WANITA CEO TAMPAN

WANITA CEO TAMPAN
MENGINGINKAN SESUATU


__ADS_3

Saat Merta sedang menyantap makanan sarapannya, ia melirik kearah ponsel yang berdering di sebelahnya. Ia melihat nama tante Maya yang ada di layar kaca ponselnya.


"Halo, Tante." Ucap Merta.


"Mer, kau sedang apa? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Maya.


"Aku baik-baik saja. Aku sedang sarapan." Jawab Merta.


"Apa kau tidak bekerja hari ini?" Tanya Maya lagi.


"Iya, se..sebentar lagi aku akan pergi kerja." Sahut Merta gugup.


"Kenapa kau gugup? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Maya.


"Tidak tante." Sahut Merta.


"Oh, iya. Bagaimana keadaan ibu? Apa ibu baik-baik saja?" Tanya Merta mengalihkan topik pembicaraan.


"Tadi katanya ibumu kangen padamu. Dia ingin melihatmu. Sudah berbulan-bulan kau tidak berkunjung ke sini." Sahut Maya.


"Iya. Nanti aku akan cari waktu luang agar aku bisa pulang kampung untuk bertemu ibu." Kata Merta.


"Baiklah, kalau begitu. Kau kerja yang rajin ya disana. Jaga dirimu baik-baik. Jangan pacaran dulu, nanti kau kecewa dengan pria di kota sana." Pesan Maya pada keponakannya itu.


"Iya, tante." Sahut Merta dengan hati yang serasa teriris pisau yang tajam.


Setelah menutup teleponnya, Merta hanya menatap makanan yang tinggal separuh di piringnya. Ia seakan tidak lagi berselera dengan sarapannya setelah mendengar perkataan Maya kepadanya.


"Bagaimana bisa aku mengatakan hal yang sebenarnya, bukan hanya pacaran saja, aku bahkan sudah memberikan kesucian ku pada pria yang sama sekali tidak memiliki ikatan pernikahan denganku. Aku harus apa, ya Tuhan?" Gumam Merta dalam hatinya.


Tak terasa air matanya menetes begitu saja dari pelupuk matanya.  Merta menangis mengingat kebohongannya terhadap ibu dan juga tantenya. Tak ingin berlama-lama larut dalam kesedihannya itu, Merta membersihkan ruangan apartemen seperti yang ia lakukan di setiap harinya. Merta mengambil kantung sampah yang sudah penuh dengan sampah-sampah rumah tangga. Merta keluar dari apartemen untuk membuang sampah. Disana ia bertemu dengan Vian yang kebetulan baru saja membuang sampah miliknya.


"Merta, apa kau baru saja menangis?" Tanya Vian melihat mata Merta sedikit bengkak.


"Tidak!" Sahut Merta dusta.


"Jika kau tidak sanggup untuk tinggal bersama pria kasar itu, aku akan membantumu keluar dari sana." Kata Vian menawarkan bantuan padanya.


"Vian, aku mohon jangan campuri urusanku dengan Geof! Aku bisa mengatasi semua sendiri." Kata Merta hendak pergi setelah membuang sampah.


"Apa kau tidak percaya padaku, Merta? Aku bisa membantumu untuk menjauh dari pria kasar itu." Kata Vian lagi sembari menarik lengan Merta untuk menahannya agar ia tidak pergi.


"Vian, sudahlah! Aku tidak apa-apa. Kau tidak perlu khawatir padaku." Sahut Merta melepaskan tangan Vian dengan perlahan dari lengannya.


Merta berjalan cepat dan segera menjauh dari Vian. Ia tak ingin terjadi kesalahpahaman antara Vian dan Geof lagi karena dirinya. Merta tau bahwa Vian adalah pria baik yang perduli padanya. Dengan sifat Geof yang keras, ia tak ingin pria baik itu mendapatkan amukan dari Geof lagi. Merta berusaha untuk menjauhkan dirinya dari Vian.


Merta mandi dan segera bergegas untuk pergi ke rumah sakit. Hari itu adalah jadwal rutinnya setiap bulan untuk mendapatkan suntik kontrasepsi. Merta tampak sudah siap dengan dress yang cocok di tubuhnya. Ia membuka pintu apartemen dan kaget melihat sosok pria muda yang menggunakan jas hitam dan menunduk sopan kepadanya.


