WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
SKAKMAT


__ADS_3

Merta kembali ke apartemen sedikit agak terlambat dari waktu yang Geof berikan padanya. Geof duduk di sofa sambil menatapnya dengan tajam. Merta mulai gugup dan takut Geof akan marah. Merta terpaksa cengengesan kepada Geof untuk menghilangkan rasa takut dan gugupnya.


"Hai, sayang! Hehehe." Sapa Merta tak seperti biasanya.


"Huh, kau takut karena kau terlambat kan? Maka dari itu kau memanggilku sayang!" Ujar Geof.


"Hehehe, aku terlambat karena sesuatu yang tak terduga tadi." Kata Merta.


"Cepat siap-siap! Kita akan pergi ke bandara." Kata Geof.


Merta berlari menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap. Tak lama kemudian Merta turun dengan dress berwarna kuning cerah. Geof menatap Merta karena ia terpesona akan kecantikannya itu.


"Ayo kita ke Amerika!" Seru Merta gembira.


"Huh, begitu gembiranya kau hanya karena mau pergi ke luar negeri." Kata Geof sewot.


"Iyalah! Ini kali pertama aku jalan-jalan keluar negeri. Dan yang paling membuatku bahagia adalah aku akan naik pesawat!" Seru Merta lagi.


"Apa kau tidak pernah naik pesawat?" Tanya Geof sedikit terkejut.


Merta menggeleng.


"Hei, aku ini orang kampung! Untuk  membeli makanan sehari-hari saja kesulitan, mana mungkin aku bisa membeli tiket pesawat. Makanya aku tidak pernah naik pesawat!" Sahut Merta.


"Miris sekali hidupmu!" Ujar Geof.


"Tak masalah! Walaupun kehidupanku susah, tapi aku bahagia memiliki ibu dan tante Maya disisiku!" Kata Merta.


Geof tertegun saat ia mendengar perkataan Merta yang selalu bersyukur dengan apa yang ia dapatkan dalam kehidupannya. Geof dan Merta pergi dari apartemennya menuju ke bandara. Merta sangat antusias untuk pergi keluar negeri dengan menaiki pesawat terbang.


Di dalam pesawat Merta duduk di kabin yang lumayan luas. Ia terpukau dengan fasilitas yang ada di ruangan kabin pesawat itu.


"Kenapa berbeda dengan yang aku lihat di koran waktu itu? Kabin ini sangat luas dan mewah!" Kata Merta.


"Tentu saja berbeda! Yang kau lihat itu class ekonomi, kalau yang ini class VVIP!" Sahut Geof dengan songongnya.


"Sombong sekali kau!" Ujar Merta kesal.


"Aku ini calon CEO di perusahaan keluargaku, jadi mana mungkin aku memesan class ekonomi!" Kata Geof lagi.


"Eeyaalllaaahh, sultan mah bebas!" Ujar Merta sewot.


"Hahaha!" Geof tertawa senang.


"Istirahat yang cukup, perjalanan kita memakan waktu yang lama." Kata Geof lagi pada Merta.


"Aku tidak mau tidur! Aku mau menikmati semua fasilitas yang ada disini." Sahut Merta.


"Terserah kau!" Ujar Geof.


Geof merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak, sedangkan Merta sibuk menikmati fasilitas yang ada di kabin pesawat itu. Ia sangat senang bisa naik pesawat dengan fasilitas yang mewah. Selang beberapa jam kemudian, Merta merasa bosan dana sedikit lelah. Ia memutuskan untuk beristirahat senyaman mungkin.


Perjalanan yang mereka tempuh untuk sampai ke Amerika lebih dari 23 jam lamanya. Banyak hal yang dilakukan oleh Geof di dalam pesawat bersama asistennya. Mereka membahas masalah pekerjaan yang akan menjadi tujuan utama di Amerika nanti. Sesekali Geof melirik Merta yang sedang asyik menonton film pada layar televisi kecil di depannya. Merasa Merta tak butuh hihuran darinya, Geof kembali fokus pada masalah pekerjaannya.


Dengan menaiki si burung besi itu, Geof dan Merta tiba di salah satu kota di Amerika. Geof mengajak Merta untuk beristirahat sejenak di salah satu hotel berbintang disana. Lagi-lagi Merta ternganga melihat fasilitas kamar hotel yang sangat mewah. Kamar hotel itu begitu luas dan memiliki ranjang berukuran king size yang sangat empuk.


Merta membuka tirai jendela dan melihat suasana kota yang sangat indah. Gedung-gedung pencakar langit membuat kota itu menjadi semakin memukau.


"Luar biasa!" Gumam Merta menatap kota dari kejauhan.


Geof menghampiri Merta sambil memeluk tubuhnya dari belakang.


"Ayo kita mandi!" Bisik Geof.


"Tidak mau! Kau mandi sendiri saja sana." Sahut Merta menolak.


"Begitukah?" Tanya Geof menahan kesalnya.


"Aku lelah, Geof! Jika kita mandi bersama kau pasti akan melakukannya nanti. Aku tidak mau." Kata Merta.

