WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
BINGKAI FOTO


__ADS_3

Geof dan Merta kembali ke apartemen setelah mereka menghadiri pesta pernikahan Boy dan Gaby. Merta berlari masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk membersihkan diri, sementara Geof masih duduk bersantai di sofa dengan sebatang rokok di jari tangannya. Geof melirik kalender yang berada di atas meja dan melihat lingkaran yang di tandai oleh spidol.


"Kenapa tanggalnya di lingkari? Apa ini tanggal ulang tahunnya? Tapi seingatku tanggal ulang tahunnya tanggal 22 maret." Gumam Geof dalam hatinya.


Geof tidak mengetahui kalau tanda lingkaran itu adalah jadwal Merta untuk pergi kerumah sakit lagi menemui dokter agar ia bisa mendapatkan suntik kontrasepsi lanjutan.


Beberapa menit kemudian, Merta keluar dengan pakaian tidur dan rambut yang masih basah. Merta duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya dengan haridryer. Geof melirik Merta sepintas dan kembali melirik kalender.


"Apa tanggal itu kau yang melingkarinya?" Tanya Geof pada Merta.


"Iya." Sahut Merta singkat.


"Kenapa? Apa itu hari ulang tahunmu?" Tanya Geof pura-pura tidak tau tanggal lahir Merta.


"Bukan! Itu adalah jadwal untukku kembali kerumah sakit." Jawab Merta.


"Untuk apa kau kerumah sakit lagi?" Tanya Geof.


"Suntik kontrasepsi lanjutan! Setiap sebulan sekali aku harus di suntik agar tidak hamil." Jawab Merta.


Geof seketika kesal dan menekan puntung rokok dengan kasar di asbak kaca. Geof berdengus kesal dan sedikit menendang meja saat ia hendak bangkit dari duduknya. Merta kaget saat Geof menendang meja itu. Merta melirik Geof dan melihatnya dengan wajah yang sangat masam. Geof melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya dengan keras.


"Ada apa dengannya?" Gumam Merta bingung dengan sikap Geof yang tiba kesal.


Geof berada di dalam kamar mandi menatap cermin besar di sana. Satu persatu ia membuka kancing kemejanya dengan perasaan yang sangat kesal. Seketika ia tersadar dengan sikap kesalnya yang tiba-tiba muncul karena ucapan Merta yang tidak ingin hamil.


"Apa yang terjadi denganku? Kenapa aku sangat kesal?" Ucap Geof seraya menepuk wajah dengan kedua telapak tangannya.


Geof selesai mandi dan telah menggunakan piyama tidurnya. Ia naik ke atas ranjang dan melihat Merta telah tertidur pulas membelakanginya. Geof merebahkan tubuhnya senyaman mungkin dengan bantal empuk di bawah kepalanya. Lalu tiba-tiba Merta tanpa sadar berbalik menghadap Geof dan wajahnya tepat di dada bidang Geof. Wajah Geof memerah seketika saat Merta tidur sangat dekat dengannya. Jantungnya berdebar dengan kencang seraya ia menatap wajah Merta.


"Wanita ini membuatku menjadi pusing! Tujuan utamaku adalah untuk mempermainkannya saja karena aku ingin membalaskan rasa kesalku padanya. Dulu dia pernah menghinaku saat di bar. Tapi setelah pertemuan di tempat perjudian itu, aku dan dia malah terjebak disini selama dua tahun lamanya." Gumam Geof dalam hatinya.


"Ya Tuhan! Apa maksudnya ini? Tidak mungkin dia jodohku, bukan? Dia seorang pelayan dan gara-gara ide gilaku, aku malah membuatnya menjadi wanita di ranjangku!" Gumam Geof lagi dalam hatinya.


Geof sama sekali tidak menyadari dengan perasaannya yang semakin lama semakin menyukai Merta. Jika ia tidak menyukai Merta, bagaimana mungkin ia menjadikan Merta wanitanya.


"Ibu." Racau Merta dalam tidurnya membuat pikiran Geof buyar.


Geof kembali menatap Merta yang tampak sedang bermimpi dalam tidurnya. Jantung Geof kembali berdebar-debar saat Merta semakin mendekatkan wajahnya pada dada Geof, bahkan saat itu Merta juga meletakan tangannya di atas dada Geof. Geof menaikan garis senyumnya dan merasakan kenyamanan yang lebih saat ia dan Merta tidur saling mendekap hangat. Merasakan kenyaman itu, Geof pun mulai memejamkan matanya dan tidak lama kemudian ia pun tertidur dengan nyenyak.


 


***


Pagi-pagi buta Lita sudah rapi dengan tas kecil di lengannya. Ia melirik sang suami yang masih mendengkur di atas ranjang. Pagi itu adalah hari minggu, hari malas sedunia untuk para pekerja yang memiliki rutinitas yang padat. Lita memberikan kecupan hangat pada suaminya sambil berbisik padanya.


"Suamiku tercinta, aku ini wanita yang pintar, jadi pagi ini aku akan menggrebek Geof dan calon menantu kita di apartemennya. Hehehe." Bisik Lita pada Luky yang masih terlelap tidur dengan dengkurannya yang keras.