"Siapa kau? Untuk apa kau di depan pintu?" Tanya Merta sedikit takut.


"Nona, perkenalkan! Nama saya Lutfi. Saya bertugas untuk menjadi supir pribadimu." Sahut pria itu.


"Apa kau diutus oleh Geof?" Tanya Merta.


" Benar, nona!" Sahut Lutfi.


"Baiklah." Kata Merta sambil menghela nafas.


Merta dan Lutfi berjalan menuju ke area bawah parkir.  Disana tampak sebuah mobil mewah yang akan membawa kemana pun Merta ingin pergi. Merta masuk ke dalam mobil, setelah Lutfi membukakan pintu mobil untuknya. Lutfi segera melajukan mobilnya menuju ke tempat yang Merta perintahkan padanya.


"Pak, setelah selesai mengantarkan aku kerumah sakit, kau pergi saja. Aku akan kembali dengan taksi, nanti." Kata Merta tak ingin memiliki supir pribadi.


"Nona, kau bisa memanggil namaku saja. Tapi sebelum itu aku minta maaf, karena aku menolak perintahmu tadi." Kata Lutfi sangat sopan pada Merta.


"Kenapa?" Tanya Merta.


"Karena tuan Geof telah menugaskan aku untuk mengantarkanmu kemanapun kau pergi. Aku tidak bisa membantah perintah tuan Geof." Sahut Lutfi.


"Huh, dasar Geof si tukang paksa! Dia selalu saja memaksakan kehendaknya sendiri terhadap orang lain!" Gumam Merta kesal pada Geof.


Tak lama kemudian, Merta pun sudah tiba di salah satu rumah sakit. Ia berjalan di lorong rumah sakit menuju ke ruang kartu. Ia mendaftarkan dirinya disana. Tak lama menunggu, nama Merta pun dipanggil oleh seorang perawat dan membawanya masuk keruang dokter. Disana ia mendapatkan suntikkan pada pahanya untuk mencegah kehamilan pada dirinya.

__ADS_1


Merta keluar dari ruang dokter dan bergegas pergi. Dari kejauhan Eva kembali memotret Merta saat ia baru saja keluar dari ruang dokter tersebut.


"Kali ini kau tidak bisa berkutik di hadapanku, Merta! Aku akan segera memberikan foto ini pada ibumu di kampung. Hehehe." Ucap Eva dengan pikirannya yang licik.


Eva kembali melihat Merta masuk kedalam sebuah mobile mewah dan di antarkan seorang supir pribadi. Perasaan dengki yang dimiliki Eva kembali menyeruak di dalam hatinya.


"Hidupmu terlalu beruntung, Merta! Tapi aku berani menjaminnya jika hal itu tidak akan berlangsung lama untuk dirimu." Gumam Eva.


 


Eva memanggil sebuah taksi dan bergegas pergi ke kampung Merta. Ia berniat untuk bertemu dengan ibu Merta yang baru saja pulih dari sakit yang ia derita. Dengan perjalanan yang jauh dari perkotaan, Eva pun tiba di sebuah rumah yang terbilang sangat sederhana. Ia turun dari taksi dan menuju ke depan pintu rumah tersebut. Eva segera mengetuk pintu rumah itu. Pintu itu terbuka dan tampak ibu Merta dari dalam.


"Eh, ada nak Eva! Ayo masuk." Ucap Ibu pada Eva.


Eva segera masuk dan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tengah.


"Tumben kau main kesini! Apa kau dari kota?" Tanya Ibu.


"Iya, tante! Aku datang ada yang ingin aku bicarakan pada tante mengenai pekerjaan Merta di kota." Sahut Eva.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi padanya di kota?" Tanya Ibu cemas.


Eva mengeluarkan ponsel yang baru saja ia beli dan menunjukkan foto Merta kepada Ibu. Ibu tampak bingung dengan foto tersebut.


"Maksudmu apa?" Tanya Ibu bingung pada Eva.