__ADS_1


"Ya sudah, kali ini aku melepaskanmu! Tapi jangan harap aku akan melepaskanmu malam nanti. Hehehe." Kata Geof sembari melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Merta berdengus kesal mendengar perkataan Geof yang menginginkan tubuhnya. Merta mulai merasa bosan menghadapi keinginan Geof darinya. Merta memutar otak untuk mencari cara agar Geof tak bisa lagi memaksakan kehendaknya terhadap Merta.


*****


Hari-hari saat berada di Amerika, Merta hampir mati kebosanan menunggu di kamar hotel karena Geof selalu sibuk dengan urusan bisnisnya. Geof pergi pagi dan kembali saat malam hari. Di kamar hotel itu Merta hanya ditemani oleh beberapa anak buah Geof yang berdiri di luar pintu kamar. Jika Merta memerlukan sesuatu ia hanya bisa mengatakannya kepada anak buah Geof tersebut.


"Hah, kalau tau begini lebih baik aku tidak ikut! Untuk apa aku disini kalah hanya untuk menatap kota dari balik jendela kamar hotel saja. Menyebalkan!" Gerutu Merta yang sedang sendirian di dalam kamar yang luar itu.


Hari itu, Geof kembali lebih awal. Geof kembali dengan membawa tas kantung berwarna oranye. Geof memberikan tas kantung itu kepada Merta.


"Ini gaun pesta untukmu!" Kata Geof.


"Untuk apa kau belikan aku gaun? Aku membawa gaun baru dari Indonesia." Sahut Merta.


"Kenapa kau tak bilang dari awal? Aku pikir kau tidak membawa gaun pesta." Kata Geof.


"Ya sudahlah! Ini akan aku jadikan koleksi lemariku saja. Terima kasih ya." Ucap Merta.


"Ngomong-ngomong apa kau bosan seharian ini?" Tanya Geof.


"Bukan hanya seharian, tapi hampir setiap hari aku merasa kebosanan di kamar hotel ini." Jawab Merta ketus.


"Apa kau mau jalan-jalan?" Tanya Geof.


"Tentu saja, Geof!" Sahut Merta.


"Ya sudah, besok aku akan mengajakmu keliling kota." Kata Geof.


"Wah, senangnya!" Seru Merta kegirangan.


"Bersiaplah, jam 7 malam nanti kita akan pergi ke pesta perjamuan. Ingat, jangan membuatku malu!" Kata Geof.


"Siap, bos!" Sahut Merta.


 


"Bagaimana penampilanku?" Tanya Merta bejalan bak model ternama.


"Kau pakai batik?" Sahut Geof balik bertanya.


"Tentu saja! Aku ingin gaunku lain daripada yang lain saat di pesta itu. Aku ingin memberitahukan kepada semua orang disini kalau aku cinta negara ku. Hehehe." Jawab Merta.


"I love batik! Hehehe." Kata Geof ikut cengengesan.


Malam itu mereka berdua berangkat ke pesta perjamuan itu. Disana Merta menjadi pusat perhatian karena gaunnya yang tampak berbeda dari semua tamu yang hadir. Banyak orang yang mendekati Geof dan Merta hanya untuk melihat pakaian batik tradisional dari Indonesia. Mereka terkagum-kagum dengan design batik warna yang indah. Para bule-bule asing itu semakin tertarik mendengarkan cerita Geof saat menjelaskan cara pembuatan batik tulis dengan cara yang unik.


Setelah menjadi pusat perhatian di pesta itu, Geof mengajak Merta untuk mencicipi hidangan di pesta itu. Semua hidangan itu tak ada satupun yang pernah Merta makan sebelumnya. Ia bingung harus memulai dari makanan mana yang akan ia makan. Ia melirik Geof yang mengambil beberapa hidangan di piringnya. Untuk mempermudah dirinya, Merta mengikuti apa yang Geof ambil sebagai makanannya.


Merta duduk di satu meja yang sama dengan Geof. Ia mulai mencicipi makanan yang ada di piringnya.


"Eh, kenapa tidak enak?" Gumamnya dalam hati.


Merta melirik Geof yang makan dengan lahap. Merta mendekatkan dirinya ke telinga Geof yang berada disampingnya.


"Bagaimana bisa kau makan makanan yang tidak enak ini?" Bisik Merta pada Geof.


"Bagiku ini enak!" Sahut Geof.


"Hah, aku tidak mau makan!" Kata Merta meletakkan pisau dan garpu di meja.


 


Acara pesta perjamuan itu semakin meriah stelah kedatangan seseorang yang penting di dunia bisnis. Orang itu bernama Douglas. Ia datang ke pesta itu dengan menggandeng seorang wanita cantik yang berstatus sebagai istrinya yang bernama Merry.


"Siapa dia? Aku lihat banyak sekali orang yang mencari perhatian darinya!" Tanya Merta pada Geof.


"Dia adalah tuan Douglas! Dia seorang miliarder yang memiliki saham perusahaan tertinggi di dunia." Jawab Geof.

