
Merta menyiapkan air mandi untuk Geof di kamar mandi atas yang ada di dalam kamarnya. Merta menunggu air penuh di dalam bathtup mandi sambil berpikir mengenai pertanyaan Geof kepadanya tadi.
"Apa-apaan dia? Tiba-tiba menanyakan hal itu padaku? Dasar idiot!" Gumam Merta dalam hatinya.
Saat sedang melamun di dalam kamar mandi, tiba-tiba Geof berteriak yang mengagetkan Merta. Merta menoleh kepada Geof yang berdiri di sampingnya.
"Merta!" Teriak Geof.
"Aaaarrggghhh!" Pekik Merta kaget. Merta pun menoleh pada Geof yang sedang menatapnya.
"Sejak kapan kau berdiri disini?" Tanya Merta pada Geof.
"Sejak tadi! Apa kau tidak sadar airnya sudah meluber kemana-mana?" Teriak Geof pada Merta.
Merta kaget melihat air pada bathtup mandi itu sudah penuh dan meluap. Cepat-cepat Merta mematikan keran airnya. Merta tersenyum canggung pada Geof yang sedang melotot padanya.
"Hehehe, airnya sudah siap, tuan!" Ucap Merta ketakutan pada Geof.
"Huh, dasar kau!" Sahut Geof kesal.
Merta melangkah keluar dari kamar mandi dan Geof masih melirik padanya. Geof menarik lengan Merta dengan cepat. Merta menoleh ke arah Geof.
"Mau kemana kau?" Tanya Geof pada Merta.
"Mau keluar! Katanya kau ingin mandi jadi aku keluar lah." Sahut Merta.
"Buka pakaianmu!" Perintah Geof pada Merta.
"Untuk apa?' Tanya Merta terkejut.
"Apa kau bodoh tidak mengerti maksudku?" Teriak Geof lagi.
"Tapi aku baru saja selesai mandi tadi setelah pulang dari rumah sakit." Sahut Merta.
"Aku bilang mandi, maka kau harus mandi! Kau harus menuruti apa yang aku perintahkan padamu sebagai wanitaku!" Ujar Geof memaksa.
"Aku tidak mau! Nanti kulitku kembang karena terus-terusan mandi." Teriak Merta hendak melarikan diri dari kamar mandi itu.
Geof menjadi semakin kesal dan terus memaksa Merta untuk mandi bersama dirinya. Geof mengangkat tubuh Merta dan melemparkannya ke dalam bathtup yang sudah penuh di isi dengan air. Sekujur tubuh Merta basah terkena air di bathtup itu. Merta menatap Geof dengan sangat kesal, sedangkan Geof tertawa melihat Merta yang sudah basah kuyup karena ulahnya.
"Hahaha, sekarang kau sudah basah kuyup jadi kau mau tidak mau harus mandi lagi!" Kata Geof menang.
"Dasar kau psikopat sialan!" Umpat Merta kesal pada Geof.
Kemudian Geof dan Merta bersiap-siap untuk pergi ke pesta pernikahan Gaby dan Boy. Ini kali pertama untuk Merta pergi bersama Geof setelah berbulan-bulan tinggal bersama. Merta duduk di depan cermin dengan peralatan make-up yang akan dia gunakan. Sedangkan Geof sedang sibuk memilih pakaian terbaiknya untuk pergi ke pesta. Suasana hening di kamar itu terpecah saat nada dering ponsel Geof berbunyi. Geof segera menerima panggilan telepon yang tidak lain adalah dari Lita.
"Kau dimana? Apa kau tidak pergi ke pesta pernikahan Boy dan Gaby?" Tanya Lita pada Geof.
"Iya, nanti aku akan menghadirinya, ma! Aku sedang bersiap-siap sekarang." Sahut Geof.
"Ikutlah bersama kami saat pergi ke pesta itu." Kata Lita.
"Mama dan papa pergi saja duluan, aku akan menyusul nanti." Kata Geof menolak untuk pergi bersama kedua orang tuanya.
"Kau ini kenapa? Kau selalu saja tidak punya waktu untukku bahkan kau tidak pernah pulang kerumah lagi selama beberapa bulan ini." Kata Lita protes.
"Ma, aku sudah dewasa sekarang! Aku ingin mandiri dan tinggal di apartemenku." Sahut Geof.
