Wanita Gendut Itu Aku

Wanita Gendut Itu Aku
44 - Waktu Yang Lama


__ADS_3

"Hei, Coba kau lihat, aku bisa seperti superhero kalau melompat dari sini." Ello menaiki meja dan berdiri di atas nya.


Aluna yang melihat mabuk nya Ello pun hanya mengerutkan kening dan menepuk jidat nya.


"Astaga."


"Kau lebih seperti monyet dari pada superhero."Balas Herry yang juga sudah mabuk berat.


"Hei, Hei, jaga mulut mu, kau pikir aku bisa bergaya monyet." Balas Ello dan mempraktekkan gaya monyet.


"Yah yah, Bagus, kau memiliki talenta."Balas Herry dan tertawa.


Aluna yang melihat ke konyolan kedua laki-laki itu yang mabuk berat pun tertawa kecil.


Hingga kedua nya pun akhirnya tertidur, Aluna lalu mengambil ponsel nya yang di simpan oleh Herry, sekedar memastikan lagi apa benar Rehan tak peduli pada nya.


Aluna menyala kan ponsel nya dan menunggu dengan begitu gugup, hingga ponsel nya hidup, Aluna cemberut saat tahu tak ada pesan yang masuk pada nya.


"Apa aku tak penting bagi nya." Ucap Aluna dengan wajah sedih.


Ia pun lalu kembali mematikan pinsel nya, ia merasa menyesal telah menghidupkannya, namun tanpa Aluna tahu, di tempat lain, Rehan kembali mencoba menghubungi Aluna, namun lagi-lagi tidak tersambung. kedua nya tampak sedang tidak selaras.


•••


Keesokan hari nya


Herry terbangun dari tidur nya dan tak berapa lama di ikuti Ello pun merasa begitu agak pusing, kedua nya terbangun di ruang keluarga.


Sembari memegangi kepala yang terasa berat, Herry mencari sosok Aluna.


"Dimana dia?." Batin Herry.

__ADS_1


"Aku rasa, semalam aku mabuk berat."Ucap Ello.


"memang ia, bukan hanya ku, tapi Herry juga, kalian bilang ingin menjaga ku, tapi ternyata aku menjaga kalian semalaman." Ucap Aluna.


"Aku?." Herry agak terkejut saat mendengar nama nya di sebut.


"Sialan kau, Kau yang membuat ku mabuk."Herry melempar Ello dengan bantal. Ello hanya bisa menangkis.


"Sudah lah, sudah cukup kalian semalam seperti anak Kecil, sekarang segera lah mandi, aku sudah siapkan sarapan."Ucap Aluna.


•••


Di meja makan.


Herry tampak melihat Aluna dan semua itu di lihat oleh Ello.


"Hm." Deheman Ello pun membuat pandangan Herry segera teralihkan.


Mendengar hal itu, Aluna pun terkejut.


"Ada apa?, Apa kau sakit?." Tanya Aluna.


Herry menatap Ello dengan sorotan tajam. namun Ello hanya membalas nya dengan senyuman menahan tawa.


"Tidak ada, dia hanya bercanda."Ucap Herry.


"Aluna, Kami akan pulang nanti sore, aku sudah meminta Pembantu untuk tinggal menemani mu disini."Ucap Herry. Aluna pun mengangguk kecil.


"Memang nya mau berapa lama kamu disini?." tanya Ello.


"Mungkin sangat lama, aku rasa begini cara yang bagus untuk melupakan, tidak apa-apa kan her, aku tinggal lebih lama disini?." Tanya Aluna.

__ADS_1


"Tentu saja, semua milik ku milik mu juga. jangan pikir kan hal lain."Balas Herry.


•••


Di tempat lain.


Rehan kini telah pulang ke rumah orang tua nya, ia pun kini tengah duduk di meja makan untuk sarapan. suara di meja makan begitu sunyi, Rehan tampak diam.


Reni dan Bu Rose pun tak berani berkata apa-apa.


"Ini Tuan."Seorang pelayan datang memberikan segelas susu di atas meja. namun karena ketidak hati-hati nya membuat percikan air itu tumbah sedikit di hadapan Rehan.


Rehan yang suasana hati tidak baik pun menatap pelayan Dengan.


"Maaf Tuan, saya tidak sengaja."


"Belajar lagi cara melayani majikan mu dengan benar, menaruh segelas air saja kau tidak bisa." Ucap Rehan dengan keras dan tegas.


"Kamu ini bagaimana sih kerja nya, sana pergi."Kata Bu Rose.


Melihat Emosi sang Kakak yang kembali lagi seperti dulu, Reni pun merasa ngeri


"Ma, Mama lihat tidak sikap Kakak seperti dulu lagi, Lagian kenapa mama biarkan kak Aluna pergi sih, bukan kah bagus Kakak bisa lebih baik dari dia."Ucap Reni saat di kamar bersama ibu nya.


"Diam kamu, kamu masih kecil gak tahu apa-apa."


"Aku uda besar ma."


"Pokok nya diam saja, jangan ikut campur urusan mama. Mama lebih baik Elena yang jadi menantu mama dari Aluna, Derajat kita dan wanita kampung itu berbeda, apa kau mengerti."Ucap Bu Rose.


"Terserah mama saja." Reni cemberut melipat kedua tangan nya dan duduk di sofa.

__ADS_1


Meski tak menyukai Aluna, tapi bagi Reni setelah ada Aluna, Rehan lebih baik karena wanita itu, Rehan juga tak begitu membatasi nya dan memarahi nya kalau ia keluar bersama teman-teman, selain itu, suasana rumah juga terasa lebih nyaman.


__ADS_2