WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
ANCAMAN


__ADS_3

Merta kembali ke apartemen setelah ia puas berbelanja di mall dengan kartu kredit yang diberikan oleh Geof padanya. Merta duduk di di sofa sambil memegang lembaran-lembaran fotonya bersama Geof yang di potret Eva semalam. Merta mengeratkan genggamannya terhadap lembaran foto tersebut. Ia sangat khawatir apabila ibu dan tantenya tau tentang hubungan antara dirinya dan Geof.


"Aku harus bagaimana, jika Eva sampai buka mulut tentang hubunganku dengan Geof?" Gumamnya dalam hati.


"Jika ibuku tau tentang hal ini, maka akan berdampak buruk untuk kesehatannya." Kata Merta sangat khawatir.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana menghadapi Eva? Aku tau dia tidak akan puas dengan jumlah uang yang aku berikan padanya tadi." Katanya lagi semakin panik.


Saat ia sedang berpikir untuk menghadapi Eva, Merta mendengar suara pintu yang terbuka. Merta melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 6 sore.


"Itu pasti Geof! Sebaiknya aku menyimpan foto-foto ini." Kata Merta berlari masuk ke kamar untuk menyimpan foto itu di dalam lemari pakaiannya.


Geof masuk ke dalam rumah dan meletakkan tas kerjanya di sofa. Merta kembali turun untuk menyambut kepulangan Geof seperti yang biasa Geof perintahkan padanya. Merta membantu Geof membuka jas dan ikatan dasi di lehernya. Geof tersenyum mesum sambil menarik pinggang Merta mendekat padanya. Geof menciumi Merta hingga ia merasa puas.


"Kau ingin mandi?" Tanya Merta.


"Iya, bersamamu!" Bisik Geof.


Merta hanya bisa menghela nafas pasrah dengan permintaan Geof padanya. Tak butuh waktu lama, Geof dan Merta sudah berada di dalam bathtub kamar mandi. Dengan busa sabun yang lembut serta wangi, Geof memeluk Merta dari belakang.


"Ceritakan padaku, apa yang kau lakukan seharian ini?" Tanya Geof pada Merta.


"Aku hanya berusaha untuk menghabiskan harta kekayaan keluargamu dengan berbelanja di mall!" Sahut Merta asal bicara.


"Harta kekayaan keluargaku tidak akan habis jika kau membeli mall nya sekalipun!" Kata Geof sombong.


"Huh, dasar orang kaya sombong!" Ujar Merta sewot.


"Hahaha! Kau lucu sekali. Aku suka melihatmu kesal." Kata Geof tertawa.


"Apa kau bertemu dengan seseorang di mall?" Tanya Geof.


"Eeemmm, tidak!" Sahut Merta tak ingin bicara mengenai Eva.


"Apa kau yakin dengan jawabanmu itu?" Tanya Geof lagi sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Iya." Sahut Merta singkat.


Geof tiba-tiba kesal dan mencengkram lengan Merta dengan kuat. Merta meringis kesakitan sambil beradu pandang dengan Geof.


"Aku tau kau diperas oleh temanmu yang ******* itu!" Ujar Geof dengan tatapan tajamnya.


"Apa? Bagaimana kau bisa tau?" Tanya Merta terkejut.


"Setelah kau menandatangani kontrak menjadi wanitaku, aku menyiapkan orang-orang ku untuk membuntuti mu kemana pun kau pergi. Aku tau apa yang lakukan diluar sana!" Kata Geof membuat Merta semakin terkejut.


"Berapa uang yang sudah kau berikan pada ******* itu?" Tanya Geof.


"Se..sepuluh juta!" Jawab Merta ketakutan.


"Dasar bodoh! Kenapa kau berikan uangmu padanya?" Teriak Geof kesal.


"Dia mengancam ku! Dia akan membongkar hubungan antara aku dan kau pada ibuku." Sahut Merta.


"Aku peringatkan, kau jangan berikan uangmu lagi padanya!" Kata Geof.


"Lalu aku harus bagaimana menghadapi Eva? Dia mengancam ku akan mengirimkan foto dan video mengenai hubungan kita." Kata Merta.


"Biar aku yang urus! Tugasmu hanya untuk membuatku senang. Apa kau mengerti?" Kata Geof mencengkram dagu Merta.


"I..iya!" Sahut Merta ketakutan.


 


*****


Waktu tengah malam, Geof melirik Merta yang sudah tertidur pulas di sampingnya. Geof menggeser tubuh Merta dengan hati-hati agar ia tidak terbangun. Geof turun dari ranjang dan mengganti pakaian piyamanya. Ia keluar dari kamar sambil memegang ponsel. Geof menghampiri pintu depan dan memakai sepatu. Sebelum ia keluar dari apartemennya, ia tampak menghubungi seseorang melalui telepon genggam selulernya.


"Bagaimana? Apa misi kita lancar?" Tanya Geof pada seseorang di telepon.