"Kalau kau merasa sudah dewasa, maka dari itu berikan menantu dan cucu untukku, Geof!" Teriak Lita kesal.
Geof tepok jidat mendengar jeritan hati dari seorang ibu yang sangat ingin memiliki menantu dan cucu.
"Hah, apa hubungannya sih?" Geof ngedumel sendirian menanggapi perkataan Lita.
__ADS_1
"Geof! Apa kau mendengar teriakanku tadi, hah? Segera berikan aku menantu dan cucu, kalau tidak aku akan mencapmu sebagai pria yang menyukai sesama jenis. Apa kau mengerti, hah?" Teriak Lita yang memekakkan telinga Geof.
Geof enggan menanggapi amukan Lita padanya. Ia segera memutuskan sambungan telepon dari ibunya itu. Di kediamannya Luky berdiri di sudut ruangan dengan tubuh sedikit gemetar menatap istrinya yang ngamuk-ngamuk di telepon.
"Kurang ajar! Dia menutup teleponnya." Teriak Lita semakin kesal karena ulah putranya itu.
"Hehehe, sayang, mungkin Geof sedang sibuk." Sahut Luky mencoba untuk menenangkan Lita.
"Sibuk apanya, hah? Dia bilang dia sedang berada di apartemennya!" Teriak Lita lagi.
"Hehehe, maksudku sibuk mengurusi calon menantu kita." Kata Luky yang membuat Lita auto tenang.
"Apa? Menantu kita?" Tanya Lita dengan nada yang sangat tenang.
"Siapa menantu kita?" Tanya Lita lagi.
"Mungkin dalam waktu dekat ini kau akan mengenalnya. Jadi bersabarlah sebentar." Sahut Luky.
"Jika kau dan putramu itu mencoba untuk mengelabui aku, maka aku akan menggantung kalian berdua di tiang bendera!" Teriak Lita mengancam suaminya.
"Oke..oke! Peace!" Sahut Luky menunjukkan dua jari pada Lita.
"Cepatlah, kita nanti akan terlambat untuk menghadiri pesta pernikahan Gaby dan Boy." Kata Lita menyeret Luky pergi.
***
Geof melirik Merta yang sudah mengenakan gaun indah yang di belinya di mall tadi siang. Merta terlihat canti dengan gaun pesta yang berwarna silver itu. Gaun itu memiliki kerah yang rendah di bagian dadanya dan Geof tidak suka jika belahan dada Merta terlihat sedikit.
"Lepaskan gaun itu!" Kata Geof pada Merta.
"Aku tidak suka jika bagian tubuhmu terlihat oleh orang lain." Sahut Geof.
Merta menatap di depan cermin dan melihat gaun yang masih melekat di tubuhnya. Merta bergumam sendirian saat merasa gaun yang ia beli cocok dirinya. Tak lama kemudian, Geof melemparkan kotak berpita kepada Merta.
"Apa ini?" Tanya Merta bingung.
"Itu gaun yang aku belikan untukmu tadi. Pakai gaun itu saja." Kata Geof sedikit memaksa.
Merta membuka pita kotak itu dan melihat Gaun indah berwarna biru muda yang bermodel ekor duyung di bagian bawahnya. Merta terpesona dengan gaun yang di belikan Geof untuknya. Gaun itu bahkan lebih indah dari gaun yang ia beli. Merta segera mengganti gaunnya dengan gaun yang di belikan Geof untuknya. Tidak lama kemudian Merta kembali ke depan cermin dan melihat dirinya menjadi lebih anggung dengan gaun biru muda itu.
"Bagaimana dengan penampilanku sekarang?" Tanya Merta pada Geof yang sedang duduk di tepi ranjang untuk memakai sepatunya.
Geof menoleh dan menatap Merta. Betapa terpananya Geof melihat Merta tampak cantik dengan gaun indah yang ia beli. Lekuk tubuh Merta menyatu dengan gaun itu yang membuat kesan sexy pada tubuh Merta.
"Cantik sekali dia." Gumam Geof terpesona melihat Merta.
"Kenapa kau diam saja? Ayo jawab! Bagaimana penampilanku? Apakah sudah sesuai dengan pesta orang kaya yang akan aku hadiri?" Tanya Merta pada Geof.
"Bagus!" Sahut Geof sembari memalingkan wajahnya.