Lita berjalan dengan santai dan sangat bersemangat. Lita masuk ke dalam mobil dan memerintahkan supir untuk membawanya ke apartemen Geof. Tidak sampai satu jam perjalanan, Lita sudah berdiri di depan pintu apartemen Geof.


"Semoga ia belum mengganti password lock pintu apartemennya." Gumam Lita menekan beberapa digit nomor di pintu apartemen Geof.


Lita melebarkan senyumnya saat pintu itu terbuka. Lita berjengkat masuk ke dalam dan melepaskan sepatu hak tingginya di rak sepatu. Mata Lita berbinar-binar saat melihat seluruh ruangan apartemen itu tampak bersih dan juga tertata rapi.


"Aku seperti sedang bermimpi melihat apartemen ini dalam keadaan yang bersih dan rapi untuk pertama kalinya!" Gumam Lita lagi.


Lita celingak-celinguk mencari keberadaan penghuni apartemen itu.


"Dimana mereka?" Gumam Lita lagi.

__ADS_1


Lita kembali melangkah sambil berjengkat dengan perlahan agar suara kakinya tidak terdengar oleh si empunya apartemen. Lita naik ke lantai atas dan berdiri di depan pintu kamar. Perlahan namun pasti Lita memutar gagang pintu dan membuka pintu kamar itu. Lita masuk dan melihat putranya sedang tertidur pulas dan berbagi selimut dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Merta.


"Wah, mereka sangat mesra!" Seru Lita dalam hatinya kegirangan.


Lita mengambil ponselnya dan mulai mengambil foto keduanya yang masih terlelap sambil mendekap. Lita mengambil foto Geof dan Merta dari berbagai sudut. Lita kegirangan mengambil begitu banyak foto mereka berdua.


"Hehehe, kau tidak akan bisa kabur dari putraku, wanita cantik!" Gumam Lita melihat beberapa hasil jepretan di ponselnya.


"Sebaiknya aku pergi! Jika aku tidak ada di sini, mungkin saja mereka akan terbangun dan saling tatap, kemudian mereka akan saling mendekatkan wajahnya lalu berciuman, setelah itu mereka akan melakukan adegan ranjang yang panas. Lalu beberapa bulan kemudian, wanita ini akan melahirkan seorang bayi yang tidak lain adalah cucuku! Wah, aku semakin bersemangat!" Seru Lita dalam hatinya mengkhayalkan keinginan dirinya.


Lita keluar dari apartemen dan berlalu pergi dengan mobilnya.


"Pak, sekarang kita menuju ke tempat percetakan foto, ya." Perintah Lita pada supir pribadinya.


"Baik, nyonya." Sahut sang supir.


 


***


Di dalam kamarnya, Geof mengendus wangi parfum yang sangat ia kenali. Geof membuka matanya dan melihat sekeliling kamarnya.


"Aku mencium wangi mama di kamar ini!" Gumam Geof yang sangat tanda wangi tubuh wanita yang melahirkannya itu.


"Tapi mama tidak mungkin datang kesini karena mama tidak suka melihat apartemen ini yang dulunya sering kotor. Hehehe." Gumam Geof lagi.


Geof menatap Merta masih tertidur di dalam dekapannya. Geof segera mendaratkan ciumannya pada bibir Merta sehingga Merta seketika membuka matanya lebar-lebar. Merta kaget dan mendorong tubuh Geof sekuat mungkin,namun Geof yang memiliki tenaga lebih besar darinya,mampu menahan dorongan Merta. Merta pun hanya bisa pasrah dengan perlakuan Geof terhadapnya.


"Selamat pagi, wanitaku! Hehehe." Ucap Geof dengan tatapan mesumnya.


"Kau menyebalkan!" Sahut Merta dengan wajah memerah.


"Wajahmu merah sepeti kepiting rebus." Kata Geof mengejek Merta.


"Cepat buatkan aku sarapan!" Perintah Geof seraya menepuk bokong Merta.


"Jangan sentuh bokongku!" Teriak Merta lagi ngamuk-ngamuk.


Merta turun dari ranjang dan keluar dari kamar dengan perasaan yang sangat kesal karena Geof menyentuh bokongnya, sedangkan Geof masih berbaring di atas ranjang sambil cengengesan. Geof kembali mencium aroma wangi Lita di dalam kamar itu.


"Hah, mungkin aku rindu pada mama! Setelah sarapan aku akan pergi mengunjunginya." Kata Geof berniat untuk mengunjungi kedua orang tuanya dirumah.


Geof bangkit dari ranjang dan pergi mandi. Selesai mandi ia sarapan bersama dengan Merta di ruang makan. Saat sedang menyantap sarapannya, lagi-lagi Geof berbuat keisengan untuk mengganggu Merta dan membuatnya kesal. Geof sangat senang jika wajah Merta memerah bagaikan kepiting rebus karena ulah kejahilannya.


