Wanita Gendut Itu Aku

Wanita Gendut Itu Aku
64 - 3 Hari telah Berlalu


__ADS_3

3 Hari sudah berlalu.


Di dalam ruangan yang begitu sunyi, hanya terdengar suara Mesin yang berbunyi sesekali, Mesin yang membantu Aluna tetap bertahan hingga saat ini, Rehan duduk di samping Aluna, menatap wanita itu dengan sedih. 3 hari sudah Rehan menemani Aluna di ruangan ini, melihat wanita itu terbaring tidak berdaya, membuat Semangat Rehan hilang saat ini.


"Kapan kau akan sadar sayang?, Aku tidak tahan melihat mu seperti ini, Bangun lah, Aku percaya kau bisa mendengarkan ku, Bukan kah kita akan segera menikah, memiliki anak dan hidup bahagia bersama, Aku ingin mendengar suara mu. bangun lah sayang." Rehan mengajak Aluna berbicara, ia percaya Aluna bisa mendengarkan suara nya saat ini.


Air mata pun tanpa sadar mengalir dari sudut mata Rehan saat ini. di luar ruangan itu, Reni dan Herry memandang sang kak yang tampak begitu sedih.


Rehan keluar untuk mencari udara segar di luar, dada nya begitu sesak saat ia melihat keadaan Aluna saat ini.


"Kak, Ini minum dulu." Reni memberikan teh hangat untuk kakak nya. Rehan mengangguk dan menerima nya.


"Kak, Gimana perkembangan kasus Kak Aluna, Apa sudah ketahuan siapa yang melakukan semua itu?." Tanya Reni dengan ragu.


Rehan membuang nafas berat lalu mengelengkan kepala nya. "Kalau aku tahu siapa yang melakukan semua itu, Aku akan tak akan membiarkan nya hidup tenang." Jawab Rehan.


Reni pun teringat akan kesalahan nya, meski kesalahan tanpa sengaja, namun Aluna seperti ini semua bermula karena diri nya. Ia pun ingin memberitahu kalau Elena penyebab semua ini, tapi ia sangat tak memiliki keberanian memberitahu Rehan soal ini.

__ADS_1


"Kak, Aku Mau ngomong sesuatu sama kakak." Ucap Reni Ragu.


Rehan memandang adik nya siap untuk mendengar kan.


"Sebenarnya...."


"Dokter."


Rehan terkejut saat tiba-tiba saja Dokter datang dan akan masuk ke dalam ruangan Aluna di rawat. Belum sempat Reni mengucapkan kalimat yang sangat takut ia katakan.


"Dok, Ada apa dok?". Tanya Rehan.


"Dok detak jantung berhenti." Kata perawat yang berjaga di ruangan itu, Mendengar hal itu kedua mata Rehan dan Reni membesar.


"Siapkan Defibrilator (Alat Kejut Jantung)"


"Baik Dok."

__ADS_1


Rehan yang mendengar begitu syok saat mendengar detak jantung Aluna berhenti, Saat aluna akan di beri kejutan Listrik, Rehan tak bisa melihat nya, ia memilih keluar karena tak sanggup melihat Wanita yang ia cintai tersakiti, Kembali laki-laki itu menjadi lemah, ia duduk lemas dan menangis.


Reni pun ikut keluar untuk menenangkan nya. Bertepatan datang nya Herry dan Ello.


"Ada Apa Ren?." Tanya Herry.


"Kak Aluna." Reni memberitahu kondisi Aluna saat ini.


Semua pun cemas, menunggu dokter memberikan pertolongan pada Aluna.


"Kenapa dia begitu menderita, Apa karena aku dia terus merasa kan kepahitan seperti ini " Ucap Rehan tampak putus asa.


Ia Kembali mengingat saat-saat awal Aluna datang ke pada nya, Ia tak memberikan kebahagiaan pada Aluna, ia bahkan pernah tanpa sengaja menyakiti Aluna karena keegoisan nya hingga ia terluka, Aluna yang terus memberikan pengertian pada nya selalu mendapatkan hentakan dan amarah nya, Ketika ia sudah menetapkan hati pada wanita itu dan ingin membahagiakan nya, Ia kembali melihat wanita itu terluka sampai seperti ini. Rehan merasa ia sudah gagal melindungi Aluna.


Bahkan Senyum terakhir Aluna saat berada di dalam Ambulance masih teringat jelas di pikir Rehan saat ini.


Setelah setengah jam berlalu, Dokter lalu keluar, semua pun mengelilingi dokter untuk menanyakan kondisi Aluna.

__ADS_1


Dengan membuang nafas kelegaan, Dokter tersenyum sedikit memberi harapan Bagi semua orang. "Masa Kritis nya sudah lewat, detak jantung nya sudah kembali bekerja meski agak lemah, kita berdoa saja semoga Dia bisa segera sadar." Ucap Dokter.


Mendengar hal itu, Semua tersenyum kecil, merasa kelegaan tersendiri, begitu juga dengan Rehan yang penuh dengan ucapan syukur di hati nya.


__ADS_2