
Perjalanan yang memakan perjalanan 1 jam leboh membuat Aluna yang sedih pun tertidur id dalam mobil, sementara Ello dan Herry saling bergantian menyetir.
Hingga Akhir nya mobil Itu sampai di sebuah rumah yang tampak mewah dan besar.
"Tuan, Ini rumah anda?." Tanya Ello.
"Herry saja."
"Baik lah."
"Ini rumah ku, hanya aku yang tahu rumah ini, tapi kini kau dan dia."Ucap Herry sembari menoleh menatap Aluna yang tertidur.
Ello melihat tatapan Herry pada Aluna. "Kau suka pada nya?." Tanya Ello.
"Ada sesuatu yang tak bisa ku jelaskan sekarang, ayo turun!." Balas Herry.
Ello melihat Herry turun, lalu melihat Aluna sembari tersenyum. "Kamu memang istimewa Aluna." Gumam Ello sebelum ia pun ikut turun.
"Aluna, Aluna." dengan pelan Herry membangunkan Aluna.
Aluna mengucek mata nya. "Em, kita sudah sampai?." Tanya Aluna.
Ia lalu terheran saat melihat rumah yang entah berada di mana dan tidak 0ernah ia datangi sebelum nya.
"Kita dimana?." Tanya Aluna.
"Di Rumah ku, ayo turun, kau akan menyukai tinggal disini."Kata Herry.
Aluna pun dengan penasaran turun dari mobil, lalu masuk ke dalam dengan mata penuh kekaguman ia melihat Rumah yang minimalis tampak begitu mewah.
"Tidak ada orang?." Tanya Aluna.
"Tidak ada, tapi semua perabotan disini lengkap."Balas Herry.
"Ayo ikut!." Herry lalu memegangi tangan Aluna refleks membuat Aluna terkejut karena Herry memegangi tangan nya. ia pun hanya mengikuti ,hingga ia di buat terpana saat melihat bagian di belakang rumah itu.
"Astaga, Pantai." Ucap Aluna terkejut.
"Bagus kan?." Tanya Herry.
Tiba-tiba Ello datang dan menyelip di antara mereka untuk melepaskan pegangan tangan Herry dari Aluna.
"Wah, Kau sangat hebat memilih rumah, Nona Aluna pasti akan sangat menikmati nya."Ucap Ello. Herry tersenyum karena Ello menyelip di antara mereka.
"Aku?." Aluna heran kenapa malah nama nya yang di sebut.
"Aluna, dia mengajak mu kesini karena ingin membuat mu tenang."Balas Ello.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Aluna pun kembali mengingat Rehan yang sudah mengusir nya.
Herry yang melihat Aluna kembali sedih pun, berpindah tempat di samping Aluna dan merangkul nya.
"Untuk apa sedih-sedih, disini di larang sedih, kita akan pesta dan senang-senang disini."Ucap Herry.
•••
Di tempat lain.
Rehan yang terlalu pusing terbangun dari tidur nya.
"Rehan, kau sudah bangun??" Berpapasan dengan Elena yang masuk ke dalam ruangan nya.
Melihat Elena, Rehan lalu teringat pada Aluna. ia pun beranjak berdiri untuk melihat Aluna.
"Rehan, kamu mau kemana?." Tahan Elena yang tahu ia akan mencari Aluna. Elena memegangi lengan Rehan.
Rehan tak menghiraukan nya dan terus berjalan, tarikan Rehan membuat Elena yang tak melepaskan Tangan Rehan pun seketika terjatuh.
"Auw..."
Jeritan Elena membuat Rehan berhwnti berjalan dan berbalik, melihat wanita itu, Rehan pun lekas membantu nya berdiri.
"Maaf, aku tida sengaja, kau baik-baik saja?." Tanya Rehan.
"Kaki ku sakit."Elena merintih kesakitan saat Rehan membantu nya berdiri, Rehan membawa Elena duduk di sofa dan berjongkok di hadapan nya untuk melihat kaki nya yang seperti nya terkilir.
