
Merta kembali ke ruang rawat ibunya setelah Geof pergi dari rumah sakit. Merta melihat Maya sedang membantu ibu keluar dari toilet. Ibu kembali berbaring di ranjang rumah sakit setelah botol infusnya di gantung pada tiang yang terbuat dari besi.
"Merta, duduklah disini dekat ibu." Kata Ibu.
Merta pun duduk di samping ibunya.
"Ada yang ingin ibu bicarakan padamu mengenai bosmu itu." Kata Ibu lagi.
"Apa kau dan bosmu itu memiliki hubungan lebih?" Tanya ibu membuat Merta sedikit gugup.
"Tidak! Aku dan dia hanya sebatas pekerja dan bos saja, tidak lebih." Jawab Merta dusta.
"Aku sungguh tidak percaya di dunia ini masih ada pria sebaik dirinya. Dia memberikanmu hutang dengan jumlah uang yang besar padamu dan sekarang dia datang jauh-jauh kesini hanya untuk meluruskan permasalahanmu dengan ibu yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan dia. Dia sangat baik." Kata Ibu.
"Hehehe, berarti aku beruntung karena memiliki bos yang baik seperti dia kan, bu! Jadi sekarang ibu tak perlu khawatir lagi jika aku berada di kota. Lalu ibu juga jangan mudah percaya jika ada orang yang menjelek-jelekkan aku ataupun memfitnahku." Kata Merta.
"Iya, baiklah! Mulai sekarang ibu bisa tenang karena kau memiliki bos yang sangat baik dan perhatian padamu." Sahut ibu.
"Mer, apa bosmu itu masih lajang?" Tanya Maya ingin tau.
"I...iya." Sahut Merta.
"Wah, dia sangat tampan dan masih lajang pula! Apa kau tidak tertarik padanya?" Tanya Maya membuat wajah Merta memerah.
"Tante, itu tidak mungkin! Dia itu pria kaya yang memiliki status sosial yang tinggi. Mana mungkin dia menyukai aku! Aku bahkan tidak tidak berani mengkhayalkannya." Sahut Merta.
"Hei, jodoh itu tidak mementingkan status sosial! Kalau memang sudah jodohnya mau terhalang topan dan badai, tetap saja akan bersatu." Kata Maya.
"Tante, terlalu lebai!" Gumam Merta.
"Siapapun jodohmu nanti, ibu harap dia yang terbaik untukmu." Kata ibu.
Merta hanya tersenyum saat ibunya menyinggung mengenai jodohnya. Merta seakan sedih dengan kondisi dirinya yang tidak suci lagi.
"Apa masih ada pria yang akan menerimaku yang seperti ini? Aku bahkan sudah tidak suci lagi." Gumam Merta dalam hatinya.
*****
Eva yang masih mendekam di dalam penjara karena kasus prostitusi yang menjadi mata pencahariannya tampak lesu. Hampir seminggu lamanya ia berada di balik jeruji besi itu. Dia duduk bersama dengan tahanan wanita yang lainnya. Ia juga sempat mendapatkan kekerasan dari wanita sesama tahanan disana. Tak lama kemudian ada seorang sipir penjara mendatangi ruang tahanan Eva. Ia membuka pintu tahanan itu dan memanggil Eva untuk ikut dengannya.
"Kau mau bawa aku kemana?" Tanya Eva pada sipir penjara itu.
"Hari ini kau akan dibebaskan! Ada seseorang yang menjaminmu!" Jawab sipir wanita itu.
"Benarkah? Siapa?" Tanya Eva lagi
"Ikut saja, nanti kau akan tau." Sahut sipir itu.
Eva pun mengikuti sipir itu dan bertemu dengan orang yang telah menjamin dirinya keluar dari penjara. Eva masuk ke dalam ruangan dan melihat orang tersebut yang ternyata adalah bos si pemilik tempat perjudian itu.
"Bos! Apa kau yang menjaminmu?" Tanya Eva.
"Tentu saja!" Jawab si bos.