"Tante, coba Tante lihat fotonya sekali lagi dengan seksama. Merta baru saja keluar dari ruangan dokter kandungan di salah satu rumah sakit." Kata Eva.


"Apa?" Teriak Ibu terkejut.


"Iya, tante! Merta sedang memeriksakan kandungannya." Kata Eva memfitnah Merta dihadapan Ibu.


Ibu semakin terkejut dan merasakan sesak yang luar biasa pada dadanya. Ibu semakin sulit bernafas saat Eva juga mengatakan kalau Merta bekerja sebagai wanita simpanan seorang pria yang sudah beristri di kota. Ibu tidak tahan dengan perkataan Eva mengenai putri semata wayangnya itu. Ibu terjatuh dan tergolek pingsan di lantai. Eva panik melihat Ibu yang pingsan di lantai. Eva berlari keluar dari rumah dan bertabrakan dengan Maya yang baru saja pulang dari pasar.


"Eva! Sedang apa kau disini?" Tanya Maya saat melihat Eva yang gugup.


Eva kembali berlari dan pergi dari perkarangan rumah. Tante Maya kebingungan melihat sikap Eva yang sangat gugup dihadapannya. Maya memungut barang belanjaan yang ia beli di pasar dan berjalan masuk ke dalam rumah. Maya sangat terkejut melihat tubuh Ibu yang tergolek pingsan di lantai. Tante Maya segera berlari mendekati Ibu dan mencoba untuk menyadarkannya.


Lama Maya berupaya membangunkan Ibu, namun Ibu tak kunjung sadar. Dengan meminta pertolongan dari para tetangga, akhirnya Ibu di bawa ke rumah sakit.


 


******


Di salah satu pusat perbelanjaan, Merta merasakan getaran ponselnya yang berada di dalam tas. Ia menerima panggilan telepon itu saat nama Maya muncul di layar kaca ponselnya.


"Halo...


"Merta, ibumu tadi pingsan dan sekarang berada di rumah sakit." Kata Maya.


"Apa?" Teriak Merta terkejut.


"Bukannya tadi padi tante bilang kalau ibu baik-baik saja." Kata Merta.


"Iya, tadi pagi dia baik-baik saja. Tapi saat aku pulang dari pasar, aku sudah menemukannya tergeletak di lantai." Sahut Maya.


"Baiklah, aku akan segera kesana." Kata Merta panik.


Merta pergi ke kampung halamannya dengan diantarkan Supri pribadinya. Dengan keadaan yang sangat panik, ia sampai lupa meminta izin terlebih dahulu kepada Geof. Lutfi melakukan mobil mewah itu dengan sangat kencang. Tak butuh waktu yang sangat lama, Merta tiba di rumah sakit tempat ibunya di rawat. Disana ia bertemu dengan Maya yang terlihat menangis.


"Tante, ada apa? Bagaimana kondisi ibu?" Tanya Merta.


"Ibumu sekarang masih kritis! Ia berada di ruang ICU." Sahut Maya.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi? Kenapa ibu sampai kritis seperti ini." Kata Merta semakin panik bercampur sedih.


Merta pergi menemui dokter yang menangani penyakit ibunya. Dokter mengatakan bahwa ibu Merta sedang mengalami komplikasi pada penyakitnya. Merta semakin terkejut saat dokter mengatakan kalau kemungkinan terbesar yang terjadi pada ibunya akibat rasa syok yang baru saja dialami.


Merta keluar dari ruangan dokter dengan tanya yang besar di dalam pikirannya. Merta mendekati Maya yang masih menangi di rumah tunggu pasien.


"Tante, apa yang terjadi sehingga ibu seperti ini? Kata dokter ibu mengalami syok berat." Kata Merta.

__ADS_1


"Aku tidak tau! Aku tadi pergi ke pasar untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Saat aku pulang aku sudah menemukan ibumu dalam kondisi pingsan." Jawab Maya.


Tak lama kemudian, Maya teringat dengan Eva bertabrakan dengan dirinya di pekarangan rumah.


"Oh iya, aku tadi tidak sengaja bertabrakan dengan Eva!" Kata Maya lagi.


"Apa? Eva?" Tanya Merta terkejut.