Melihat Rehan tengah berjongkok dan mengurutkan kaki Elena.
"Apa kita perlu ke dokter?." Tanya Rehan.
"Yidak usah, hanya terkilir kecil saja."Balas Elena.
"Rehan, tadi kau mau kemana buru-buru??" Tanya Elena. pertanyaan itu membuat Rehan teringat lagi pada Alun.
"Tunggu disini aku panggilkan bi Ani untuk membantu mu." kata Rehan.
"Tapi..."
Belum sempat Elena berkata kata lagi, Rehan sudah berjalan pergi.
"Ada apa nak?." Tanya Bu Rose.
"Aluna Mana ma?." Tanya Rehan.
"Mama tidak tahu."Balas Bu Rose.
__ADS_1
Mendapatkan jawaban itu, Rehan pun menuju ke kamar nya, dan melihat Aluna sudah tidak ada di kamar, bahkan semua barang-barang nya sudah tidak ada.
"Bi, Bi Ani." Teriak Rehan.
"Iya Den."
"Mana Istri ku?." tanya Rehan. Bi Ani mendapatkan pertanyaan itu jadi binggung.
"Sudah Pergi Den, kan Den Rehan sendiri yang minta Nona Aluna pergi."Tutur Bi Ani.
"Dan bibi biarkan dia pergi?." Tanya Rehan dengan wajah yang tak menyangka.
"Bi Bi sudah tahan Den, tapi Non Aluna maksa untuk pergi."Balas Bi Ani.
"Aku meminta mu untuk pergi jika kau mau, untuk membebaskan mu dari pernikahan yang kau rasa terpaksa ini, dan kau benar-benar pergi." Batin Rehan.
Rehan begitu putus asa, ia membuang nafas berat memikirkan kepergian Aluna.
Rehan lalu mengeluarkan ponsel nya, menghubungi Frans. "Frans, ke rumah sekarang!".pinta Rehan.
ia lalu masuk ke kamar dan mengunci diri di kamar.
"Tante, Rehan seperti nya tidak Rela Aluna pergi."ucap Elena.
"Biarkan saja, ini hanya sementara, Tante akan pasti kan wanita itu tidak akan kembali lagi."Tutur Bu Rose.
•••
Di tempat lain.
Aluna yang baru saja membersihkan diri nya keluar dari kamar dan mengambil ponsel untuk melihat apa Rehan ada menghubungi nya, saat melihat sebuah pesan masuk, Aluna membuka dengan cepat, namun ia sangat terkejut saat melihat Bu Rose mengirimi foto Rehan dan Elena sedang bersama di ruangan kerja, masih mengunakan baju yang sama, begitu juga dengan Elena, menyakinkan Aluna kalau ini foto barusan.
"Rehan yak lagi butuh kamu lagi saat ini, jadi jangan pernah berfikir untuk kembali."Isi pesan Bu Rose.
Tok Tok Tok, tak mendapatkan jawaban dari dalam, membuat Herry yang mengetuk dari luar pintu kamar pun khawatir, ia lalu buka dan masuk, itu pun tak membuat Aluna sadar dari lamunan nya, ia begitu hancur saat ini, pikiran nya entah kemana.
Herry yang datang melihat Aluna tampak begitu syok dan diam pun melangkah mendekati wanita itu.
"Ada apa??" Tanya Herry.
"Tidak ada apa-apa."Jawab Aluna menghindari.
Namun segera Herry mengambil ponsel itu dan melihat foto yang di kirim ibu nya untuk memanas-manasi Aluna, Herry pun ikut kesal saat melihat Rehan bersama Elena.
Ia pun mematikan ponsel Aluna, Aluna bingung dengan apa yang di lakukan Herry.
"Ini tidak lagi penting, nikmati liburan dadakan kita ini, agar tidak terlalu stres."Ucap Herry tersenyum untuk mencairkan suasana.
__ADS_1
"Tapi Her..."
"Mau sampai kapan di kamar, ikan ku sudah matang " Ello yang tiba-tiba muncul mengajak kedua nya untuk keluar.