Eva melebarkan senyumnya. Ia sangat senang karena bosnya itu membantunya untuk keluar dari penjara. Setelah keluar dari penjara Eva ikut bersama bosnya itu. Ia masuk ke dalam mobil dan sedikit terkejut karena di dalam mobil itu ada beberapa pria yang tak dikenalnya.
"Bos, mereka siapa?" Tanya Eva.
Si pemilik tempat perjudian itu tak mau menjawab pertanyaan Eva padanya. Tiba-tiba semua pria yang berada di dalam mobil itu membekap mulut Eva dan mengikat tangan serta kakinya. Eva ketakutan dan meronta-ronta di dalam mobil. Tak lama kemudian mobil pun melaju dengan kencang meninggalkan rumah tahanan itu.
"Bos, apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Eva.
Pemilik tempat perjudian itu mencengkram wajah Eva dengan sangat kasar.
"Kau pengkhianat!" Ujar Bos.
"Apa maksudmu?" Tanya Eva bingung.
"Kau yang melaporkan semua bisnis kotorku kepada polisi, kan?" Bentak bos yang mengagetkan Eva.
"Itu tidak benar, bos!" Sahut Eva.
"Dasar jalang kau!" Umpat bos seraya menampar wajah Eva berkali-kali.
Di dalam mobil itu Eva disiksa habis-habisan oleh pemilik tempat perjudian itu. Eva bahkan mendapatkan beberapa luka memar di wajahnya. Pemilik tempat perjudian itu kembali mencengkram wajah Eva dengan kasar.
"Gara-gara kau, aku hampir bangkrut! Semua usahaku di segel oleh polisi. Menurutmu dengan cara apa aku akan membalasmu, Eva?" Ujar bos.
"Aku bersumpah, aku tidak mengatakan apa-apa pada polisi." Sahut Eva menangis.
"Lebih baik aku memotong lidahmu itu!" Kata bos yang penuh dengan murka.
"Ampun bos! Percayalah padaku, aku tidak berkhianat padamu." Kata Eva memohon.
Mobil itu berhenti di sebuah lahan kosong yang berada di pinggiran kota. Beberapa pria itu membawa Eva turun dari mobil dan melemparkan tubuh Eva di atas tanah dalam kondisi kaki dan tangan yang masih terikat oleh tali. Lalu pemilik tempat perjudian itu turun dengan membawa sebuah botol yang berisi cairan. Dia menyiramkan air itu tepat ke wajah Eva. Eva menjerit kesakitan di sana. Ia merasakan wajahnya seperti terbakar. Pemilik tempat perjudian itu masuk kembali ke dalam mobil dan pergi meninggalkan Eva yang masih menjerit kesakitan merasakan panas luar biasa pada wajahnya.
*****
Di dalam ruang kantornya, Geof menerima panggilan telepon dari orang suruhannya.
__ADS_1
"Bos, semuanya beres! Rencana kita memfitnah Eva berhasil." Kata orang suruhan Geof.
"Bagus!" Sahut Geof dengan garis senyuman di bibirnya.
"Awasi gerak-gerik Eva terus, jangan sampai ia mendekati wanitaku!" Perintah Geof lagi pada orang suruhannya.
"Siap, bos!" Sahutnya.
Setelah menutup teleponnya, Geof melirik Luky yang masuk ke dalam ruangannya. Luky duduk tepat di hadapan Geof.
"Ada apa, pa?" Tanya Geof pada Luky.
"Aku ingin bertanya, kapan kau akan menikahi Merta?" Sahut Luky.
"Pa, Merta itu hanya pelayan di apartemenku!" Kata Geof.
"Pelayan apa yang tidur seranjang bersamamu? Kau pikir aku bisa kau bodohi, hah?" Teriak Luky kesal.
"Pa, jangan campuri urusan pribadiku!" Ujar Geof tak senang.
"Teruslah kau seperti ini! Suatu saat kau pasti akan menyesal bila Merta pergi meninggalkanmu!' kata Luky kesal sembari melangkah keluar dari ruangan Geof.
