Wanita Gendut Itu Aku

Wanita Gendut Itu Aku
39 - Emosi Tidak Stabil


__ADS_3

Saat sore hari tiba.


Aluna yang tengah bersedih karena Rehan kini kembali dengan sikap nya yang dulu, yang begitu cuek pada nya.


Wanita itu duduk melamun di samping kolam bola sembari merendamkan kaki nya ke dalam nya.


"Seperti nya Awan hari ini tampak mendung."Sebuah suara terdengar membuat Aluna agak terkejut dan menoleh.


"Herry."


Herry lalu duduk di samping Aluna dan memandangi wanita itu.


"Sedang bermasalah dengan kak Rehan?." Tanya Herry.


Aluna tak menjawab, hanya menoleh dan tersenyum ringan pada Herry.


"Tahu dari mana?." Tanya Aluna.


Herry melihat Bi Ani yang lewat, Aluna pun mengerti kalau Herry tahu dari BI Ani.


"Kata orang sebuah hubungan itu ada pasang dan surut nya kan, mungkin hubungan ku dengan Kakak mu sedang berada di keadaan seperti itu."Jawab Aluna.


Herry tersenyum mendengar ucapan Aluna, ia pun memandangi Aluna yang sedang memandang ke langit-langit saat itu dengan tatapan tak biasa, ada kebanggaan tersendiri Herry melihat sosok dalam diri Aluna.


Tanpa Herry dan Aluna sadari, Rehan telah kembali, dengan mata nya ia melihat Tatapan Herry pada Aluna, membuat Rehan merasa tidak nyaman, ia pun lekas pergi ke ruangan kerja nya.


"Her, kau datang ke aini untuk apa?." Tanya Aluna kala mengingat Herry ada disini.


"Aku rasa kau sudah lupa kalau rumah ini tempat favorit ku untuk datang sebelum kau ada disini."Jawab Herry.

__ADS_1


Aluna pun mengangguk mengerti. Namun Herry tak mengatakan yang sebenarnya pada Aluna, kalau ia datang kesini memang mencari Aluna, Karena ia tahu Aluna tak lagi bekerja, tapi Kakak nya tidak mengirimi nya pesan untuk membawa Aluna ke cafe nya seperti biasa.


"Non, Non, Den Rehan sudah pulang."Ucap Bi Ani.


"Oh iya, dimana bi." Aluna tersenyum dan lekas berdiri.


"Di ruangan kerja nya Non."Balas Bi Ani.


Herry menahan tangan Aluna. "Mau kemana?." Tanya Herry.


"Aku mau menjelaskan ke salah pahaman aku dengan Mama."Ucap Aluna.


Tanpa menunggu balasan Dari Herry, Aluna lekas berjalan masuk menuju ruang kerja Rehan.


"Tuan." Ucap Aluna saat masuk ke dalam ruangan itu. Aluna melihat wajah Rehan yang tampak tak bersahabat, namun masih ada keinginan Di hati Aluna untuk menjelaskan ke salah pahaman yang telah terjadi akibat ulang ibu mertua nya itu.


"Aku sedang sibuk."Ucap Rehan datar tanpa melihat ke arah wanita itu.


"Apa kau tidak dengar,aku sedang sibuk, keluar dari sini." Bentak Rehan agak berteriak, hingga membuat Bi Ani dan Herry mendengar suara Rehan.


Jantung Aluna berdebar sangat kencang, ia seketika mematung, Bibir nya terasa bergetar menahan tangis nya yang akan pecah.


"Keluar!."Bentak Rehan. Namun Aluna masih tak bergeming.


"Tuan, Kenapa anda sekarang seperti itu pada saya." Ucap Aluna dengan suara yang agak terpatah-patah.


"Sejak dulu sampai sekarang Kamu tidak ada spesial apa-apa bagi saya Aluna, Jadi jangan terlalu berfikir terlalu jauh, Kamu harus tahu di...."


"Hentikan Kak " Herry menyela dan menghentikan Ucapan Kemarahan dari mulut Rehan yang Akan semakin menyakiti Aluna.

__ADS_1


"Herry tolong jangan ikut campur."Ucap Aluna dengan kedua mata yang tampak berkaca-kaca.


"Tapi Aluna."


"Tolong."Lirih Aluna. Hery pun mengiyakan dan kembali keluar.


Aluna lalu kembali mengfokuskan pandangan nya pada Rehan.


"Benar Tuan, saya seharus nya tahu diri, saya hanya sebuah kayu yang berharap menjadi Emas, saya akan selalu mengingat kita menikah atas dasar apa."Kata Aluna. suasana begitu sunyi saat Aluna selesai mengucapkan kata-kata itu.


Aluna lalu berbalik untuk pergi dari ruangan itu, dengan hati yang hancur berkeping. namun Sebuah kalimat di ucapkan Rehan pada nya.


"Kau boleh pergi jika kau mau, kembali pada orang tua mu." Ucap Rehan.


Aluna yang mendengar pun tak lagi mampu menahan air mata nya yang akhirnya jatuh. ia mengepalkan tangan nya tanpa mengatakan apa pun lagi dan berjalan pergi.


Aluna berjalan keluar dan Rehan hanya melihat Punggung wanita itu berlalu pergi, lalu menyandarkan tubuh nya di sandaran kursi, sembari memijit kening nya.


Aluna keluar sembari menangis, Rehan yang berdiri di luar mendengar semua nya dan melihat kakak ipar nya menangis, ia pun dengan kesal masuk ke dalam ruangan Rehan.


"Kak, Apa yang kakak kata kan."Ucap Herry dengan kesal.


"Aku sedang tak ingin bicara Herry." Ucap Rehan.


"Karena Mama kakak bersikap seperti itu pada Aluna, Padahal kakak tahu seperti apa sikap Mama pada Aluna, bahkan melupakan semua yang telah Aluna lakukan pada kakak, Aku rasa kakak sudah melakukan kesalahan yang salah."Ucap Herry.


Rehan hanya diam, kemarahan, emosi yang tidak stabil membuat Rehan sedang tak bisa berfikir jernih, bahkan kata-kata Herry hanya bisa ia dengar tanpa mampu ia cerna.


"Keluar."Ucap Rehan lagi.

__ADS_1


Herry mengelengkan kepala nya menatap Rehan dengan penuh kecewa, lalu ia keluar untuk menyusul Aluna.


__ADS_2