__ADS_1


"Iya, bos! Wanita itu sudah masuk ke dalam perangkap." Sahutnya.


"Tunggu aku! Aku akan segera kesana." Kata Geof.


" Siap, bos!" Sahut orang itu.


Geof turun dengan lift dan menuju ke area bawah parkir. Ia masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin. Geof melajukan mobil itu ke sebuah alamat yang dikirimkan oleh orang-orang suruhannya.


Beberapa menit kemudian, tibalah Geof di salah satu kos-kosan yang terbilang cukup bebas. Geof melihat beberapa pasangan muda-mudi yang masuk ke dalam kamar kos sambil bergandeng mesra.


"Dasar *******!" Gumam Geof menatap sebuah kamar yang lampunya masih menyala.


Lalu seorang pria menghampiri Geof yang masih berdiri sambil bersandar pada sisi mobilnya.


"Bos!" Sapa pria yang menjadi orang suruhannya.


"Dimana wanita itu?" Tanya Geof.


"Dia ada di dalam bersama dengan pria hidung belang yang kita bayar untuk menjebaknya." Jawab pria itu.


"Bagus!" Sahut Geof tersenyum jahat.


Malam itu adalah malam dimana Geof berhasil menjebak Eva untuk mendapatkan semua bukti foto dan video yang akan menjadi ancaman untuk Merta. Geof membayar seorang pria hidung belang tampan berpura-pura sebagai pria kaya yang akan menyewa jasa Eva sebagai wanita penghibur.


Di dalam kamar kos-kosan Eva.


"Tuan, kenapa kita tidak melakukannya di hotel saja agar lebih nyaman? Kamar kos milikku ini sangat sempit." Tanya Eva seraya menggoda langganannya.


"Tapi aku lebih suka di tempat yang sempit, sayang!" Bisik pria hidung belang yang menyamar sebagai pria kaya.


"Baiklah! Mari kita mulai." Ajak Eva bagaikan ******* yang profesional.


"Santai saja! Waktu kita masih panjang. Ayo kita minum dulu." Kata pria hidung belang itu menyodorkan segelas air minum yang sudah tercampur dengan obat tidur.


Ingin membuat pelanggannya senang, Eva pun mengambil gelas minuman itu dan meminumnya hingga habis. Tak lama kemudian saat Eva akan menggoda dengan sentuhan-sentuhan manjanya, ia merasakan pusing luar biasa pada kepalanya. Eva seketika roboh di atas tubuh pria hidung belang itu.


pria hidung belang itu keluar dari kamar kos dan memberikan kode kepada Geof yang menunggu di luar.


Geof memberikan sebuah amplop yang berisi segepok uang kepada pria hidung belang tersebut.


"Ini bayaran mu! Sekarang pergilah!" Kata Geof pada pria hidung belang itu.


"Baik, tuan!" Sahut pria hidung belang itu senang mendapatkan uang banyak dengan pekerjaan yang begitu mudah.


Orang-orang suruhan Geof mengobrak-abrik kamar kos Eva untuk mencari semua foto dan juga video mengenai hubungan Merta dan Geof. Mereka mengambil laptop serta ponsel milik Eva dan beberapa flashdisk kepada Geof.


"Bos, kami sudah mendapatkan semua buktinya!" Kata pria itu pada Geof.


"Bagus!" Sahut Geof mengambil semua bukti dan menghancurkannya.


Laptop, ponsel serta flashdisk itu hancur di injak-injak oleh Geof dengan penuh amarah. Semua benda tersebut hancur berantakan. Geof mengambil memory card dan juga kartu seluler milik Eva.


"Letakkan sampah ini kembali ke dalam kamarnya! Kalau perlu letakkan semuanya di samping tempat tidurnya!" Perintah Geof pada orang suruhannya itu lagi.


Setelah menghancurkan semua bukti, Geof kembali ke apartemen sebelum Merta terbangun dari tidurnya. Geof tiba di apartemen dan segera mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang tadi ia gunakan sebelum keluar. Geof berbaring dan mendekap tubuh Merta yang masih nyenyak tertidur.


"Hehehe, semua yang aku lakukan malam ini tidak gratis, Merta! Kau harus segera membayarnya." Bisik Geof pada telinga Merta.


Ppplllaaakkkk.......


Merta tiba-tiba menampar wajah Geof dengan keras. Geof kaget dan melihat mata Merta masih tertutup rapat.


"Dasar brengsek!" Racau Merta mengigau.


"Hah, setiap malam kau selalu saja mengigau." Ucap Geof menahan rasa sakit di pipinya.


Geof kembali merebahkan tubuhnya dan mendekap Merta. Ia memejamkan matanya dan tertidur pulas.


Keesokan paginya, Eva terbangun dengan kepala yang terasa pusing. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan tanpa sengaja menyenggol sampah-sampah elektronik yang hancur berantakan di lantai. Eva melebarkan kedua matanya saat melihat laptop, ponsel serta flashdisknya hancur berkeping-keping.