"Iya! Sepertinya dia baru saja keluar dari rumah dan berlari untuk pergi." Sahut Maya.


Kini Merta mengerti apa yang sudah terjadi pada ibunya. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kesal. Ingin sekali ia membunuh wanita yang pernah menjadi sahabatnya saat mereka sama-sama bekerja menjadi office girl di perusahaan Luky.


"Merta, ada apa? Apa kau memiliki masalah dengan Eva?" Tanya Maya.


"Tidak!" Sahut Merta tak ingin Maya tau.


"Tante, aku minta tolong untuk menjaga ibuku sebentar saja. Aku akan kembali ke kota mengurus sesuatu disana. Setelah urusanku selesai aku akan kembali kesini lagi." Kata Merta.


"Baiklah, nak! Hati-hati lah di jalan. Jika ibumu sudah sadar, aku akan mengabarimu." Kata Maya.


Merta memerintahkan Lutfi untuk mengantarkan dirinya kembali ke kota. Ia melirik jam di tangannya yang menunjukkan pukul 6 sore. Ia mengetahui kalau ia akan pulang terlambat ke apartemen dan pasti akan dimarahi oleh Geof.


Benar saja yang ia pikirkan, setibanya Merta di apartemen, Geof menatapnya dengan tajam. Geof bahkan menarik lengannya dengan sangat kasar.


"Darimana saja kau? Apa kau tidak tau jalan pulang lagi?" Teriak Geof kesal pada Merta.


Merta sudah menyusun strategi untuk menghadapi Geof saat itu. Ia merengkuh kerah kemeja Geof dengan mesra. Merta mendekatkan tubuhnya untuk merayu pria yang kesal kepadanya.


"Sayang, maafkan aku karena pulang terlambat." Ucap Merta merayu Geof.


"Darimana saja kau?" Tanya Geof menurunkan nada bicaranya pada Merta.


"Aku pergi mengunjungi ibuku, jadi pulang sedikit terlambat." Sahut Merta.


"Kenapa kau tidak minta izin padaku dulu? Apa aku sudah terlalu memanjakanmu, hah?" Ujar Geof mencengkram dagu Merta dengan kuat.


"Jangan marah lagi! Aku akan menebus kesalahanku." Kata Merta bergelayut manja pada Geof.


"Dengan cara apa kau menebusnya?" Tanya Geof tersenyum licik.


"Apapun yang bisa membuatmu merasa senang!" Bisik Merta memancing gairah Geof.


Merta terpaksa melakukan apa yang sebenarnya tak ingin ia lakukan bersama Geof, namun rasa kesalnya terhadap Eva membuatnya kehilangan akal sehat. Yang ada dipikirannya saat itu hanya ingin membalaskan semua kekesalannya kepada Eva melalui kekuatan yang Geof miliki.


"Kali ini kau benar-benar aktif!" Bisik Geof.


"Hal ini tidak gratis, Geof!" Balas Merta balik berbisik.


"Bukannya kau melakukan hal ini karena untuk menebus kesalahanmu?" Bisik Geof lagi.


"Ya, itu benar! Namun yang paling utama aku menginginkan hal lain." Kata Merta.


"Kau ingin apa dariku?" Tanya Geof.


"Aku ingin kau menghancurkan Eva!" Sahut Merta.


Geof menaikkan sebelah alisnya dengan sembari tersenyum kecil.


"Apa dia berbuat masalah denganmu lagi?" Tanya Geof.


"Dia membuat kesehatan ibuku memburuk!" Jawab Merta dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aku sudah mengetahuinya!" Bisik Geof membuat Merta melebarkan matanya karena terkejut.


"Apa maksudmu?" Tanya Merta.


"Apa kau lupa kalau aku memiliki banyak orang-orang suruhan di luar sana agar mengintai segala gerak-gerikmu? Bahkan Lutfi juga bertugas untuk menjagamu." Kata Geof.


"Aku akan segera membereskan Eva!" Ucap Geof segera bangkit dan mengambil ponselnya.


Disana Geof tampak menghubungi seseorang untuk menindak dan membalas perbuatan Eva.

__ADS_1


__ADS_2