
Pagi Itu.
Aluna sedang sarapan bersama Rehan, Adita datang di hadapan mereka.
"Selamat pagi Nona, Tuan Muda." Sapa Adita di barengi menundukkan kepala nya.
"Pagi."Balas Aluna dengan ramah pula.
Berbeda dengan Rehan dan Herry yang ada di meja makan, kedua nya tak menghiraukan kehadiran Adita.
"Kak, Aku ingin mengajak Aluna ke cafe, apa boleh??" Tanya Herry.
Rehan mendengar melihat Aluna. Rehan lalu mengangguk. "Jika dia mau, bawa saja, biar tidak bosan di rumah." Tutur Rehan. Herry mengangguk tersenyum.
Adita tampak melihat raut wajah Herry yang tampak begini senang saat Rehan mengiyakan.
"Makasih sayang."Ucap Aluna.
"Iya, tapi ingat ya, jangan sampai kelelahan." Balas Rehan. Aluna mengangguk setuju.
Di berikan Izin Herry membawa pergi ke cafe membuat Aluna merasa sangat senang, karena ia tak perlu bosan berada di dalam rumah ini.
Setelah menyelesaikan sarapan, Rehan pun pamit untuk berangkat ke kantor, Aluna dan Herry pun bersiap juga untuk berangkat ke cafe.
"Aluna, kau tidak lelah kan?." Tanya Herry saat berada di mobil.
"Tidak, memang nya kenapa?." Tanya Aluna.
"Tidak apa-apa, aku hanya tak ingin kau kelelahan seperti yang kak Rehan katakan." Tutur Herry.
__ADS_1
"Kau pasti takut kakak mu memarahi mu kan." Jawab Aluna.
Herry tertawa kecil, seolah mengiyakan ucapan Aluna, namun sebenarnya, ia memiliki kekhawatiran yang sama seperti yang di khawatirkan kakak nya.
Adita hanya diam mendengar percakapan kedua nya di dalam mobil menuju ke cafe. hingga saat mobil sudah sampai, Adita turun dari mobil dan lekas menurunkan kursi roda di belakang bagasi mobil.
Tanpa sengaja, Kursi roda itu sedikit terlepas dari tangan Adita, membuat sedikit benturan pada Alat yang membantu Aluna terus bisa jalan kemana-mana.
"Kau ceroboh sekali, hanya begitu saja kau bisa menjatuhkan nya, bagaimana kau bisa menjaga Kakak ipar ku." Kesal Herry.
"maaf Tuan." Jawab Adita menunduk.
Aluna yang masih berada di dalam mobil menghela nafas, ia merasa kasihan karena Adita di perlakukan dingin oleh Rehan dan Herry.
"Aluna, kau masuk dulu ya, aku akan menyusul." Ucap Herry Sesaat Setelah Aluna sudah duduk di kursi roda nya. Adita mendorong Aluna masuk, sementara Herry harus ke arah yang lain karena melihat orang-orang mengantar barang.
"Adita, Maaf ya kalau Herry dan Suami ku bersikap kasar sama kamu." Ucap Aluna.
"Kau sangat canggung sekali Adita, Aku sangat ingin kau bisa menjadi teman ku, jadi tidak bersikap canggung seperti itu." Ujar Aluna. Adita hanya tersenyum saja.
"Aluna." Sebuah suara mengalihkan perhatian Nya.
"Bella." Aluna dan Bella saling berpelukan saat kedua nya bertemu.
"Aku merindukan mu."
"Aku juga Al, maafin aku ya Al, aku baru bisa liat kamu sekarang, aku baru dapat kabar saat kau sadar dan memberitahu ku." Ucap Bella.
"Tidak apa-apa bel, tapi kau tahu dari mana aku disini?." Balas Aluna.
__ADS_1
"Aku yang memberitahu nya." Herry datang menghampiri kedua nya.
Bella lalu melihat Adita yang tampak berdiri di belakang Aluna dengan heran.
"Bell, duduk." Ajak Aluna.
"Itu siapa?."
"Orang yang di minta Rehan menemani ku."
"Oh, dia lebih mirip bodyguard "
"Iya, begitu lah." Balas Aluna tersenyum.
Aluna lalu melihat Adita yang berada di samping nya.
"Adita, kau tak perlu berdiri seperti ini, Duduk lah." Ucap Aluna.
"Baik Nona." Adita lalu duduk di meja di belakang aluna, tidak membiarkan diri nya jauh dari aluna.
"Rehan benar-benar menyayangi mu Al, aku sudah nyakin sejak awal kalian itu berjodoh." Ucap Bella.
Aluna tertawa mendengar nya, tapi ia sepakat kalau mereka itu berjodoh.
Herry yang tengah melayani pelangan tidak sengaja menjatuh kan kertas, Adita yang melihat bermaksud mengambil kan nya, namun Herry berbalik dan membuat kedua nya saling berbenturan.
"Apa yang kau lakukan." Ucap Herry agak kesal.
"Maaf."
__ADS_1
Herry dengan dingin mata nya penuh dengan ketidak sukaan lalu berjalan pergi. Adita tetap mengambil kertas itu, namun ia tahu Herry tidak senang, ia jadi memberikan pada pegawai yang lain. Ello yang juga baru sampai di cafe melihat apa yang terjadi lalu mengelengkan kepala nya.