__ADS_1


"Hah, aku pusing mendengar kau mengatakan dunia bisni! Tak satupun ada yang aku mengerti." Sahut Merta.


"Kenapa kau tidak mendekatinya?" Tanya Merta.


"Mendekatinya itu bukan perkara yang mudah! Dia terkenal dengan pribadi yang dingin di balik sikapnya yang ramah di depan orang lain." Jawab Geof.


"Tapi menurutku dia tidak begitu dingin! Aku rasa dia memiliki hati yang baik." Sahut Merta memperhatikan Douglas dan istrinya.


"Dasar sok tau!" Ujar Geof pada Merta.


"Kau tidak percaya pada pengamatan ku yang tajam ini?" Kata Merta.


"Kalau memang ucapanmu itu benar, coba saja dekati dia dan ambil perhatiannya! Aku mau tau kau mampu melakukannya atau tidak!" Kata Geof menantang Merta.


"Apa kau menantangku?" Tanya Merta.


"Tentu saja!" Sahut Geof.


"Baiklah! Jika kau menantangku apa taruhannya?" Tanya Merta.


"Apapun yang kau inginkan!" Jawab Geof terlalu percaya diri.


"Benar, apa saja yang aku inginkan?" Tanya Merta untuk meyakinkan dirinya.


"Iya!" Sahut Geof.


"Kalau begitu aku ingin kau tidak meniduriku lagi sampai kontrakku habis! Apa kau bersedia menerimanya?" Tanya Merta.


"Ya, baiklah!" Sahut Geof.


"Deal?" Kata Merta menyodorkan tangannya.


"Deal!" Sahut Geof menjabat tangan Merta.


Merta bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah Douglas dan istrinya. Geof terkekeh licik melihat Merta yang begitu antusias untuk mendapatkan perhatian dari si miliarder itu.


"Merta...Merta! Bagaimana mungkin kau bisa mendapatkan perhatian darinya, kau bahkan tidak lancar berbahasa Inggris." Gumam Geof menganggap remeh kepada Merta.


Geof memperhatikan Merta yang berdiri dan menyapa Douglas dan istrinya. Merta terlihat tampak tenang dan begitu ramah padanya. Tak di sangka dan di luar dugaan, Douglas dan istrinya memberikan kursi kosong kepada Merta. Merta duduk di samping istri Douglas sambung berbincang.


"Kenapa? Kenapa bisa dia duduk bersama tuan Douglas?" Kata Geof terkejut.


Semua tamu di perjamuan itu dan juga Geof tak mampu berkedip melihat Merta duduk bercanda bersama sang miliarder dan istrinya. Istri Douglas berkali-kali memuji gaun Merta yang begitu memukau di matanya. Geof tak mau kehilangan kesempatan emas itu, ia bangkit dari kursinya dan menghampiri Douglas beserta istrinya.


"Selamat malam tuan, perkenalan aku Geoffrey dari Indonesia." Sapa Geof pada Douglas berbicara dalam bahasa Inggris.


"Oh, iya! Apakah wanita cantik ini istrimu?" Tanya Douglas seraya menunjuk Merta.


"Tepatnya dia adalah kekasihku!" Jawab Geof.


"Wah, kau beruntung memiliki kekasih yang menarik seperti dia. Aku suka dengan sikap ramah dan juga gaunnya." Sahut Merry.


"Terima kasih, nyonya!" Ucap Geof.


"Oh, Merta! Aku sangat ingin memiliki gaun yang unik sepertimu. Maukah kau memberikan hadiah untukku gaun yang unik seperti ini?" Tanya Merry.


"Tentu saja! Aku akan mengirimkan beberapa hadiah untukmu nanti ketika aku sudah kembali ke negaraku." Sahut Merta berbicara dalam bahasa Inggris.


Geof tercengang mendengar bahasa Inggris Merta yang begitu fasih dan lancar. Sungguh di luar dugaan, Merta yang berasal dari pedesaan kecil mampu berbicara dalam bahasa Inggris yang baik. Merta melirik Geof yang masih seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar.


"Skakmat! ****** kau Geof! Setelah ini kau tidak akan bisa memaksakan kehendakmu lagi padaku. Hehehe." Gumam Merta dalam hatinya.


Geof membalas lirikan mata Merta yang mengarah padanya.


"Kurang aja kau, Merta! Kau memperdayai aku selama ini. Kau berpura-pura bodoh dan menantangku." Gumam Geof.


"Kau lihat saja nanti, aku akan memberikan pelajaran padamu setelah pulang dari pesta perjamuan ini." Gumam Geof lagi.


Pada pesta perjamuan itu, Geof mendapatkan kesempatan emas dan juga persetujuan kerja sama dengan Douglas. Geof merasa Merta menjadi keberuntungan besar bagi dirinya. Tak sia-sia ia membawa Merta ikut bersama dirinya ke pesta perjamuan itu. Perjalanan bisnis Geof ke negara Paman Sam itu berbuah manis dengan kerja sama bersama Douglas si miliarder.

__ADS_1


__ADS_2