 


* * *


Setelah selesai sarapan Geof mengendarai mobilnya dan pergi menuju kediaman orang tuanya. tiba di sana ia melihat para pelayan senyum-senyum sambil melirik kepadanya. Geof bingung kenapa para pelayan yang bekerja di rumah orang tuanya begitu aneh saat melihat kedatanganya.


"Ada apa dengan mereka? Mengapa mereka senyum-senyum saat melihatku?" Gumam Geof bingung.


Geof terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Ia menuju ke ruang tengah untuk menemui kedua ornag tuanya yang sedang bersantai di sana. Saat akan melangkah menuju ke ruang tengah,tiba-tiba Geof melihat ada sesuatu hal yang baru di dinding rumahnya. Geof melebarkan kedua matanya melihat sebuah foto berukuran sangat besar terpajang disana.


"Apa-apan ini?" Teriak Geof melihat foto dirinya dan Merta sedang tertidur pulas di ranjang.


Teriakan Geof mengguncang rumah mewah tersebut beserta isinya. Lita dan Luky menghampiri putranya yang masih tercengang melihat foto tersebut.


"Ada apa?" Tanya Litapada Geof.

__ADS_1


"Kenapa kau berteriak?" Tanya Luky pada Geof.


Geof menatap kedua orang tuanya yang berekspresi culun.


"Siapa yang memotretku?" Tanya Geof kesal.


"Aku!" Sahut Lita dengan nada santainya.


Geof kembali teringat dengan wangi parfum Lita yang tercium di kamar apartemen miliknya.


"Pantas saja aku mencium aroma wangi mama disana tadi pagi, ternyata mama memang masuk ke apartemenku!" Gumam Geof dalam hatinya.


"Hehehe, fotonya bagus ya!" Ucap Luky cengengesan.


"Papa!" Teriak Geof kesal.


"Kenapa? Wanita itu cantik kok!" Sahut Luky.


Geof berdengus kesal dan hendak menurunkan bingkai foto yang berukuran sangat besar itu dari atas tembok.


"Berani kau menurunkannya, akan aku patahkan leher papamu!" Teriak Lita mengancam Geof.


"Eh, kenapa jadi leherku yang mau di patahkan?" Tanya Luky dengan wajah begoknya menatap Lita.


"Bodo amat!" Sahut Geof tidak peduli dengan ancama Lita.


"Hei, kenapa kau bilang begitu, Geof? Aku ini papamu, dasar anak kurang ajar kau!" Teriak Luky kesal karena Geof tidak perduli jika lehernya patah.


"Geof! Aku bilang jangan turunkan foto itu." Teriak Lita lagi dengan luapan amarah yang besar.


Melihat kemurkaan Lita, Geof mengurungkan niatnya untuk menurunkan bingkai foto itu. Geof melangkah mundur untuk menjauhi Lita yang bagaikan gunung api akan segera meletus.


"Hehehe, baiklah mama! Ini adalah rumahmu dan terserah kau mau berbuat apa, iya kan pa?" Kata Geof sambil melirik Luky. Kedua pria itu ketakutan melihat Lita ngamuk.


"Iya, kau benar putraku yang tidak beruntung memiliki mama yang gila seperti dia." Sahut Luky berbisik pada Geof.


"Kau bilang apa barusan, hah? Luky, apa kau ingin aku cincang?" Teriak Lita semakin marah.


Lita mendengar perkataan Luky yang mengatakan kalau dirinya wanita gila. Lita semakin kesal dan segera memberikan hukuman untuk kedua pria itu. Luky dan Geof hendak lari untuk menghindari amukan dari Lita. Lita berhasil menarik kerah baju Luky dengan cepat saat Luky hendak lari, sedangkan Geof terus berlari kencang untuk segera kabur dari amukan Lita.


"Geof, tolong aku!" Teriak Luky pada putranya yang sudah kabur masuk ke dalam kamarnya.


 


Bbbrraaakkkk..........


Pintu kamar tertutup rapat dan di kunci oleh Geof. Geof memegang dadanya dan merasakan debaran jantungnya yang berdetak kencang karena ketakutan melihat murka dari Lita.


"I'm sorry, papa!" Ucap Geof yang tidak bisa menolong Luky.


Geof kembali tercengang melihat semua sisi tembok kamarnya yang di penuhi oleh foto-foto dirinya dan Merta yang tertidur di ranjang apartemen.


"Tidak!" Teriak Geof frustasi melihat semua tembok terisi penuh oleh foto-foto itu.


"Aku harus melenyapkan semuanya." Gumam Geof hendak menurunkan semua foto-foto itu.


Saat Geof akan menurunkan foto-foto itu, ia melihat tulisan Lita di tembok.


"Jika kau berani menurunkan semua foto ini, akan aku habisi papamu!" Ancam Lita menulis tulisan itu di tembok kamar Geof.

__ADS_1


Geof terduduk lemas dan membayangkan betapa menderitanya Luky jika di hajar oleh Lita. Geof menghela nafas panjang dengan sangat amat berat.


"Hah, kenapa papa bisa jatuh cinta pada wanita yang mengerikan itu, sih?" Gumam Geof mengatakan Lita adalah wanita yang mengerikan.


__ADS_2