkar!" Sahut Merta.
"Katakan padanya aku tidak akan merebutmu darinya!" Kata Vian.
"Kenapa kau bilang seperti itu?" Tanya Merta.
"Merta, aku tau kalau kau memiliki perasaan terhadap Geof!" Kata Vian membuat wajah Merta memerah.
"Kau..kau tau dari mana?" Tanya Merta lagi.
"Aku bisa melihatnya dari matamu saat menatapnya! Terlihat jelas kalau kau menyukai Geof." Sahut Vian.
__ADS_1
"Aku juga yakin kalau Geof juga memiliki perasaan terhadapmu." Kata Vian lagi.
"Eh, kau tau darimana?" Tanya Merta lagi.
"Geof itu gila! Dia rela melakukan apa saja hanya untuk melindungimu." Sahut Vian.
"Aku benar kan?" Tanya Vian.
"Aku tidak tau!" Sahut Merta malu-malu.
Vian tersenyum melihat wajah Merta yang memerah dan juga malu-malu.
"Apa kau mau berteman denganku, Merta?" Tanya Vian mengulurkan tangannya pada Merta.
"Iya!" Sahut Merta menyambut tangan Vian dengan hangat.
Hari itu Merta dan Vian kembali berteman dan hubungan mereka benar-benar hanya sekedar teman karena Vian tidak berniat untuk merebut Merta lagi dari genggaman Geof.
Merta masuk ke dalam apartemen dan membawa barang belanjaan untuk di simpan di lemari pendingin. Tak lama kemudian Geof menghampirinya.
"Merta, apa kau sudah menyiapkan makan malam?" Tanya Geof.
"Belum! Apa kau sudah lapar? Aku akan menyiapkannya." Sahut Merta bergegas hendak memasak.
"Tidak usah masak malam ini." Kata Geof.
"Eh, kenapa? Bukannya kau sudah lapar." Tanya Merta.
"Eeemmm, aku mau makan diluar!" Sahut Geof.
"Oh, baiklah! Kalau begitu aku akan masak untuk diriku saja." Kata Merta.
"Aduh, dasar kepiting rebus! Tidak peka sekali dia." Gumam Geof dalam hatinya.
Geof kembali mendehem sambil mendekati Merta.
"Merta, aku mau mengajakmu makan di luar!" Kata Geof.
"Be...benarkah?" Tanya Merta gugup.
"Iya!" Sahut Geof.
"Pergilah bersiap-siap! Aku akan menunggumu di ruang tengah." Kata Geof lagi.
"I..iya, baiklah!" Sahut Merta cepat-cepat melangkah masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
Saat di dalam kamar, Merta jingkrak-jingkrak gak jelas karena sangking kegirangannya. Walaupun bukan untuk pertama kalinya bagi mereka makan malam diluar, namun itu kali pertama Merta seakan pergi berkencan bersama Geof. Tak ingin membuat Geof menunggu lama, Merta pun bersiap-siap untuk berganti pakaian serta dandan.
Beberapa menit kemudian, Merta menuruni anak tangga dengan dress yang begitu cocok di tubuhnya. Riasan tipis dan lipstik berwarna merah muda membuatnya terlihat manis. Geof melirik Merta yang tersenyum padanya.
"Kau sudah siap?" Tanya Geof.
"Iya." Sahut Merta.
"Ayo kita pergi!" Ajak Geof.
Merta mengiyakan dan mengikuti langkah Geof dari belakang. Merta dan Geof masuk ke dalam mobil dan memakai safety belt.
"Malam ini kau mau makan apa?" Tanya Geof sebelum menyalakan mesin mobilnya.
"Apa saja boleh!" Sahut Merta.
"Bagaimana kalau kita makan makanan pinggir jalan?" Tanya Geof.
"Kau suka makan makanan di pinggir jalan? Apa kau tidak takut sakit perut? Secara kan kau orang kaya!" Kata Merta terkejut.
"Aku memang lahir di keluarga yang kaya, namun aku juga suka makan makanan yang di jual di pinggiran jalan. Menurutku makanan itu sangat lezat dan aku tidak pernah sakit perut." Sahut Geof.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita makan bakso yang ada di perempatan jalan? Baksonya lezat loh!" Kata Merta.
__ADS_1
"Oke!" Sahut Geof setuju.
Malam itu Geof dan Merta pergi makan malam di sebuah warung bakso yang terkenal enak dan tak jauh dari lokasi apartemen mereka.