__ADS_1


"Apa...apa yang terjadi?" Teriak Eva panik.


"Ponsel, laptop dan flashdisk ini hancur." Kata Eva menyentuh sampah elektronik itu.


Eva berusaha mengingat kembali apa yang terjadi padanya semalam.  Ia mengingat semuanya dengan perasaan yang sangat kesal.


"Kurang ajar! Semalam aku di jebak oleh seseorang." Ujar Eva kesal.


Ia kembali menatap sampah-sampah elektronik itu sambil mengepalkan tangannya.


"Semua bukti foto dan video itu telah hancur! Aku tidak bisa lagi memanfaatkan Merta untuk mendapatkan keuntungan darinya. Sial!" Ujar Eva lagi.


"Awas kau Merta! Aku pasti akan mengatakan semuanya pada ibumu di kampung." Ujar Eva sangat geram ingin menghancurkan Merta.


 


******


Di kamar apartemen, Merta merapikan tempat tidur dan menyiapkan segala keperluan Geof pagi itu untuk pergi bekerja. Geof keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Merta tak ingin melihat hal itu. Ia langsung berjalan cepat untuk segera keluar dari kamar. Namun hal itu tidak semudah yang ia bayangkan, Geof menarik tubuhnya dan segera menind*hnya di atas ranjang.


"Mau lari kemana, kau? Apa kau pikir kau bisa lari dariku, hah?" Kata Geof menatap wajah Merta yang berada di bawahnya.


"Aku akan menyiapkan sarapan untukmu, hehehe." Sahut Merta tersenyum canggung.


Geof melirik jam dinding yang berputar.


"Kita masih punya banyak waktu, sebelum aku pergi ke kantor!" Kata Geof menatap mesum pada Merta.


"Hahaha, nanti kau bisa terlambat! Jadi sebaiknya kau segera pakai baju kemeja mu." Sahut Merta dengan detak jantung yang dah dig dug.


"Merta, kau harus melakukan sesuatu untuk mengucapkan terima kasih padaku." Kata Geof membuat Merta bingung.


"Terima kasih? Untuk apa?" Tanya Merta.


"Untuk sesuatu hal yang sudah aku lakukan semalam." Jawab Geof.


"Memangnya kau melakukan apa semalam?" Tanya Merta dengan wajah bingung.


"Nanti kau juga akan mengetahuinya." Jawab Geof.


"Sekarang lakukan tugasmu! Sudah dua hari ini kau tidak melayani aku, bukan?" Kata Geof menginginkan sesuatu di pagi hari yang masih dingin itu.


"Jika kita melakukannya, nanti kau akan kerepotan untuk mandi sekali lagi." Kata Merta mencari alasan untuk menolak keinginan Geof.


"Aku tidak keberatan jika harus mandi berkali-kali, yang penting aku merasakan kepuasaan darimu!" Bisik Geof menimbulkan rona merah di pipi Merta.


"Cepat lakukan, kepiting rebus ku!" Perintah Geof pada Merta.


Mau tak mau Merta harus melakukan apa yang di perintahkan dan diinginkan oleh Geof sebagai wanitanya. Puas melakukan apa yang dia inginkan, Geof kembali mandi dan segera memakai kemeja kerjanya. Merta masih berbaring dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Setelah memakai kemejanya dengan rapi, Geof kembali mendekati Merta lagi.


"Aku pergi dulu. Berikan aku ciuman!." Bisik Geof pada telinga Merta.


Merta pun melakukan apa yang diperintahkan Geof kepadanya. Ia memberikan ciuman pada kedua pipi wajah Geof.


"Tapi kau belum sarapan, kan?" Sahut Merta.


"Aku sarapan di luar saja nanti." Kata Geof hendak keluar kamar.


Saat akan memutar gagang pintu, Geof membalikkan tubuhnya ke arah Merta.


"Oh, iya! Aku sudah menyiapkan supir untukmu. Jadi saat kau akan keluar rumah, maka hubungilah terlebih dahulu supir itu agar dia bisa menjemput dan mengantarkanmu kemana saja kau pergi." Kata Geof.


"Aku tidak mau supir!" Sahut Merta menolak.


"Lalu, apa kau ingin mobil?" Tanya Geof.


"Aku ini wanita kampung yang miskin! Aku tidak bisa menyetir mobil." Sahut Merta.


"Ya sudah, kalau begitu kau butuh supir! Jangan membantahku lagi!" Kata Geof tegas.

__ADS_1


Geof membuka pintu dan keluar dari kamar. Merta berdecak kesal dengan sikap Geof yang selalu saja memaksa dirinya. Tak lama kemudian, Merta merasakan lapar pada perutnya. Ia bangkit dari tempat tidur dan segera mandi, lalu ia berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri.


__ADS_2