
Hati Aluna yang galau malam ini sedikit terobati saat ia bersama Herry dan Ello.
Ketiga nya tengah asik duduk di atas pasir di tepian pantai, sembari menikmati hasil panggangan Ello.
Dering Telefon berbunyi, Herry pun lekas mengambil ponsel dan melihat Rehan menghubungi nya.
"Tunggu ya, aku angkat telefon dulu."Kata Herry dan berjalan agak jauh agar Aluna tidak tau kalau Rehan yang menghubungi nya.
Aluna pun melihat Herry berlalu pergi, bertanya dalam benak kenapa Herry mengangkat telfon sangat jauh, siapa yang menghubungi nya, Pandangan nya lalu teralihkan saat Ello memberikan nya sepotong ikan panggang.
"Ada apa kak?."Tanya Herry.
"Her, kau bersama Aluna?." Tanya Rehan.
Herry lalu melirik Aluna srbelum ia menjawab nya. "Tidak, dia tak bersama ku." Balas Herry.
"Bukan kah kau terakhir bersama nya?." Tanya Rehan.
"Aku sudah pergi saat Mama pulang ke rumah." Balas Herry.
"Hm, Baik lah. kalau Aluna ada kabar, beri tahu aku."Ucap Rehan.
"Baiklah."
Setelah mengangkat telfon, Herry pun kembali kepada mereka. "Dari toko."Ucap Herry pada Aluna, sebelum Aluna melemparkan pertanyaan pada nya.
Ello tampak meneguk minuman bir yang temukan di kulkas.
"Jangan minum terlalu banyak, nanti kau mabuk."Ucap Herry.
__ADS_1
"Herry, aku tak menyangka kau akan menyimpan minuman ini, Aku pikir kau sangat alim."Ucap Ello.
Mendengar ejekan Ello, Herry tersenyum.
"Kau meragukan kemampuan ku minum?." Tanya Herry.
Obrolan kedua nya mengalihkan pandangan Aluna yang menatap ke arah pantai yang menerbangkan helaian rambut nya.
"Selagi aku belum melihat mu minum, aku tak akan percaya."Balas Ello.
"Baik lah."
"Jangan, Kalian nanti bisa mabuk."Ucap Aluna menahan Herry.
"Tidak apa-apa Aluna, Kami hanya mencicipi sedikit."Ucap Ello.
Saling melontar sindiran, membuat sedikit demi sedikit minuman pun di teguk oleh Herry dan Ello, Hingga akhir nya kedua nya tampak mabuk berat.
Aluna yang melihat pun menghela nafas berat.
"Sedikit, sedikit, apa itu yang nama nya sedikit."Ketus Aluna. namun kedua pria itu tak lagi mampu mengubris, Mereka pun terbaring di atas pasir yang beralaskan tikar.
Melihat kedua laki-laki itu tak berdaya, Aluna tersenyum menahan tawa. "Merek sangat konyol." Gumam Aluna.
•••
Di tempat lain.
Rehan yang tengah bersama Frans pun tampak memikirkan Aluna.
__ADS_1
"Tuan, anda seperti nya sangat tidak ingin kehilangan Nona Aluna."Ucap sekertaris Frans.
"Entah lah Frans, aku ingin kau menemukan nya untuk ku Frans, aku tidak tenang memikirkan nya, wanita itu, berani-berani nya dia pergi meninggalkan ku."Ucap Rehan.
Di luar ruangan tempat kedua laki-laki itu berada, Elena yang datang dengan minuman di tangan nya pun merasa sangat kesal dan sedih, namun ia tak bisa mengatakan apa pun. hubungan nya dengan Rehan kandas karena kesalahan nya yang lebih dulu meninggalkan laki-laki itu, Elena tak dapat menepis hal itu. Ia lalu membuat nafas dan tersenyum sebelum ia masuk ke dalam.
tok
tok
tok
Suara ketukan pintu mengalihkan fokus mereka. "Elena."Gumam Rehan.
"Maaf ya ganggu kalian, Aku tahu kalian pasti sedang memikirkan Aluna yang entah kemana, Aku ingin memberikan kalian minum agar lebih sedikit rileks."Ucap Elena.
"Bagaimana dengan kaki mu?." Tanya Rehan.
"Sudah baik, terima kasih sudah perduli pada ku Rehan."Ucap Elena. Namun segera Rehan membuang wajah nya ke arah lain.
"Aku keluar dulu ya, Jangan lupa di minum, Semoga kalian segera mendapatkan kabar Aluna."Ucap Elena.
"Terima kasih Nona."Ucap Frans. sementara Rehan hanya diam tanpa mau melihat kearah wanita itu.
Tak ingin lagi berurusan dengan Elena, namun Karena Ibu nya, ia masih mencoba untuk menerima kehadiran Elena di rumah ini.
"Aku tak mengerti untuk apa dia seharian disini."Kata Rehan mengelengkan kepala nya, saat setelah Elena telah pergi.
Mendengar ketidak sukaan Rehan pada Elena, Frans pun tersenyum, bagaimana pun Frans tak ingin wanita yang pernah menyakiti bos nya datang kembali, meski pun sebenarnya di luar dari tugas nya.
__ADS_1