
Reni kembali ke rumah dan melihat ibu nya duduk di tepi kolam renang, tampak menatap kolam yang tampak tenang.
"Mama dengar Penjahat nya sudah tertangkap, apakah benar?." Tanya Bu Rose katena ia mendengar kabar penjahat yang menculik Aluna telah di tahan.
"Iya, tapi masih ada Elena, tak ada bukti yang bisa menyeret nya bersama orang-orang suruhan nya." Jawab Reni kesal.
"Dia sangat pintar, dia pasti sudah memikirkan semua sebelum nya." Tutur Bu Rose.
"Jadi Mama sudah tahu kan, seberapa jahat wanita yang mama bela-bela itu?". Ucap nya Lagi.
"Lalu, Mama kenapa gak jenguk kak Aluna?." Tanya Reni.
Bu Rose tampak diam dan wajah nya tampak sendu. "Apa kakak mu akan senang aku datang, Mama rasa dia pun pasti sama seperti mu, menyalakan mama atas semua yang terjadi." Ucap Bu Rose.
"Aku tahu mama gak suka sama kak Aluna, tapi mama menyayangi kak Rehan kan, seharus nya mama belajar untuk menerima kak Aluna dalam keluarga kita." Ucap Reni.
Bu Rose tak menjawab, ia pun tak menepis atau pun mengiyakan ucapan putri nya itu.
"Segera lah bersihkan dirimu dan Istirahat." ucap Bu Rose sembari berlalu pergi dari hadapan putri nya.
Reni melihat wajah ibu nya yang tampak murung, Reni membuang nafas berat.
__ADS_1
•••
Keesokan hari nya.
Reni ke meja makan untuk sarapan, namun tidak ada siapa pun, hanya ia seorang diri yang duduk di meja makan.
"Bi, Mama dan kak Herry mana?." Tanya Reni pada pembantu nya.
"Nyonya kata nya ada urusan Non, kata nya sarapan di luar, Kalau Den Herry pagi2 sebelum Nyonya keluar, den Herry sudah lebih dulu keluar." Tutur nya.
Reni pun mengangguk, dengan heran memikirkan kemana ibu nya pergi sepagi ini.
ditempat lain, Bu Rose pergi ke rumah Elena untuk mencari wanita itu.
Elena keluar dan membuka pintu, tersenyum sinis saat ia melihat Bu Rose berdiri di depan pintu nya.
"Tante." Ucapnya dengan lembut dan manis.
"Tidak usah pura-pura, Berani-berani nya kau mencelakai Aluna Elena, apa kau sudah tidak waras, kau harus mempertanggung jawabkan semua nya." Ucap Bu Rose dengan kesal.
Elena menatap Bu Rose dengan sorotan mata tajam dan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Tante, Jangan menuduh saya tanpa bukti, Kalau saya tidak senang, saya bisa laporkan Tante tentang pencemaran nama baik."Ucap Elena.
"Dan lagian, bukan kah penjahat nya sudah tertangkap, apa mereka ada menyebut nama ku?." Tanya Elena dengan senyuman sinis nya.
"Tidak kan?, jadi jangan menuduhku sembarangan Ya Tante. sekarang Aluna yang di ambang kematian, suatu hari mungkin orang selanjutnya Tante, atau mungkin anak-anak Tante yang lain." Kata Elena lagi.
"Berani-berani nya kau."
"Plak."
Satu tamparan melayang di pipi Elena, di tampar oleh Bu Rose. Elena pun merasa sangat kesal.
"Aku masih memandang Tante sebagai orang tua, lebih baik Tante pergi sebelum saya lakukan hal yang lebih gila dari ini " Ucap Elena penuh pengancaman.
"Dengar Elena, Apa yang kau lakukan ini, mungkin polisi tak bisa menghukum mu, Tapi Tuhan pasti akan memberimu ganjaran yang setimpal." Ucap Bu Rose sebelum ia melangkah pergi.
"Pergi!." Teriak Elena.
"Manusia berwujud Iblis." Kata Bu Rose. Dengan perasaan kesal, Bu Rose pergi meninggalkan rumah Elena, Elena yang juga kesal menatap kepergian wanita itu, ia tahu, tak ada lagi harapan agar ia bisa masuk ke dalam hidup Rehan, karena orang satu-satu nya yang menjadi jalan nya sudah tak sejalan dengan nya.
Elena melihat ponsel nya, sebuah pesan masuk dari orang tua nya yang berada di luar negri.
__ADS_1