Geof berdecak kesal karena perkataan Luky kepadanya. Geof melirik sebuah kalender kecil di atas mejanya dan menghitung masa kontrak antara dia dan Merta.
"Tidak terasa masa kontrak itu tinggal 6 bulan lagi." Gumam Geof dalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, Merta kembali ke apartemen Geof setelah puas merawat ibunya di kampung. Kondisi ibunya semakin membaik setelah keluar dari rumah sakit. Merta masuk ke dalam apartemen dan melihat kondisi semua ruangan yang penuh dengan sampah.
"Hah, dasar pria itu! Dia selalu saja mengotori semua ruangan di apartemen ini." Gumam Merta menghela nafas panjang.
Merta meletakkan koper pakaiannya di dalam kamar dan berganti pakaian santai. Ia mengambil alat-alat kebersihan dan mulai membersihkan semua ruangan di apartemen milik Geof itu. Selang beberapa jam kemudian, Merta duduk di sebuah sofa karena kelelahan. Ia melihat keseluruh ruangan yang tampak bersih dan berkilau.
"Akhirnya selesai juga! Lebih baik aku mandi dan setelah itu aku menyiapkan makan malam." Kata Merta seraya melangkah menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam kamar.
Setelah selesai mandi, Merta berkutat di dapur dan tampak sibuk memotong-motong sayuran di sana. Ia memasak dan menyiapkan makan malam. Sesaat kemudian makanan telah tersaji di atas meja. Merasa tidak ada pekerjaan lainnya, Merta duduk santai di ruang tengah sambil menonton acara di televisi.
Tepat pukul 6 sore, Geof pulang dari kantornya. Ia masuk ke dalam apartemen dan melihat semua ruangan tampak bersih. Ia juga mencium bau makanan yang lezat di sana.
"Apa wanita itu sudah kembali?" Gumam Geof melangkah masuk ke dalam.
Ia melihat Merta yang tertidur di sofa dengan televisi dalam keadaan menyala. Geof mengambil remot televisi itu dan mematikannya. Geof membiarkan Merta untuk tidur di sofa itu, ia tak ingin membuat Merta terbangun karena ia tau kalau Merta merasa lelah sehabis membersihkan ruangan di apartemen itu. Geof memutuskan untuk naik ke lantai atas dan pergi mandi. Selesai mandi, Geof menuju ke ruang makan dan melihat banyak makanan yang tersaji di atas meja.
"Apa dia masih tidur?" Gumam Geof melirik Merta yang berada di ruang tengah.
"Aku sudah lama tidak berbuat jahil padanya, hehehe." Ucap Geof mengambil sehelai bulu kemoceng yang tergantung di dinding.
Geof melangkah masuk ke dalam ruang tengah dan mendekati Merta yang masih tertidur pulas. Geof menggelitik hidung Merta dengan sehelai bulu kemoceng itu sambil terkekeh jahat. Sontak saja bulu itu membuat Merta bergerak untuk menepis apa yang menggelitik lubang hidungnya itu. Tak hanya di lubang hidungnya, Geof juga menggelitik telinga Merta dengan sehelai bulu kemoceng tersebut. Merta kembali bergerak menepis apa yang membuat telinganya geli.
"Hihihi...!" Suara tawa Geof senang mengerjai Merta.
Merta membuka matanya dan kaget melihat Geof yang berjongkok di hadapannya dengan memegang sehelai bulu kemoceng di tangannya. Merta langsung duduk dan menatap Geof dengan kesal.
"Kau selalu saja menggangguku!" Ujar Merta sewot.
"Hei, ini sudah jam 8 malam, kau masih saja tidur seperti kerbau!" Tukas Geof.
"Ayo makan! Aku sudah lapar." Kata Geof lagi.
"Kalau kau lapar, kau kan bisa makan sendiri di ruang makan. Aku sudah menyiapkan semuanya." Kata Merta.
"Apa kau lupa dengan tugasmu?" Kata Geof menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
"Huh, menyebalkan sekali dia!" Gumam Merta dalam hatinya.
"Iya, baiklah!" Sahut Merta mengikuti Geof keruang makan.