"Huh, dia hanya komentar begitu saja, dasar!" Gumam Merta kesal dalam hatinya.
Tak lama kemudian, mobil mewah berhenti di area parkir mobil. Turunlah Geof dan juga wanita yang menemaninya hadir di acara pernikahan sahabatnya. Wanita itu tak lain adalah Merta yang menjadi pelayan serta wanitanya di apartemen. Tampak Merta sedang menggandeng tangan Geof, itupun karena di paksa oleh Geof.
Geof masuk dan melihat suasana pesta yang sangat meriah. Ia juga melihat nama kedua mempelai pengantin yang terpampang jelas, Gabriella dan Boy. Geof melirik ke arah wanita yang kini menggandeng tangannya.
"Karena wanita ini aku jadi lupa dengan misiku untuk mendekati Gaby.." Ucap Geof dalam hatinya.
Geof dan Merta menghampiri si empunya pesta tersebut. Gaby dan Boy melirik Merta yang terlihat cantik dan anggun dengan gaun yang di belikan oleh Geof.
__ADS_1
"Bro, Apakah ini pelayan yang di apartemenmu?" Bisik Boy pada Geof.
"Iya." Sahut Geof singkat.
"Cantik sekali dia! Kawini saja." Kata Boy.
"Iya, nanti aku kawini. Hehehe" Sahut Geof dengan pikiran kotornya.
"Eehh, aku salah bicara! Maksudnya nikahi saja dia, baik untuk memperbaiki keturunanmu." Kata Boy.
"Kau pikir aku sejelek apa, hah?" Ujar Geof kesal pada Boy.
"Hehehe, lumayan lah." Kata Boy.
"Apanya yang lumayan?" Tanya Geof.
"Jeleknya!" Jawab Boy cengengesan.
"Brengsek kau!" Ujar Geof kesal.
Tak ingin berlama-lama mendengar celotehan Boy, Geof menarik tangan Merta untuk mengikutinya mengambil makanan. Merta melihat makanan enak itu dengan sangat antusias. Geof melirik Merta yang sudah sangat ingin menyantap makanan mewah itu.
"Hei, biasa aja melihatnya! Apa kau tidak pernah melihat makanan ini?' Tanya Geof pada Merta.
"Tentu saja tidak pernah! Mana mungkin rakyat jelata sepertiku makan makanan mewah ini. dasar aneh." Sahut Merta sewot.
"Dasar udik!" Ujar Geof pada Merta.
"Huh, dasar menyebalkan!" Balas Merta.
"Cepat bawakan makanan untukku, aku sudah sangat lapar! Aku tunggu di meja yang itu." Kata Geof.
"Iya, bawel!" Sahut Merta masih dengan tampang sewotnya kepada Geof.
Merta mengambil makanan untuk Geof sambil berdecak kesal dan menggerutu sendirian.
"Setiap hari selalu saja merepotkan aku, suruh ini lah suruh itu lah, belum lagi bawelnya itu yang tidak ketulungan.., ampun deh aku jadi pelayannya selama dua tahun.." Gerutu Merta kesal pada Geof.
Merta siap dengan membawa makanan di piring untuk Geof walaupun sedikit kerepotan harus bolak-balik mengambil apa yang Geof inginkan.
Sepasang mata melihat Merta dan Geof makan bersama satu meja di pesta itu.
"Apakah itu calon menantuku? Hah, dia sangat cantik!" Ucap Lita melihat Merta duduk di samping Geof.
"Aku akan menghampiri calon menantuku dan membicarakan pernikahan mereka." Ucap Lita lagi hendak menghampiri Merta dan juga Geof.
Saat hendak melangkah, kerah gaun Lita di tarik oleh Luky yang tau sifat istrinya itu.
"Hei, kau mau kemana?" Tanya Luky pada Lita.
"Menghampiri calon menantuku!" Jawab Lita.
"Untuk apa?" Tanya Luki.
"Untuk membicarakan perniakahan dan jumlah cucu yang akan di lahirkan untukku!" Seru Lita bersemangat.
"Tidak bisa! Ikut denganku sekarang, jangan ganggu Geof dan wanitanya." Kata Luky menyeret Lita untuk menjauh dari Geof dan Merta.
"Huhuhuhuhu, calon menantuku!" Ucap Lita nangis bombai karena di seret Luky untuk menjauh.
__ADS_1