
Suasana di restoran malam itu sungguh tidak menyenangkan, seperti ada aura yang saling beradu tanpa terlihat di antata mereka. Aluna yang merasa kalau ini makan kebersamaan yang untuk apa jika hanya diam-diam saja.
"Aluna, Apa kesibukan mu?." Tanya Elena dengan tutur kata yang lembut.
"Aku masih bekerja di perusahaan." ucap Alun sembari melihat Rehan.
"Oh, kau bekerja di perusahaan Rehan, aku pikir Rehan tak akan membiarkan orang spesial nya capek-capek bekerja." kata Elena menyematkan sedikit singgungan pada laki-laki yang pernah bersama nya saling mencintai.
Aluna yang mendengar pun sampai tersedak saat ia sedang minum, sementara Rehan tampak memgenggam garpu nya dengan sangat kuat, seolah ia ingin mematahkan garpu itu saat itu juga.
"Aku rasa kami harus pulang." Kata Rehan sembari berdiri, Aluna mengangkat kepala nya melihat wajah laki-laki itu.
"Kenapa cepat sekali Rehan." Kata Bisma, sementara Elena tampak duduk diam menahan kesedihan nya karena Rehan ingin menghindari nya.
Rehan lalu memegngi tangan Aluna membuat aluna pun segera berdiri.
"Masih banyak lain waktu, kami pulang dulu." kata Rehan. Aluna pun menganggukkan kepala nya pada Bisma dan Elena karena belum sempat ia berkata terima kasih untuk jamuan nya, Rehan sudah menarik nya untuk segera keluar dari Restoran itu.
Masih tak mengerti, tak paham, Aluna sungguh tak tahu apa yang sedang terjadi hingga membuat Rehan seperti ini.
Di dalam mobil Rehan pun tak banyak bicara dan hanya diam, sementara Frans sesekali melirik dari balik kaca spion.
Saat sampai di halaman rumah, Rehan turun dari rumah lebih dulu dan masuk ke dalam rumah meninggalkan Aluna yang masih menatap kepergian laki-laki itu dengan wajah binggung nya.
__ADS_1
"Dia kenapa?." Tanya Aluna pada sekertaris Frans.
"Wanita yang bersama Anda dan Tuan adalah mantan kekasih Tuan Rehan, sampai di sini saya harap anda sudah mengerti." Kata Frans tak ingin nanti Aluna kembali bertanya.
Aluna yang mendengar kalau Elena adalah mantan Rehan pun begitu terkejut.
"Mereka pasti gagal move on. sampai segalau itu." Kata Aluna.
Aluna pun masuk ke dalam, dan lansuh di samperin oleh Bu Rose dengan wajah kesal dan ketus ia mendorong Aluna.
"Hei , masalah apa yang kau lakukan sampai kakak pulang - pulang marah begitu." kata Reni.
"Aku?."
"Bukan aku, tapi wanita itu, itu si Elena." Kata Aluna lekas Berlalu pergi tanpa mau meladeni Reni dan ibu mertua nya lebih lama.
"Hei, aku belum selesai bicara." teriak Reni memanggil Aluna kembali. namun Aluna tak menghiraukan nya.
"Ma, lihat wanita itu." decak Reni.
"Sudah lah, apa kau tidak dengan kakak mu bertemu elena."kata Bu rose.
"Iya ya, kenapa Elena tiba-tiba muncul setelah lama menghilang."ucap Reni.
__ADS_1
Dikamar.
Rehan kembali membanting barang-barang melampiaskan kemarahan nya, Aluna yang datang melihat dari ambang pintu pun ikut sedih melihat ke frutasian suami nya itu.
Tiba tiba Aluna berlari dan memeluk Rehan dari belakang,Rehan pun terkejut dan terdiam sejenak saat wanita itu memeluk nya.
"Apa yang kau lakukan?." Bentak Rehan.
"Lepaskan!."
"Tidak mau, jika kau terus melakukan ini." Kata Aluna dan menangis, ada gejolak ketakutan, kasihan dan sedih pada diri Aluna saat ini.
"Lepaskan!."
"Asal Tuan berjanji tidak melakukan lagi, untuk apa melampiaskan hal seperti ini demi mantan." Kata Aluna.
Rehan semakin marah dan dengan kuat mencengkram tangan Aluna hingga wanita itu kesakitan dan melepaskan tangan nya, Dengan sekali tarik ke arah Dinding Aluna pun terlempar dan membuat kepala nya terantuk. Aluna kesakitan memegangi dahi nya sebelum akhirnya ia jatuh tidak sadarkan diri.
Melihat hal itu, Amarah Rehan pun seketika mereda, Ia lekas menghampiri Aluna, membangunkan nya, namun tidak ada reaksi apa pun dari Aluna.
"Frans." Teriak Rehan lekas Frans menghampiri dan terkejut melihat kepala Aluna berdarah dan tak sadarkan diri.
"Panggilkan dokter." Kata Rehan.
__ADS_1
"Baik Tuan."