Malam itu Merta duduk diatas pangkuan Geof untuk menyuapinya. Hal itu sudah sering terjadi karena Geof selalu menginginkannya. Di sela-sela melakukan tugasnya, Merta teringat dengan Eva yang mencoba untuk memfitnahnya.
"Geof, apa yang kau lakukan pada Eva?" Tanya Merta ingin tau.
"Kau ingin dia hancur kan? Ya sudah, aku telah menghancurkannya!" Jawab Geof.
"Maksudku, kau berbuat apa padanya?" Tanya Merta lagi.
"Jangan banyak tanya! Lakukan saja tugasmu sekarang." Ujar Geof tak ingin Merta tau apa yang sudah terjadi pada Eva.
Setelah selesai makan malam, Merta kembali keruang tengah karena Geof memanggilnya. Geof menyuruhnya untuk mengambil beberapa cemilan dan juga minuman soda untuknya. Merta pun melakukan apa yang di perintahkan oleh Geof. Merta meletakkan beberapa cemilan dan juga minuman kaleng bersoda di atas meja. Merta juga melihat Geof mengambil sebuah microphone dan menyalakan sebuah lagu.
"Duduklah disini! Ayo kita karaoke." Kata Geof menarik tangan Merta.
"Aku tidak mau!" Sahut Merta ketus.
"Kau tidak mau karena kau tidak bisa bernyanyi, kan?" Ujar Geof membuat Merta kesal.
"Kau anggap remeh sekali terhadapku!" Balas Merta.
"Huh, aku yakin suaramu pasti jelek!" Kata Geof meremehkan Merta.
"Baiklah! Akan aku tunjukkan kemampuanku dalam bernyanyi." Kata Merta merebut microphone yang ada di tangan Geof.
__ADS_1
Merta memilih lagu yang bisa ia nyanyikan. Merta pun berdiri dan mulai menyanyikan lagu yang bergenre lagu romantis.
Atas nama cinta....hati ini tak mungkin terbagi.
Sampai nanti...bila aku mati.
Cinta ini hanya untuk engkau.
Atas nama cinta...kurelakan jalanku merana.
Asal engkau....akhirnya denganku.
Ku bersumpah atas nama cinta.
Geof tertegun mendengar suara nyanyian Merta yang sangat merdu. Ia terus menatap Merta yang masih bernyanyi di ruang tengah itu.
"Tak ku sangka ternyata dia jago nyanyi! Suaranya sangat bagus." Gumam Geof dalam hatinya.
Merta telah menyanyikan satu lagu. Kemudian ia memberikan microphone itu kepada Geof lagi.
"Sekarang giliran mu!" Kata Merta seakan menantang Geof untuk beradu suara dengannya.
"Oke! Aku akan tunjukkan betapa merdunya suaraku." Sahut Geof.
Geof tak mau kalah, ia pun menyanyikan sebuah lagu barat yang biasa ia dengar dari ponselnya. Merta duduk dan mendengar suara Geof saat bernyanyi.
"Eh, suaranya lumayan juga." Gumam Merta.
Beberapa saat kemudian, setelah berkaraoke bersama di ruang tengah itu Geof keluar sebentar untuk buang air kecil. Ia masuk ke dalam kamar mandi yang ada di samping dapur. Sedangkan Merta terus bernyanyi di ruang tengah itu. Setelah keluar dari kamar mandi, Geof berniat untuk kembali ke ruang tengah, namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar suara bel pintu dari depan. Geof mengintip pada lubang pintu dan terkejut melihat Lita berdiri di luar pintu.
"Mampus aku! Mama datang." Ujar Geof dalam hatinya.
Lama tak dibukakan pintu, Lita mengirim pesan singkat kepada Geof.
"Jika kau tak membuka pintunya, maka aku akan buat keributan diluar." Pesan Lita mengancam Geof.
Mau tak mau, Geof terpaksa membukakan pintu untuk Lita. Lita langsung masuk dan tampak membawa bungkusan besar di tangannya.
Ppplleeettaakk..
Lita memukul kepala putranya.
