Wanita Gendut Itu Aku

Wanita Gendut Itu Aku
66 - Aluna Sadar


__ADS_3

Di rumah sakit, tak sekali pun Rehan meninggalkan Aluna yang terbaring belum sadarkan diri.


Bu Rose datang ke rumah sakit untuk melihat ke adaan Aluna. Saat di depan pintu, ia melihat Cinta putra nya yang begitu dalam untuk wanita yang tengah berbaring di depan nya.


"Rehan." Panggil sebuah suara, Rehan menoleh dan melihat itu Ada ibu nya.


"Ma."


"Kamu gak pulang istirahat Rehan?, kamu sudah hampir seminggu berada disini." Tanya Bu Rose.


"Aku nyakin Aluna akan segera sadar Ma, aku tak akan meninggalkan nya." Jawab Rehan.


Bu Rose hanya tersenyum kecil, ia lalu berjalan mendekati Aluna.


"Sayang, Maaf kan mama ya, Mama selalu jahat sama kamu, gak pernah bisa menerima kehadiran kamu dalam keluarga kami, Sadar lah sayang, Mama janji, Mama akan merestui hubungan kalian, cepat lah bangun nak." Ucap Bu rose dengan tulus.


Rehan yang mendengar pun tersenyum kecil melihat ibu nya yang mau meminta maaf pada Aluna, Meski sebenarnya Kedatangan Bu Rose kesini saja sudah sangat membuat Rehan senang.


"Kau dengar Aluna, Mama sudah menyetujui hubungan kita, ayo lah sayang, kau harus segera sadar, Ayo kita bangun keluarga yang bahagia." Ucap Rehan lagi dengan suara yang agak bergetar menahan tangis nya.


Bu Rose yang melihat Putra nya begitu berharap pada Aluna pun menitikkan air mata nya, ia tak tahan melihat semua nynya.


Reni lalu datang menghampiri, membawa Makanan untuk mereka makan. ia melihat Ibu nya ada disini juga. ia agak terkejut melihat Ibu nya mau datang menjenguk Aluna.


"Ma." Sapa Reni.


"Kak, Ayo kita makan dulu, Mama juga kita makan bersama." Ajak Reni.


Rehan dan Bu Rose pun makam bersama di luar ruangan Aluna. tak banyak yang mereka Bicarakan saat makan. Setelah makan bersama putra nya di rumah sakit, Bu Rose pun pamit pulang, meninggalkan Rehan dan Reni.


Melihat ibu nya sudah pergi Reni lalu mendekati Kakak nya untuk mengajak nya bicara.


"Kak, Aku ingin memberitahu kakak sesuatu." Ucap Reni.

__ADS_1


"Apa?." Saut Rehan.


"Aku rasa Kak Elena yang melakukan semua ini pada kak Aluna." Ucap Reni ragu-ragu mengatakan nya.


Namun Rehan tampak tenang dan tak memperlihatkan reaksi yang berlebihan, Ia tampak sudah tahu hal itu.


"Menurut mu, Apa Mama terlibat semua ini?." Tanya Rehan.


"Aku bukan mau membela mama kak, tapi aku sempat mendengar Mama menelepon Kak Elena untuk mempertanyakan hal itu, Mama tidak tahu apa-apa soal ini, hari ini bahkan Mama ke rumah Kak Elena dan bertengkar dengan nya." Tutur Reni.


Rehan mendengar lalu membuang nafas berat penuh kelegaan.


"Aku sudah tahu Elena yang pasti melakukan nya, Tapi Polisi tidak memiliki cukup bukti untuk menangkap nya. Tapi aku tak akan melepaskan nya begitu saja." Ucap Rehan.


Reni mengangguk setuju, Elena tak boleh di biarkan lolos begitu saja.


•••


Malam Itu.


Namun saat Rehan akan menoleh ketempat lain, samar samar ia melihat jari Aluna bergerak, Ia yang terkejut lekas menghampiri Aluna dengan antusias nya.


"Sayang." Panggil Rehan dengan lembut.


Perlahan Aluna membuka kedua mata nya, Samar-samar ia melihat Sosok laki-laki yang ia cintai itu sebelum akhirnya semakin jelas sosok wajah Rehan di mata nya. dengan senang Rehan lansung memberitahu Suster yang tengah berjaga, Suster pun lekas memeriksa keadaan Aluna.


Rehan dengan senang melihat Istri nya itu dengan antusias. tersenyum sangat lebar karena Aluna telah sadar.


Herry yang tertidur pun terbangun, melihat suster dan sang kakak tampak mengelilingi Aluna membuat nya berfikir sesuatu terjadi pada Aluna, saat ia mendekat, ia pun ikut senang saat melihat Aluna telah sadar.


Setelah selesai Suster memeriksa kalau Aluna Keadaan nya sudah membaik, dan akan menunggu Pagi datang untuk di periksa dokter lebih lanjut.


Rehan mengiyakan lalu mendekati Aluna.

__ADS_1


"Sayang, Aku senang kau sadar." Ucap Rehan.


Aluna melihat sekitar nya sebelum ia menjawab Rehan, ia juga melihat infus yang ada di tangan nya.


"Aku dimana?." Tanya Aluna.


"Kau kecelakaan kemarin, apa kau tak ingat?." Tanya Rehan.


Sejenak Aluna terdiam. ia lalu melihat Herry dan Rehan dengan wajah bingung mereka.


"Kalian siapa?."Tanya Aluna.


Rehan dan Herry saling memandang satu sama lain dengan heran, Apa dia lupa ingatan?." ,Itu pertanyaan yang terlintas di pikiran mereka.


"Kau tak ingat aku?." Tanya Rehan lagi memastikan. Aluna hanya diam saja.


Rehan lalu membalikan tubuh nya untuk bertanya pada Perawat, namun tangan Aluna menahan nya. meski tampak ekpresi Aluna menahan sakit di tubuh nya. ia lalu tersenyum membuat Herry dan Rehan benar-benar bingung.


"Mana mungkin aku melupakan mu dan Herru." Ucap Aluna seketika membuat Rehan dan Herry tersenyum menahan tawa karena Aluna sudah mengerjai mereka.


"Aluna, kau sakit tapi masih bisa bercanda." kata Herry.


Aluna ingin tertawa tapi tenggorokan nya sangat kering.


"Iya, padahal kau baru saja bangun dari koma seminggu lebih " Ucap Rehan. Tidak ada marah, ia malah sangat senang karena Aluna tampak kuat dan masih bisa tersenyum.


"Apa seminggu lebih?." Aluna yang kini sangat terkejut.


"Boleh aku minta minum?." Tanya Aluna.


Rehan lalu bertanya pada perawat, dan memberikan Aluna minum setelah di izinkan.


"Aku senang kau sudah sadar." Ucap Rehan, Aluna tersenyum. kedua nya saling menatap penuh kasih satu sama lain. Herry yang melihat tersenyum lalu ia membiarkan kedua nya untuk menikmati waktu bersama dan pergi dari ruangan itu.

__ADS_1


Setelah malam itu, Aluna pun kian membaik dan kini sudah di pindahkan ke ruangan rawat biasa. kaki Aluna yang patah membuat ia tak bisa banyak bergerak. Rehan pun masih senang hati menemani nya.


__ADS_2