"Berani sekali kau membuatku menunggu lama di luar!" Ujar Lita kesal pada Geof.
"Ma, mama mau apa datang kesini?" Tanya Geof.
"Aku ingin mengunjungi calon menantuku!" Sahut Lita dengan judesnya.
"Ma, dia hanya pelayan yang aku kontrak selama dua tahun." Kata Geof.
Saat Geof dan Lita bersitegang, Merta keluar dari ruang tengah. Lita lantas melebarkan senyumnya kepada Merta.
"Hai, calon mantu! Aku ini calon mertuamu." Sapa Lita pada Merta.
Merta kaget sekaligus bingung dengan perkataan wanita paruh baya yang tak ia kenal sama sekali. Merta menatap Geof yang terlihat gugup didepannya.
"Kenapa kau bengong? Aku ini mamanya Geof!" Kata Lita lagi.
Merta semakin terkejut saat tau wanita yang menyapanya adalah orang tua Geof.
"Halo, apa kabar, nyonya!" Sapa Merta ketakutan.
"Hei, jangan panggil aku nyonya. Aku ini calon mama mertuamu, sayang." Sahut Lita.
"Hehehe, tapi aku adalah pelayan dari tuan Geof." Kata Merta.
"Jangan terlalu canggung, aku menyukaimu!" Kata Lita menggenggam tangan Merta dengan erat.
Lita berjalan menuju keruang tengah dan mengetahui kalau Geof dan Merta sedang berkaraoke.
"Wah, kalian sedang karaoke bersama ya! Kebetulan sekali aku juga suka bernyanyi. Ayo kita karaoke bersama." Seru Lita bersemangat.
Dalam keadaan yang sangat canggung Merta duduk berdampingan bersama Geof di sofa sambil melihat pertunjukan Lita yang menyanyi sambil berjoget-joget. Lita menggemari lagu dangdut dan berjoget-joget disana. Geof tepok jidat melihat aksi ibunya yang berjoget-joget di depannya. Merta sesekali tersenyum geli saat melihat Lita berjoget-joget.
Lita mengajak Merta untuk berjoget bersama dirinya. Merta yang juga menyukai genre musik dangdut itu pun menerima ajakan Lita dengan bersemangat. Alhasil Merta dan Lita berjoget ria dihadapan Geof.
"Eeaaakkk....!! Haassseeekkkkk!!!" Seru Merta asik berjoget bersama Lita.
"Ya Tuhan!" Gumam Geof auto tepok jidat.
Malam semakin larut, Lita dan Merta belum juga selesai bernyanyi dan berjoget di ruang tengah itu. Geof menahan kesalnya sambil duduk di sofa. Tak lama kemudian, Geof mendapatkan pesan singkat di ponselnya. Pesan tersebut dikirim oleh Luky yang sudah berdiri di luar pintu apartemen.
"Buka pintunya! Atau aku akan membuat merobohkan bangunan apartemen ini." Pesan Luky mengancam Geof.
Geof menghela nafas berat dan membuka pintu untuk Luky. Luky masuk ke dalam dan mendengar suara musik dangdut. Ia tau itu pasti Lita yang sedang bernyanyi.
"Pa, bawa mama pulang dong!" Pinta Geof pada Luky.
"Iya! Aku kesini memang mau menyeretnya pulang. Aku juga tidak mau wanita yang aku cintai selama hidupku itu terpisah lama denganku!" Sahut Luky.
Luky masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Lita berjoget ria bersama Merta.
"Sayang, kemarilah! Ayo joget bersama kami." Ajak Lita pada Luky.
Luky melebarkan senyumnya dan berlari menghampiri Lita disana. Tak sesuai dengan ucapannya kepada Geof sebelumnya, Luky malah ikut berjoget ria bersama mereka.
"Papa, kenapa malah ikutan joget!" Teriak Geof kesal.
Luky tak memperdulikan teriakan Geof padanya. Ia terus saja berjoget serta ikut bernyanyi bersama Lita dan juga Merta. Geof tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa duduk di sofa kembali sambil menatap kesal kepada mereka.
__ADS_1